Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Kak Ara"


Ana berteriak histeris kala ia mendorong tubuh Arabella hingga terjatuh. Antara shock dan tidak sadar Ana langsung membantu Arabella untuk bangun.


"Kak Ara maafkan aku" Ana menangis. Tangan dan tubuhnya gemetar hebat kala melihat Arabella merintih kesakitan.


"Ahh, Ana. Ini sakit sekali, tolongg!" Arabella menangis menahan sakit diperutnya, keringat dingin langsung bercucuran tubuhnya gemetar karena rasa sakit dan takut. Takut anak-anak nya kenapa-napa.


Ana nampak bingung dan kesulitan. Bagaimana ini? Arabella tampak menahan sakit yang luar biasa. Terlihat dari raut wajahnya yang memucat bahkan keringat dingin sudah membanjiri kening dan pelipisnya.


Dinda yang tadinya tampak acuh kini mulai membantu memapah Arabella untuk masuk kedalam mobil miliknya.


"Sepertinya kita harus membawanya kerumah sakit sekarang juga, lihat dia pendarahan" Ucap Dinda, walau wajahnya terkesan acuh namun nada bicaranya menggambarkan ke khawatiran.


Ana menatap bagian bawah gamis Arabella, benar ada noda darah disana dengan bercak lumayan banyak.


Arabella terus merintih kesakitan, wajahnya sudah pucat pasi apalagi keringat dingin terus bercucuran.


"Kak Ara" Ana nampak gusar, ia begitu khawatir melihat kondisi Arabella. Ini salahnya, Ana telah mendorong Arabella hingga terjatuh.


Jika terjadi sesuatu pada kandungan Arabella bagaimana? Analah orang pertama yang harus disalahkan.


Tiba dirumah sakit, Arabella langsung dilarikan ke ruang ICU kata dokter keadaan Arabella terbilang cukup parah.


"Tolong selamatkan kakak saya dan bayinya" Pesan Ana pada seorang dokter wanita sebelum menutup pintu bercat putih.


Ana jatuh terduduk, kakinya terasa lemas hingga tak kuat menahan tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya, baru saja dirinya dan Arabella memeriksa kehamilan tapi sudah kembali ke rumah sakit dengan keadaan berbeda. Arabella terluka.


"Ini salah kamu Ana"


Tuding Dinda dengan raut puas.


Benar yang dikatakan bundanya Haafizh barusan. Ini salahnya, Ana sudah mendorong Arabella dengan kuat hingga terjatuh.


"Kira-kira akan seperti apa reaksi Haafizh nanti jika tau istri dan bayinya celaka"


Seolah sedang menakuti Ana, Dinda terus melontarkan ucapan yang terus menyudutkan Ana. Hingga Ana semakin merasa bersalah.


Ana berdiri lalu menatap Dinda. Ia terus menangis tubuhnya gemetar hebat karena takut. "Ta-tapi, aku ti-tidak se-sengaja"


Dinda tersenyum miring lalu dengan tanpa bersalah ia melenggang pergi meninggalkan Ana yang menangis.

__ADS_1


Setelah kepergian Dinda, Ana langsung menelepon Pak Haidar ia menyuruh Pak Haidar untuk cepat kerumah sakit karena Arabella terluka. Ana belum menjelaskan bagaimana kejadian sebenarnya takut ayahnya merasa khawatir berlebihan.


Ana duduk diruang tunggu depan ruang ICU menunggu kabar dari dokter tentang kondisi Arabella. Selang beberapa menit ayahnya muncul dengan raut wajah khawatir. Napasnya terenggah-enggah, sepertinya sepanjang koridor rumah sakit Pak Haidar berlarian.


Ana bangkit dari duduknya, ia langsung menghampiri Pak Haidar lalu berhambur kedalam pelukannya. Tangisnya pecah kembali kala mengingat bagaimana dirinya telah mendorong Arabella.


"Ayah, Kak Ara"


Pak Haidar membalas pelukan Ana, lalu mengusap kepala Ana yang tertutup hijab dengan lembut. "Tak apa, Nak. Kita doakan semoga Arabella dan kandungannya baik-baik saja"


"Hiks, tapi Ayah. Kak Ara se-sebenarnya di-dia terjatuh"


Pak Haidar terdiam, pelukan tangannya pada Ana terlepas. Apa katanya? Arabella terjatuh. Bagaimana bisa putrinya terjatuh? Apalagi Arabella sedang hamil besar.


"Terjatuh, bagaimana bisa Ana?" Tanya Pak Haidar dengan begitu khawatir.


"A-aku telah... Mendorong Kak Ara"


Astagfirullahaladzim.


"Apa kamu sudah tidak waras mendorong kakakmu sendiri? Arabella sedang hamil besar, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandungannya"


"Ta-tapi aku tidak sengaja, Ayah. A-aku tidak sengaja mendorong Kak Ara"


"Ceritakan pada Ayah, sebenarnya apa yang terjadi"


Ana menyeka air matanya lalu menatap sang ayah kini tampak begitu cemas. Jujur Ana merasa sangat bersalah, Arabella celaka karena dirinya. Apalagi tadi Arabella mengalami pendarahan.


"Ta-tadi kami duduk ditaman untuk istirahat. Kata Ka-kak Ara dia pengen duduk dulu karena cape. Saat kami sedang asik bicara tiba-tiba Tante Dinda datang, awalnya hanya berbicara mengenai kabar namun Tante Dinda malah mengungkit masa lalu. Aku kesal padanya karena Kak Ara selalu diperlakukan tidak baik olehnya, Maaf Ayah. Aku telah menampar Tante Dinda aku tau aku salah tapi mau bagaimana lagi dia begitu kurang ajar"


Ucapan Ana terjeda kala melihat Pak Abian sudah berdiri tepat dibelakang ayahnya, sejak kapan Pak Abian datang. Apa Pak Abian mendengar semua perkataan Ana.


"Ayah ada Ayahnya Bang Haafizh" Bisik Ana.


Pak Haidar terkejut lalu berbalik badan. Benar, Pak Abian sudah berdiri dibelakangnya dengan wajah datar. Sebenarnya Pak Haidarlah yang menyuruh Pak Abian untuk kerumah sakit.


Pak Abian maju beberapa langkah, lalu berhenti saat sejajar dengan Pak Haidar.


"Tidak apa, lanjutkan Ana! Saya ingin mendengarnya"


Ana tampak ragu, lalu ia melirik ayahnya untuk meminta persetujuan. Dan Pak Haidar mengangguk supaya Ana melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Setelah aku me-menampar Tante Dinda, Kak Ara pindah tempat ia berdiri dibelakang Tante Dinda untuk menenangkan nya. Kak Ara juga bilang, dia menyuruhku untuk meminta maaf. Tapi aku tidak mau, dan itu membuat Tante Dinda kesal. Tante Dinda marah, lalu dia mengatai kami wanita murahan. Aku begitu emosi, hingga tanpa sadar aku ingin mendorong Tante Dinda, namun Tante Dinda menyingkir dengan cepat, tanpa sengaja aku malah mendorong Kak Ara. Hiks"


"Istriku memang kurang ajar. Aku sudah bosan, memperingati dia. Wanita tidak tahu diri itu harus diberi pelajaran" Ucap Pak Abian dengan begitu murka.


"Tidak. Ini semua salahku, aku yang telah membuat Kak Ara celaka" Ujar Ana histeris bahkan Ana tampak ketakutan.


"Tidak Ana. Ini bukan salahmu, kamu hanya membela Arabella dari istri saya. Kamu tidak bersalah"


Perdebatan kecil itu terhenti saat seorang dokter keluar mengatakan jika kandungan Arabella melemah, Arabella mengalami pendarahan hebat tapi untungnya dengan cepat membawanya ke rumah sakit hingga bisa ditangani dengan cepat.


"Saya sangat salut pada Pasien, dia menahan sakit yang luar biasa demi bayinya agar tidak lahir secara prematur"


"Tapi mereka baik-baik saja kan, Dok?" Tanya Pak Haidar khawatir.


"Iya Pak. Ibu dan calon bayinya selamat. Kalau boleh tau mana suaminya? Ada beberapa hal penting yang harus saya sampaikan"


***


Cahaya sang surya begitu tampak memancar, menyelusup kecelah jendela kamar rumah sakit. Riuh suara kendaraan serta beberapa orang terdengar samar-samar. Terdengar tidak jelas namun terasa dekat, suara seseorang seperti tengah muntah-muntah.


Sepesang kelopak mata teduh itu mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya ruangan yang bernuansa serba putih. Kedua matanya terbuka perlahan lalu menatap ke sekeliling kamar.


Rumah sakit.


Hal pertama yang ada dipikiran Arabella. Wajahnya tampak masih pucat dan badannya terasa begitu lemas tak bertenaga. Sudah berapa jam Arabella tidak sadarkan diri.


Kamar rumah sakit ini besar, ada sopa panjang disamping pojok kanan satu meja kaca persegi panjang berukuran sedang dengan vas bunga diatasnya terdapat bunga tulip merah yang masih segar.


Bahka terdapat AC, apa mungkin ini ruang inap VIP bahkan dipojok sebelah kiri ada toilet. Tapi kemana semua orang, dimana Ayah dan Ana?


Suara muntah-muntah itu terdengar kembali, suaranya berasal dari dalam toilet. Siapa yang sedang muntah-muntah? Tidak mungkin itu ayahnya, Arabella sangat penasaran kala suara batuk orang itu terasa sangat tidak asing lagi ditelinga nya.


Arabella menggelengkan kepala tidak mungkin Haafizh ada disini. Padahal waktu bertugasnya masih lama. Beralih menatap perutnya, Arabella merasa bersyukur karena dirinya dan anak-anak masih selamat.


Kedua tangannya mengusap perut buncit yang tertutup selimut dengan satu tangan Arabella terpasang alat infus.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi terbuka, Arabella langsung menoleh cepat. Menantikan siapa orang yang sedari tadi muntah-muntah, apalagi suara batuk tadi mirip dengan suaminya.


Sosok pria jangkung bertubuh tegap keluar dari dalam kamar mandi, seragam lorengnya masih ia kenakan. Wajahnya tampak sedikit memucat. Dengan bagian wajah tampak basah, karena habis mencuci muka.

__ADS_1


"Mas Haafizh" Panggil Arabella terkejut.


__ADS_2