
"Jadi apa nama anak-anak kalian?" Tanya Pak Abian.
Hari ini adalah acara aqiqah kedua bayi kembar Arabella. Acara sudah selesai, tinggal acara pengumuman nama kedua bayinya.
Acara ini dihadiri sanak saudara, beberapa rekan kerja ayah mertuanya dan teman-teman sejawat Haafizh yang turut hadir.
Rumah megah yang tadinya dipenuhi barang kini didekorasi seindah mungkin, bernuansa biru dan pink.
Arabella duduk berdampingan dengan Haafizh. Keduanya tampak seragam memakai pakaian berwarna putih. Dipangkuan keduanya masing-masing memangku si kecil yang sedari tadi tidur nyenyak.
"Untuk anak pertama saya yang laki-laki diberi nama Zafran Adnan Abizar. Zafran, yaitu kemenangan atau kejayaan, Adnan yang artinya surga dan bermarga Abizar."
"Dan untuk anak kedua saya yang perempuan, Zynata Arsyila Abizar. Zynata yaitu cantik, keindahan, perhiasan, keanggunan, dan keunggulan, Arsyila yang artinya tentram dan bermarga Abizar."
Haafizh tersenyum bahagia, begitu pula Arabella keduanya saling pandang. Nama adalah sebuah doa, keduanya berharap Zafran dan Zynata menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Saling melindungi dan menyayangi.
Abizar adalah nama belakang Haafizh serta nama besar keluarga Pak Abiaan. Jadi sudah turun temurun sebuah nama marga itu akan disandang oleh sang penerus.
"Ma Syaa Allah. Namanya indah sekali, apalagi artinya. Semoga keduanya menjadi anak yang taat." Pak Haidar tersenyum lebar hingga keriput diujung mata itu berlipatan, kini putrinya telah menjadi seorang ibu.
"Aamiin. Makasih ayah" Ucap Arabella yang langsung diangguki Pak Haidar.
"Si kecil Zafran dan Zynata pasti udah besarnya jadi anak yang baik dan sukses" Bagas turut mendoakan. Dalam hati semoga ia cepat dipertemukan dengan jodoh.
"Makasih, Gas. Cepet nikah, jangan sibuk tugas mulu" Ucap Haafizh seraya tertawa kecil.
"Siap Kap, nanti secepatnya saya nyusul."
Mendengar hal itu membuat Haafizh melirik Ana. Adik iparnya itu tengah duduk disamping ayahnya.
"Cari istri yang sholehah Bagas. Saya doakan semoga Allah Subhanahu wa ta'ala segera mempertemukan kamu dengan jodoh kamu" Ucap Arabella dengan ramah.
"Aamiin. Terimakasih Arabella."
Bagas berharap semoga jodohnya kelak sama seperti Arabella. Istri kaptennya itu sangatlah cantik dan anggun. Apalagi Arabella sangat baik dan sholehah.
"Haafizh dan Ara. Jaga dan didik anak kalian dengan baik. Jangan sampai nanti keduanya terjerumus pada suatu ketidak baikan. Haafizh ingat kamu punya anak perempuan, dia berlian jangan sampai dia tersentuh oleh pria tidak berakhlak diluaran sana." Nasihat Pak Abian dengan begitu serius.
Haafizh dan Arabella kompak menganggukkan kepala.
"Iya ayah pastinya. Anak-anakku adalah segalanya bagiku begitu juga dengan Ara istriku yang cantik ini, iyakan sayang"
"Kamu itu Haafizh selalu saja menggoda menantuku, awas saja anak-anak dibiarkan begitu saja karena kamu sibuk menggoda Arabella."
__ADS_1
"Iya, Yah. Aku juga tau kok."
Ucapan selamat datang silih berganti dari para tamu undangan. Kini acara sudah selesai, ruang utama yang tadinya ramai kini sepi hanya menyisakan Arabella, Haafizh, Ana dan Pak Haidar.
Arabella meletakkan si kecil Zafran dikasur. Ayahnya mau pulang bersama Ana sore ini. Setelah menidurkan Zafran, Arabella menatap Haafizh yang masih menggendong Zynata.
"Udah Mas Zynata juga tidurin dikasur. Tidurnya udah pules begitu."
Haafizh mengangguk nurut.
"Anak kita anteng banget ya, Ra. Jarang nangis apalagi sampai rewel." Ucap Haafizh yang kini tengah menatap kedua anak-anaknya yang tertidur.
Arabella mendekat, lalu mengusap pundak Haafizh.
"Iya Mas. Anak-anak itu nangisnya paling pas laper minta asi terus kalau popoknya basah baru mereka nangis."
"Zynata cantik ya, Ra. Mirip sama kamu" Ujar Haafizh bibirnya tersenyum lalu ia menatap Arabella yang berdiri disampingnya.
"Zafran juga, dia sangat tampan. Kayak Abinya" Arabella terkekeh mengucapkan itu. Sementara Haafizh, ia langsung membawa Arabella dalam dekapannya lalu mencium kening Arabella dengan lama.
"Sayang banget aku tuh Ra sama kamu." Ucap Haafizh seraya mengeratkan pelukannya dipanggang Arabella.
Arabella tersipu. Lalu membenamkan wajahnya didada bidang Haafizh, Arabella yakin pasti kedua pipinya sudah memerah karena malu.
Arabella mengangguk.
"Pokoknya kamu milikku."
Setelah selesai bermesraan, Arabella segera keluar kamar diikuti oleh Haafizh dibelakang. Keduanya langsung menuruni anak tangga.
"Ayah kamu pulang sore ini juga, Ra?"
"Iya Mas, makanya aku mau masak dulu buat ayah. Kasian Ana dia pasti cape karena udah bantu-bantu disini dari kemarin."
"Yaudah, Mas mau nemuin ayah kamu dulu"
Arabella mengangguk. keduanya berpisah setelah menuruni anak tangga, Haafizh berlalu keruang tamu untuk menemui ayah mertuanya sedangkan Arabella pergi ke dapur untuk memasak.
"Haafizh cucukku mana?" Tanya Pak Abian yang sedang duduk mengobrol dengan Ana dan Pak Haidar.
"Tidur" Jawab Haafizh singkat. Ia ikut duduk di sebelah sang ayah.
"Jadi rencana buat ke depannya kamu dan istri kamu gimana?" Tanya Pak Haidar pada Haafizh.
__ADS_1
"Mungkin Ara akan tinggal disini, saya juga harus pergi kembali bertugas. Untuk pindah kerumah dinas, mungkin nunggu dulu anak-anak berusia satu tahun."
"Ayah dukung rencana kamu. Kalau pindah kerumah dinas sekarang pasti istrimu akan kerepotan karena harus mengurus dua bayi" Ujar Pak Abian.
"Benar, kalau disinikan ada kakek-kakeknya terus ada Ana juga. Walau dia sibuk bekerja, pasti sewaktu-waktu bisa kesini bermain dengan keponakannya. Iya kan, Ana"
Ana mengangguk mengiyakan ucapan ayahnya. "Aku akan sering mengunjungi Kak Ara dan dua Z" Ujarnya.
"Zafran dan Zynata bukan dua Z" Ralat Haafizh tak terima.
"Terserahlah, suka-suka." Ketus Ana tak mau kalah.
"Kamu ini, apa sebaiknya kita jodohkan saja Ana dan Bagas" Tanya Pak Haidar memberi saran.
Haafizh terdiam. Pikirannya menerawang, apa Bagas mau bersama Ana? Dari sudut pandang Haafizh, keluarga Bagas sangatlah menjunjung tinggi ilmu agama, bahkan Uminya Bagas asli keturunan Habib.
Mengingat kembali Ana, dia wanita bar-bar, absurd dan berisik. Tidak ada anggun-anggunnya, kalau ngomong asal jeplak dan tidak pandang bulu Ana memang sangat energik dan juga pemberani.
Jadi Haafizh sangat khawatir jika keluarga besar Bagas tidak menerima sikap Ana yang begitu menjengkelkan.
"Saya tidak setuju. Mengingat Ana, dia begitu sangat tidak menyukai Bagas." Ujar Haafizh.
Ada apa dengan kakak iparnya itu, dulu dia yang paling gencar untuk menjodohkan dirinya dengan Bagas tapi kini Haafizh tidak setuju. Tapi baguslah, bukannya Ana harus senang untuk hal ini.
"Lagian aku juga gak mau berjodoh dengan si Bagas itu. Aku punya selera sendiri" Kali ini Ana ikut bersuara. Takutnya rencana sang ayah yang menginginkan dirinya berjodoh dengan Bagas berhasil.
"Iya Haidar, anakmu masih muda. Biarlah dia menikmati masa mudanya dulu. Jodoh gak akan kemana, kalau udah waktunya pasti dipersatukan." Timpal Pak Abiaan.
"Tapi aku gak mau Ana mengikuti jejak ibunya. Dia itu masih labil, Bian." Guratan sedih terpancar jelas diraut wajah Pak Haidar, ia sangat khawatir jika suatu saat nanti Ana salah pergaulan dan mengikuti jejak ibunya.
Bagaimanapun juga buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Perumpamaan itu sangat kentara.
Ana tertegun hatinya sedih, sangat mendengar hal itu. Seburuk itukah ibunya dulu, sampai-sampai masa depannya takut seperti sang ibu dulu. Ana benar-benar terluka, sosok ibunya sangat mengecewakan. Ana malu untuk mengakui ibunya sendiri.
"Ana tidak akan seperti itu, Haidar. Dia itu berbeda." Ucap pak Abiaan yang kini tengah menepuk-nepuk pundak Pak Haidar.
"Aku juga gak mau seperti ibu."
'
'
'
__ADS_1
Bentar lagi Hilal Jodoh Belum Terlihat tamat ya. Untuk kisah Ana terpisah dinovel sebelah. Untuk kelanjutannya aku umumin nanti pas cerita ini udah tamat.