
Kini Ana telah sampai didepan rumah, peluh keringat terus bercucuran hingga membasahi kerudung sesekali punggung tangannya menyekat keringat didahi.
"Anak jadi korban, panci bolong jadi pujaan" Slogan yang tepat untuk memprotes ayahnya. Memang botol-botol ini akan menghasilkan berapa kilo? Palingan tidak satu ons. Keringat yang bercucuran dari ujung jalan sana hingga sini mungkin lebih berat dan mahal. Ana merasa kesal tenaga paginya habis akibat mulung.
"Sekalian dikawinin aja tuh panci bolong"
"Apa yang dikawinin?" Ucap Pak Haidar tiba-tiba. Entah datang dari arah mana tiba-tiba ayahnya itu muncul disamping Ana. Namun Ana malah acuh tak acuh.
"Sapi dikampung sebelah udah beranak, katanya hasil perkawinan sama ayam jantan" Ketus Ana tanpa menoleh.
Dahi keriput Pak Haidar mengkerut, merasa aneh mendengar ucapan Ana. "Kok bisa?" Tanyanya, namun melihat ekspresi wajah Ana dari samping sepertinya Ana tengah menahan rasa kesal.
"Bisalah, kan dikawinin"
"Kamu jangan suka ngalor ngidul" Cetus Pak Haidar, darah tingginya mulai jadi.
"Aku disini yah, gak bawa daun kelor dan gak ke kidul juga" Sahut Ana tidak mau kalah.
Dikesatuan tempat Haafizh menjadi seorang abdi negara. Arabella tengah disibukkan dengan berkas-berkas untuk memenuhi enam belas persyaratan. Setelah memenuhi enam belas syarat tersebut, Arabella sebagai calon istri TNI akan masuk ke tahap lanjutan.
Menjadi calon istri dari seorang prajurit memang tidak mudah, sulit memang. Tapi Arabella jalani dengan penuh semangat serta sabar. Tidak henti-hentinya Haafizh menyemangati Arabella, contohnya saja saat Arabella tengah diberikan pertanyaan oleh atasan Haafizh.
Permohonan izin menikah memang banyak menguras tenaga dan pikiran, apalagi Arabella harus menyiapkan banyak berkas-berkas sebagai persyaratan pengajuan.
Haafizh selalu mengintip dibalik kaca jendela, posisi saat itu komandan Haafizh membelakangi jendela sementara Arabella yang duduk berhadapan dengan komandan Haafizh tentunya dapat melihat Haafizh. Dari balik kaca jendela Haafizh selalu tersenyum padanya seraya mengisyaratkan bahwa Arabella harus semangat.
Pada tahap lanjutan ada beberapa tes yang harus dijalani sebelum prajurit dan calon istrinya bisa menikah. Arabella akan melakukan pemeriksaan Penelitian Khusus, seperti mendapat ujian mengenai pengetahuan umumnya di bidang kenegaraan.
Selesai diujian yang pertama Arabella langsung pemeriksaan kesehatan dan pembinaan mental dari Disbintal TNI. Biasanya bentuknya adalah pemberian nasehat yang berkaitan dengan cara membina rumah tangga.
Kedua pasangan itu keluar dari dalam ruangan lalu menuju tempat lain untuk menghadap ke pejabat kesatuan.
"Maaf ya nikah sama saya emang harus gini dulu" Keduanya berjalan menyelusuri lorong. Arabella berjalan tepat disamping kiri Haafizh. Terlihat wajah Arabella begitu kelelahan, pusing sekaligus lelah karena harus bulak balik sana sini untuk memenuhi persyaratan.
"Tidak apa. Saya senang sekali bisa mengalami ini semua" Arabella tersenyum manis pada Haafizh, pria yang sebentar lagi menjadi suaminya ini terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya sejak tadi.
__ADS_1
"Sabar ya Ra. Saya sayang kamu, tolong jangan menyerah! Bertahanlah demi saya dan cinta kita"
Kali ini Arabella hanya mengangguk seraya tersenyum. Sebentar lagi sampai, Arabella harus siap kembali untuk menghadap ke pejabat kesatuan.
Sampai ditempat pejabat kesatuan, tahap berikutnya, calon suami istri akan menghadap ke pejabat kesatuan. Pejabat kesatuan bersangkutan biasanya berasal dari tempat calon suami bekerja.
Menikah secara catatan sipil. Setelah semua syarat administrasi dan tes terpenuhi, barulah calon suami istri bisa menikah.
Selesai sudah kini tinggal pengajuan terakhir yaitu seperti masyarakat umum, pengajuan dilakukan ke KUA agar sah secara agama dan masuk catatan sipil. Sementara proses resepsi akan mengikuti tradisi perayaan besar ala TNI.
Haafizh dan Arabella tak henti-hentinya mengucap syukur. Proses pengajuan nikah telah selesai dengan lancar, Arabella masih sangat tidak percaya kalau dirinya bisa melewati ini semua tanpa ada kesulitan. Sebentar lagi ia akan menikah dengan Haafizh, sang kapten yang terkenal dengan tingkat kecerdasannya yang luar biasa. Selain cerdas, Haafizh sangatlah tampan dan berwibawa. Kulit hitamnya yang tidak terlalu gelap, membuat Haafizh begitu gagah.
"Sayang terimakasih" Ucap Haafizh tiba-tiba. Untuk pertama kalinya Haafizh memanggil Arabella "Sayang" suara bariton itu sangat tegas namun terdengar mengalun lembut ditelinga Arabella.
Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, Arabella tidak sanggup untuk tidak tersenyum. Kedua pipinya merah merona, tatapan teduh itu bersirobak dengan tatapan tajam Haafizh.
Untuk pertama kali rasa cinta dihati Arabella tumbuh melimpah ruah dengan rasa bahagia. Apa seperti ini rasanya jatuh cinta? Sangat membahagiakan, jika dijabarkan maka Arabella akan sulit untuk menjabarkan rasa bahagianya sendiri.
Haafizh seorang tentara angkatan darat, sang kapten cerdas dengan tingkat kepekaan yang begitu tajam telah mengisi hati kosong Arabella. Layaknya peluru, Haafizh telah menembakkan sebuah peluru hingga masuk menembus kerelung hatinya yang begitu dalam. Bersemayam disana hingga membekas menorelahkan goresan indah dikehidupan Arabella.
Diusianya yang hampir menginjak dua puluh lima tahun, Arabella telah berhasil menemukan hilal jodohnya. Dulu ia selalu menjadi bahan ghibah orang-orang karena diusianya yang sekarang belum kunjung menikah.
Setelah mengenal Haafizh, hidup Arabella berubah lebih berwarna. Goresan indah itu selalu berbekas dihati. Karena Haafizhlah Arabella menjadi lebih berharga.
Haafizh tersenyum seraya menganggukkan kepala. Justru dirinyalah yang merasa beruntung mendapatkan Arabella. Jika bisa rasanya Haafizh ingin menikahi Arabella sekarang juga.
Tapi sayang ia harus menunggu lagi, setelah tugasnya nanti selesai maka pernikahan baru akan dilaksanakan. Ternyata yang membuat Haafizh tersiksa bukan hanya rasa rindu saja, melainkan rasa sabar juga.
Setelah berbincang cukup lama ditaman dekat kesatuan. Haafizh mengajak Arabella shalat ashar disalah satu mesjid yang tidak jauh dari sana, sengaja tidak langsung pulang karena Haafizh ingin berlama-lama bersama Arabella.
Sebenarnya Arabella ingin pulang tapi Haafizh selalu menahannya dengan terus mengajak Arabella berbicara.
Keduanya berjalan berdampingan menuju mesjid, menyebrang jalan dengan penuh rasa waspada kali ini ada Arabella disampingnya. Perhatian Haafizh selalu tak lepas dari Arabella, keduanya saling melindungi lewat perlakuan kecil yang masih berjarak karena bukan mahram. Saat sampai didepan Masjid, keduanya harus berpisah karena berbeda tempat wudhu.
"Hati-hati Ra! Jangan sampai jatuh, takutnya lantainya licin, kalau ada apa-apa langsung panggil saya" Tegasnya seraya menatap Arabella.
__ADS_1
Arabella hanya bisa menahan senyum, karena ke khawatiran Haafizh yang begitu besar terlihat sangat mengemaskan bagi Arabella.
Selepas mengambil wudhu dan melaksanakan shalat ashar empat raka'at. Kedunya bertemu kembali didepan teras mesjid, kebetulan suasana mesjid tidak terlalu ramai.
Arabella tengah memakai sepatu heels hitam dengan tinggi lima cm, sementara Haafizh tengah berdiri dengan jarak satu langkah dari Arabella yang tengah duduk seraya memakai sepatu heels. Saat hendak ingin memakai sepatu sebelah kiri, sepatu itu tergeletak cukup jauh dari tempat Arabella duduk, Saat ingin beranjak untuk mengambil, Haafizh telah mengambil sepatu itu lebih dulu, ia segera berjongkok tepat dihadapan Arabella.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Arabella. Sayangnya Haafizh menghiraukan ucapan Arabella. "Haafizh biar aku saja" Cegah Arabella seraya menarik kakinya.
Haafizh yang hendak ingin menyentuh kaki Arabella yang terbalut kaus kaki itu jadi tidak jadi.
"Diam dan menurutlah, Ra! Mulai dari sekarang kamu harus terbiasa untuk hal kecil seperti ini." Ucap Haafizh seraya kembali memakaikan sepatu pada kaki kiri Arabella.
Arabella hanya terdiam seraya memandang wajah Haafizh yang tengah asik memakaikan sepatu. Dalam hati Arabella sangat bersyukur karena bisa berjodoh dengan Haafizh sang kapten.
Kata komandan Haafizh tadi, calon suaminya itu sangat gesit, kaku, dan dingin. Bahkan Arabella sempat ditanya "Kenapa bisa dekat dengan kapten Haafizh?" Mendapat pertanyaan seperti itu justru membuat Arabella bingung, pasalnya Arabella tidak pernah melihat sikap Haafizh seperti itu.
Haafizh memang kaku dan gesit, tapi didepan Arabella pria itu akan lebih lembut dan menunjukkan sikap hangatnya.
Arabella mengangguk patuh seraya mengucapkan terimakasih. Haafizh hanya mengulas senyum lebar.
"Ra, kamu terlihat sangat lelah" Ucap Haafizh. Keduanya masih saling berhadapan, Arabella duduk diteras mesjid sementara Haafizh masih berjongkok didepan Arabella.
Arabella menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin pulang"
"Andai kita udah halal. Pasti kita akan pulang kerumah yang sama" Ucap Haafizh seraya tersenyum-senyum.
"Kan masih lama. Kamu jangan mikir macam-macam"
"Aku tau. Tapi akan ada saatnya, saat saya pulang bertugas kamu orang pertama yang akan menyambut saya"
"Haafizh apa setelah ini kita akan berjauhan lagi?" Untuk pertama kalinya Arabella mengeluh, entah kenapa Arabella sangat takut kehilangan Haafizh. Bagaimana jika Haafizh pergi meninggalkan Arabella sendirian.
Mendengar hal itu Haafizh menjadi tertegun. "Maaf Ra, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Raut wajah Haafizh berubah sendu sama seperti Arabella. Suasana menjadi hening, keduanya diam membisu.
"Mungkin jarak telah berhasil memisahkan kita kembali. Ra, lihatlah saya!" Titah Haafizh, Arabella yang tadinya menunduk kini mendongakkan wajahnya untuk menatap Haafizh.
__ADS_1
"Jauh dimata dekat dido'a, tidak bersama tapi Allah jaga. Seperti biasa, kita akan bertemu disepertiga malam."