
Adzan magrib sudah berkumandang sejak sepuluh menit lalu, namun Arabella masih bergumul dibalik selimut, tubuhnya terasa remuk dan pegal. Haafizh tengah mandi, suara gemericik air masih terdengar.
"Aku telah melakukannya" Gumam Arabella, kedua pipinya memerah karena malu. Lalu mencoba duduk, dibawah sana terasa sakit dan perih namun Arabella tahan.
Ternyata rasanya tidak seburuk yang di katakan Ana, Arabella kesal karena sempat percaya dengan perkataan Ana.
Setelah duduk seraya menarik selimut hingga ke leher Arabella mengedarkan penglihatannya ke seluruh sudut kamar, siapa sangka kamar yang tadinya rapih dan bersih kini berantakan bak kapal pecah.
Seprai baru yang rapi kini kusut malah sudah terlepas dari kasur, bantal serta guling tergeletak dilantai dan pakaian dalam miliknya berserakan dilantai begitu saja, Arabella memberenggut malu.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Haafizh sudah selesai mandi untuk yang ke dua kalinya. Wajah Haafizh tampak lebih segar.
"Kamu mau mandi sekarang?" Tanya Haafizh mendekat pada Arabella.
Arabella mengangguk. Ia beranjak bangkit dengan selimut melilit di tubuhnya. "Aduhh" Rintihnya saat berusaha bangun, rupanya rasa sakit dibawah sana masih terasa.
Haafizh buru-buru membantu Arabella lalu menggendong tubuh Arabella ala bridal style. "Masih sakit?" Tanyanya dengan raut wajah bersalah. Sebenarnya Haafizh merasa kasihan, gara-gara ulahnya Arabella jadi kesakitan.
"Jangan dibahas Mas, aku malu"
Selesai mandi dan shalat magrib berjamaah berdua di kamar, Arabella membereskan kamar dibantu oleh Haafizh yang mengganti seprei.
"Udah selesai belum Mas?" Tanya Arabella seraya memasukkan pakaian kotor kedalam keranjang cucian.
"Bentar lagi sayang, ini tinggal ngemasukin sarung bantal"
Sampai adzan isya keduanya baru selesai membereskan kamar, lanjut melaksanakan shalat berdua lalu keluar kamar. Haafizh lapar begitu juga Arabella. Ada pak Haidar tengah menonton tv, Haafizh langsung ikut bergabung sementara Arabella pergi ke dapur.
Rupanya di dapur ada Ana sedang makan sate sisa hidangan pernikahan tadi di meja makan. Arabella diam ia hiraukan karena perutnya sudah sangat keroncongan.
Ana yang tengah mengunyah sesaat diam karena melihat Arabella yang menurutnya aneh. "Kak Ara kenapa? Jalannya ngangkang"
Arabella yang tengah membuat nasi goreng tampak terkejut mendengar pertanyaan Ana, ia menoleh lalu diam karena bingung harus menjawab apa.
"Sakit kaki, atau bagaimana? Wajahmu keliatan pucat banget, kayak kecapean gitu"
Yaampun, apa efeknya terlihat sampai begitu. Arabella gelagapan lalu mencoba bersikap senetral mungkin. "Aku cape, hari ini cukup menguras tenaga" Jawabnya asal, lalu kembali melakukan aktivitas masak.
Ana mengerjit bingung, perasaan tadi Arabella terlihat biasa saja bahkan terlihat baik-baik saja. Lalu kenapa sekarang kakaknya itu terlihat pucat bahkan jalan kakinya saja terlihat aneh.
"Oh gitu"
__ADS_1
Ah, syukurlah. Arabella bernapas lega setidaknya Ana tidak akan banyak bertanya. Namun perasaan lega itu tidak bertahan lama, kala Ana mengucapkan sesuatu yang membuat wajah Arabella memerah karena malu.
"Ranjang kalian berderit kenceng, sampai merinding aku dengernya" Celetuk Ana seraya terkikik.
Arabella diam.
Pikirannya kembali berputar kejadian sore pertama tadi, ia tak sadar kalau pergerakan Haafizh dan dirinya akan membuat ranjang berderit kencang sampai terdengar ke kamar Ana.
"Kalian main terlalu heboh, hingga menggetarkan area sekitar. Sampai-sampai tak sadar kalau aku masih jomblo"
Ana mendengus, lalu lanjut memakan sate hingga sudut bibir tampak belepotan. "Jangan malu, kalau aku dah nikah aku ajak duet sekalian"
Bukan Ana namanya kalau omongan ceplas ceplos seperti itu sudah biasa, Arabella diam ia terus memasak seraya menahan malu.
"Mau ngajak duet apa?"
Eh, Arabella dan Ana kompak menoleh pada sumber suara. Rupanya ada Haafizh tengah berdiri diambang pintu dapur lalu berjalan mendekati meja makan.
"Bang Haafizh"
Ana sangat terkejut, ia berhenti memakan sate.
"Aku duduk disini, ayah lagi keluar katanya mau kerumah temen" Ujar Haafizh seraya duduk dikursi meja makan berhadapan dengan Ana.
"Kamu mau ngajak duet apa barusan?" Rupanya rasa penasaran Haafizh belum terjawab, Ana sedikit salah tingkah namun ia memasang wajah sebal.
"Tidak perlu tau, ini urusan para wanita kau mana paham. Lagi pula aku sangat kesal pada kalian berdua" Dengus Ana seraya memalingkan wajah.
Haafizh yang belum tahu maksud Ana, mengerjit bingung lalu menatap Arabella yang kini telah membawakan sepiring nasi goreng untuknya.
"Makasih ya Ra." Ucapnya dengan lembut
Arabella tersenyum lalu ikut duduk disebelah Haafizh.
"Kesal kenapa, saya dan istri saya tidak melakukan kesalahan" Ucap Haafizh pada Ana, Haafizh berdoa lalu menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut.
Enak, istrinya memang jago masak padahal ini hanya masakan sederhana tapi rasanya sangat menggugah selera.
"Kalian habis nganu kan" Tuduhnya dengan tegas, bak seorang guru BK yang tengah mengintrograsi muridnya yang nakal.
Astaga
__ADS_1
Uhukk, uhuk
Haafizh dan Arabella kompak tersedak, keduanya buru-buru mengambil air minum yang sudah disiapkan diatas meja makan. Ana sungguh barbar, ia menunjuk Haafizh dan Arabella secara bergantian dengan bekas tusuk sate.
"Yaampun, tersedak saja barengan kalian memang pasangan romantis"
Arabella diam tatapannya tertuju pada Haafizh yang sekarang terlihat biasa saja.
"Saya kaget, jadinya tersedak. Kamu bilang apa tadi"
"Ana sebaiknya kamu tidur" Sela Arabella, ia tak mau Ana berbicara lagi apalagi sekarang ada Haafizh pasti omongan Ana akan semakin aneh.
Ana menggeleng lalu kembali fokus pada Haafizh yang sibuk mengunyah nasi goreng.
"Itu loh, bahasa gaulnya iya iya kalau bahasa bakunya nganu. Bang Haafizh pria dewasa masak tidak tahu" Ana geleng-geleng kepala seraya berdecak.
"Kamu masih kecil. Tapi sepertinya tahu banyak soal begituan"
"Ck, aku udah besar. Lihat saja bentar lagi aku nyusul kalian" Ketus Ana tak terima jika dirinya disebut masih kecil.
"Emang udah ada calonnya?" Timpal Arabella yang kini sudah selesai makan.
"Belum ada. Tapi bentar lagi ada, jodohku masih berkeliaran diluar sana. Kasian belum ada yang memungutnya padahal jodohnya aku"
"Temen saya banyak yang masih sendiri, seumuran kamu lagi. Kalau kita pindah ke rumah dinas, kamu ikut kesana siapa tahu ada yang nyangkut"
Haafizh selesai makan, Arabella segera membereskan piring kotor lalu beranjak dari tempat duduk untuk mencuci piring.
Ana berpikir sejenak lalu menatap Haafizh dalam-dalam. "Aku... " Suara Ana tercekat seperti hendak ingin mengatakan sesuatu namun ia tahan. "Aku tidak ingin tentara"
"Gamau sama yang berseragam?"
Ana menggeleng, "Seleraku berubah"
"Bagas mau, dia masih sendiri" Tawar Haafizh merekomendasikan Bagas.
"Enggak. Apalagi sama si Bagas itu, bisa-bisa aku gila kalau jadi istrinya. Pokoknya aku gamau sama tentara"
Obrolan malam itu berlangsung tak lama saat Arabella selesai mencuci piring Haafizh langsung mengajak Arabella masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Ana sendirian didapur seraya mengomel pada pasutri baru itu.
"Dasar pengantin baru, hobinya ngerumpi diranjang emang kagak bosen apa"
__ADS_1
"Sebaiknya malam ini aku harus mengungsi, suara mereka menodai telingaku yang masih perawan"