
Suara itu mengangetkan Arabella, tubuhnya bergetar takut. Bagaimana kalau itu orang jahat yang ingin mencelakainya. Yaalloh, bagaimana ini? Tolong lindungi hamba. Gumam Arabella.
Terdengar suara langkah kaki itu semakin mendekat, membuat jantung Arabella semakin berdetak tak karuan.
"SIAPAPUN ITU TOLONG JANGAN SAKITI SAYA!"
Teriak Arabella cukup keras, langkah kaki itu berhenti. Tapi kenapa tidak ada sahutan dari orang yang dibelakangnya. Apa ia sudah pergi?
"Kamu kenapa? Ini saya!" Ucap orang itu.
Suara itu tidak asing ditelinga Arabella. Dengan pelan Arabella membalikan tubuhnya, kini kedua manik mata Arabella menangkap sosok pria jangkung bertubuh tegap.
"Ka-kamu"
Terlihat samar namun pasti, pria itu tersenyum kecil kearah Arabella.
"Jangan takut! Saya tidak akan melukaimu" Ucapnya.
Perasaan takut yang tadinya menikam kini berangsur tenang. Syukurlah, ada pria ini Arabella bisa bernapas lega sekarang.
"Saya kira kamu orang jahat, maafkan saya. Saya tidak tahu,"
Dengan jarak tiga meter keduanya saling berhadapan, ditengah temaramnya lampu jalan yang remang membuat wajah lelah Arabella terpencar jelas, keringat masih bercucuran dipelipis sesekali Arabella menyekat keringat.
Pria itu terus menatap wajah Arabella, pesona perempuan bermata teduh yang candu dengan senyuman manis menghanyutkan siapa saja yang melihatnya. Teringat dengan ucapan Bagas kalau bertemu lagi harus mengajak berkenalan.
"Kenapa tidak menanyakan siapa namanya, setidaknya ajak dia berkenalan." Perkataan Bagas waktu itu tergiang kembali.
Ini waktu yang bagus untuk mengajak berkenalan.
"Tidak apa. Perkenalkan nama saya Muhammad Haafizh Abizar" Tanpa basa basi ia langsung memperkenalkan diri.
"Arabella Qaseema"
__ADS_1
Lalu keduamya saling melempar senyuman hangat. Tatapan penuh kagum itu terlihat jelas dari retina tajam Haafizh.
Arabella Qaseema nama yang cantik seperti orangnya.
"Belum pulang" Kini Haafizh terasa lebih leluasa, maksudnya ia lebih merasa tenang karena sudah mengetahui nama perempuan si pemilik mata teduh.
"Belum, saya sedang menunggu bus tapi kenapa belum ada juga"
Haafizh tampak memerhatikan sekitar jalan, biasanya ada banyak bus yang lewat tapi malam ini tidak ada. Perhatiannya kembali pada Arabella, kasian perempuan yang ada dihadapannya terlihat sangat kelelahan.
"Arabella, jika boleh saya ingin mengantarkan mu pulang."
Mendengar tawaran Haafizh membuat Arabella terkesiap, ia bingung antara mau dan tidak. Mana bisa ia mempercayai orang yang baru dikenalinya. Tapi disisi lain Haafizh terlihat sangat tulus apalagi Haafizh seorang tentara, mana mungkin melakukan kejahatan.
"Jangan takut! Saya berjanji akan mengantarkan mu pulang dengan selamat. Lagi pula saya seorang abdi negara sudah tugas saya melindungi negara termasuk melindungimu, Ara."
Ucapan Haafizh barusan membuat Arabella terpengap-pengap. Apa maksudnya? Jangan sampai Arabella menyalah artikan ucapan Haafizh tadi. Tolong jangan baper!
Arabella tampak kikuk.
Tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran Haafizh untuk mengantar dirinya pulang, lagian Haafizh begitu baik. Terlihat dari tempo hari lalu dimana pertemuan ketidak sengajaan itu Haafizh selalu membantunya.
Benar saja dalam waktu sepuluh menit, Haafizh kembali dengan mobil BMW hitam yang terlihat mengkilat. Pria itu keluar dengan wajah berseri-seri.
"Haafizh. Emm, apa ini tidak merepotkanmu"
"Tidak. Masuklah! Ini sudah malam" Ucap Haafizh seraya membukakan pintu mobil untuk Arabella.
Sebelum masuk Arabella mengucapkan banyak terimakasih pada Haafizh. Dengan senang hati Haafizh mengantarkan Arabella pulang. Didalam mobil tidak ada percakapan, mereka bicara hanya ketika Haafizh menanyakan arah jalan kerumah Arabella.
Arabella lebih memilih melihat keluar jendela kaca mobil, menikmati gelapnya malam ini yang begitu sunyi. Tanpa sepengetahuan Arabella diam-diam Haafizh selalu mencuri pandang kearah Arabella.
Tiga puluh menit berlalu mobil BMW hitam Haafizh telah sampai didepan rumah Arabella, keduanya langsung turun dari mobil.
__ADS_1
"Terimakasih banyak. Maaf telah merepotkanmu, Haafizh"
"Sama-sama"
"Hati-hati dijalan! Kalau begitu saya masuk dulu" Pamit Arabella seraya tersenyum manis. Sangat manis hingga Haafizh tak berkedip bahkan debaran hatinya berdetak semakin keras, jika Arabella tidak buru-buru masuk mungkin debaran hati Haafizh akan terdengar oleh Arabella.
Haafizh hanya menggangguk. Manik tajamnya tak lepas dari sosok Arabella perempuan itu semakin menjauh dari penglihatannya sampai tak terlihat lagi tatkala Arabella masuk kedalam rumah.
"Ketika senyummu menjadi candu setiap waktu" Ucap Haafizh dengan lirih.
Selepas diantar pulang oleh Haafizh, Arabella langsung membersihkan diri lalu shalat isya. Untuk pertama kalinya ia diantar pulang oleh seorang pria. Ada perasaan senang dihati kecil Arabella, tapi ia sadar itu hanya sebatas kebaikan Haafizh yang tulus.
Selepas mengerjakan kewajibannya sebagai umat muslim. Arabella segara menemui kembali Pak Haidar yang tengah menonton televisi.
"Ara kamu sudah makan" Tanya Pak Haidar saat melihat Arabella keluar kamar.
Arabella mendekat lalu duduk disamping sang ayah yang selalu menunggu kepulangan Arabella. "Belum yah, gak laper. Lagian tadi aku sama temen-temen makan bersama. Ayah sendiri udah makan?"
"Udah sama Ana. Tapi gak kenyang, masakan Ana gosong apalagi tumis cumi manisnya masih mentah" Keluh Pak Haidar dengan berbisik takut terdengar oleh Ana.
Arabella hanya manggut-manggut.
Keesokan harinya, hari tak secerah biasanya. Kali ini langit mendung, tetesan air hujan kian mulai turun dengan deras, angin berhembus kencang menggoyangkan pepepohan hingga daun kering tampak berjatuhan ke tanah.
Beberapa orang yang ingin hendak bekerja tampak memaksakan untuk tetap berjalan dengan payung sebagai pelindung dari air hujan, beberapa anak sekolah terlihat berteduh dipinggiran depan toko sebagian ada yang diantar mengenakan motor.
Tidak jauh dari sana Arabella tengah berteduh dihalte, berdempetan dengan orang-orang. Tubuh mungil Arabella menggigil menahan dinginnya cuaca hari ini.
Dari banyaknya orang yang berteduh dihalte bus, tanpa Arabella sadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya orang itu berdiri tepat dibelakang tubuh mungil Arabella. Penampilannya terlihat casual, memakai celana jeans panjang, dengan atasan jaket hodie berwarna hitam tubuh kekar orang itu semakin jelas terlihat, apalagi ia memakai sepatu berwarna putih. Sangat keren dan gagah.
Orang itu melindungi tubuh mungil Arabella dari desakan orang-orang. Sengaja ia melakukan ini, tujuannya hanya satu yaitu melindungi Arabella.
Hingga bus datang semua orang naik termasuk Arabella, dengan setia pria itu mengikuti langkah kecil Arabella. Kepalanya menunduk dengan ditutupi kupluk dari jaket hodie yang ia pakai, kepalanya menunduk agar tidak ketahuan Arabella.
__ADS_1
Sampailah Arabella didepan restoran. Ia segara melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam restoran, dengan diikuti. Jarak keduanya tidak terlalu jauh. Saat sedang asiknya berjalan kaki, tiba-tiba saja Arabella berbalik badan, sontak membuat orang itu tidak bisa menghindar. Tubuhnya kaku, apalagi saat tatapan mata keduanya saling bertemu.
Ditengah gerimis hujan yang semakin reda, orang itu merasa seperti ketahuan baru mencuri. Tanpa orang itu duga Arabella malah mendekat ke arahnya yang mematung.