Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Sebuah Sumpah


__ADS_3

Setelah dua hari tinggal dirumah sakit, akhirnya Arabella sudah diperbolehkan pulang. Dua bayi kembar itu tampak tenang dalam dekapan ibunya dan sang tante.


"Aduh, gemesnya keponakan aunty. Pasti udah besar mirip aku" Ucap Ana riang seraya menatap wajah damai sang bayi yang tengah terlelap.


"Naudzubillah" Ucap Haafizh pelan. Ia tengah duduk dikursi kemudi tatapannya fokus pada jalanan didepan.


Ana yang mendengarnya langsung mendelik sebal. "Aamiinin kali, Bang. Liat aja nanti beberapa tahun kedepan aku juga bakal punya yang kayak gini satu"


"Yaudah sana buat sama Bagas." Titah Haafizh.


"Ihh, amit-amit. Gak mau, bisa-bisa aku mendadak serangan jantung saat si Bagas ngucapin ijab kabul."


Haafizh tersenyum menyerigai.


"Yakin gak mau? Bagas itu sholeh, tentara. Pengusaha mebel lagi"


"Mau anak presidenpun aku gak mau sama dia. Kayak gak ada yang lain aja"


Perdebatan kecil itu terus berlanjut hingga sampai rumah. Arabella langsung beristirahat dikamar bersama kedua bayinya.


Sementara Haafizh pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Arabella. Ana turut ikut mengintil, seraya melihat-lihat setiap sudut rumah Haafizh.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Haafizh heran tanpa menoleh sedikitpun pada Ana. Tatapannya fokus pada beberapa bahan sayuran dengan kedua tangan sibuk meracik bumbu.


"Liat-liatlah, mau ngapain lagi."


Haafizh menghela napas berat, ia sungguh sangat lelah dan pusing. Semalam tidak tidur dan sekarang ditambah ada adik iparnya. Menurut Haafizh, Ana itu spesies makhluk aneh dibumi. Selain bar-bar, absurd dan berisik. Ana juga tipe manusia yang sedikit beda dari orang lain, ya anggap saja begitu.


"Apanya?" Tanyanya seraya menatap Ana yang tengah memainkan gelas kecil berkilau seperti kristal diatas meja makan.


"Kalau dijual lumayan kayaknya nih gelas" Jiwa berniaganya meronta saat membayangkan pundi-pundi uang. Semua yang ada dirumah Haafizh terlihat mahal dan berkelas.


"Jangan macam-macam" Ancam Haafizh dengan jengkel.


"Pelit. Lagian apa enggak sayang minum pake gelas sebagus ini" Tanya Ana seraya menatap pantulan dirinya digelas.


"Gelas fungsinya buat minum, bukan buat pajangan"


Haafizh tak menggubris ia telah selesai membuat sup ayam untuk Arabella. "Kalau mau makan bikin sendiri. Saya mau ke kamar, jangan ganggu!" Tegasnya seraya berlalu pergi.


Sepeninggalan Haafizh, Ana langsung mengambil minum seraya menggerutu. Kakak iparnya itu sangat menyebalkan.


"Semoga si Sono dan Acil, tidak seperti bapaknya yang galak" Ucapnya dengan kesal. Lalu meneguk segelas air tadi hingga tandas.

__ADS_1


Selesai minum Ana langsung berlalu meninggal dapur. Saat langkahnya mulai memasuki ruang tengah yang terhubung dengan ruang tamu samar-samar Ana mendengar pak Abian berbicara.


"Ayo masuk dulu, kebetulan mereka sudah pulang."


Ana yang penasaran langsung mempercepat langkahnya, tepat diruang tamu langkah Ana terhenti. Ia melihat Pak Abian tengah berdiri diambang pintu, terlihat siluet tubuh tegap seseorang dihadapan Pak Abian.


Sepertinya kedua pria itu tengah berbincang, sesekali terlihat tangan kanan Pak Abian menepuk pundak pria itu. Ana tidak bisa melihatnya karena terhalang tubuh Pak Abian.


"Lagi ada tamu, Pak?" Ucap Ana setengah berteriak.


Mendengar suara Ana sontak membuat Pak Abian berbalik badan untuk menoleh ke sumber suara, begitu pula dengan pria itu yang kini menatap Ana dengan raut wajah tegang.


"Astaga, kau. Mau apa kau kemari, Hah?" Tanya Ana dengan garang. Bahkan ia melangkah maju seraya melipat tangan didada.


"Saya memang sering kesini" Jawab pria itu santai.


"Kamu mengenal Bagas, Ana?" Tanya Pak Abian heran saat melihat reaksi Ana terhadap Bagas.


Ana yang kini sudah mendekati keduanya dan berdiri tepat disamping Pak Abian mengangguk mengiyakan.


"Sejak kapan?" Tanya Pak Abian semakin penasaran.


Ana mendengus sebal. Lalu menatap Bagas dengan tajam.


Pak Abiaan mengerjit tak mengerti.


"Jadi kenapa kamu masih disini? Sana pergi! Lagi pula hari ini kami tidak menerima tamu. Kalau seandainya kami menerima tamu, kamu tidak diijinkan bertamu"


Memang benar-benar absurd, baru kali ini Pak Abian melihat sisi lain dari sikap Ana. Pantas saja Haafizh selalu memperingatinya, jika dekat dengan Ana harus hati-hati, takutnya dibuat pusing tujuh keriling.


Padahal disini dialah tuan rumahnya.


"Ana saya ingin menemui Kapten sekaligus melihat keponakan saya" Ucap Bagas lembut, sepertinya ia tidak ingin berdebat lebih lanjut dengan Ana.


"Sembarangan. Itu keponakan aku, berani-beraninya kau mengaku-ngaku."


"Keponakan saya juga, karena Kapten seperti kakak saya sendiri"


"Ck, Sono dan Acil itu keponakan aku Bagas. Lama-lama ngelunjak juga"


Hah, Sono dan Acil siapa mereka?


Bagas dan Pak Abian saling lirik, sejurus kemudian keduanya menatap Ana.

__ADS_1


"Sono, Acil, siapa mereka?" Tanya Bagas kebingungan.


"Yaa... nama anaknya Bang Haafizh lah. Siapa lagi" Ujar Ana dengan suara memelan mengetahui ada Pak Abian disebelahnya dengan tatapan menyalang.


"Beneran anak-anak kapten diberi nama seperti itu, Pak?" Kali ini Bagas bertanya pada yang lebih waras, ia tidak percaya dengan ucapan Ana.


Pak Abian menggeleng tegas. Menolak nama aneh itu. "Mereka belum diberi nama."


Bagas mengangguk.


"Ayo masuk, kamu bisa nunggu Haafizh diruang tamu. Saya mau menemui seseorang dulu" Ujar Pak Abian seraya menepuk pundak kokoh bagas, setelah itu Pak Abian segera berlalu pergi meninggalkan Bagas dan Ana yang masih berdiri diambang pintu.


"Jangan memberikan nama sembarangan! Nama itu sebuah doa. Walau terdengar lucu, tapi itu tidak terlalu pantas untuk dua malaikat kapten Haafizh"


Bagas tersenyum hangat lalu melangkah masuk ke dalam rumah melewati Ana yang cemberut kesal karena tak terima jika Bagas yang ia benci itu menasihatinya.


"So baik, dasar pria aneh. Ku sumpahkan semoga dia jadi duda beranak satu."


Ana segera menyusul Bagas yang kini sedang duduk seraya memainkan gawainya. Wajah Bagas memang tidak setampan Haafizh, tapi wajah Bagas memang sejuk untuk dipandang. Bagas sangat terlihat santai dan ramah, apalagi Bagas sangatlah manis.


Sebut saja coklat, karena hitam manis seperti sosok Bagas yang sangat manis.


"Kenapa liat-liat?"


Astaga, suara bariton Bagas membuyarkan lamunannya. Ana benar-benar tersentak kaget sampai ia mengelus dadanya yang terasa jantungan.


"Gila, Bagas kamu ngangetin aku" Hardik Ana kesal.


"Lagian kenapa kamu liatin saya kayak gitu, intens banget. Kan saya risih"


"Amit-amit, kapan coba aku liatin kamu. Jangan geer deh, Bagas"


"Kan tadi kamu liatin saya."


"Aku gak liatin kamu, Ya Bagas. Lagian jadi orang geer banget. Nih ya, dengerin. Aku tuh benci banget sama kamu, saking bencinya aku gak mau kita berjodoh. Pokoknya jangan sampe" Tegas Ana.


"Lagian saya juga gak mau punya istri kayak kamu. Umi saya bisa darah tinggi punya menantu kayak kamu" Ucap Bagas tak kalah tegas. Gayanya yang santai dan tenang masih terpatri jelas, Bagas tak mau berlama-lama bersama Ana lehih baik ia segera menemui Haafizh.


Bagas berdiri dari duduknya ia segera berlalu pergi tanpa menoleh pada Ana. Sebelum menaiki anak tangga Bagas menghentikan langkahnya. "Semoga kita tidak berjodoh. Dan saya harap memang benar begitu." Ucap Bagas, lalu melanjutkan langkahnya kembali menaiki anak tangga.


Ana terdiam seraya menatap Bagas yang kini semakin menjauh darinya.


"Dasar calon duda beranak satu. Liat saja jodohku pasti lebih tampan darimu."

__ADS_1


__ADS_2