Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Membahas Malam Keramat


__ADS_3

Selepas kepergian pak Haidar yang akan mengbabad kebun sebelah miliknya terdengar dari speker mesjid pengumuman.


"Assalamualaikum, kepada bapak-bapak semua. Mohon bantuannya untuk bekerja bakti di kebun milik pak Haidar, rencananya lahan kebun itu akan dipakai untuk acara pernikahan"


Setelah pengumuman itu terdengar di pengeras suara mesjid, seketika bapak-bapak langsung datang kelokasi seraya membawa cangkul dan parang. Para remaja juga ikut serta untuk membantu.


Lokasi kebun tidak jauh dari rumah, hanya terhalang oleh dua rumah tetangga.


Di rumah Ana berdecak kesal, tidak di duga kalau ayahnya akan senekad ini.


"Siap-siap nanti malam kamu di suruh mijitin" Cibir Arabella seraya terkekeh melihat Ana cemberut.


Kedua beradik kakak itu tengah di dapur menyiapkan beberapa cemilan serta kopi untuk para bapak-bapak.


"Mana bau minyak pijitnya nyengat banget" Keluh Ana.


Arabella hanya tersenyum.


"Tuh kamu bawa termosnya, gelasnya awas pecah! Aduhh ini banyak banget ternyata" Arabella membawa cemilan serta beberapa makanan rebus seperti singkong dan ubi rebus ke dalam dua rantang besar yang ternyata tidak muat menampung semua.


Ana yang hendak ingin menjinjing termos jadi tak jadi, ia segera menghampiri Arabella.


"Banyak banget. Coba telepon tetangga kita si titin"


"Tentangga kita namanya Winar, bukan Titin. Lagian mau ngapain?"


"Sama saja. Kali aja mau bantu"


"Jangan! Kamu ini, nanti biar aku yang ambil lagi ke sini kalau ini udah ditaro disana"


Ana berdecak, "Bulak balik dua kali, repot. Aku aja kalau diajak balikan sama mantan suka ga mau" Cetus Ana, ia mulai mengambil termos serta beberapa gelas yang sudah di masukan ke dalam plastik berwarna hitam.


"Kamu ini, apa-apa suka dikaitkan sama mantan"


"Mantanku banyak, tapi sayang semuanya ga bisa di daur ulang. Rusak semua, meninggalkan luka"


Arabella hanya diam seraya geleng-geleng kepala mendengar semua perkataan Ana.


Keduanya keluar rumah dengan begitu kerepotan, untung jarak ke kebun tidak jauh jadi tidak membuat lelah berjalan kaki. Tidak sampai lima menit Arabella dan Ana sudah sampai disisi kebun yang langsung berhadapan dengan jalan dan rumah warga.


Sampai di sana Ana langsung menggelar tikar besar untuk tempat duduk, selesai menggelar tikar Arabella langsung menghidangkan makanan serta cemilan. Sementara Ana menata gelas dan kopi untuk diseduh nanti.


Setelah siap, Ana hendak ingin mendekati para bapak-bapak untuk menyuruh beristirahat dulu namun ia urungkan kala melihat anak perempuan berumur tujuh tahun tengah memainkan microphone speaker. Melihat itu membuat Ana punya ide.


"Hey anak manusia, coba aku pinjam microphone itu" Bukannya meminjam secara baik-baik Ana malah terkesan galak.


Anak perempuan itu diam dengan menatap Ana penuh keraguan, "Jangan menatapku seperti itu, aku tau aku ini cantik dan aduhay." Ucapnya jumawa seraya mengibaskan tangan. Sejenak anak itu berpikir lalu memberikan microphone speaker itu pada Ana.

__ADS_1


"Anak pintar. Diam disana nanti aku kembalikan" Titahnya seraya berlalu ke tengah kebun.


Ana menatap microphone speaker itu lalu menyalakannya seraya tersenyum lebar.


"Cek satu dua tiga cek" Sebelum berbicara lebih lanjut Ana mencoba microphone itu dengan mengetesnya terlebih dahulu. Alat pengeras suara itu Ana setel dengan kekuatan volume tinggi, sontak membuat bapak-bapak serta warga yang kebetulan lewat menoleh dengan kompak pada sumber suara.


"Cek, mari dicoba cek. Oke, oke mohon perhatiannya! Bapak-bapak semua, omaigat ini kekencangan. Tapi bagus, haha."


Suara nyaring Ana membuat semua orang menatap Ana dengan tatapan aneh sekaligus binggung. Kecuali pak Haidar, ia sudah tepuk jidat.


Penglihatan Ana kembali terpusat pada sekelompok bapak-bapak yang ternyata tengah menatap ke arahnya.


"Hey Yo, bapak-bapak semua" Sapa Ana bak tengah konser diatas panggung dengan tangan melambai-lambai.


Semua bapak-bapak lantas diam membisu seraya menatap Ana.


"Oke bapak-bapak semua yang sudah menua namun tetap menua hingga penuan dini. Mohon perhatiannya" Seperti tengah berdemo menyuarakan suara rakyat, Ana begitu terlihat antusias mengucapkan slogannya.


"Disisi kebun sudah ada hidangan istimewa dan sehat, yang tentunya akan membuat para bapak-bapak semua tidak kekurangan gizi. Ayo segera serbu secepatnya, sebelum kehabisan."


Selesai mengucapkan itu Ana lantas kembali untuk mengembalikan microphone speaker itu pada anak perempuan.


"Nih, makasih." Ucap Ana yang lansung dibalas anggukan oleh anak perempuan tadi.


Ana kembali mendekati Arabella. "Gimana, publik speaking aku bagus kan"


"Itu tadi ngapain? Emang ga malu"


"Menyuruh bapak-bapak itu makanlah kak, ngapain lagi coba. Liat tuh mereka udah nyamperin kesini" Tunjuk Ana pada bapak-bapak yang kini mendekat ke arahnya.


"Sebenarnya, aku yang lelah atau dia yang terlalu aktif"


***


Hari semakin sore hingga tidak terasa malam telah tiba dengan begitu cepat. Hari pernikahan Arabella semakin dekat, kebun sudah dibabad habis tinggal memasang tenda dan beberapa dekorasi lainnya.


Hingga tiga hari menjelang pernikahan barulah tempat akad mulai di hias sedemikian rupa. Sudah satu hari ini Arabella selalu diam dikamar, Ana selalu mewanti-wanti agar Arabella tidak mengerjakan apapun.


Undangan sudah disebar, dari mulai kerabat, teman sekolah serta teman kerja Arabella. Sodara jauh telah pak Haidar undang. Begitu juga dengan teman-teman Ana serta tetangga.


Untuk akad nikah hanya dihadiri dua belah pihak keluarga serta sanak saudara. Dan untuk resepsi mengundang banyak orang sekaligus para pembaca setia, Arabella undang sebagai tamu kehormatan di acara nikahnya nanti.


"Pihak WO besok mau kesini katanya mau menghias tangan kamu" Ucap Ana, ia tengah menghias kamar Arabella menjadi kamar pengantin pada umumnya semua serba baru dari mulai gorden, kasur, sampai sepreipun baru.


"Iya, iya. Kamu kok bisa ngedokarasi kayak gini?"


Seluruh kamarnya terlihat sangat berbeda, bernuansa romantis dan elegan.

__ADS_1


"Jangan kepo. Yang penting malam pertama kak Ara lancar" Cetusnya seraya menahan tawa.


Arabella diam, pikirannya kembali teringat pada perkataan Haafizh tempo lalu. "Kira-kira malam pertama kita akan se-hot apa ya, Ra?"


Perkataan Haafizh membuat Arabella takut, entahlah mendadak Arabella sangat takut sekaligus gugup.


"Jangan terlalu berisik loh kak, ingat! Kamar kita sebelahan" Ucap Ana seraya terkikik.


"Kamu ini, An. Jangan kayak gitu"


Ana tertawa. "Siap-siap kak, bang Haafizh itu tentara pasti ekstra kuat dan tahan lama"


Arabella mengerjit bingung lalu mendekati Ana yang kini tengah menata beberapa gaun tidur baru dilemari.


"Kanapa harus siap-siap segala. Emangnya apa yang akan terjadi?" Arabella benar-benar tidak tahu apapun, ia terus menatap Ana yang kini tengah menahan tawa.


"Yaampun, polosnya. Bisa-bisa kau akan habis nanti malam olehnya" Omel Ana seraya geleng-geleng kepala.


"Siapa yang akan menghabisiku, nanti malam? Apa sebaiknya kita lapor polisi" Lihatlah wajah Arabella ia terlihat sangat panik, membuat Ana gemas sendiri.


"Astaga. Jangan! Kau ingin malam pertamamu di gerebeg masal"


Plakk...


"Aduhh"


Satu tamparan keras mendarat tepat di tangan kanan Ana, ia langsung mengaduh kesakitan seraya mengusapnya


"Lagi-lagi kau membahas malam keramat itu, jujur saja aku sangat takut"


Ana menganggukkan kepala.


"Benar kau memang harus takut, katanya sakitnya sampai setengah mati"


Yaampun


Kedua mata Arabella membulat terkejut, ia tidak menyangka rasa sakitnya akan sampai setengah mati seperti itu.


"Beneran? Kamu kata siapa? Emang pernah nyobain" Tanya Arabella setengah berbisik, ia merapatkan tubuhnya pada Ana hingga saling berdempetan di dekat lemari baju.


"Sembarangan. Aku belum pernah, aku kan kata orang-orang yang udah berpengalaman"


Arabella manggut-manggut.


"Coba tanya aja sama para pembaca"


"Kau ingin membuatku malu"

__ADS_1


__ADS_2