Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Lamaran


__ADS_3

Tanpa memberi jawaban dari pertanyaan Arabella, Haafizh malah bertekuk lutut sontak membuat Arabella sedikit melangkah mundur.


"Haafizh" Panggil Arabella dengan lirih.


"Ara" Suara Haafizh begitu tegas dengan raut wajah serius. Mendapat tatapan seperti itu dari Haafizh lantas membuat Arabella menjadi gugup.


Ditengah pantai yang luas, hamparan ombak yang terus bergelombang dengan hembusan angin cukup kencang menerpa sepasang insan yang tengah saling bertautan lewat sepasang mata yang terus bersirobak.


"Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali saya tanya pada hati saya sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawaban saya tetap sama, yaitu… Kamu, Ra"


"Yang aku tahu, sebaik-baik perhiasan adalah wanita dan istri yang sholehah. Wanita itu sudah saya dapatkan yakni ibu saya. Maka selanjutnya, maukah kamu menjadi istri sholehah saya?"


Kali ini Haafizh mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku jaketnya, ia langsung membuka kotak merah itu dihadapan Arabella. Isi kotak itu adalah cicin dengan permata putih yang berkilau indah.


"Salah satu sunnah Rasul yang paling saya tunggu-tunggu untuk saya lakukan adalah pernikahan. Kini kuutarakan niat dan kesungguhan saya untuk melamarmu dan membangun cinta dalam ikatan suci yang diridhoi oleh-Nya. Ara apa kamu tahu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istri saya adalah kamu, Ra. Karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Will you marry me, Ara?"


Bagaikan hembusan angin dari surga yang begitu mendamaikan hati, perkataan Haafizh barusan membuat Arabella terenyuh, buliran air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Tangis haru karena rasa bahagia ini kini Arabella rasakan dengan perasaan yang begitu membahagiakan.


Lidahnya terasa begitu kelu, dengan perasaan bahagia yang begitu membucah tak tertahan, Arabella semakin menangis. Haafizh, nama pria itu selalu saja Arabella sebut dalam setiap do'anya di sepertiga malam.


Sang Maha Kuasa telah memberikan semua jawaban dari setiap doa-doa yang Arabella panjatkan selama ini. Yakni hadirnya Haafizh didalam hidup Arabella.


"Arabella jadilah istri saya, jadilah ibu dari anak-anak saya kelak. Karena saya yakin kamu adalah bidadari surga saya"


Dengan penuh rasa yakin Arabella menganggukkan kepalanya dengan tangis haru. Bibirnya menyunggingkan senyuman kala Haafizh tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah" Senyum lebar Haafizh lantas terukir, memancarkan kebahagiaan yang begitu besar. Haafizh sangat bersyukur karena Arabella menerimanya tanpa ada penolakan.


Detik ini juga hati Haafizh terasa begitu lega setelah mengungkapkan perasannya pada Arabella. Setelah ini ia akan mengajak Arabella ke kesatuan untuk pengajuan nikah.


Haafizh berdiri dengan senyum lebar yang terus tersungging. Dengan hati-hati Haafizh meraih tangan Arabella, lalu memasangkan cicin itu dengan penuh rasa tulus.


"Haafizh terimakasih banyak!" Suara Arabella begitu lirih, saking tidak percayanya ia terus saja menangis.


Haafizh tersenyum lembut dengan sepasang mata yang terus tertuju pada Arabella, "Seharusnya saya yang berterima kasih, karena kamu telah menerima saya"


Saat keduanya tengah asik menikmati momen romantis ini, tiba-tiba ada suara tepuk tangan, sontak membuat Arabella serta Haafizh menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Ayah" Pekik Arabella yang begitu terkejut saat melihat Pak Haidar sudah berdiri dibelakangnya. Tunggu dulu ayah bersama siapa? Siapa pria paruh baya yang bersama ayah? Keduanya tampak tersenyum bahagia.


"Ayah sangat bahagia melihat kamu dan nak Haafizh saling mencintai" Ucap Pak Haidar seraya menyeka air mata disudut mata.


Tidak Jauh dari Pak Haidar, Pak Abian langsung memeluk Haafizh seraya menepuk-nepuk pundak Haafizh dengan penuh rasa bangga.


"Jagoan ayah, selamat ya! Ayah sangat bangga padamu, karena memilih calon mantu yang begitu cantik"


Mendengar hal itu sontak saja membuat Arabella merasa terkejut kembali. Ternyata ayahnya sudah mengenal Haafizh dan pria paruh baya itu adalah ayah Haafizh. Bagaimana bisa? Apa ayahnya berteman dengan ayah Haafizh.


"Ngalahin kecantikan pacar ayahkan" Goda Haafizh seraya menaik turunkan kedua alisnya.


"Durhaka kamu yah, ya jelas cantikan bundamu, kemana-mana" Sewot Pak Abian seraya memasang wajah kesal.


Sontak membuat Haafizh dan Pak Haidar tertawa.


"Ara perkenalkan ini ayah saya. Ayah kamu dan ayah saya ini adalah seorang sahabat. Makanya keduanya terlihat begitu sangat dekat" Ucap Haafizh.


Arabella mengangguk mengerti, lalu ia tersenyum ramah seraya salim pada Pak Abian.


Setelah memperkenalkan diri, kini Haafizh akan meminta restu dan izin pada ayah Arabella.


"Haafizh mintalah restu pada ayah Arabella, bagaimanapun juga sebentar lagi dia akan menjadi ayahmu juga" Ucap Pak Abian.


Haafizh mengangguk seraya tersenyum hangat yang langsung dibalas oleh Pak Haidar dengan senyuman.


"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Izinkan saya menjadikan putri bapak sebagai pasangan dalam hidup saya, untuk meraih cinta dari sebenar-benarnya cinta untuk menyampaikan sebuah pesan. Pesan mendalam yang bertujuan untuk menjalankan sunnah Rasul yang begitu mulia. Menuangkan perasaan dan cinta dengan semestinya. Serta menuangkan rindu menjadi sebesar-besarnya pahala." Ucap Haafizh ia saling berhadapan dengan Pak Haidar.


Sementara Arabella, ia disamping ayahnya. Serta Pak Abian yang kini telah berdiri di belakang Haafizh.


"Do’a bapak akan menyempurnakan cinta kami. Izinkan saya untuk menghalalkan hubungan ini. Kami berdua saling mencintai, tapi kalau bapak tidak merestui terpaksa saya bawa kawin lari" (bercanda).


Sontak saja Pak Abian memukul pundak Haafizh. Suasana sedang serius begini beraninya Haafizh berbicara seperti itu.


"Kamu ini suka sembarangan" Kesal Pak Abian seraya melotot pada Haafizh.


"Maaf yah bercanda" Elaknya seraya menyengir.

__ADS_1


Arabella hanya diam menunduk seraya menahan tawa, berbeda dengan Pak Haidar yang hanya geleng-geleng kepala.


"Bapak kan sudah menjaga putri bapak selama 24 tahun, sekarang bolehkan saya menggantikan posisi bapak dengan menjaga dan membahagiakan putri bapak layaknya perhiasan dunia yang paling berharga"


"Jika allah mengizinkan, saya ingin menjadikan putri bapak sebagai istri saya, menemani setiap langkah perjuangan saya, menjadi penyejuk hati saya dikala gundah dan menjadi penasihat saat saya melakukan kesalahan, dari awal saya kenal putri bapak, saya merasa seperti telah menemukan orang yang tepat, sekiranya bapak menyetujui, saya ingin melamar putri bapak dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang pernikahan."


"Maksud dan tujuan saya hari ini ingin meminta izin kepada bapak untuk melamar putri bapak dan menjadikan dia sebagai istri saya. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Saya ingin menyampaikan ketulusan hati saya bahwa saya mencintai anak bapak, izinkan kehadiran hidup saya mewarnai hidup anak bapak dan izinkan saya mengajak anak bapak kejenjang yang lebih serius dengan menikahinya."


" Saya menginginkan putri bapak menjadi makmum sholat saya, saya ingin putri bapak mencium tangan saya setelah selesai sholat, serta saya menginginkan dia sebagai istri dan ibu dari anak-anak saya kelak. Bersediakah bapak menerima lamaran saya?"


Sebelum Pak Haidar menjawab, Haafizh kembali berbicara.


"Saya percaya takdir tuhan itu nyata dan adil, jika putri bapak memang jodoh saya, maka izinkan saya membahagiakan dia dengan menjadikannya istri sah saya. Tujuan saya hari ini bermaksud untuk melamar putri bapak."


Pak Haidar menunduk lalu mendongakkan kepalanya seraya menatap Haafizh dengan dalam. Niat Haafizh begitu tulus dan penuh rasa tanggung jawab. Sebagai seorang ayah, tentunya Pak Haidar sangat terharu karena putrinya dipertemukan dengan seorang pria baik seperti Haafizh.


"Bisakah kamu menjaga anak perempuan saya seperti saya menjaganya dari masih janin, sebelum secantik sekarang saat kamu pandang. Jangan menyakitinya! Saya tidak akan pernah rela jika seorangpun menyakitinya. Termasuk kamu dan keluargamu" Tegas Pak Haidar.


Arabella tertegun, ia begitu tersentuh oleh perkataan ayahnya yang begitu menyayangi dan mengkhawatirkan dirinya. Tangis haru kembali pecah, Arabella tidak bisa menahan rasa bahagia, saat sang ayah mencurahkan isi hatinya.


"Atas izin Allah Subhanallah WA Ta'ala , saya sangat siap menjaga putri bapak dengan segenap jiwa dan raga saya. Sebelum napas terakhir saya berakhir, saya akan terus melindungi dan menjaga putri bapak dengan penuh rasa tanggung jawab" Jawab Haafizh dengan lantang.


"Jika bapak ingin tahu. Selama saya masih hidup, tidak akan saya biarkan seorangpun menyakiti putri bapak"


"Saya terima niat baik nak Haafizh untuk menikahi putri saya, yaitu Arabella."


"Alhamdulillah, saya sangat berterimakasih banyak. Karena bapak telah menerima saya"


Haafizh langsung mencium punggung tangan Pak Haidar dengan penuh rasa hormat. Setelah itu Haafizh dan Pak Haidar saling berpelukan.


"Akhirnya kita besanan juga" Teriak Pak Abian seraya memeluk Pak Haidar setelah Haafizh selesai berpelukkan dengan Pak Haidar.


Saat kedua orang tuanya sibuk berbicara, Haafizh langsung mendekati Arabella yang sedari tadi menunduk. Dijari manis Arabella terlihat cicin yang beberapa menit lalu Haafizh sematkan dengan penuh rasa cinta. Ia sangat bahagia karena Arabella menerima lamaran dari-Nya.


Tubuh tinggi Haafizh sedikit membungkuk, mengsejajarkan tinggi badannya dengan Arabella, Haafizh membisikkan sesuatu.


"Maharnya mau Ar-Rahman atau Al-Mulk?"

__ADS_1


__ADS_2