Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Ketempelan


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar Pak Haidar diketuk cepat oleh Ana, wanita itu tampak cemas melihat tingkah aneh Arabella yang tidak biasanya.


"Ayah"


Dengan tidak sabaran Ana mulai menggebrak-gebrak pintu kamar, kenapa ayahnya lama sekali membuka pintu, jika begini terus Lama-lama kakaknya bisa kerusupan.


Pintu terbuka sedikit demi sedikit, memperlihatkan Pak Haidar yang tengah sempoyongan, seperti orang yang habis bangun tidur.


"Ada apa, nak," Tanya Pak Haidar seraya menguap.


Ana mengehela napas panjang, lalu menarik tangan Pak Haidar, untuk segara ikut kekamar miliknya.


"Ana, kenapa ayah ditarik-tarik?" Cetus Pak Haidar.


"Itu kak Ara yah, dia ketempelan demit" Ucap Ana dengan begitu khawatir, ia takut Arabella kesurupan. Lebih tepatnya ia takut melihat orang kesurupan.


Kedua mata Pak Haidar membulat, ia sangat terkejut. Bagaimana bisa Arabella ketempelan demit malam-malam begini. Apa gara-gara Arabella pulang ke magriban.


"Yaallah. Kamu pasti salah, Ana" Pekik Pak Haidar antara percaya dan tidak percaya.


Ana menggeleng kuat, "Tidak yah, aku melihat nya sendiri! Dari mulai masuk rumah, terus masuk ke kamar mandipun Kak Ara senyum-senyum gak jelas yah. Bahkan pas Kak Ara keluar dari kamar mandipun masih senyum-senyum gitu. Ayo, yah. Ayah harus segera meruqyah Kak Ara."


Dengan rasa penasaran Pak Haidar pun segara pergi ke kamar Arabella. Tidak biasanya kejadian aneh ini terjadi, padahal anak-anaknya selalu rajin beribadah.


Pintu kamar terbuka setengah, memperlihatkan Arabella yang tengah menyisir rambut, wanita itu masih sibuk merapikan rambutnya didepan cermin. Gaun tidur putih panjang, Arabella kenakan malam ini. Rambut hitam panjangnya di gerai, terlihat begitu indah dan cantik. Senyum dibibir kecilnya terus tersungging cerah.


Disisi lain Pak Haidar dan Ana malah mengintip disisi pintu, keduanya lantas berbisik-bisik.


"Tuh kan yah, aku bilang apa. Kak Ara ketempelan demit" Bisik Ana, tepat dibelakang tubuh Pak Haidar.


"Aneh apanya, liat tuh kakak kamu lagi nyisir rambut dikira aneh. Senyum itu ibadah, jadi wajar saja mungkin kakakmu itu sedang bahagia."


Pak Haidar tidak peduli lagi, ia segera berbalik badan hendak ingin kembali lagi kedalam kamar, tapi Ana malah mencegahnya.


"Jangan atulah, yah. Aku takut!" Ana memelas seraya memeluk sebelah tangan Pak Haidar, anaknya ini malah bergelanyutan ditangan.


"Yaudah kamu tidur sama ayah" Cetus Pak Haidar.


"Enggak ah, tidur sama ayah suka dimarahin, kan aku suka ileran" Ana cemberut kesal, gara-gara Arabella ia jadi bingung begini sekarang.


Pak Haidar tidak mengubrisnya lagi ia langsung kembali kedalam kamar, kedua matanya sudah berat sekali ingin segera tidur. Lagian Arabella normal-normal saja, tidak ada ciri-ciri ketempelan demit.

__ADS_1


Sepeninggalan Pak Haidar, Ana mulai merasa takut kembali. Ingin numpang tidur dengan ayah takut ileran nanti dimarahi, tapi kalau dirinya kembali kekamar takut Arabella kesurupan. Pasti demit itu masih mengintil pada kakaknya.


Saat sedang asiknya berkutat dengan pikiran nya, tiba-tiba suara Arabella mengangetkan Ana, kakaknya itu keluar kamar dengan raut wajah bingung. Mungkin bingung melihat Ana yang tengah melamun didepan pintu.


"Ana, lagi ngapain"


"Hahh. Kak Ara," Pekik Ana terkejut. Entah kenapa tiba-tiba saja, rasa takut yang tadi mencekam, mendadak lenyap. Memang benar, wajah kakaknya sangat teguh, membuat Ana kembali tenang.


"Kamu kenapa sih, An. Tiba-tiba saja kamu lari keluar kamar, tau-taunya malah lagi ngelamun disini"


Ana terdiam lalu menatap Arabella dengan penuh selidik. Arabella yang ditatap seperti itu lantas merasa bingung.


"Kenapa kamu menatap kakak seperti itu?"


"Tidak ada" Sahut Ana dengan cepat, lalu melenggang pergi masuk kekamar. Seolah-olah melupakan rasa takutnya tadi. Dengan cepat ia segara membaringkan tubuhnya diranjang, menutup seluruh badan dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan selimbut. Takut sewaktu-waktu kakaknya itu kesurupan.


Arabella yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, sikap Ana sangat aneh sekali. Seolah-olah sedang mewaspadai sesuatu yang entah apa itu, Arabella tidak tahu.


Keesokan harinya, sesuai dengan keputusan Arabella, ia akan pergi mengantar Haafizh kebandara. Sedari tadi hatinya terus berdebar-debar, mungkin akan ketemu Haafizh kali ini cukup berbeda setelah Haafizh mengutarakan isi hatinya pada Arabella.


Setelah shalat shubuh, Arabella segera membereskan rumah, tidak lupa ia memasak untuk Ana dan ayah. Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, ia segera mandi dan bersiap. Saat hendak ingin memakai baju, Arabella cukup bingung ia harus pakai baju yang mana.


Tangannya sibuk memilih-milih baju, rasanya seperti tidak ada yang cocok. Padahal biasanya tidak seperti ini saat hendak ingin bertemu Haafizh. Tapi entah kenapa, Arabella ingin tampil sedikit lebih berbeda dari biasanya.


Setelah memakai baju Arabella segera memakai make up, seperti biasa ia selalu tampil dengan make up senatural mungkin. Baju gamis berwarna soft purple senada dengan warna hijab, terlihat begitu anggun saat dipakai Arabella, kulitnya yang putih terlihat begitu cerah. Hidung kecil mancung, alis tipis tebal dengan bibir kecil mungil membuat wajah Arabella tampak imut, apalagi pipinya selalu merah merona alami tanpa ada sentuhan make up.


Selesai bersiap, Arabella segera bercermin. Melihat penampilannya sendiri, Arabella tersenyum lalu memutar tubuhnya kekiri dan kekanan, tampak rapi dan anggun.


"Alhamdulillah selesai" Ucapnya dengan senang.


Saat sedang asik bercermin, gawai miliknya berbunyi. Dengan cepat Arabella langsung mengambilnya. Pesan singkat dari Haafizh, belum juga Arabella membaca isi pesan tersebut tapi ia sudah tersenyum-senyum. Dengan rasa penasaran tinggi, ia segera membuka pesan dari Haafizh.


"Assalamu'alaikum, Ara. Bersiaplah sebentar lagi teman saya akan segera tiba dirumah, mu"


Arabella tersenyum kecil, lalu membalas pesan Haafizh.


"Wa'alaikumussalam. Iya saya sudah siap"


Setelah itu Arabella langsung mengambil tas, keluar kamar dengan cepat. Takut teman Haafizh keburu sampai.


Diruang tengah ada Pak Haidar dan Ana, keduanya tengah menikmati siaran film favorit Ana. Arabella yang sudah tampil rapi, membuat dahi Ana mengerjit bingung. Mau kemana kakaknya itu, pagi-pagi begini sudah rapi, padahal sedang libur bekerja.


"Ayah, aku mau mengantar teman ke bandara." Izin Arabella seraya mendekat ke ayah.

__ADS_1


Pak Haidar mengangguk. "Hati-hati dijalannya, kamu berangkat sama siapa, Ra"


"Iya, yah. Aku dijemput teman. Jadi ayah tidak perlu khawatir"


"Woahh, temen kakak mau liburan ya" Timpal Ana dengan semringah.


"Bukan Ana. Tapi temen kakak mau berangkat kerja."


Ana hanya manggut-manggut.


"Yasudah, kalau begitu aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum" Ucap Arabella seraya mencium punggung tangan Pak Haidar.


"Waalaikumsalam" Jawab Pak Haidar dan Ana bersama.


Setelah berpamitan Arabella segera pergi meninggalkan rumah. Saat tiba didepan halaman, mobil hitam milik Haafizh sudah terparkir disana. Seorang pria keluar dari dalam mobil, berperawakan tinggi dengan badan kekar seperti Haafizh, pria itu memakai seragam TNI AD lengkap.


Pria itu mendekat ke Arabella.


"Kamu pasti calon istrinya, kapten kan?! " Tanyanya dengan datar.


Arabella terkesiap. Apa katanya calon istri kapten? Apa yang dimaksud kapten itu adalah Haafizh? Ternyata Haafizh bukan tentara biasa, pria itu seorang kapten tentara. Eh, tunggu dulu. Arabella baru menyadari kalau pria itu menyebut dirinya sebagai calon istri Haafizh. Kenapa bisa begitu? Apa Haafizh yang bicara begitu pada temannya ini.


"Kamu temannya, Haafizh?"


Pria itu mengangguk.


"Tapi dimana Haafizh" Tanyanya kembali seraya melihat kearah mobil hitam milik Haafizh.


"Kapten sedang ada urusan, jadi saya yang menjemput kamu."


Arabella hanya diam.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi, ayo kita berangkat!"


Keduanya langsung naik kedalam mobil, sepanjang perjalanan menuju bandara Arabella hanya diam. Bagas yang sedari tadi fokus menyetir kini melihat pada Arabella sekilas.


"Cantik banget calon istrinya kapten. Sekali dapet langsung yang bening"


Sampai dibandara Arabella segera turun dengan dibukakan pintu oleh Bagas. Ada beberapa orang tentara disana, mungkin itu temannya Haafizh. Tapi diantara pria berseragam TNI itu tidak ada sosok Haafizh, Arabella mengedarkan penglihatannya berharap menemukan sosok Haafizh. Tapi hasilnya nihil.


"Nyari siapa sih, fokus banget"


Ucap orang itu dibelakang Arabella.

__ADS_1


__ADS_2