
Setelah kepergian Dinda, mertuanya. Arabella menangis, bukannya sedih karena dihina seperti tadi tapi Arabella sedih karena ibu mertuanya membenci dirinya. Sebenarnya apa alasan bunda Haafizh membencinya sampai seperti itu.
Pintu kamar terbuka Haafizh masuk seraya membawa satu gelas susu hangat diatas nampan.
Arabella membalikkan badan membelakangi Haafizh seraya mengusap bekas air matanya.
"Ra, Mas buatin susu hangat buat kamu. Diminun ya sayang" Ucapnya seraya menyimpan satu gelas susu diatas meja nakas. Lalu Haafizh kembali menutup pintu seraya menguncinya.
"Ra besok katanya Ana mau kesini ya?" Tanyanya lalu memeluk Arabella dari belakang. Seperti mendapatkan kebiasaan baru, Haafizh selalu mencium pipi, leher dan pundak istrinya
Arabella diam ia memejamkan mata kala tangan Haafizh mulai bergrilya kemana-mana. Sensasi baru yang selalu Haafizh berikan membuat Arabella tidak bisa menolak.
Kini Haafizh membalikan tubuh Arabella, tatapan keduanya saling bertemu.
"Ara, aku mencintai kamu"
Ucapnya lembut lalu Haafizh memiringkan kepalanya untuk memanggut bibir ranum sang istri. Tinggal beberapa senti tapi Arabella memalingkan wajah.
"Mas... aku sedang tidak ingin" Tolak Arabella lalu menjauhkan tangan Haafizh dari pinggangnya.
Haafizh terdiam ia sedikit kecewa namun Haafizh juga tidak bisa memaksa. "Kenapa" Haafizh hendak ingin memegang pipi Arabella namun istrinya itu malah mundur.
"Mas sebaiknya kamu tidur ini sudah malam"
Arabella berbalik badan lalu naik keatas ranjang.
"Tapi aku belum mengantuk" Haafizh turut naik keatas ranjang lalu ikut duduk disamping Arabella.
Terlihat dari samping wajah istrinya terlihat sedih, Haafizh tau ini pasti ada sangkutannya dengan bunda. Lagi-lagi bundanya selalu saja berbuat ulah.
"Kenapa? Pasti karena bundakan"
Tepat sekali Arabella langsung menoleh, kedua matanya berkaca-kaca.
"Sebaiknya kita pulang sekarang!"
Haafizh buru-buru beranjak lalu meraih tangan kanan Arabella untuk pergi dari sini namun Arabella malah melepaskan ngenggaman tangannya.
"Jangan Mas, kitakan udah janji mau menginap dua malam."
Haafizh menghela napas lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Bunda bilang apa ke kamu?" Ucap Haafizh dengan tegas, bahkan untuk pertama kalinya Haafizh berbicara dengan nada setegas ini. Tatapan Haafizh menajam dengan raut wajah serius.
Mendengar suara tegas Haafizh yang tidak seperti biasanya serta tatapan matanya membuat Arabella memberenggut takut sekaligus ragu, apa iya Arabella harus menceritakan perihal omongan bunda tadi.
"Bu-bunda hanya... bilang kalau dia belum merestui pernikahan kita" Ujar Arabella dengan terbata-bata.
"Bohong. Aku tau kamu Ra, aku tidak mudah kamu bohongi seperti itu. Sekali lagi Mas tanya, bunda bilang apa ke kamu?"
Arabella menelan ludah, ia merasa diintrograsi. "Tapi kamu jangan marah sama bunda"
"Tergantung bunda tadi ngomong apa ke kamu"
Tuhkan Haafizh pasti akan marah, Arabella merasa bersalah seharusnya ia diam saja tanpa harus menunjukkan sikap sedihnya atas perkataan bunda tadi.
"Janji dulu" Bujuk Arabella seraya menatap Haafizh dengan penuh harap.
Namun Haafizh malah memalingkan wajah ia tak kuasa saat Arabella menatapnya seperti itu, hati Haafizh luluh. Ditatap seperti itu membuat Haafizh tak bisa menolak.
Akhirnya dengan berat hati Haafizh menganggukkan kepala.
"Aku sayang bunda, Mas. Aku tidak tau apa kesalahan aku serta Alm, ibuku dulu. Aku tau aku seorang wanita miskin dari kaum rendah, tapi aku tidak serendah itu. Ucapan bunda memang benar, kalau aku miskin sedangkan kamu dari keluarga kaya. Mas aku sayang kamu, aku gak mau kehilangan suamiku. Apa suatu saat nanti kamu bakal ninggalin aku karena aku miskin?"
Haafizh tertegun mendengar penuturan istrinya. Tidak disangka bundanya akan berbicara serendah itu pada istirnya, hati Haafizh terilis bahkan terasa perih di dalam sana. Ia tak terima jika istrinya direndahkan seperti ini oleh ibunya sendiri.
Rasa-rasanya Haafizh ingin marah pada bunda sekarang juga.
"Kamu gak percaya sama aku, Ra?" Tanyanya dengan sendu.
Arabella terdiam ia masih setia menangis.
"Aku tidak peduli kau miskin ataupun kaya, aku akan tetap menikahi kamu. Sekalipun kau seorang gelandanganpun aku akan tetap menjadikanmu istriku"
Dengan cepat Haafizh menautkan bibir kedunya, ciuman lembut dengan suara decakan bibir saling beradu. Haafizh tak ingin kehilangan Arabella, istrinya itu bagaikan jantung. Jika Arabella tidak ada maka Haafizh akan mati.
Arabella meremas lengan kekar Haafizh, ciuman itu semakin dalam. Haafizh terus menyudutkan tubuh Arabella hingga istrinya tidur telentang.
Haafizh melepaskan ciumanya lalu menatap Arabella dengan sayu napasnya memburu dengan suara detak jantung yang saling bersahutan.
"Kau milikku, dan aku milikmu, Ra. Jadi jangan coba-coba berpikir kalau kita akan berpisah"
Setelah mengucapkan itu Haafizh kembali memanggut bibir ranum Arabella. Lagi-lagi Haafizh menyatukan tubuhnya kedunya, "Kamu selalu membuatku tak berdaya, Ra"
__ADS_1
Haafizh terkekeh geli disela-sela aktivitas panasnya. Arabella hanya memalingkan wajah seraya melenguh merasakan setiap pergerakan Haafizh pada tubuhnya.
Malam semakin larut hingga hujan turun deras, udara semakin dingin dengan gemuruh hujan yang turun. Haafizh menatap Arabella yang kini telah tertidur pulas usai pertempuran tadi.
Ingatan Haafizh kembali pada perkataan Arabella tadi, bundanya sangat kurang ajar. Haafizh harus tegas, tidak peduli kalau dia akan dicap sebagai anak durhaka.
Haafizh turun dari ranjang lalu kembali mengenakan pakaiannya yang tadi dilempar kelantai, usai memakai pakaiannya Haafizh membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya. Tampak istrinya tidur dengan sangat pulas, Haafizh tersenyum lebar lalu mencium kening Arabella dengan perlahan.
"Aku sayang kamu Ra" Ucapnya lalu berlalu keluar kamar.
Tenggorokannya terasa sangat kering, Haafizh melangkah ke dapur lalu mengambil satu botol air dingin dari kulkas. Baru saja Haafizh menutup pintu kulkas tiba-tiba bundanya datang ke dapur.
"Haafizh" Pekik bundanya dengan sedikit terkejut, takutnya maling.
Haafizh acuh, lalu meminum satu botol air dingin tadi hingga habis.
"Kamu belum tidur?" Tanya Dinda seraya mengisi air putih kedalam gelas.
Haafizh meletakkan botol tadi dimeja makan. "Apa maksud bunda menghina istriku miskin dan rendahan" Tanya Haafizh dengan dingin.
Dinda yang baru selesai minum, langsung berbalik badan lalu menatap Haafizh.
"Itu kenyataannya" Tukas Dinda dengan tegas.
Haafizh tersenyum kecut, "Berarti aku juga sama, karena sekarang dia istriku jadi tidak ada bedanya, Bun. Miskin dan rendahan"
Dinda menggeleng. "Kau beda Haafizh hanya dia yang miskin dari kaum rendahan. Seharusnya kau ceraikan saja dia"
"Perkataan bunda membuatku malu, bunda seorang guru. Tapi omongan bunda sangatlah rendah, maafkan aku bun. Disini sudah terlihat jelas siapa yang rendah"
"HAAFIZH" Bentak Dinda marah, ia hampir saja ingin menampar Haafizh tapi ia urungkan.
Haafizh tertawa kecil.
"Aku merasa menjadi anak durhaka. Maafkan aku, Bun. Tapi seharusnya bunda sadar kalau Arabella tidak punya salah pada bunda, tapi kenapa bunda sangat membecinya?"
"Ceraikan dia Haafizh, bunda tidak suka melihat dia menjadi istrimu" Ucap Dinda dengan tegas.
"Aku tidak mau. Arabella istriku" Ucap Haafizh tak kalah tegas.
Dinda mendengus kesal. "Terserah kamu saja, kita lihat saja ke depannya bagaimana pasti kamu akan menyesal menikahi wanita rendah itu" Ucap Dinda lalu berlalu meninggalkan Haafizh.
__ADS_1