Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Bertemu Denganmu Adalah Takdir


__ADS_3

Dengan penuh rasa sabar dan rasa rindu yang memuncak. Akhirnya bulan desember yang ditunggu telah tiba, menyambut para kepulangan seorang abdi negara.


Semua orang melepas rindu dengan keluarga, pacar, istri dan anak. Tapi berbeda dengan Haafizh ia hanya melepas rindu dengan keluarga, melepas rindu pada bundanya yang selalu mendoakan Haafizh. Ada ayahnya yang selalu menyemangati Haafizh.


Tangis haru tampak terdengar jelas, menangisi kepulangan seorang anak yang telah berjuang dimedan perang. Kini anak semata wayahnya telah pulang dengan keadaan sehat dan selamat.


"Bunda sangat merindukanmu, nak"


Isak tangis bunda terdengar menyayat dihati Haafizh, padahal sekarang Haafizh sudah pulang ke rumah. Tapi bundanya selalu saja berlebihan setiap kepulangan Haafizh.


"Haafizh sudah pulang dengan selamat! Ini berkat doa bunda dan ayah"


Dengan lembut Haafizh memeluk bunda erat-erat. Seragam kebanggaannya basah oleh air mata bunda, tapi Haafizh tidak peduli.


"Udah bun, kan Haafizh udah pulang ini." Protes Pak Abian. Ia merasa cemburu, istrinya terus memeluk anaknya sementara dirinya dianggurkan sedari tadi. Dengan hati-hati Pak Abian menarik tubuh Dinda dari pelukan Haafizh supaya dilepas.


"Ayah kenapa narik-narik bunda sih? Ayah gak liat aku lagi melepas rindu dengan anak kita" Ketus Dinda dengan kesal.


"Udah dong bun, ayah juga ingin dipeluk." Ucap Pak Abian dengan manja.


"Apaan sih yah, udah tua juga. Malu disini ada anak kita."


Haafizh yang sedari tadi menonton perdebatan orang tuanya menjadi kikuk sendiri. Ia merasa menjadi orang ketiga disini.


"Aku cape bun, mau istirahat dulu" Haafizh lebih baik undur diri saja, dari pada harus menonton keromantisan orang tuanya disini.


"Tuh kan bun, udah biarin aja. Kasian anak kita kecapean"


Dengan berat hati dinda melepas pelukannya pada tubuh Haafizh, membiarkan anaknya untuk pergi beristirahat.


Setelah undur diri Haafizh pergi kekamar, menaiki deretan anak tangga. Kamar Haafizh ada dilantai dua, dengan luas kamar yang besar. Kamarnya selalu kosong, karena selalu ditinggal tugas.

__ADS_1


Kepulangan Haafizh sengaja ia rahasiakan dari Arabella, ia ingin memberikan kejutan besar pada Arabella. Rencananya Haafizh akan membawa kedua orang tuanya ke rumah Arabella. Tidak tahu kapan yang pasti Haafizh akan memberitaukan niat baiknya ini pada kedua orang tuanya secepat mungkin.


Baru saja Haafizh pulang dari tugas negaranya, tapi atasannya menyuruh Haafizh untuk mengunjungi salah satu Universitas. Katanya akan ada acara entah apa itu Haafizh tidak tahu.


"Rasanya menikmati libur satu hari saja sangat susah"


Dengan perasaan kesal, Haafizh segera bergegas mandi, badannya terasa lengket oleh keringat.


Malam telah tiba, Hamparan bintang di langit malam menjadi pemandangan malam ini. Di temani semilir angin malam dan bunyi kendaraan yang setia mendampingi. Dirinya berdiri dibalkon kamar, menatap langit cerah dengan kegelapanya dengan nanar. Ia ingat mata hazel milik seseorang. Manik yang teduh yang selalu berhasil mempesonanya tiap kali bersirobak dengan iris matanya. Dia selalu membuat dirinya candu akan senyuman yang terpatri di wajah cantiknya. Ia yakinkan itu, matanya saja sudah bisa membuatnya mabuk kepayang, apalagi jika seluruh wajah cantiknya itu bisa ia nikmati setiap waktu.


Besok malam ia akan menemui Arabella, menjemput dan menunggu pulang kerja Arabella dihalte bus seperti biasanya. Rasanya Haafizh sudah tidak sabar menunggu malam besok.


Saat tengah asik memikirkan Arabella, tiba-tiba saja tepukan dipundak membuat Haafizh terkejut.


"Astagfirullahal'adzim, bun." Pekik Haafizh seraya mengusap dada.


Sejak kapan bundanya masuk kedalam kamar, dan berdiri dibelakang Haafizh sekarang.


Haafizh mengehela napas panjang lalu, menatap bundanya dengan lekat. Apa ini waktu yang tepat untuk menceritakan semua tentang Arabella pada bunda, lagian bunda sosok wanita yang sangat baik dan lembut pasti bunda akan menerima Arabella apa adanya.


"Ditanya malah bengong. Kamu kenapa sih Haafizh? Mikirin hutang"


"Enggaklah bun, masa Haafizh punya hutang."


Dinda tertawa ringkih. Lalu berjalan masuk kedalam kamar kembali meninggalkan Haafizh yang masih berdiri dibalkon.


"Sini, bunda mau ngomong serius sama kamu" Titah Dinda saat ia sudah duduk disopa panjang, dengan patuh Haafizh mendekat ke bunda lalu duduk disampingnya.


Dinda tersenyum penuh hangat. Ia mengusap rambut cepak Haafizh dengan lembut lalu menepuk pundak kokoh Haafizh dengan lembut.


"Kamu sudah sangat dewasa. Umur kamu sudah cukup untuk menikah, apalagi profesimu sebagai tentara."

__ADS_1


Haafizh terdiam ia ingin mendengarkan setiap ucapan bundanya terlebih dulu sebelum menceritakan tentang Arabella dan niat baiknya.


"Haafizh segera menikahlah nak, bunda dan ayahmu ingin segera melihat kamu menikah."


Kebetulan sekali, saat Haafizh ingin meminang Arabella bundanya menyuruh Haafizh untuk segera menikah.


"Bunda tenang saja, aku akan segera menikah" Ucap Haafizh dengan tersenyum-senyum.


Dinda yang melihat putranya tersenyum bahagia seperti itu lantas merasa senang. Mungkin rencana perjodohan ini akan berhasil tanpa ada penolakan.


Padahal selama ini dinda selalu berpikir akan susah untuk menyakinkan Haafizh menerima perjodohan ini tapi nyatanya sangat mudah sekali bagi dinda penaklukan Haafizh.


"Kalau begitu lusa nanti ikutlah bunda ke suatu tempat"


"Kemana bun"


Dinda tidak menjawab ia hanya tersenyum lembut.


"Kamu tidak perlu tau, yang kamu tau kamu harus nurut sama bunda"


Haafizh hanya menganguk saja. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan bunda, biarlah waktu yang akan menjawab. Haafizh merasa ini belum waktunya untuk menceritakan tentang Arabella pada bunda.


Malam semakin larut, dengan sinar bulan yang begitu bercahaya diatas sana. Sepeninggalan bunda, Haafizh langsung merebahkan tubuhnya. Bukannya merasa mengantuk Haafizh malah gelisah, entah kenapa ia takut kehilangan Arabella.


Bagaimana jika Arabella terluka? Terluka karena dirinya, apa Haafizh akan setega itu melukai perasaan Arabella. Membayangkannya saja membuat hati Haafizh sesak.


"Apapun yang terjadi saya akan tetap berdiri disampingmu. Percayalah, Ra. Saya sungguh sangat mencintaimu!"


Kedua mata Haafizh begitu sendu, mengingat Arabella sang pujaan hati yang begitu menyita seluruh hatinya. Dunia Haafizh selalu gagal fokus, kala wajah teduh Arabella melintas dipikirannya tanpa permisi.


"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan. Tetapi jatuh cinta padamu itu diluar kendaliku."

__ADS_1


Haafizh mencintai Arabella pada pandangan pertama. Pertemuan singkat yang begitu tak terduga, menjalin pertemanan supaya bisa lebih dekat dengan Arabella, padahal Haafizh selalu berusaha membuat Arabella jatuh hati padanya.


__ADS_2