Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Rasa Bahagia


__ADS_3

"Jadi Arabella hamil, Pah?"


Siang itu Pak Abian mendapat telepon dari Pak Haidar, kabar kehamilan Arabella yang tengah mengandung janin kembar. Tentu membuat Pak Abian senang bukan kepalang, mengucap syukur sebentar lagi ia akan memiliki seorang cucu.


"Iya Bun. Haafizh memang hebat! Menantu kita juga hebat bisa mengimbangi Haafizh jadi sekali jadi dapet dua. Luar biasakan, Bun"


Dinda tersenyum miring, antara suka dan tidak suka. Kenapa harus Arabella, kenapa Haafizh tidak menikahi Ana saja pasti kabar kehamilan ini sangat puas ditelinga Dinda.


"Maksud papah, Arabella mengandung janin kembar?"


Pak Abian mengangguk.


"Cucu kembar, Yaallah. Rasanya baru kemarin Haafizh masuk pendidikan kemiliteran dan sekarang malah udah mau jadi seorang ayah"


"Biasa aja kali, Pah. Kok kamu seseneng itu, lagian baru hamil belum tentu selamat sampai lahiran"


"BUN" Bentak Pak Abian murka, bahkan kedua tangannya mengepal kuat.


"Apa, Hah? Lagian benerkan, belum tentu selamat. Segitu aja dibanggain, Cihh. Bunda merasa jijik dengan Arabella, kenapa anak kita mau-maunya menyentuh wanita so lugu itu"


Plakk


Satu tamparan keras dipipi sebelah kanan Dinda membuat ia tersungkur hingga terjatuh ke lantai. Pak Abian tampak marah, terlihat dari napasnya yang naik turun dengan kedua tangan mengepal.


"Berani sekali kau bicara seperti itu pada menantuku dan cucuku. Kau pikir siapa dirimu Dinda, jangan lupa daratan. Kau dulu wanita miskin yang kebetulan di jodohkan denganku. Kurang ajar sekali!"


Setelah mengatakan itu Pak Abian langsung berlalu keluar kamar, meninggalkan Dinda yang menangis. Pipinya terasa panas dan perih, bahkan tamparan tadi berbekas menjadi merah.


***


Setelah diperiksa dan mengambil hasil USG janin kembarnya Arabella langsung pulang. Rona bahagia tampak terpancar jelas, bibir ranumnya terus menyunggingkan senyuman.


"Mas Haafizh pasti seneng kalau tau aku hamil"


Sedari tadi Arabella terus memandangi foto hasil USG dimana terdapat gambar dua benih janin sebesar butir beras. Sesekali tangan kanannya mengelus perut, kapan perutnya berkembang besar. Ah, rasa-rasanya Arabella ingin cepat mengalami dimana fase perut membuncit.


"Aku hamil dan akan menjadi seorang ibu"


"Dan Mas Haafizh menjadi seorang ayah"


Rebahan diatas ranjang memang nikmat, mengobrol sendiri seraya membayangkan sesuatu yang indah membuat nyaman berlama-lama diposisi seperti ini.


"Nanti malam aku akan mengirim foto hasil USG dan tespack ini pada Mas Haafizh. Kira-kira akan seperti apa reaksinya"


Membayangkan nya saja sudah membuat Arabella gemas sendiri. Suami super tampannya itu pasti akan sangat bahagia, apalagi selama ini Haafizh menginginkan seorang bayi.


Pikiran Arabella semakin tak terkendali, ia malah kembali menerawang setiap momen hubungan panas antara dirinya dan Haafizh. Sentuhan Haafizh, lengguhan Haafizh yang berat dan begitu sensual membuat Arabella tergoda.


Kenapa Haafizh bisa sesempurna itu? Arabella merasa terlalu beruntung memiliki Haafizh. Ah, tidak-tidak. Arabella harus bersyukur, Haafizh memang takdirnya.


Pikiran gila itu terus melekat sampai Arabella menggelengkan kepala cepat, ia harus mengusir pikiran kotor itu. Sekarang malah rasa rindu yang muncul kembali, hingga rasanya ingin mendengar Haafizh menyanyi.

__ADS_1


Yaampun keinginan macam ini, tiba-tiba Arabella ingin mendengar Haafizh bernyanyi untuknya.


Hingga malam tiba Arabella sudah mengirim pesan singkat melalui aplikasi hijau pada Haafizh, dimana kabar kehamilannya yang mengandung bayi kembar sudah menginjak bulan ke satu. Sungguh kabar yang membahagiakan bukan.


Sementara dibelahan pulau lain Haafizh baru saja keluar dari dalam tenda ia habis berganti baju dengan setelan kaus berwarna hitam polos seperti biasanya.


Ujung rambut cepaknya tampak basah, dengan wajah terlihat segar karena habis mengambil wudhu. Menjaga wudhu adalah kebiasaan Haafizh sejak dulu.


"Gas, saya pusing sekali, tadi sempat mual lagi dan malah semakin parah"


Keluh Haafizh wajahnya pucat pasi, terlihat badan tegap itu tampak lemas.


Bagas yang saat itu hendak ingin melepas baju jadi tak jadi karena khawatir pada kondisi Haafizh.


"Kapten disini tidak ada rumah sakit jadi bagaimana. Sebaiknya Kapten makan dan beristirahatlah"


Haafizh menggeleng lemah.


"Mungkin ini terdengar konyol. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja, saya ingin makan mangga muda"


"HAH"


Mangga Muda


Apa tidak salah dengar, Bagas sampai terlonjak kaget. Mangga muda, ditengah hutan jam segini. Ayolah ini jam sepuluh malam, apa Haafizh sudah gila menginginkan mangga muda di tengah malam seperti ini.


Ada apa dengan kaptennya, selain kesehatan nya menurun dan mual-mual kini Kapten Haafizh menginginkan mangga muda, sungguh diluar dugaan.


Bagas mencoba sesantuy mungkin, mungkin saja Haafizh tengah demam lalu mengingau yang aneh-aneh.


"Saya ingin mangga muda. Anggap saja ini perintah dari Kapten yang harus dilaksanakan"


Yang benar saja. Kalau sudah begini, Bagas hanya bisa pasrah. Menyangkut pautkan dengan jabatan dan posisi Bagas akan lemah tak perdaya.


"Ditengah hutan seperti ini mencari mangga muda susah"


"Tidak peduli, ada atau tidak. Kamu harus mendapatkannya. Silakan pergi dan cari sampai dapat. Ajak Wira dan Rama"


Haafizh berbalik badan lalu kembali masuk ke dalam tenda besar. Meninggalkan Bagas yang masih melongo, Arrghh. Yang benar saja Bagas harus mencari mangga muda di tengah malam seperti ini. Sungguh ajaib sekali Kaptenya.


Akhirnya dengan cepat Bagas pergi mencari ke setiap penjuru hutan ditemani Wira dan Rama. Sepanjang pencarian, mereka terus menggerutu. Kaptennya seperti orang tengah mengidam.


"Masa iya Kapten Haafizh hamil" Ucap Rama seraya menyorotkan lampu senter kesetiap pohon, siapa tahu ada pohon mangga.


Wira berdecak lalu memukul pundak Rama. "Jangan ngaco deh, Ram. Mana mungkin Kapten kita hamil, yang hamil itu kaum perempuan bukan laki-laki"


"Tapi Kapten Haafizh sudah menikah, apa istrinya tengah hamil" Imbuh Rama kembali. Kali ini ia menatap Bagas dengan serius, yang ditatap malah diam saja.


"Apa sangkutannya? Kalo iya istrinya hamil, kenapa malah suaminya yang ngidam" Ucap Wira bingung.


Bagas diam, lalu menatap Wira dan Rama bergantian.

__ADS_1


"Benar. Ini pasti gejala morning sickness"


"Hah"


"Morning sickness?"


"Iya morning sickness. Biasanya gejala ini dialami ibu hamil, tapi kenapa malah suaminya yang mengalami? Apa iya Arabella hamil, lalu yang mengalami morning sickness nya Kapten"


Wira dan Rama diam. Keduanya tidak mengerti.


"Selama ini Kapten selalu mengeluh tidak enak badan dan sering mual dijam-jam tertentu, ia juga sering mengeluh pusing. Dan sekarang kapten ingin mangga muda. Sudah jelas sekali, ini morning sickness"


"Kok kamu tahu sih, Gas. Padahal kamukan belum menikah?" Tanya Wira heran.


"Adik perempuan saya sudah menikah, dia mengalami gejala yang sama. Jadi saya tahu. Dan sepertinya Kapten tidak menyadari hal itu"


Setelah menghabiskan waktu sejam lebih mencari mangga muda, akhirnya Bagas, Wira dan Rama pulang seraya membawa satu buah mangga muda dan langsung diberikan pada Haafizh.


Haafizh senang bukan main, wajah pucatnya terlihat berseri saat mangga muda sudah didapat. Permintaan anehnya sudah dipenuhi Haafizh kembali ke dalam tenda saat sudah mengucapkan terimakasih pada Bagas, Wira dan Rama.


Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Haafizh menginginkan mangga muda. Bukannya rasanya akan masam sekali, membayangkan nya saja membuat Haafizh bergidik ngilu tapi melihat mangga muda ini Haafizh semakin tergiur.


Sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil Haafizh memakannya dengan lahap. Rasanya kenapa seenak ini, Ah sekarang Haafizh benar-benar merasa aneh. Gawainya berbunyi, dengan cepat Haafizh mengambilnya dengan tangan kiri memegang irisan buah.


My beloved Wife. Ternyata dari istrinya, dengan cepat Haafizh membuka aplikasi hijau lalu membaca pesan dari Arabella.


Foto USG dan tespack telah terlihat, Haafizh menyipitkan matanya untuk melihat dengan seksama. Ada dua gambar kecil didalamnya, Haafizh tidak terlalu mengerti namun hatinya berdebar cepat dengan perasaan bahagia yang mulai menyergap. Apa ini foto kehamilan Arabella?


"Foto USG dan benda apa ini?" Gumamnya tak paham saat melihat tespack. Menurut Haafizh, ini benda asing yang baru ditemuinya sekarang.


Kali ini perhatian Haafizh pada isi pesan singkat Arabella dibawah. Dengan penasaran Haafizh mulai membacanya.


"Assalamualaikum, Mas Haafizh. Entah bagaimana caranya aku menyampaikan kabar bahagia ini, tapi kamu tau Mas. Itu tespack dan hasilnya garis dua merah, tandanya aku positif hamil. Dan aku juga sudah pergi kedokter dan melakukan USG. Itu gambar anak-anak kita Mas, mereka masih kecil. Ukurannya sebesar butir beras, usia kandunganku sudah satu bulan Mas, aku baru menyadarinya saat kemarin."


Deg


Haafizh terdiam mematung hingga potongan buah mangga tadi terjatuh ke tanah. Hatinya berdebar semakin cepat, dengan kedua mata memanas. Haafizh ingin menangis, hatinya bergemuruh.


Istrinya tengah hamil satu bulan, apa ini nyata? Siapapun tolong tampar Haafizh sekencang mungkin agar menyadari hal ini. Ah, tidak. Tentunya pasti ini nyata.


Haafizh kembali melihat gambar USG dan tespack tadi secara bergantian. Arabella hamil anak-anaknya, tapi tunggu. Apa maksudnya anak-anak, apa calon bayinya kembar? Kali ini Haafizh terpusat kembali pada hasil USG disana ada dua benih kecil. Apa artinya anaknya kembar, dua sekaligus.


Yaallah kebahagiaan ini terlalu besar bagi Haafizh sampai satu bulir air mata menetes dipelupuk mata Haafizh. Ucapan syukur atas kebahagiaan terus terucap dibibir Haafizh.


Alhamdulillah, terimakasih banyak Yaallah. Ini semua adalah titipan terbesar darimu untuk hamba. Anugerah paling indah memiliki istri sholehah dan kini ia tengah mengandung anak-anak hamba.


Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Buah cintanya bersama Arabella kini telah hadir membawa kebahagiaan besar.


Tak henti-hentinya Haafizh mengucap syukur, sampai tak sadar ia menangis. Rasa-rasanya Haafizh ingin berteriak sekencang mungkin, lalu berlari memeluk Arabella dengan erat dan mengucapkan terimakasih pada istrinya karena telah memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.


Percayalah, mendadak Haafizh ingin pulang sekarang juga untuk menemui Arabella dan mengelus perutnya.

__ADS_1


"Ara, Sayang. Terimakasih"


__ADS_2