
Silau matahari diatas sana membuat paras pria itu tidak terlalu jelas. Arabella segara berdiri dengan ragu ia memberanikan diri untuk menatap wajah pria itu. Sungguh indahnya ciptaan Tuhan, membuat Arabella hanyut dalam kagum.
"Kenapa?"
Suara tegas itu membuat Arabella tersadar. Astaghfirullahalazim, kenapa ini? Arabella merasa gugup, ayolah Arabella ada apa dengan dirimu? Sadarlah, sadar! Hanya karena dia tampan kamu harus menatap dan menikmati ketampanan pria yang bukan hak dirimu sendiri. Sungguh berdosa!
Apalagi kejadian tempo hari, membuat pipi Arabella semakin memerah. Malu sekali rasanya mengingat kejadian itu, dimana ia malah memakai sepatu milik pria yang ada dihadapannya.
"Emm.. Saya se-sedang membersihkan baju saya," Ucapnya dengan terbata.
Pria itu menatap ke bawah, tepat diujung gamis terlihat kotor dan basah. Jadi karena itu wanita ini berjongkok disini karena sibuk dengan pakaiannya yang kotor.
"Biar saya bawakan." Pria itu segera membawa kantung keresek belanjaan Arabella. Membuat Arabella tidak enak, lagi-lagi pria ini selalu membantunya.
"Terimakasih, tapi saya bisa bawa sendiri"
Arabella hendak ingin mengambil keresek belanjaannya, namun pria itu malah mundur.
"Apa saya tidak boleh membantu orang yang tengah kesulitan"
Tentu saja boleh. Tapi Arabella hanya malu, ia juga merasa tidak enak. Untuk kedua kalinya pria yang tidak dikenal ini selalu memberi bantuan. Tidak ada pilihan selain menerima bantuan pria itu, toh sekarang Arabella tengah kewalahan oleh belanjaan nya sendiri.
Arabella mengangguk, "Terimakasih banyak, antar saja sampai mobil angkot yang ada disana." Tunjuk Arabella seraya tersenyum ramah.
Terlihat pria itu mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju angkot yang ditunjuk Arabella. Sampai disana pria itu segera meletakkan keresek belanjaan Arabella di dalam.
"Masuklah!"
Arabella tersenyum seraya menunduk, "Sekali lagi terimakasih telah membantu saya."
Setelah mengucapkan terimakasih Arabella segera masuk ke dalam angkot tanpa menunggu lama angkot yang ditumpangi Arabella segera berjalan pergi, meninggalkan pria berseragam TNI yang masih berdiri disana.
Aku menemukanmu, si mata teduh yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih keras apalagi senyuman manisnya yang membuatku candu untuk selalu dinikmati. Pemilik jemari pengisi ruang jariku yang kosong. Begitu pas, tak ingin tergantikan.
Berbicara sendiri dengan pikiran sendiri. Haruskah ia sampaikan betapa tertariknya ia pada gadis tadi? Tidak, bagaimana kalau wanita yang tadi malah menolak. Sabar mungkin Allah tengah menyiapkan rencana yang indah untuk dirinya.
__ADS_1
Muhammad Haafizh Abizar, seorang prajurit TNI angkatan darat.
Umur Haafizh 29 tahun. Anak tunggal dari pasangan Abian Abizar dan Dinda Anindira. Latar belakang keluarga Haafizh sendiri sama-sama dari seorang prajurit. Sang ayah yang merupakan seorang jenderal TNI dan sang ibu berprofesi sebagai guru SMP.
Untuk tingkat ketampanan seorang Haafizh memang diatas rata-rata. Sangat tampan mempesona. Apalagi Haafizh seorang prajurit membuat ia semakin terlihat gagah dan berwibawa.
"Kapten, kenapa masih diam disini"
Suara teman Haafizh tepat disamping kanannya, membuat ia sedikit terkejut. Dunia Haafizh seakan teralih oleh gadis manis tadi. Ah bucin sekali dirinya sekarang.
"Ngeliatin apa sih kap? Mobil sama motor,"
Bagas temannya ikut melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sejak tadi Haafizh terlihat memperhatikan jalanan. Padahal cuaca tengah panas.
"Tidak ada"
Ah masa, jelas-jelas Bagas sendiri dari kejauhan melihat Haafizh membantu seorang wanita. Apa kaptennya ini tengah tertarik pada wanita tadi? Kalau begitu baguslah, akhirnya sang kapten jatuh cinta.
"Gas, apa kamu pernah jatuh cinta?" Jelas-jelas Haafizh sangat tau bagaimana luar dan dalamnya Bagas, tapi soal cinta Haafizh ingin tau lebih dalam. Bagas si ahli pakar cinta.
"Beneran ada lima, bukannya mantan kamu ada sepuluh"
Eh iya, Bagas kau ini lupa apa bagaimana? Kok bisa lupa padahal dulu pernah bersama. Bagas menghitung jari seraya mengingat nama dan deretan wajah mantan. Dan benar saja mantannya ada sepuluh.
"Iya bener ada sepuluh." Cetus nya dengan muka dibuat sebal.
"Sepertinya saya menyukai seseorang, Gas."
Tuh kan benar tebakan Bagas. Ternyata Haafizh tengah menyukai seseorang. Jangan-jangan wanita tadi atau mungkin bukan. Entahlah biar Haafizh yang tentukan.
"Ya ungkapin lah kap,"
Haafizh melirik Bagas, lalu melihat keatas langit. Hamparan awan putih terlihat tebal dan banyak di atas sana ada beberapa ekor burung kecil tengah berterbangan sesekali terdengar suara klakson mobil yang saling bersahutan.
"Itu dia Gas, saya tidak tau wanita itu siapa"
__ADS_1
Yaallah, Bagas tepuk jidat cukup keras hingga menimbulkan bunyi "plakk" Kenapa dengan Haafizh, maksudnya dia menyukai seseorang wanita tanpa mengetahui wanita itu siapa, dan jangan bilang kalau Haafizh tidak tau namanya juga.
"Kenapa tepuk jidat" Haafizh merasa bodoh untuk pertama kalinya, biasanya dia selalu unggul dan paling tau dalam hal apapun.
"Jangan bilang kalau namanya juga tidak tau,"
Dengan polosnya Haafizh menggeleng. "Kami baru tiga kali bertemu itu juga tanpa sengaja."
"Kenapa tidak menanyakan siapa namanya, setidaknya ajak dia berkenalan."
"Tidak segampang itu Gas. Saya dengan dia memang dipertemukan tapi kondisinya selalu tidak mendukung."
"Kalau gitu cari informasi tentang wanita itu, siapa tau kalian bertemu lagi dilain waktu."
Mana ada waktu untuk mencari informasi tentang gadis itu. Haafizh sangat sibuk oleh tugasnya sebagai abdi negara. Beruntung sekali ditahun ini Haafizh pindah tugas dikota tempat asalnya, dengan begini ia bisa dipertemukan dengan sosok wanita bermata teduh.
Aku nyata, kamu pun nyata. Yang tak nyata adalah fikiranku yang mengaharapkan untuk memilikimu.
Di lain tempat, Arabella baru saja selesai memasak. Menu kali ini berbeda dari biasanya. Terlihat spesial dengan menu masakan yang banyak.
"Alhamdulillah udah selesai" Menghembuskan napas panjang lalu membuka apron yang sedari melindungi bagian depan badannya dari kotor makanan.
"Oh yaampun, kak Ara ini wangi sekali." Entah datang dari arah mana tiba-tiba saja Ana datang lalu berjalan mendekati meja makan tubuhnya membungkuk untuk menghirup aroma masakan yang Arabella hidangankan.
"Air liurku bisa-bisa keluar kalau tidak cepat-cepat mencicipi makanan"
Saat hendak ingin mencomot potongan ayam goreng diatas piring, tiba-tiba saja Pak Haidar datang lalu mengambil piring isi ayam itu dengan cepat.
"Enak saja main makan. Sana cuci tangan dulu" Cetus Pak Haidar dengan datar.
Ana mendengus, lalu mencuci tangan di wastafel dengan segera ia ikut bergabung dimeja makan. Sepiring nasi serta lauk pauknya yang lengkap telah tersedia mengunggah selera sekali.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucap Ana lalu menyuapkan sesendok nasi serta lauk pauknya ke dalam mulut dengan begitu banyak, sampai kedua pipinya mengembung.
"Ana pelan-pelan!" Ucap Arabella.
__ADS_1
"Adikmu memang susah dibilangin. Padahal tiap hari dikasih makan"