Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Rindu


__ADS_3

Tak peduli dengan sinar matahari yang cukup terik, dan menyengat siang itu. Para prajurit tetap bersemangat, saling menghibur dengan bernyanyi bersama ditengah hutan yang rimbun.


🎶 Terpesona


Aku terpesona


Memandang (mandang) wajahmu yang manis


Bagaikan mutiara wajahmu bola (bola) matamu


Bagaikan kain sutra lesungnya (lesung) pipimu


Cantiknya kamu


Eloknya kamu


Semua yang ada padamu


Membuat aku jadi gelisah


Sampai-sampai aku terbangun dari tidurku 🎶


Suara yel yel itu tampak begitu lantang, menggema diseluruh penjuru hutan. Semangat yang begitu membakar jiwa seolah berkobar-kobar. Mereka tampak kompak, sorak sorai nyanyi dan tepuk tangan saling bersahutan.


Tidak peduli dengan terik sinar matahari yang membakar kulit mereka, tidak peduli dengan cucuran peluh keringat yang sedari tadi membanjiri tubuh. Mereka para prajurit tetap begitu semangat.


Sampai kini selesai, mereka semua bubar untuk istirahat sejenak. Dengan Bertelanjang dada, hanya memekai sepatu khas tentara dengan celana loreng panjang. Dada bidang, dengan tangan kekar berotot itu tampak begitu seksi terekspos begitu saja.


Kulit hitam yang sering terbakar sinar matahari itu, menambahkan kesan eksotis. Hitam manis, dan gagah. Pasti siapa saja yang melihat prajurit seperti mereka akan meleleh.


Haafizh langsung memisahkan diri, ia lebih memilih duduk dibawah pohon besar yang begitu rimbun. Udara didalam hutan memang begitu sejuk, apalagi disini sangat sepi.


Langit diatas sana tampak begitu cerah, dengan hembusan angin yang sejuk. Disini jauh dari kota, desa dan penduduk sekitar hutan. Bertugas dengan misi tertentu dipedalaman hutan, memang cukup sulit, apalagi disini sulit menemukan jaringan.


Menyanyikan yel yel tadi, membuat Haafizh teringat sosok gadis lembut yang begitu manis, siapa lagi kalau bukan Arabella. Mengingat Arabella, membuat Haafizh merasa rindu kembali.


Semakin hari rasa rindu dihati Haafizh semakin bertumbuh besar, seolah-olah terpupuk subur hingga meluap banyak tak terbendung. Mungkin kata rindu saja tidak dapat mewakilkan perasaan Haafizh, ini terlalu besar ribuan bahkan jutaan bintang dilangitpun tidak bisa menyamai rasa rindunya pada Arabella.


Bulan desember belum juga tiba, biasanya terasa begitu cepat, tapi kenapa sekarang begitu lama. Apa Haafizh menjadi tidak sabaran? Jika iya, mungkin alasannya karena Arabella.


Mengingat Arabella membuat Haafizh semakin penasaran, kira-kira sedang apa dia sekarang? Sebaiknya Haafizh akan menghubungi Arabella nanti malam.

__ADS_1


Saat bersama Arabella, satu jam terasa satu detik. Tapi saat Haafizh jauh dari Arabella, satu hari terasa satu tahun. Rindu memang sangat mengerikan, tapi percayalah Haafizh akan menahan rasa rindu ini hanya untuk Arabella.


"Saya mencintaimu dan saya tidak ingin kehilanganmu, Ra. Karena hidup saya menjadi lebih baik sejak saya menemukanmu."


Haafizh merasa jika Arabella adalah bidadari surga yang Allah SWT. Kirimkan untuknya, entah perbuatan serta amalan apa yang pernah Haafizh lakukan hingga sang pencipta mengirimkan sosok Arabella padanya.


"Kamu cantik, dan kamu baik. Kamu selalu membuat saya candu akan semua tentang dirimu."


Jika boleh Haafizh ingin memeluk Arabella dengan erat hingga detak jantung keduanya saling bersahutan. Mengatakan cinta yang begitu dalam untuk Arabella, kata dalam saja tidak cukup untuk mengukur seberapa dalam cinta Haafizh pada Arabella. Karena disetiap harinya Haafizh selalu jatuh cinta pada Arabella.


Ditempat lain Arabella tengah bekerja, menjalankan profesinya sebagai seorang pelayan. Hari ini pengunjung restoran lebih banyak dari biasanya. Membuat semua pekerja cukup kewalahan.


"Hah, cape sekali!" Pekik Mia yang baru saja mengantarkan menu pesanan, saat tiba didapur ia harus kembali mengantar pesanan.


"Sabar Mia" Ucap Arabella, seraya tersenyum. Padahal dirinya sendiri sangat kelelahan belum lagi Rania yang selalu menyuruh-nyuruh Arabella dengan seenaknya.


"Kamu yang seharusnya sabar. Si Rania dari tadi nyuruh-nyuruh kamu terus." Sungut Mia dengan sebal, ia segera kembali ke depan untuk mengantar pesanan.


Arabella hanya terdiam seraya mencuci tumpukan piring, padahal ini bukan tugasnya. Tapi Rania yang meminta Arabella untuk melakukam ini.


"Kerja yang bener. Jangan lebay! Mentang-mentang Pak Riko selalu ngedeketin kamu, kamu jadi manja disini" Ucap Rania dengan sinis.


Padahal Arabella tidak pernah manja dalam bekerja tapi Rania selalu menyalahkan Arabella. Mungkin sikap Rania yang sekarang adalah bentuk kekesalan dari rasa cemburunya. Selama ini Rania menyukai Riko, tapi Riko malah menyukai Arabella. Kasian Rania, cintanya tidak terbalaskan.


Untuk sesaat Rania tertegun, entah kenapa ia merasa tersentuh oleh ucapan Arabella. Tapi sayangnya, rasa egois Rania menampik itu semua ia tetap merasa kesal pada Arabella.


"Jangan menceramahiku, aku tidak butuh itu. Lagian kamu hanya wanita murahan! Jadi jangan coba-coba menceramahiku lagi." Bentak Rania.


Arabella terdiam, ia menatap kepergian Rania yang kembali untuk memasak. Jujur saja Arabella sangat kasihan pada Rania hanya gara-gara seorang pria, wanita itu malah jadi gelap mata.


Waktu terus berlanjut hingga hari semakin gelap dengan suara riuh kendaraan beroda empat dijalanan sana membuat Arabella tidak takut pulang sendirian.


Sampai dirumah Arabella segera membersihkan diri dan menunaikan shalat isya. Tidak lupa makan malam bersama ayah dan Ana. Semenjak perbincangan malam itu, Ana menjadi lebih pendiam.


Apa Ana marah padanya? Tapi kenapa harus marah, rencana perjodohan bukan kemauan Arabella tapi kemauan dari Alm ibu. Sebaiknya Arabella akan tanyakan lagi pada Ana nanti.


Usai makan dan mencuci piring, Arabella segera masuk kedalam kamar ada Ana yang sudah tertidur pulas dengan mulut menganga. Seperti biasa ilernya selalu membanjiri bantal.


"Kamu tuh udah dewasa, tapi tetap saja seperti anak kecil"


Arabella membetulkan selimut Ana yang tersingkap, dengan hati-hati Arabella mengusap kepala Ana dengan lembut. Kasian sekali adiknya, tidak bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu.

__ADS_1


Saat sedang mengusap lembut kepala Ana, tiba-tiba gawai milik Arabella berbunyi. Ada panggilan masuk, tapi ini sudah larut malam siapa yang menelponnya malam-malam begini.


Dengan penasaran Arabella segera mengambil gawai miliknya diatas meja nakas. Saat membaca nama panggilan yang tertera dibagian atas adalah Haafizh, senyum Arabella semakin merekah.


Seperti biasanya Haafizh selalu melakukan video call, dengan gugup Arabella segera mengangkat panggilan video dari Haafizh.


"Assalamualaikum, Ara" Ucap Haafizh disebrang sana.


Terlihat jelas wajah Haafizh tengah tersenyum manis. Wajahnya memenuhi layar gawai Arabella.


"Wa'alaikumsalam, Haafizh"


"Kamu lagi sendirian"


Arabella menganguk seraya tersenyum manis.


"Ra, kamu cantik" Haafizh tersenyum lebar disebrang sana.


Pipi Arabella yang merona kemerahan alami tambah memerah karena malu.


"Haafizh,"


"Kenapa hem, pasti kamu ingin mengalihkan pembicaraan, kan Ra"


"Haafizh aku malu, tolong jangan bicara seperti itu lagi"


Disebrang sana Haafizh terkekeh. Melihat Arabella yang tengah malu-malu sangat mengemaskan sekali dimata Haafizh.


"Ra" Panggil Haafizh dengan sendu. Kedua matanya tampak sayu, ia sangat merindukan Arabella. Ingin segera pulang untuk segera menghalalkan Arabella.


"Ya"


Sesaat terjadi keheningan, lenggang tidak ada yang bicara. Keduanya malah saling menatap, tersirat dari iris mata keduanya saling merindukan. Ada rasa rindu yang mengebu, bergejolak ingin segera bertemu.


"Saya rindu kamu, Ra."


Ada rasa aneh yang menjalar dihati Arabella, rindu dirinya juga sangat merindukan sosok Haafizh. Jarak yang membentang jauh tidak mampu Arabella jangkau.


Selama ini mereka hanya bertemu disujud sepertiga malam, saling mendoakan dengan penuh rasa rindu. Kedunya saling diam, namun riuh dalam doa untuk segera dipersatukan.


Tidak ada yang lebih indah dari dua raga yang saling menjaga, tidak bertemu namun saling menunggu, tidak berpapasan namun saling mendoakan.

__ADS_1


Setiap kali Haafizh mengatakan rindu, Arabella hanya bisa diam. Ia selalu bungkam oleh pesona Haafizh. Pesona sang kapten yang begitu mendebarkan hati.


__ADS_2