Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Ana Berkunjung


__ADS_3

Pagi telah tiba, hari ini cuaca sangat cerah usai semalaman hujan deras. Haafizh pergi menjemput Arabella sejak sarapan pagi selesai, Arabella sangat tidak sabar menantikan kedatangan Ana kerumah ini.


Untungnya Dinda tidak ada dirumah, mertuanya itu pergi mengajar ke sekolah. Sementara Pak Abian pergi ke kantor untuk menekuni bisnis barunya yang dirintis dari uang hasil pensiunan saat menjadi jenderal.


Arabella pergi ke kamar tamu untuk membereskan seprei, katanya Ana akan menginap satu malam dan besok ia akan pergi bersama Ana ke rumahnya karena Haafizh harus kembali berangkat tugas lusa nanti.


Tidak terasa satu jam telah berlalu, Arabella kembali ke teras bawah ia membuka pintu lalu menunggu kedatangan Haafizh dan Ana di teras depan.


Rasanya Arabella sangat merindukan Ana, senyumnya tak pernah pudar kala mobil Haafizh terlihat memasuki garasi.


Tidak mau menunggu lama Arabella segara menghampiri keduanya saat turun dari dalam mobil.


"Kak Ara" Teriak Ana heboh ia langsung berlari menghampiri Arabella lalu memeluknya dengan erat. "Aku rindu Kak Ara"


Arabella tersenyum lalu membalas pelukan Ana "Aku juga rindu kamu" Tak terasa air mata Arabella kembali luruh, rasanya ia sangat merindukan keluarga kecilnya padahal baru berpisah lima hari.


"Ahh, lega rasanya sekarang rinduku sudah tersalurkan padamu kak." Ucap Ana seraya melepaskan pelukannya. "Ternyata benar rindu itu berat, andai rasa rinduku ini bisa dijual terus di kilo pasti dapet duit banyak"


Haafizh tertawa mendengarnya sementara Arabella geleng-geleng kepala.


Setelah berbincang dan melepas rindu, Arabella mengajak Ana masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Haafizh yang berjalan dibelakang mereka.


Mungkin bagi sebagian orang melihat kemewahan sudah biasa berbeda dengan Ana, untuk pertama kalinya ia masuk kerumah besar dan mewah. Ana tak henti-henti berdecak kagum ia terus mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah.


"Ini rumah apa istana, gede banget."


Arabella tersenyum, seperti awal dirinya masuk ke dalam rumah ini ia mengira sama seperti Ana kalau rumah Haafizh sangat besar bak istana.


"Yaampun ini ruang tamu luas banget" Ucap Ana saat ia sampai diruang tamu, lalu duduk disopa panjang. "Empuk banget, kaya kasur"


Arabella geleng-geleng kepala, lalu berlalu ke dapur untuk membawa minuman serta cemilan. Sementara Haafizh duduk dikursi tunggal bersebelahan dengan Ana.


"Kamu nginepkan?" Tanya Haafizh seraya menatap adik iparnya.


Ana yang tengah sibuk melihat-melihat ke sekeliling langsung menoleh pada Haafizh.


"Jadilah. Masa iya udah jauh-jauh kesini gak nginep"


Haafizh mengangguk. "Jangan terpengaruh oleh omongan bunda saya"


"Iya, iya. Aku tau, lagi pula bundamu telah menghasutku" Ketus Ana seraya mengibaskan satu tangannya di hadapan Haafizh.

__ADS_1


"Dan sekarang kamu jangan terhasut lagi" Tegas Haafizh mewanti-wanti.


"Settt, jangan mengajaku berghibah. Tuh lihat Kak Ara udah kesini" Ucap Ana seraya menunjuk ke arah Arabella dengan dagunya.


Haafizh turut menoleh pada Arabella dan benar saja istrinya tengah berjalan kesini seraya membawa nampan diatasnya ada minuman dan camilan.


Arabella mendekat dengan senyum mengembang Arabella meletakkan nampan itu diatas meja kaca lalu menaruh camilan serta minuman untuk Ana.


"Kak Ara tau aja kalau aku lagi laper!" Ucapnya, tanpa malu Ana mencomot kue coklat yang diatasnya terdapat parutan keju.


"Gimana kabar ayah, dia baikkan An" Tanya Arabella seraya ikut duduk di samping Ana.


Ana mengunyah kue coklat itu dengan cepat lalu menelannya ,tak lupa ia mengambil segelas jus jeruk lalu menyeruputnya sedikit.


"Ayah baik dan sehat, hanya saja dia sangat merindukan anak kandungnya"


Mengucapkan itu membuat Ana tertegun, hatinya sakit. Kenapa ucapannya tadi lolos begitu saja.


"Kamu ini, kamu itu anak ayah juga. Kita adalah saudara kandung" Ucap Arabella lalu mengusap punggung Ana dengan lembut.


Ana mengangguk pelan, tersenyum lebar lalu menatap Haafizh. Kakak iparnya itu terlihat biasa saja bahkan terkesan datar dan dingin. Pikirannya kembali menerawang, bagaimana bisa Arabella hidup bersama Haafizh yang notabenya dingin.


Pikiran Ana terhenti saat Haafizh menyuruhnya untuk masuk ke kamar, sebentar lagi Dinda akan pulang kerumah.


"Sebaiknya kamu masuk kamar sekarang!" Ucap Haafizh lalu bangkit dari duduknya dengan cepat ia meraih tangan kanan Arabrella untuk ikut berdiri bersamanya.


"Aku masih kangen Ana, Mas" Ujar Arabella yang sudah berdiri disamping suaminya.


"Nanti kalian bisa mengobrol sepuasnya. Ana naik kelantai dua tepat disebelah kanan kami ada kamar kosong kamu bisa beristirahat disana"


Setelah mengucapkan itu Haafizh buru-buru menuntun istrinya untuk berjalan ke taman belakang rumah.


Sepeninggalan Haafizh dan Arabella, Ana mendengus kesal. Lagi-lagi dia ditinggal sendirian oleh pasangan pengantin baru itu dan yang lebih parahnya ternyata lagi dan lagi kamar mereka bersebelahan alias tetanggaan.


"Jangan sampai suara aneh serta getaran itu mengangguku lagi. Bisa-bisa aku mendadak ngebet kepengen nikah"


Ana meraih tas yang berisi keperluannya, lalu berjalan mendekati tangga besar akses menuju lantai dua. Karpet merah cerah itu terlihat sangat bagus dan mahal, Ana berhenti melangkah saat anak tangga pertama ada di hadapannya.


"Karpetnya mahal, sayang kalau diinjak pake sandal murah" Ucapnya seraya melepaskan sandal miliknya, Ana tersenyum hingga deretan gigi putihnya terlihat dengan santai ia menenteng sandal seraya berjalan menaiki anak tangga.


Perputaran waktu terus berjalan tanpa henti hingga sore hari telah berlalu tergantikkan dengan malam. Ana dan Arabella terus mengobral hingga lupa waktu, jika dirumah Haafizh tidak ada pembantu mungkin Arabella sebagai menantu dirumah ini akan kena omel mertua. Tugasnya terbengkalai.

__ADS_1


"Mertuamu galak pastinya! Kak Ara gak takut? Nenek sihir itu udah ngomong apa aja ke Kak Ara, aku gak berani keluar kamar takutnya ketemu" Cerocos Ana.


Raut wajahnya terlihat kesal dan jengah, jika tante Dinda alias mertua kakaknya itu sedang sendirian, rasa-rasanya Ana sangat ingin menjambak sanggul wanita itu hingga rusak.


"Jangan bilang gitu! Gimana kalau suamiku denger, sebaiknya jangan bilang gitu lagi"


Ana geleng-geleng kepala hingga hijabnya berubah miring ke kiri. "Kak Ara... Sebaiknya kamu harus waspada! Pirasatku mengatakan kalau mertuamu, emm.. maksudku nenek sihir itu akan berbuat sesuatu"


"Sesuatu apa?" Tanya Arabella seraya menatap Ana dengan penuh tanya.


"Mana aku tahu. Aku bukan peramal, dan bukan juga kayak si Bagas itu" Cetus Ana seraya mengingat kembali pada saat Bagas bilang kalau dia bisa meramal.


"Kenapa bawa-bawa Bagas" Ucap Haafizh yang tiba-tiba masuk ke kamar Ana tanpa permisi, pria itu berjalan santai lalu mendekati Arabella dan Ana yang masih diam terkejut.


"Kamu rindu Bagas?" Tanya Haafizh hingga membuat Ana cemberut.


"Kebetulan aku sedang mengobrol, dan nama si Bagas itu aku pinjam dulu. Dan satu lagi, aku tidak MERINDUKANNYA! Lagi pula amit-amit sekali aku merindukan orang seperti dia"


"Amit-amit mu itu akan berubah menjadi Aamin-Aamiin yang paling serius" Tukas Haafizh.


Ana menggeleng kuat.


"Si Bagas bukan jodohku, jodohku bukan tentara! Aku kepengen dapet suami pengusaha"


"Bagas juga pengusaha, ayahnya pengusaha mebel sukses dikota ini. Dan sekarang Bagas tengah mengelola usaha itu"


"Kalau gitu aku enggak mau berjodoh dengan pengusaha" Tegas Ana menatap Haafizh dengan sengit.


"Kenapa? Ayolah, saya yakin kalian berdua berjodoh. Aku berani taruhan" Tegas Haafizh tak mau kalah.


Perdebatan itu terus berlangsung, hingga Ana memutuskan ingin berjodoh dengan tukang parkir saja. Arabella hanya diam seraya menatap Haafizh dan Ana berdebat.


"Kenapa malah tukang parkir"


"Parkiran aja diatur, apalagi rumah tangga kita nanti"


Arabella hanya geleng-geleng kepala menanggapi keduanya, ia merasa jika Haafizh dan Ana adalah teman debat paling ricuh.


"Terserah, padahal saya sudah merekomendasikan Bagas calon suami yang akan bertanggung jawab sama kamu nantinya"


"Idihh bang Haafizh bawelnya, Kak Ara suamimu aneh! Dibilang gamau malah maksa"

__ADS_1


__ADS_2