
Hari terus berlanjut dimana hari bertugas Haafizh tiba, perpisahan sementara dengan waktu yang lama membuat Haafizh berat meninggalkan Arabella.
"Mas semuanya udah selesai, kamu cek ulang takutnya ada yang ketinggalan"
Arabella duduk di tepi ranjang, di sebelahnya sebuah ransel besar army berukuran besar. Berisi barang-barang serta keperluan Haafizh semasa bertugas.
Saat itu Haafizh baru selesai memakai seragam kebanggaan nya. Topi baret sudah bertengger rapi diatas kepala.
"Aku percaya sama kamu. Jadi gak usah dicek lagi"
Arabella mengangguk pelan bibirnya tersenyum manis namun kedua matanya terus berkaca-kaca.
"Kamu gak usah ikut kebandara. Biar Mas sama Bagas aja, kamu lagi kurang enak badankan Ra, jadi istirahat saja"
Lagi-lagi Arabella hanya menganggukkan kepala.
"Selama aku gak ada jangan pergi kerumah Bunda. Kalau mau pergi harus sama Ana atau ayah"
Arabella mengangguk paham.
"Kalau ada apa-apa kabarin aku, sesibuk apapun aku bertugas. Mas akan tetap ada buat kamu"
Haafizh mendekat lalu berjongkok di depan Arabella yang duduk ditepi ranjang. Kedua tangan Haafizh menggenggam kedua tangan milik Arabella mengecupnya sebentar lalu menatap mata teduh Arabella dalam-dalam.
"Jangan nangis! Istri Mas pasti bisa lalui ini semua. Awalnya memang berat, tapi lama kelamaan semua akan terbiasa"
Benar, semua akan terbiasa selama beberapa bulan kedepan. Tapi apa dirinya bisa melewati harinya tanpa Arabella disisi nya. Haafizh merasa frustrasi untuk pertama kalinya.
"Jaga diri kamu dengan baik, Mas. Sehat-sehat disana! Pulanglah dengan selamat! Aku akan selalu menunggu kepulanganmu"
Arabella tidak sanggup untuk tidak menangis, seberapa apapun mencoba menahan air matanya pada akhirnya buliran bening itu luruh juga.
Berat rasanya melepas kepergian sang suami bertugas dengan waktu yang lama apalagi jarak yang membentang luas memisahkan raga keduanya. Seharusnya Arabella melepas kepergian Haafizh dengan senyuman manis serta sebuah semangat, tetapi Arabella malah menangis. Hatinya sangat lemah, enggan ditinggal pergi oleh Haafizh.
"Tentu. Mas akan pulang dengan selamat. Apapun yang terjadi Mas akan pulang"
Haafizh tak bisa berjanji, ia hanya mampu memastikan saja. Sesungguhnya tugas sebagai tentara itu tidak mudah. Taruhannya nyawa, sebagai abdi negara dan janji seorang prajurit ia rela mati di medan perang dari pada pulang membawa kekalahan.
Semua sudah ada yang mengatur, mengikuti takdir yang sudah di tetapkan oleh sang maha kuasa. Sebagai manusia, Haafizh sendiri hanya bisa berdoa. Setiap pergi berharap ia akan kembali pulang dengan selamat dan dalam keadaan utuh.
Ya. Haafizh akan terus berjuang demi istri dan keluarga, untuk bisa kembali pulang menemui orang-orang tercintanya.
"Mas aku mencintaimu"
Ucap Arabella pelan, sesaat keduanya terdiam lalu Haafizh memeluk Arabella dengan erat.
"Mas juga sangat mencintaimu, Ra. Mas berhasil menikahimu dan sekarang kamu adalah istri Mas."
__ADS_1
Arabella menganggukkan kepala seraya tersenyum. Tangannya memeluk badan Haafizh. Terasa begitu hangat dan nyaman. Harum maskulin khas Haafizh tercium sempurna di indra penciumannya.
Setelah melepas kepergian Haafizh di depan rumah, Arabella segera masuk kembali ke dalam rumah. Haafizh pergi bersama Bagas, sebelum pergi Bagas dan Ana sempat ribut, entah karena apa jelas-jelas yang Arabella tau karena Ana tak suka jika Bagas salim pada Ayah nya.
"Kak Ara kenapa si Bagas bisa kesini"
Kali ini Ana menyerbu Arabella yang duduk termenung di sopa ruang tamu. Sementara Pak Haidar pergi ke belakang rumah untuk memberi makan burung. Hewan peliharaan baru.
Arabella menghela napas lelah.
"Nyamper Mas Haafizh, kan mereka berangkat tugas bareng. Oh ya Ana, Bagas itu lebih tua dari kamu seharusnya kamu bersikap lebih sopan sama Bagas"
"Dia bukan bapakku kenapa harus sopan"
"Tapi dia itu lebih tua dari kamu"
"Salah dia sendiri ketuaan. Ya jadi apa salahnya sama aku"
Astagfirullahaladzim. Lama-lama Arabella bisa terserang migren jika terlalu lama dekat dengan Ana. Benar kata Haafizh jika Ana semakin hari semakin aneh dan barbar.
"Ya pokoknya kamu jangan panggil Bagas nama depannya aja, Bang Bagas atau kak juga kan bisa"
Ana menautkan kedua alisnya hingga menyatu. Dunia terasa akan runtuh jika Ana memanggil Bagas dengan embel-embel bang atau kak, astaga. Ayolah siapa yang ingin hormat dan sopan pada Bagas.
Pria itu aneh dan terlalu santai untuk Ana. Bahkan Bagas itu terlalu kolot untuk Ana yang masa kini.
Tuh kan, Ana memang susah dibilangin. Arabella kesal sendirian kalau terlalu lama disini lebih baik ia pergi ke kamar lalu tidur cantik disana.
"Kak Ara mau kemana?" Tanya Ana saat Arabella bangkit dari duduknya.
"Aku pusing"
"Operdosis itu mah kali kebanyakan mikirin suami"
***
Hari terus berlanjut hingga dua minggu kepergian Haafizh bertugas Arabella melewati hari-harinya yang terasa kosong. Jika ada Ana dirumah maka suasana rumah akan heboh dan hangat. Tapi percayalah bukannya Arabella tak mau berlama-lama bersama Ana tapi adiknya itu sangatlah barbar dan berisik.
Pak Haidar selalu menemani Arabella jika wanita itu terlihat melamun sendirian di kamar, Pak Haidar hanya cemas melihat Arabella selalu terlihat murung. Bahkan Arabella sulit makan.
Sesekali Pak Abian selalu mengunjungi rumah Pak Haidar sekedar untuk mengetahui kabar menantunya. Sementara Dinda, wanita itu tidak pernah mengunjungi Arabella.
Hingga dibulan berikutnya Arabella merasa lebih baik mungkin ia merasa terbiasa tanpa Haafizh, walau suaminya itu sibuk tapi Haafizh selalu menyempatkan waktu untuk selalu mengabari Arabella.
Contohnya disaat tengah malam orang-orang tidur Haafizh dan Arabella malah sibuk Video Call keduanya baru saja selesai melaksanakan shalat tahajud.
"Sayang kamu belum ngantuk?"
__ADS_1
Tanya Haafizh disebrang sana yang tengah merebahkan tubuhnya di alas tipis. Kedua matanya sudah tampak sayu, sesekali Haafizh menguap.
"Belum Mas"
Berbeda dengan Arabella yang terlihat segar, ia justru malah semangat memperhatikan wajah tampan Haafizh lewat layar datar. Sosok yang selama ini Arabella rindukan.
"Sambil tiduran Ra, kamu ngapain masih duduk ini udah larut malam"
Ya, Arabella tengah duduk di atas ranjang. Lalu dengan cepat ia merebahkan tubuhnya sesuai perintah Haafizh tak lupa menarik selimut hingga ke dada.
"Biasanya aku suka meluk kamu Ra" Ucap Haafizh terkekeh.
Arabella ikut terkekeh lalu memiringkan tubuhnya menghadap ke sebelah kanan.
"Aku rindu kamu Ra"
Ucap Haafizh disebrang sana, senyumnya raib tergantikan dengan wajah sendu. Sorot matanya berubah sayu, terlibat ada rasa rindu yang sangat mendalam.
Padahal baru satu bulan lebih Haafizh dan Arabella berpisah tapi rasa-rasanya Haafizh dan Arabella seperti sudah berpisah tahunan.
"Aku juga Mas"
Entah bagaimana, tiba-tiba Arabella menangis tersendu membuat Haafizh disebrang sana menjadi khawatir. Akhir-akhir ini istrinya menjadi lebih sering menangis bahkan Arabella yang biasanya mandiri dan tegar kini menjadi manja dan cengeng.
"Sayang jangan menangis!"
Namun sepertinya Arabella tidak menghiraukan Haafizh, ia tetap menangis seraya menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Ra, lihat aku!"
"Akhir-akhir ini aku jadi cengeng banget, Ya Mas?" Tanya Arabella disela-sela isak tangisnya.
Disebrang sana Haafizh tampak tersenyum kecil lalu Haafizh menggeleng pelan. "Gapapa sayang, mungkin kamu mau haid kali"
"Kalau mau haid marah-marah, Mas. Bukan cengeng" Kali ini Arabella terlihat kesal.
Eh tunggu, Haid? Arabella terdiam beberapa saat memikirkan sesuatu, kenapa ia baru sadar. Sudah satu bulan ini ia tidak datang bulan. Apa jangan-jangan dirinya bermasalah?
Atau terkena penyakit, Tidak. Arabella merasa selama ini baik-baik saja hanya saja emosinya selalu tidak stabil. Memikirkan itu membuat wajah Arabella memucat karena takut.
'
'
'
__ADS_1
Yang minta Bagas sama Ana jadian mohon sabar dulu, Ana itu kisah hidupnya panjang belum lagi nemuin ayah kandungnya. Nanti gak tau diekstra part udah Arabella dan Haafizh tamat, atau buat novel baru buat kisah Ana dan Bagas. Author masih bingung.