Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Masih Lama


__ADS_3

Jika kebahagiaan besar ini dirasakan sendiri maka akan terasa egois. Baginya rasa bahagia ini sangatlah teramat kelewat batas, Ya bilang saja ini kebahagiaan super bahagia dikehidupan seorang Muhammad Haafizh Abizar.


Kapten dari prajurit khusus tentara angkatan darat, tidak hanya teliti dan cerdas Haafizh merupakan sosok pria berpendidikan tinggi dari sang Ayah yang berstatus mantan jenderal TNI.


Tahun depan pangkat Haafizh akan naik, dimana ia akan dilantik untuk menjadi mayor. Sungguh luar biasa didikan Pak Abian, diusianya yang tergolong muda. Haafizh mampu melesat cepat tanpa campur tangan orang lain.


Didikan tegas dari zaman sekolah dasar hingga masuk pendidikan kemiliteran terus terarah. Dibalik wajah sangar dan kejam, seorang Haafizh adalah pria lembut dan sayang keluarga.


Dulu dirinya hidup lurus-lurus saja tanpa memikirkan seorang wanita. Tapi semenjak bertemu dengan sosok wanita bermata teduh, hati Haafizh selalu tertarik. Mungkin saat itu Allah Subhanahu wa ta'ala sudah merencanakan sesuatu yang indah untuknya dan Arabella.


Hingga saat ini Haafizh sudah berhasil menjadikan Arabella sebagai istrinya. Sosok ciptaan tuhan yang paling sempurna dimata Haafizh. Ya, sebut saja Haafizh tergila-gila pada kecantikan Arabella.


Selain cantik dan berparas teduh, Arabella adalah gadis mandiri dan sederhana. Pekerja keras, sholehah dan juga ramah. Tunggu-tunggu, Haafizh terlalu membanggakan Arabella disini. Cinta membuat Haafizh menjadi bucin.


Ayolah, kita maklum saja. Wajar saja bukan? Arabella itu adalah cinta pertama Haafizh. Jadi wajar jika Haafizh begitu menggila.


Dan saat ini Haafizh tengah berbahagia bersama Arabella. Sepasang pasutri baru ini kini tengah saling mengobrol, walau hanya lewat Video Call kini keduanya seperti sedang mengobrol secara langsung.


Walau diawal memulai Video Call Arabella sempat khawatir karena melihat wajah Haafizh pucat, namun sejurus kemudian Arabella merasa tenang. Bagaimana tidak Haafizh adalah pawang baru Arabella bukan. Begitupun juga sebaliknya, Arabella adalah pawang Haafizh. Sungguh konyol.


"Tenang Ra, Mas cuma kedinginan jadi pucat kayak gini. Kamu jangan khawatir!"


Walau begitu tetap saja Arabella khawatir.


Dan satu lagi Haafizh tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih. Entah ucapan terimakasih yang ke seberapa puluh kali, sepanjang mengobrol tak henti-hentinya Haafizh mengucapkan "Sayang terimakasih"


"Tapi aku khawatir!"


"Jangan khawatir sayang, Mas baik-baik saja! Kamu jaga diri baik-baik. Sekarang udah ada dua buah cinta kita."


Arabella menganggukkan kepala.


"Usaha kita tiap malam ternyata gak gagal ya, Ra"


Eh. Arabella memalingkan wajah. Malu sekali rasanya, Haafizh memang benar-benar aneh.


"Ngebuatnya enak."


Lihatlah sungguh mesum, Haafizh terkekeh geli disana. Jika mengobrol secara langsung Haafizh yakin Arabella pasti akan memukul tangannya. Seraya bilang "Dasar mesum"


"Mas Haafizh mesum"


Benar dugaan Haafizh. Istrinya pasti akan mengatakan itu.


Sudahlah Arabella tidak ingin membahas hal ini.


"Cepet pulang Mas, aku rindu"


"Sabar ya Ra. Beberapa bulan lagi"

__ADS_1


Beberapa bulan lagi, entah bulan ke berapa Haafizh akan pulang. Arabella merasa jadi tak sabaran sekarang, ia ingin memeluk Haafizh seraya mendengar suaminya bernyanyi.


"Masih lama"


Haafizh diam tak menjawab. Jawaban Arabella sudah benar, masih lama. Sekarang Haafizh merasa sedih, sedih karena tidak bisa menemani masa-masa kehamilan istrinya.


Dimana jika para suami ada disamping sang istri untuk memberikan semangat serta memberikan dukungan saat ia membutuhkan, Haafizh malah tidak ada. Pasti Arabella akan sangat kesulitan.


"Maafkan aku, Ra"


***


Hari berlanjut bergulir disetiap waktunya hingga menginjak bulan ketujuh kehamilan Arabella. Kini perutnya sudah membesar, karena mengandung bayi kembar perut Arabella lebih besar dari kehamilan biasanya.


Setiap dua minggu sekali Ana selalu menemani Arabella memeriksa kehamilan. Kata dokter, kandungan Arabella sehat dan normal.


"Kak Ara calon keponakanku laki-laki apa perempuan? Atau dua-duanya?"


Saat itu keduanya tengah duduk disebuah bangku panjang ditaman untuk sekedar beristirahat sepulang dari dokter. Cuaca sangat cerah, beberapa orang berlalu lalang di sekitar taman.


"Gak tau"


"Loh kok gak tau. Masa ibunya gak tau, kan itu bayi didalam perut Kak Ara masa gak tahu"


"Aku beneran gak tahu. Belum cek jenis kelamin, pengen jadi kejutan pas nanti lahiran"


"Ribet juga tuh bayi, ngajak ribut! Belum juga lahir udah ngerjain kita dibuat penasaran"


"Anak sama bapak gak ada bedanya. Sama-sama menyebalkan."


Ana mendengus sebal. Lalu memalingkan wajahnya untuk menatap jalanan yang terlihat macet. Beralih ke sebelah kiri penglihatannya tertuju pada seseorang yang tengah berjalan ke arahnya.


Tunggu dulu, bukannya itu bundanya Haafizh. Astaga, sedang apa dia disini? Lebih parahnya dia tengah berjalan kesini.


Ana menatap ke sekeliling taman, tiba-tiba taman menjadi sepi. Sial, kedatangan nenek sihir itu seperti setan.


"Kak Ara bahaya! Sebaiknya kita harus pergi sekarang" Ajak Ana panik lalu berdiri seraya menggandeng tangan kanan Arabella yang kini ikut berdiri.


"Ada apa?" Tanya Arabella bingung.


Ana tak menjawab ia segera mengiring langkah Arabella untuk segera pergi dari sini.


"Kalian mau kemana?"


Terlambat sepertinya nenek sihir itu sudah ada dibelakang. Ana menelan ludah, takut terjadi sesuatu pada Arabella dan kandungannya.


Arabella berbalik badan begitupun dengan Ana. Arabella tersenyum senang, rupanya ada sang ibu mertua.


"Bunda" Ucap Arabella ramah, bahkan ia tersenyum senang. Terakhir bertemu saat dirumah bersama Haafizh. Arabella mendekat lalu meraih tangan Dinda untuk ia cium, namun Dinda malah menepisnya dengan kasar.

__ADS_1


Namun Arabella tetap tersenyum.


"Bunda apa kabar? Ayah sehatkan, Bun?"


"Kamu pikir saya sakit" Ketusnya sinis.


Arabella terdiam dengan senyum yang tadi merakah kini raib seketika.


"Ana gimana kabar kamu?" Tanya Dinda dengan hangat.


Arabella tertunduk. Hatinya terasa sakit, namun ia tidak boleh iri pada Ana bagaimanapun juga Dinda masih butuh waktu lagi untuk menerima dirinya. Tapi sampai kapan? Arabella merasa tidak dianggap.


"Baik, Tan" Jawab Ana singkat seraya memalingkan wajah.


"Syukurlah. Ana, seandainya waktu itu kamu yang menikah dengan Haafizh pasti yang sedang hamil sekarang itu kamu. Dulu kamu mencintai Haafizh bukan? Pasti perasaan itu masih sama kan? Jangan bohong Ana, kamu pasti pura-pura bahagia demi wanita so lugu ini"


Kepala Arabella semakin tertunduk. Kedua tangannya meremas bagian sisi baju gamis yang ia pakai. Mengungkit masa lalu membuat hati Arabella tak tenang, bagaimanapun juga Ana pernah menyukai suaminya.


Bagaimana kalau Ana berubah? Bagaimana jika Ana membencinya lagi seperti dulu? Arabella tidak mau, ia ingin hidup damai dan tenang bersama Ana, adiknya.


"Omongan tante benar"


Deg


Arabella mendongakkan wajah, lalu menatap Ana dengan terkejut. Apa maksudnya, apa Ana masih benar-benar menyukai Haafizh.


"Benar kalau perasaan itu masih sama. Tapi aku tidak ingin merebut suami orang, cukup ibuku dulu yang melakukan dosa besar itu. Aku tidak mau! Kak Ara itu kakak sekaligus ibuku. Aku tidak ingin melukainya lagi. Jadi tolong berhenti bicara omong kosong" Teriak Ana marah.


Bahkan Dinda sampai tercengang.


"Kamu jangan munafik Ana. Kamu mencintai Haafizh, kenapa kamu harus mengalah, rebut dia dan singkirkan Arabella"


"Jangan kurang ajar, dia itu kakakku berani-beraninya kau bicara seperti itu"


Ana melangkah maju, lalu dengan cepatnya ia menampar Dinda dengan keras. Plakk. satu tamparan keras mendarat tepat dipipi kiri Dinda, rasanya sangat kebas. Ana sudah kurang ajar.


Arabella dibuat tidak percaya, ia menutup mulutnya karena saking terkejut. "Ana apa yang kamu lakukan. Cepat minta maaf, kamu sudah tidak sopan" Suruhnya panik, lalu mendekati ibu mertuanya yang diam seraya memegangi pipi.


"Cih, aku tidak sudi. Sekali lagi kau bicara, rambut sanggulmu akan ku jambak"


"Ana kamu kurang ajar sekali. Beraninya kau menamparku" Geram Dinda tak terima.


"Kenapa? Kamu berani menantangku, Hah?" Tantang Ana tak mau kalah.


"Ana hentikan! Cepat minta maaf" Suruh Arabella berusaha melerai keduanya. Ia berada dibelakang Dinda dengan kedua tangan memegang kedua sisi pundak mertuanya.


Ana menggeleng tak mau.


"Cih, dasar anak kurang ajar. Kamu dan kakakmu sama saja, sama-sama wanita murahan" Cibir Dinda dengan sinis.

__ADS_1


Amarah Ana semakin memuncak, lalu dengan cepat dan kasar ia melangkah maju hendak ingin mendorong tubuh Dinda, namun dengan cepat Dinda malah menyingkir hingga tak sadar Ana malah mendorong Arabella dengan kasar sampai tubuhnya membentur tanah.


Brukk


__ADS_2