
"Pasukan saya bubarkan, kembali ke markas masing-masing"
"Siap kapten"
Ucap para prajurit berseragam loreng dengan kompak, semua langsung balik kanan dan bubar meninggalkan apel siang. Udara segar dengan cuaca panas didalam hutan memang sangat menyejukkan.
Setelah membubarkan pasukan nya, seorang prajurit berseragam lengkap dengan topi baret bertengger diatas kepala melangkah cepat ke arah toilet khusus. Lagi-lagi ia memuntahkan semua isi perutnya. Wajahnya pucat pasi dengan keringat tampak membasahi pelipis.
Sudah beberapa hari ini ia tidak enak badan, mual dan pusing di jam-jam tertentu membuat ia sulit fokus saat melakukan aktivitas. Perutnya lapar tapi satu suap saja rasanya sudah sangat mual.
"Kapten kenapa?" Tanya seorang prajurit bernama Wira menghampiri Haafizh yang baru saja memuntahkan isi perutnya.
Haafizh menatap Wira, salah satu teman sejawatnya.
"Seperti biasanya saya mual" Ucap Haafizh pada Wira. Temannya itu hanya menganggukkan kepala, lagi pula hal seperti ini sudah sering terjadi pada Haafizh hingga semua temannya tidak heran lagi.
"Sebaiknya kapten beristirahat! Saya akan bawakan air hangat"
Haafizh mengangguk setuju lalu mengucapkan terimakasih pada Wira. Setelah kepergian Wira yang akan membawakan air hangat untuk Haafizh, Bagas datang seraya membawa senapan panjang.
"Sebenarnya kapten sakit apa? Disuruh istirahat malah gak mau" Omel Bagas seraya duduk disalah satu batu berukuran sedang.
Haafizh ikut duduk, badannya terasa lemas. "Masuk angin"
Wira datang membawa satu botol yang berisi air hangat, lalu ia serahkan pada Haafizh. "Terimakasih" Ucap Haafizh yang langsung dianggukki oleh Wira.
"Kapten Haafizh, wajahmu pucat sekali" Imbuh Wira yang kini ikut duduk bersama Haafizh dan Bagas.
Haafizh diam lalu menyeruput sedikit air hangat tadi.
"Tidak biasanya kapten seperti ini" Ucap Bagas.
"Saya juga tidak tahu. Masuk angin paling sehari udah sembuh tapi ini udah mau seminggu gak sembuh-sembuh" Keluh Haafizh lalu berdiri dengan cepat ia berlalu ke dalam toilet untuk muntah.
Rasanya Haafizh sangat lemas dan pusing. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Tiap pagi mual dan pusing hingga menjelang siang. Sungguh lelah Haafizh tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Setelah selesai muntah Haafizh kembali keluar dari toilet, kali ini ia benar-benar lemas. Langkahnya gontai.
"Muntah lagi?" Tanya Bagas pada Haafizh saat keluar dari toilet.
Haafizh mengangguk.
"Istirahat jangan terlalu dipaksain" Ujar Wira.
***
Ditempat lain Arabella baru saja selesai mengobrol dengan Mia, sahabatnya itu katanya tengah hamil dua bulan Arabella turut bahagia atas kehamilan Mia.
Mengingat kehamilan Mia, Arabella menjadi teringat percakapan Mia dan dirinya tadi.
"Kamu juga cepet dapet momongan ya, Ra. Apalagi suamimu itu gagah pasti langsung jadi tuh nantinya"
Ucap Mia lewat saluran telepon, terdengar disebrang sana Mia terkekeh. Arabella mencabikkan bibirnya.
"Semoga saja ya, Mi. Aku juga kepengen jadi seorang ibu dari anak-anak Mas Haafizh"
"Emangnya belum ada tanda-tanda hamil ya?"
__ADS_1
HAH, tanda-tanda.
"Tanda-tandanya seperti apa?"
"Banyak, tapi sering kita tidak sadari. Seperti hormon kita tidak stabil jadi mudah menangis, tersinggung, dan marah. Ya pokoknya jadi lebih sensitif. Telat datang bulan dan sensitif pada aroma tertentu. Terus suka mual-mual, kepala pusing dan nafsu makan meningkat"
Arabella terdiam bingung. Dari semua tanda-tanda itu Arabella seperti tidak pernah mengalami hal itu. Tapi jujur saja Arabella jadi lebih mudah menangis, apalagi kata Haafizh. Arabella jadi lebih manja.
Dan satu lagi, Arabella telat datang bulan. Yaampun, bahkan dirinya sendiri tidak ingat kapan ia terakhir kali mengalami itu.
"Ara apa kau mengalami gejala itu?"
Arabella menelan salivanya dengan susah payah, jantungnya berdebar cepat. Ingatannya kembali pada perkataan Haafizh yang menginginkan seorang bayi.
Apa iya dirinya tengah hamil?
"Mia, satu bulan ini aku telat."
"Astaga, serius? Ara cepetan beli testpack!"
Disebrang sana Mia tampak histeris.
"Tapi aku takut"
"Jangan takut! Dicoba dulu, cepetan beli sana, kalau udah ada hasilnya kabarin aku"
Perkataan Mia membuat Arabella gugup. Hatinya sangat berharap kalau dirinya hamil tapi bagaimana kalau ini hanya kebetulan saja. Namun tidak ada salahnya kalau dicoba dulu, Ya Arabella akan mencoba membeli testpack.
Seperti rencananya tadi siang, sore hari ini Arabella bersiap untuk membeli testpack ke apotek terdekat. Apotek tidak terlalu jauh, cukup berjalan kaki beberapa meter saja.
Harap-harap cemas rasanya. Apalagi sedari tadi jantung nya terus berdebar kencang. Ini pengalaman pertamanya yang akan Arabella hadapi tentunya membuat Arabella sangat gugup, sebagai seorang istri ia tidak ingin mengecewakan suaminya.
Apalagi Haafizh pernah berkata ingin cepat-cepat dikaruniai seorang anak, hasil dari buah cinta keduannya selama ini. Bukannya bermaksud ingin menuntut Arabella agar cepat-cepat hamil, Haafizh hanya berharap saja karena dengan hadirnya seorang anak hubungan keduanya akan semakin kuat.
"Kamu mau kemana, Nak?"
Tanya Pak Haidar yang tengah duduk diteras depan rumah, ia melihat Arabella sudah rapi.
"Mau beli sesuatu Yah"
Mana mungkinkan Arabella bilang mau beli testpack.
"Hati-hati Nak, Haafizh sangat khawatir kalau kamu berpergian sendiri."
Arabella hanya tersenyum lalu mencium punggung tangan sang ayah. "Aku pergi dulu ya, Yah. Bentar kok, cuma kedepan sana"
Pak Haidar mengangguk.
Setelah keluar dari halaman rumah Arabella langsung berjalan cepat, di sebrang jalan sana ada apotek besar berdampingan dengan bengkel Mang Diman tetangga nya.
Langkah kaki Arabella berhenti dipinggir jalan tepat disebrang sana apotek besar Melati sudah terlihat. Saat menunggu jalanan sepi untuk menyebrang tiba-tiba sebuah angkot berhenti didepan nya. Ternyata Ana turun dari angkot.
"Lah, Kak Ara mau kemana?" Tanyanya saat angkot sudah melaju pergi. Rupanya Ana baru pulang bekerja.
"Ke apotek"
Ana mengerjit heran lalu menatap apotek sekejap sebelum pandangan nya beralih pada Arabella.
__ADS_1
"Ngapain?"
"Beli sesuatu"
"Obat?"
"Pokoknya jangan kepo"
"Udah terlanjur kepo, harus dikasih tau!"
Arabella diam lalu bersiap menyebrang, selang beberapa saat barulah Arabella menyebrang diikuti Ana yang ikut mengintil di belakangnya.
"Kok ikut? Kan gak nyuruh" Ucap Arabella saat hendak masuk ke dalam apotek.
"Iya gak nyuruh, tapi aku mau ikut"
Hah, sudahlah biarkan saja.
Arabella langsung melangkah menuju kasir, disana ia bilang ingin membeli berbagai macam testpack.
"Ada lima jenis testpack, Mbak. Mau beli semuanya" Tanya kasir wanita itu ramah.
Arabella mengangguk.
"Ini mbak"
Arabella mengambil testpack itu lalu membayarnya. Setelah membayar Arabella menatap Ana yang sedari tadi diam. Tatapan nya tertuju pada plastik putih berisi testpack, lalu kembali lagi menatap wajah Arabella.
Sebelum Ana berbicara dan membuat heboh disini, Arabella segera menarik tangan Ana untuk keluar dari apotek. Keduanya terus berjalan dengan Ana yang masih diam.
"Ayo nyebrang mumpung sepi" Ajak Arabella, ia masih setia menggenggam tangan Ana.
Benar dugaan Arabella saat sudah menyebrang jalan Ana mulai berisik.
"Astaga. Kak Ara." Teriak Ana histeris, lalu menutup mulutnya karena gemas sendiri.
"Omaigat, bagaimana bisa? Oh, Yaampun. Kak Ara kau dan Bang Haafizh"
Arabella geleng-geleng kepala.
"Apa?"
"Kak Ara kau, Aduhh bagaimana ini. Kok bisa? Kapan jadinya? Emang langsung jadi bayi, Ya? Bagaimana cara membuatnya kok bisa sampai setopcer itu?"
Plakk
"Aduhh"
Satu pukulan keras ditangan Ana membuat Ana mengaduh kesakitan. Arabella gemas sendiri, karena omongan Ana mulai ngelantur kemana-mana.
"Diam. Aku akan mencobanya, makannya beli ini. Semoga saja benar-benar hamil"
"Tapi Kak Ara, aku tidak menyangka. Baru saja kemarin kau masih gadis terus menikah terus sekarang mau punya anak. Benar-benar diluar nalar, aku sampai terkejut, Sumpah"
"Apanya yang diluar nalar, jelas-jelas ini tuh nyata dan terpercaya"
"Woahh. Haafizh junior akan segera tumbuh, sungguh luar biasa"
__ADS_1