Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Kebenaran


__ADS_3

Setelah mendaratkan ciuman di bibir Arabella, Haafizh segera memeluk Arabella. Membawa tubuh kecil Arabella pada dekapannya, kepala Arabella bersandar di dada bidang Haafizh.


"Ha-Haafizh"


Haafizh mengeratkan pelukannya lalu mencium pucuk kepala Arabella.


"Iya, Ra. Ini saya. Calon suamimu"


"Ra, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu semenderita ini, Ra? Kenapa kamu ingin mencoba pergi dari saya? Asal kamu tau Ra, sampai kapanpun saya tidak akan pernah membiarkan mu pergi"


Mendengar perkataan Haafizh membuat Arabella menangis, ia merasa beruntung bisa dipertemukan dengan pria setulus Haafizh.


"Menikahlah malam ini juga dengan saya" Ajak Haafizh dengan serius.


Arabella terdiam, pikirannya kembali pada Ana.


Dengan cepat Arabella menjauh dari Haafizh, ia segera beringsut mundur.


"Maaf Haafizh saya tidak bisa. Pergilah Haafizh, saya tidak mau melihatmu lagi"


Haafizh tersenyum kecut lalu tertawa hampa seraya geleng-geleng kepala.


Mendapat respons seperti itu dari Haafizh, Arabella mengerjit binggung seraya menatap Haafizh dalam-dalam.


"Ara, Ara. Kau ini selalu saja memikirkan kebahagiaan orang lain. Dengarkan saya baik-baik,"


"Kamu telah difitnah, dan apa yang terjadi selama ini adalah ke salah pahaman" Ucap Haafizh dengan tegas.


"A-apa maksudnya?"


Haafizh menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Arabella.


"Tentang ibumu, Ara. Saya sudah tau banyak hal tentang keluargamu dan ibu mu juga. Ibu mu bukan wanita perebut suami orang melainkan ibu Nisalah yang merebut pak Haidar dari ibumu. Maaf sebelumnya, bukan maksud saya menghina ibu Nisa, tapi ibu nisa adalah seorang pelacur"


Apa pelacur


Arabella terkejut bukan main, ingatannya kembali pada masa lalu dimana Alm ibu Nisa selalu memarahi dirinya.


"Pasti kamu salah" Ucap Arabella dengan suara gemetar.


Haafizh menggeleng, "Itu faktanya. Alm ibu Nisa adalah seorang pelacur. Dia wanita pekerja malam, bahkan kalau kau ingin tahu Ana yang kau anggap sebagai adik bukanlah anak dari ayahmu. Sebelum pak Haidar menikahi ibu Nisa, ibu Nisa sudah hamil satu bulan"


"Tidak mungkin, pasti Ana adalah anak ayahku"

__ADS_1


Air mata Arabella sudah beruraian, pipinya basah dengan kedua mata memerah.


"Kau dan Ana bukan saudara kandung. Entah dari laki-laki hidung belang mana ibu Nisa bisa hamil. Ia malah menuduh ayahmu yang telah memperkosanya, saya juga tidak tahu jelas kejadian nya. Ayah saya hanya bercerita itu saja."


Arabella terdiam seraya terisak. Haafizh mengerti, pasti Arebella tengah terpukul oleh kenangan pahit di masa lalu.


"Tenanglah, kau tidak salah apa-apa. Ibumu orang baik, Ra. Bahkan dia seorang anak dari ustadzah. Ibumu meninggal setelah melahirkanmu. Bunda saya adalah dalang dari semua kesalah pahaman ini. Maafkan saya, karena bunda saya kamu menjadi menderita. Sebenarnya Ana juga tidak tahu apapun hanya saja ia terhasut oleh bunda saya"


Ditengah isak tangisnya, Arabella kembali bertanya. "Tapi kenapa bundamu melakukan ini semua?"


"Alm ibu Nisa dan bunda adalah sepasang sahabat. Mereka sangat dekat, itu sebabnya bunda saya mendukung kelicikan ibu Nisa. Selain itu keduanya sangat membenci ibumu, dan sekarang bunda saya membenci mu, Ra. Tapi kamu tenang saja, bunda masih butuh waktu untuk bisa menerima mu."


Malam semakin larut, hingga jalanan semakin sepi. Untungnya hujan telah reda, meninggalkan udara dingin yang menyengat. Hembusan angin terasa sejuk, dengan cahaya bulan diatas sana yang muncul bersinar terang setelah hujan.


Haafizh berjalan santai, dengan senyum mengembang diwajah. Arabella diam membisu tubuhnya terasa lemas hingga tidak sanggup untuk berjalan. Usai berbicara tadi Haafizh menyuruh Arabella naik diatas punggungnya untuk Haafizh gendong, dan sekarang Arabella menempel di punggung Haafizh, kedua tangan Arabella melingkar dileher Haafizh dengan kepala bersandar dipundak kiri.


Sesekali Haafizh selalu mengajak Arabella berbicara sekedar untuk memecah keheningan. Haafizh berjalan untuk mengantar Arabella pulang, walau sejujurnya badan Haafizh sangat lelah demi Arabella ia rela seperti ini.


"Ra, eratkan lagi pegangannya nanti kamu jatuh" Titah Haafizh seraya menahan senyum.


Arabella yang penurut malah mengikuti arahan Haafizh, kedua tangannya semakin erat melingkar dilehar Haafizh.


"Dikit lagi, Ra. Kurang berasa" Goda Haafizh seraya terkekeh.


Refleks saja Arabella melepaskan tangannya dari leher Haafizh lalu tangan kanannya memukul pundak Haafizh dengan cukup keras.


Haafizh hanya tertawa.


"Kamu kedinginan ga, Ra?" Tanya Haafizh dengan pandangan lurus ke depan.


Arabella hanya menggeleng sebagai jawaban tidak.


Setelah bertanya seperti itu keduanya kembali membisu, sampai akhirnya langkah kaki Haafizh berhenti tepat di depan kos sederhana Arabella.


Arabella meminta Haafizh menurunkan nya, diteras depan. Lalu dengan hati-hati Haafizh menurunkan Arabella.


"Mana kuncinya biar saya buka" Pinta Haafizh.


Dengan cepat Arabella segera mengambil kunci didalam tas hitam miliknya.


"Ini" Ucap Arabella seraya memberikan kuncinya pada Haafizh.


Setelah membuka kunci pintu, Haafizh segera membuka pintu lebar-lebar untuk Arabella masuk.

__ADS_1


"Masuklah dan istirahat. Besok saya akan menjemputmu jam delapan, jangan lupa besok kita akan pulang untuk menemui ayahmu dan menjelaskan semuanya pada Ana"


Arabella tersenyum lalu mengangguk.


"Terimakasih Haafizh. Maaf sebelumnya karena saya telah... "


"Sudah, Ra. Saya tidak ingin membahas itu kembali." Potong Haafizh dengan cepat seraya tersenyum tipis.


Sebelum pamit pergi, Haafizh kembali memeluk Arabella sepertinya ia belum puas menyalurkan rasa rindunya pada Arabella.


"Haafizh jangan seperti ini kita ini... "


"Belum halal? Makannya saya ingin cepat-cepat menghalalkan mu. Gimana kalau besok kita nikah? Nikah yuk, Ra. Saya udah ngebet banget" Ucap Haafizh seraya memelas.


Namun setelahnya sepasang kekasih itu malah tertawa bersama.


***


Keesokan harinya, seperti yang sudah Haafizh bilang ia akan menjemput Arabella jam delapan. Tepat pukul delapan, Haafizh sudah sampai di kos Arabella. Sementara Arabella tengah mengemas barang-barang miliknya untuk dimasukkan ke dalam tas besar.


Haafizh duduk di kursi plastik depan kos, di temani secangkir teh hangat panas buattan Arabella.


"Udah belum, Ra?" Teriak Haafizh seraya menyembulkan kepalanya dibalik pintu.


"Udah" Sahut Arabella seraya menjinjing tas besar.


Haafizh beranjak dari tempat duduk lalu mengambil alih tas yang dibawa Arabella ke tangannya untuk ia simpan ke dalam mobil.


"Udah semua? Nanti takut ada yang ketinggalan"


"Iya udah. Kamu duluan masuk ke dalam mobil, saya mau mengembalikan kunci ke ibu pemilik kos"


Setelah mengembalikan kunci pada ibu pemilik kos, Arabella segera masuk ke dalam mobil. Arabella duduk di depan bersebelahan dengan Haafizh yang duduk dikursi kemudi.


Saat hendak ingin memakai sabuk pengaman Haafizh malah merebutnya lalu mencondongkan tubuhnya untuk memasangkan sabuk pengaman pada Arabella.


"Biar saya saja" Larang Arabella merasa tidak enak.


Haafizh hanya diam seraya tersenyum. Tangannya sibuk memasangkan sabuk pengaman pada Arabella.


"Yang semalam kamu ga marah kan, Ra?" Tanya Haafizh disela-sela memakaikan sabuk pengaman.


Dahi Arabella mengerjit. "Yang mana?" Tanyanya tak tahu.

__ADS_1


Tangan Haafizh berhenti lalu menatap Arabella.


"Ciuman pertama kita"


__ADS_2