Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Bayi Kembar


__ADS_3

"Sayang apa rasanya masih sakit?"


Tanya Haafizh. Pria itu tengah didera rasa khawatir yang bukan main. Sudah dua jam Arabella terus melangkah kecil di dalam ruang persalinan dengan Haafizh yang dengan sabar menemani sang istri.


Rasa sakit diperut Arabella mereda, dokter tadi sudah kembali dan memberitahu kalau baru masuk tahap pembukaan tujuh. Arabella bersyukur pembukaannya sudah bertambah, walau rasa sakitnya masih terasa. Setidaknya sekarang rasa sakit itu sedikit mereda.


"Sakit, tapi tidak sesakit tadi Mas."


Wajah cantik nan teduh itu tampak pucat, basah oleh keringat yang masih bercucuran.


"Aku akan menemui dokter dulu, Ra."


Arabella yang kini tengah berdiri seraya melangkah kecil menatap Haafizh yang kini tengah disampingnya.


"Mau ngapain?" Tanyanya heran seraya menghentikan langkahnya. Sejurus kemudian tatapan keduanya saling beradu.


"Mau ngomong bisa gak rasa sakitnya dipindahin ke aku aja, aku gak tega liat kamu kesakitan kayak gini"


Kedua mata Haafizh tampak sendu, dalam hati ia sangat ingin menangis melihat istrinya tengah menahan rasa sakit sejak lima jam yang lalu.


"Yaallah, Mas. Mana bisa, kan aku yang hamil jadi aku yang harus merasakannya. Lagi pula aku sangat menikmati setiap momen menjelang proses lahiran anak-anak."


Bibir pucat Arabella tersenyum manis, membuat Haafizh semakin dirunjung rasa tak tega. Istrinya sangat sabar, walau tengah kesakitan ia tetap bisa mengukir senyuman.


"Kamu jangan khawatir Mas. Setiap ibu hamil pasti mengalami ini semua. Demi seorang anak, sesakit apapun pasti akan berjuang demi anaknya lahir dengan selamat."


Perkataan Arabella sedikit mengurangi ketakutan Haafizh. Meski begitu tetap saja Haafizh sangat cemas setengah mati.


"Tapi Ra, Mas takut kamu kenapa-napa"


Rasanya gemas sekali melihat wajah khawatir serta takut yang terpancar jelas di wajah suaminya. Arabella tersenyum manis, lalu dengan gerakan perlahan ia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Haafizh yang sedari tadi ada disisinya.


"In Syaa Allah, semua akan baik-baik saja. Mas berdoa aja semoga persalinan aku lancar dan anak-anak lahir secara sehat dan selamat."


Haafizh mengangguk.


Waktu terus berlanjut, hingga jam sebelas malam Arabella sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Haafizh yang baru selesai shalat isya segera berlari ke ruang persalinan.


Disana sudah ada seorang dokter dan dua orang suster. Istrinya terbaring diatas bangsal seraya merintih kesakitan.


Haafizh buru-buru mendekati Arabella.


"Sayang" Panggilnya tak karuan.

__ADS_1


"Pembukaannya sudah lengkap. Siap-siap ya Bu, ikuti perintah saya. Ibu harus rileks." Perintahnya yang langsung di laksanakan Arabella.


Sementara Haafizh sudah tegang bukan main, ia ikut berkeringat. Apalagi saat tangan Arabrella berpeganggan padanya dengan mencengkeram kuat.


"Tarik napas lalu mengejan ya Bu"


Arabrella lakukan terus menerus, peluh keringat tampak membanjiri pelipis. Sesekali Haafizh mengelapnya.


"Sayang pasti kamu bisa" Bisik Haafizh ditelinga Arabella. Sekarang Haafizh hanya bisa menyemangati Arabella, dalam hati ia terus berdoa supaya persalinan sang istri dimudahkan dan diberi kelancaran.


Melihat istrinya tengah berjuang Haafizh tak kuasa untuk tidak menitikkan air mata. Pengorbanan seorang ibu sungguh luar biasa, menaruhkan nyawanya demi anak mereka bisa lahir ke dunia.


Suasana diruang persalinan sangat tegang bagi Haafizh. Apalagi ini pengalaman pertamanya. Jujur Haafizh lebih baik turun kemedan perang dari pada berada disini.


Tangisan bayi yang keluar begitu kencang membuat Haafizh terpaku. Anak pertamanya telah lahir, Haafizh tak kuasa untuk tidak menangis.


Rasa haru menyelimuti ruang persalinan. Dokter kembali menyuruh Arabella untuk tetap fokus dan mengejan. Tidak bersalang lama bayi keduanya lahir. Kedua tangis bayi itu saling bersahutan.


Haafizh bersyukur kedua anaknya bisa lahir secara sehat dan selamat.


"Selamat ya Bu, Pak. Anak kalian sudah lahir sehat dan normal. Bayinya sepasang, laki-laki dan perempuan." Ucap dokter itu dengan senang.


Arabella menangis karena bahagia bisa melewati proses ini, apalagi anak-anaknya sudah lahir. Tak henti-hentinya rasa syukur terucap dari Arabella dan Haafizh.


"Sayang anak kita" Ucap Haafizh penuh haru. Ia langsung menghujani wajah lelah Arabella dengan ciuman.


Sampai dimana kini Haafizh mengadzani kedua anaknya, rasa haru menyelimuti ruang persalinan. Arabella lagi-lagi menangis, setiap lantunan adzan Haafizh membuat hatinya tersentuh dan ingin menangis.


Setelah diadzani kedua bayinya langsung dimandikan. Arabella juga sudah selesai dijahit dan langsung dipindahkan ke ruang perawatan.


Haafizh terus berada disamping Arabella yang kini terlihat tenang. Tidak lama setelah dipindahkan keruang perawatan dua orang suster membawa kedua bayinya disusul oleh dokter tadi yang membantu persalinan Arabella.


"Sekarang ibu harus memberikan asi pada bayinya." Titah dokter itu dengan ramah seraya mengambil alih bayi dari gendongan suster ke tangannya lalu diberikan pada Arabella.


Arabella mengeluh sakit saat bayinya mulai menyedot asi. Dokter bilang bagi pemula yang belajar memberikan asi pada bayinya memang susah dan sakit tapi lama kelamaan akan mudah dan terbiasa.


***


"Yaampun, Kak Ara. Aku udah jadi tante! Tapi bukan tante-tante." Pekik Ana histeris.


Pagi itu Ana, Pak Haidar, dan Pak Abian mengunjungi Arabella untuk menemui cucunya. Karena tadi malam Haafizh menyuruh semuanya pulang dan kembali esok pagi saja.


Arabella yang tengah menyusui anak laki-lakinya hanya bisa tersenyum lebar melihat reaksi Ana. Apalagi ayah dan ayah mertuanya sangat bahagia.

__ADS_1


Pak Abian dan Pak Haidar berebutan untuk menggendong anak kedua Arabella yang perempuan. Bayi kecil itu menggeliat dibalik kain pinknya.


"Bian jangan kencang-kencang kau itu mantan jenderal aku takut tenagamu malah berlebihan saat menggendongnya."


Ya, si kecil perempuan berada ditangan Pak Abiaan, kedua kakek nya itu sangat antusias melihat cucu-cucunya.


"Sembarangan. Kau tidak lihat! Aku sudah lemah lembut begini." Protes Pak Abian tak terima.


Haafizh yang baru keluar dari toilet langsung mendapati Keluarganya yang sedang berdebat.


"Astaga Bang Haafizh" Kali ini Ana menyerobot mendekati Haafizh. Pria itu terlihat kurang tidur, terlihat dari garis hitam dibawah lingkaran mata.


"Apa?" Tanya Haafizh acuh lalu mendekati Arabella yang tengah duduk dibangsal seraya menyusui jagoan kecilnya.


"Bang Haafizh bagaimana proses lahiran semalam? Apa yang terjadi, apa keponakan-keponakanku itu langsung melompat keluar dari perut Kak Ara?" Cerocosnya seraya menatap Haafizh penasaran.


"Yaallah, biarkan saja adik iparmu nak Haafizh. Jangan diladeni, dia memang aneh" Ketus Pak Haidar yang kini sudah menggendong cucunya.


Ana cemberut lalu duduk kembali dikursi samping bangsal Arabella. Wajahnya ditekuk, seraya memperhatikan bayi itu yang tengah menyusu pada ibunya.


"Kak Ara bayimu seperti vampir" Celetuknya membuat Haafizh melotot tak terima.


Ana yang melihatnya langsung mendengus kesal. "Apa?" Tanyanya dengan suara menentang.


"Liat saja anak-anakku nanti pasti akan sering mengerjaimu saat mereka sudah besar" Ancam Haafizh seraya tersenyum menyerigai.


"Tidak takut. Lagi pula bisa apa mereka nanti, aku sentil saja mereka sudah menangis kejer."


"Mereka akan tegar seperti ibunya"


"Tidak mereka akan sepertiku! Imut, lucu dan cantik aduhai."


"Astagfirullah. Amit-amit sekali" Desis Haafizh ngeri.


"Oh iya, aku punya nama bagus dan keren untuk mereka bagaimana kalau tante cantiknya ini yang memberikan nama" Saran Ana so baik.


"Gak, gak boleh." Tolak Haafizh dengan cepat.


Berbeda dengan Arabella ia malah penasaran saran nama apa yang direkomendasikan Ana, adiknya. Untuk anak-anaknya.


"Apa namanya?" Tanya Arabella.


Sebelum menjawab Ana menatap Haafizh dengan senyum miring, sangat mengerikan seperti ibuk-ibuk galak yang sudah siap untuk memarahi anaknya yang nakal.

__ADS_1


"Namanya Sono dan Acil, Bagaimana baguskan?"


"Astagfirullah"


__ADS_2