
Acara telah usai dengan tepuk tangan yang begitu riuh. Semua mahasiswa langsung meninggalkan koridor, begitu juga dengan para dosen dan tentara.
Ana, Vika, dan Hana langsung pergi ke kantin. Sedari tadi perut mereka sudah meronta-ronta minta diisi makanan. Setibanya dikantin terlihat begitu sepi, tidak seperti bisanya yang selalu ramai dan penuh.
"Tumben kantin sepi" Ucap Hana seraya duduk dikursi diikuti oleh Vika dan Ana.
"Mungkin mereka langsung pulang" Sahut Ana.
"Yaudah langsung pesan makanan aja, Ana kamu yang pesan!" Suruh Vika.
Ana hanya menganguk. Pesanan ketiganya selalu sama yaitu memesan mie ayam pedas. Menu spesial kantin yang paling enak. Posisi meja Ana dan etalase ibu kantin hanya berjarak beberapa meter.
"Bibi saya mau pesan" Teriak Ana dengan keras.
Ibu kantin yang asik menggoreng makanan, tersentak kaget. Tapi ia tidak aneh lagi dengan suara nyaring Ana yang keras.
"Iya neng Ana, mau pesan apa" Teriak ibu kantin dibalik etalase makanan.
Sebelum menjawab teriakan ibu kantin Ana bertanya kembali pada temannya.
"Seperti biasa aja deh, mie ayam pedas sama jus jeruk" Ucap Hana.
Ana mengangguk.
"Bi, saya pesan... "
Saat sedang berteriak memesan makanan, tiba-tiba saja dari arah pintu masuk utara muncul Haafizh dengan Bagas menuju kearah ibu kantin. Sontak membuat Ana gagal fokus.
"Saya pesan... Pak tentara" Teriak Ana dengan suara melemah, tatapannya terus terpusat pada sosok Haafizh.
Hana dan Vika menatap Ana dengan bingung. Posisi keduanya membelakangi etalase ibu kantin, jadi mereka tidak mengetahui kedatangan Haafizh dan Bagas.
"Kok pesan pak tentara sih," Protes Vika kesal.
"Kita pesan mie ayam, Ana. Bukan pesan pak tentara." Sambung Vika kembali.
"Keracunan pesona pak tentara yang tadi kali, jadinya gitu" Sahut Hana.
Haafizh dan Bagas tampak memesan sebuah minuman botol pada ibu kantin. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Haafizh dan Bagas langsung duduk dimeja dekat Ana dan teman-temannya duduk.
"Dia ada disini" Pekik Ana heboh. Tanpa babibu, ia segera menyambar gawainya diatas meja. Sebelum kesana Ana harus memastikan penampilannya dulu, ia bercermin dilayar gawai lalu merapikan hijabnya yang miring ke kiri, dirasa sudah cukup rapi Ana segera berjalan cepat menuju Haafizh yang asik berbincang dengan Bagas.
"Itu si Ana kenapa" Tanya Hana heran pada Vika. Keduanya belum menyadari keberadaan Haafizh dan Bagas.
Dengan wajah berseri-seri, dengan semangat yang menggebu-gebu Ana berjalan mendekati Haafizh. Baru saja beberapa langkah berjalan, Ana malah jatuh terjerembab kedepan akibat keserimpet ujung gamisnya yang panjang.
__ADS_1
Brrukk...
Sontak membuat Haafizh dan Bagas terkejut, keduanya langsung menoleh kebawah. Ternyata seorang gadis baru saja jatuh, posisi jatuh gadis itu cukup mengenaskan.
Ya, Ana terjatuh dengan posisi tengkurap dilantai kedua tangannya menjulur kedepan. Seperti gaya orang yang hendak ingin terjun ke kolam renang.
Tidak jauh berbeda dengan Vika dan Hana, kedua teman Ana malah tertawa terbahak-bahak dengan keras. Saking kerasnya, suara ketawa mereka menggema diruang kantin.
"Hahahaha, itu si ana kenapa" Ucap Vika disela-sela tertawanya yang terbahak-bahak.
"Ana, Hahaha" Hana tak kalah berisik, ia terus tertawa hingga air matanya keluar.
Masih mematung diposisi jatuh degan gaya tengkurap. Ana menangis malu didalam hati. Rasanya ia ingin bangun, tapi malu oleh dua orang tentara dihadapannya.
"Dasar teman laknat, bukannya ngebantuin aku. Mereka malah menertawakan sampai terbahak-bahak begitu" Batin Ana dengan begitu naas.
Haafizh dan Bagas langsung berdiri, keduanya mendekati Ana yang masih setia membatu diposisi tengkurap.
Bagas berjongkok, begitu juga dengan Haafizh.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Tanya Bagas. Padahal dalam hati, Bagas sangat ingin tertawa melihat wanita ini.
"Nona bangunlah!" Ucap Haafizh dengan datar.
Ana terus diam, ia tidak bergeming sedikitpun. Tiba-tiba saja ide gila muncul dikepala Ana, Ya. Dia Harus pura-pura pingsan! Itu salah satu cara untuk menyelamatkan dirinya dari rasa malu.
"Hah, baiklah aku akan pura-pura pingsan saja. 1,2,3 pingsan!"
Dalam hitungannya Ana langsung pura-pura pingsan.
"Kapten, sepertinya dia pingsan. Apa yang harus kita lakukan" Tanya Bagas bingung.
Tidak bagi Haafizh, ia tidak mudah tertipu oleh kondisi seperti ini. Haafizh memiliki insting yang kuat serta memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Jadi ia tau kalau gadis yang baru saja jatuh ini hanya pura-pura pingsan.
Haafizh berdiri, lalu menatap teman-teman Ana dengan tajam. Tatapannya kembali lagi pada Ana.
"Nona aktingmu itu sangat buruk! Sebelum rasa malumu itu semakin bertambah, maka cepatlah bangun!" Ucap Haafizh dengan dingin, ia segera pergi keluar kantin begitu saja tanpa peduli dengan Ana.
Bagas yang masih heran, segera menyusul Haafizh tanpa peduli lagi dengan Ana.
Sepeninggalan Haafizh dan Bagas, barulah Ana bangun.
"Huaaa, pak tentara kau sangat galak!" Teriak Ana seraya menangis malu.
Hana dan Vika yang sedari tadi tertawa-tawa kini berjalan mendekati Ana yang tengah terduduk dilantai.
__ADS_1
"Ana kamu baik-baik saja" Tanya Vika dengan menahan tawa.
"Diam kalian berdua!" Bentak Ana kesal, setelahnya ia malah menangis meraung-raung.
Perputaran waktu begitu cepat, dengan malam yang begitu indah telah tiba. Haafizh sudah berada dihalte bus sejak sepuluh menit yang lalu, sengaja menunggu pulang kerja Arabella lebih awal.
Malam yang ditunggu-tunggu, akhirnya tiba kini Haafizh melihat sosok gadis anggun yang berparas teduh keluar dari restoran. Gadis itu berjalan dengan lurus, wajah teduh nan cantik itu terlihat sangat kelelahan.
Haafizh terus memperhatikan Arabella dari jauh. Sosok gadis sederhana yang selalu menarik daya tarik Haafizh untuk selalu melihatnya. Apalagi senyuman manis Arabella sungguh membuat Haafizh mabuk kepayang.
"Ra, kamu itu seperti narkoba. Selalu saja membuat saya candu akan semua tentang dirimu."
Setelah bertugas lama, dengan jarak yang begitu membentang luas memisahkan jarak keduanya. Haafizh merasa rindunya semakin menyurut, kala melihat pujaan hatinya baik-baik saja.
Haafizh tersenyum lebar kala Arabella menatap kearahnya dengan tatapan tak percaya.
"Ha-Haafizh" Pekik Arabella tidak percaya.
Bagaimana bisa Haafizh ada dihalte, apa Arabella sedang mengkhayal. Tidak, itu pasti bukan Haafizh. Gara-gara rasa rindunya pada Haafizh Arabella jadi tak karuan begini.
Dengan cepat Arabella segera berjalan kembali. Ia tidak mau menengok kearah halte bus, takut melihat bayangan Haafizh lagi disana.
Haafizh yang melihat reaksi Arabella seperti itu, langsung berlari mendekati Arabella.
"Ara tunggu!" Teriak Haafizh.
Lantas teriakan Haafizh tidak digubris oleh Arabella. Wanita itu terus berjalan cepat meninggalkan Haafizh dibelakangnya.
Haafizh yang tak tahan segera menarik tas Arabella dengan cukup kencang. Arabella yang tidak tau, ia lantas tertarik. Tubuhnya yang tak siap, lantas berbalik badan lalu menubruk dada bidang Haafizh.
Arabella jatuh kedalam pelukan Haafizh. Hangat, nyaman dan harum. Kenapa senyaman ini, Arabella mencium bau badan Haafizh yang begitu maskulin, aroma tubuhnya begitu tercium jelas oleh Arabella. Rasanya sangat nyaman sekali.
Sinar bulan diatas sana begitu cerah, angin malam berhembus pelan menerpa dua pasang insan yang tengah melepas rindu. Haafizh senang bukan main, saat Arabella menempel padanya. Ia tau ini salah, tapi Haafizh sangat menginginkan ini.
Apa ini semua nyata atau sekedar khayalan saja. Arabella mencoba tersadar dari kenyaman ini semua. Ia mendongakkan wajahnya, menatap wajah mewah Haafizh yang begitu tampan.
Terlihat Haafizh begitu nyata didepan matanya, bahkan Haafizh menatap Arabella dengan dalam. Iris mata keduanya saling bersirobak, menatap dengan penuh saling mendamba, hasrat didalam hati kian bergejolak ingin segera bersentuhan dengan penuh cinta.
Kapan hari itu datang, Haafizh adalah pria dewasa yang sudah matang. Ia juga butuh sosok pendamping dalam hidupnya. Haafizh menginginkan Arabella sentuhnya, merengkuh dan memeluk Arabella dengan lama.
Arabella tersadar, ia langsung menarik tubuhnya dari Haafizh. Ini semua nyata. Astagfirullahal'adzim Arabella malah terjatuh terlalu nyaman dalam pelukan Haafizh.
"Tidak bisakah kau diam lebih lama lagi dalam pelukanku." Ucap Haafizh dengan sayu.
Arabella tampak salah tingkah. Hatinya terus berdetak lebih cepat dari biasanya, lama-lama dekat dengan Haafizh membuat jantung Arabella jadi tidak sehat.
__ADS_1