Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Pesona Haafizh


__ADS_3

Hari ini Haafizh memulai tugas kembali dikota tempat kelahiranya. Bukannya menikmati masa libur sepulang dari tugas ia malah harus kembali bertugas memenuhi permintaan atasan.


Komandan Haafizh yaitu Jenderal Hidoyono, mengajak Haafizh untuk menemani kunjungan ke salah satu Universitas perguruan tinggi.


"Nak mau kemana pagi-pagi begini sudah siap dengan seragam dinasmu?" Tanya Pak Abian yang tengah duduk santai disopa, ditemani secangkir kopi hitam panas, tak lupa teman setianya yaitu koran harian dengan isi berita terkini.


Haafizh yang baru saja menuruni anak tangga, segera berjalan mendekati Pak Abiaan.


"Mau mengunjungi salah satu Universitas. Jenderal Hidoyono yang mengajak ku, yah."


Haafizh segera ikut duduk. Ia juga merasa ingin minum teh, mau nyuruh bunda tapi tidak sopan. Mau bikin sendiri sangat malas pergi ke dapur. Jika Haafizh punya istri pasti akan ada yang mengurus segala keperluannya.


Mengingat soal istri, Haafizh ingin segera meminang Arabella. Baiklah kalau begitu setelah rencana bundanya lusa nanti, Haafizh akan memberitahu tentang niat baiknya pada Arabella.


"Yah" Panggil Haafizh.


"Hem" Sahut Pak Abian tanpa menoleh sedikitpun, perhatiannya tetap fokus pada koran.


"Aku ingin memi... "


Belum saja Haafizh menyelesaikan bicaranya, tiba-tiba saja bunda memotongnya. Entah dari arah mana bunda datang, sosok bunda sudah ada dibelakang tubuh Haafizh.


"Haafizh cepat sarapan dulu!" Titah bunda dengan tegas.


Pak Abiaan yang sedang membaca koran jadi menoleh pada Dinda. Padahal dalam hati Pak Abiaan, ia sangat penasaran apa yang hendak ingin Haafizh katakan.


Haafizh hanya mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya. Sebelum Haafizh pergi, Pak Abian sempat berkata.


"Nanti kita bicarakan" Ucap Pak Abiaan dengan suara pelan.


"Iya, yah." Jawab Haafizh, lalu pergi ke dapur untuk sarapan pagi.


Dinda yang sedari tadi diam, kini mendekati suaminya yang masih sibuk dengan koran.


"Mau bicara apa sama Haafizh?" Tanya Dinda dengan penasaran.


"Tidak ada, bun. Anak kita hanya ingin bicara soal tugas negaranya."


Dinda hanya mengangguk saja.


"Ingat yah, mas. Kita harus memenuhi wasiat sahabatku, kasian dia! Pokoknya mau tidak mau Haafizh harus berjodoh dengan anak dari sahabatku." Tegas Dinda.


Pak Abiaan hanya diam, ia merasa kurang yakin dengan rencana perjodohan ini. Apalagi Haafizh pria dewasa yang sudah matang, pasti ia juga punya pilihan sendiri. Dengan profesinya sebagai tentara, pasti mencari pasangan sangatlah mudah bagi Haafizh.


Pak Abian menyimpan koran diatas meja, lalu menatap istrinya dengan lekat. "Bunda yakin anak kita akan mau menerima perjodohan ini?" Tanyanya dengan penuh keraguan.

__ADS_1


"Iya bunda yakin. Toh bunda semalam udah bicara sama Haafizh, katanya dia ingin segera menikah"


"Bagaimana jika Haafizh menyukai seseorang? Lagian anak kita itu sudah sangat dewasa, pasti dia juga punya pilihan sendiri"


"Mas kamu ini gimana sih, seharusnya kamu dukung aku bukan ngomong kaya gitu. Apapun yang terjadi Haafizh harus berjodoh dengan anak dari sahabatku." Ucap Dinda dengan lantang.


"Maaf bun, ayah tidak setuju dengan perjodohan ini! Jika bunda ingin melanjutkannya maka pergilah sendiri. Aku yakin pada anakku, dia itu tengah jatuh cinta pada seseorang." Sergah Pak Abian dengan tegas, ia segera pergi meninggalkan istrinya yang diam mematung.


Ditempat lain, tepatnya dirumah sederhana Pak Haidar. Ana tengah siap-siap untuk berangkat ke kampus, bulan depan ia akan wisuda. Rasanya sangatlah senang. Perjuangan Ana selama ini akhirnya akan segera berakhir, berharap mendapatkan nilai IPK tertinggi ditahun ini.


"Kamu rapi banget hari ini" Ucap Arabella, yang sudah bersiap untuk berangkat kerja.


Ana yang tengah memakai hijab, segera menoleh pada kakaknya.


"Iya dong kak, hari ini akan ada acara resmi."


"Acara resmi apa?"


"Akan ada kunjungan dari TNI angkatan darat. Katanya mau bincang-bincang gitu,"


TNI angkat darat. Kata itu mengingatkan Arabella pada Haafizh. Apa Haafizh sudah pulang? Apa Haafizh baik-baik saja? Kenapa Haafizh tidak pernah mengirim pesan lagi pada dirinya? Apa Haafizh tidak ingin berteman lagi dengannya.


Kenapa hatinya sangat sesak begini, padahal Arabella tidak papa. Apa ia sangat merindukan sosok Haafizh? Tidak, Arabella harus menahan rasa ini.


"Kak Ara kenapa? Kenapa muka kakak terlihat sedih"


"Benar, kak Ara tidak papa?"


"Iya Ana, Sebaiknya kamu cepat berangkat"


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu ya kak. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Setelah pamit pada kakaknya, Ana segera keluar. Hari ini ia tampil sedikit berbeda dari biasanya. Entahlah mungkin karena ada acara, Ana jadi ingin tampil berbeda.


Sesampainya dikampus, Ana segera menuju ke koridor kampus. Disana sudah banyak mahasiswa yang berkumpul, ada beberapa orang tentara disana, memakai baju loreng lengkap dengan baret bertengger diatas kepala. Ana berdecak kagum melihat koridor kampus yang sudah didekorasi seindah mungkin.


Dari kejauhan Ana melihat dua temannya yang sudah duduk dibarisan paling depan, tidak mau ketinggalan Ana segera berlari mendekati Vika dan Hana.


"Vika, Hana" Panggil Ana saat ia sudah berdiri dibelakang mereka.


Vika dan Hana refleks menoleh ke sumber suara. Ternyata ada Ana dibelakang.


"Ana kamu sudah sampai" Ucap Vika.

__ADS_1


Ana menganguk. " Iya, bagi tempat duduk dong, aku cape!"


"Yaudah sini duduk" Cetus Hana seraya menggeser bokongnya, memberi ruang pada Ana untuk duduk disebelahnya.


Acara dimulai dengan hidmad, acara pembukaan serta penyambutan sudah selesai. Kini acara inti akan dimulai, semua mahasiswa tampak fokus memperhatikan ke depan dimana pihak kampus dan beberapa orang tentara akan melakukan bincang-bincang seputar Proxy War yang akan disampaikan pada seluruh mahasiswa perguruan tinggi.


Suara jenderal Hidoyono begitu tegas terdengar diatas podium, beliau menjelaskan topik tetang, "PERAN PEMUDA DALAM MENGHADAPI PROXY WAR" . Lebih jauh Beliau menjelaskan Proxy War adalah sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi resiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal.


"Proxy war telah berlangsung di Indonesia dalam bermacam bentuk seperti: gerakan sparatis, dermontrasi massa, sistem regulasi yang merugikan, peredaran Narkoba, bentrok antar kelompok dan lain sebagainya."


"Terus bagaimana peran generasi muda dalam menghadapi Proxy War ini..?" Tanya salah satu mahasiswa.


"Gerakan yang harus dilakukan oleh Generasi Muda untuk menangkal proxy war antara lain mengidentifikasi dan mengenali masalah, Pemuda harus memiliki ketajaman untuk dapat mengidentifikasi musuh dan kepentingannya. Pemuda harus ahli sesuai bidangnya masing-masing, gerakan Pemuda berbasis wirausaha, suburkan tradisi wirausaha, mengadakan komunitas belajar, program pembangunan karakter, Pemuda adalah kelompok usia yang sangat dinamis dan labil dalam pencarian jati diri, untuk itu perlu dirintis pembentukan sebuah program keterampilan madani." Jelas jenderal Hidoyono.


"Penjelasan tentang proxy war dari saya cukup sampai disini. Lebih lanjutnya rekan saya yang akan menjelaskan secara detail." Ucap jenderal Hidoyono seraya menatap Haafizh yang sedari tadi diam dibawah sana dengan rekan-rekannya.


Haafizh yang diberi kode lewat tatapan matapun segera naik keatas podium.


Saat Haafizh naik keatas podium, tiba-tiba mahasiswa yang dibawah sana langsung histeris. Bak melihat aktor korea, kaum hawa langsung bersorak kagum.


"Kenapa histeris begitu? Ganteng ya!" Tanya jenderal Hidoyono pada seluruh mahasiswa. Sontak membuat semua orang mengiyakan itu.


"Tenang adek-adek semua bisa mendekatinya. Udah ganteng masih jomblo lagi" Canda jenderal Hidoyono seraya tertawa.


Memang tidak diragukan lagi. Pesona Haafizh memang begitu kuat, daya tarik dari ketampanannya sungguh sangat mempesona. Apalagi Haafizh seorang kapten, membuat ia semakin terlihat keren dengan seragam loreng.


Haafizh hanya diam dengan wajah datar. Ia tidak peduli dengan itu semua. Lagian tugas ia disini hanya untuk menyampaikan tentang proxy war.


Dibawah sana Ana dan teman-temannya tak kalah histeris. Melihat sosok tentara tampan membuat Ana berdecak kagum.


"Kalau liat pak tentara ganteng kaya dia, jadi keinget surah Ar-Rahman ayat 13" Ucap Hana, tatapan matanya tidak lepas dari sosok Haafizh.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" Sambung Vika yang sama-sama menatap Haafizh dengan penuh rasa kagum.


"Udah cakep, keren lagi, ngerepotin perasaan orang aja." Ucap Ana seraya memegang dadanya yang berdebar-debar.


Sebagai penutup dalam penyampaian bincang-bincang ini Haafizh menyampaikan bahwa yang terbaik adalah yang paling sederhana yaitu Back to Basic


"Mengerti bahwa cinta dan peduli kepentingan negara harus menjadi kepentingan tertinggi diatas segala-galanya," demikian tegas Haafizh diakhiri senyuman tipis yang begitu memabukkan.


"Yatuhan, Ana kau lihat itu dia tersenyum." Ucap Vika dengan histeris.


"Senyumannya seakan mengajak berumah tangga" Sahut Hana tak mau kalah.


Ana terus menatap Haafizh diatas podium tanpa berkedip. Kenapa dari deretan pria yang pernah ia temui, kenapa baru kali ini Ana melihat sosok tampan yang begitu menggoda imannya.

__ADS_1


"Oh pak tentara. Selain matematika, aku juga lemah dengan senyumanmu."


__ADS_2