
Akhirnya acara lamaran telah usai, dengan kebahagiaan yang begitu kentara dihati. Arabella terus tersenyum bahagia begitu pula dengan Haafizh.
Diantara tawaran Haafizh yang menawarkan mahar surah Ar-Rahman atau Al-Mulk, Arabella memilih mahar surah Ar-Rahman, yang langsung disanggupi oleh Haafizh.
Rencananya Haafizh akan mengajak Arabella untuk pengajuan nikah ke kesatuan besok pagi. Menjadi calon istri dari seorang prajurit ternyata tidak mudah, Arabella harus menyiapkan beberapa berkas-berkas untuk pengajuan besok.
Haafizh pria itu sangat antusias kala pagi menyapa, untuk segera memulai aktivitas Baru. Yang membuat Haafizh tidak sabar yaitu melihat Arabella memakai baju seragam persit yang sudah Haafizh siapkan untuk calon istrinya.
Seragam dinas khas seorang tentara angkatan darat dengan atribut lengkap telah Haafizh kenakan. Senyum lebar Haafizh terus tersunging, menggambarkan suasana hatinya yang tengah berbunga-bunga.
Ibarat ada ribuan kupu-kupu didalam hatinya Haafizh terus saja memamerkan senyum indahnya, disepanjang perjalanan menuju rumah Pak Haidar, bibir tebal Haafizh terus bersiul sesekali ia mengaca pada kaca spion mobil untuk sekedar melihat penampilannya.
Sampai didepan rumah Pak Haidar, Haafizh segera turun dari mobil. Saat Haafizh turun dari mobil, para tetangga disana langsung menatap kearahnya.
Tidak peduli dengan tetangga Arabella yang tengah berbisik-bisik seraya menatapnya, Haafizh memilih segera berjalan ke pelantaran rumah Pak Haidar yang begitu sederhana.
Halaman rumah Pak Haidar sangat bersih dan asri, ada banyak tumbuhan serta bunga-bunga segar yang baru bermekaran. Rumput pendek yang menghiasi halaman rumah terlihat rapi dan bersih. Haafizh sangat menyukai suasana seperti ini, ketimbang rumahnya yang besar bak istina tapi dihuni tiga orang dan beberapa pelayan lainnya.
Sampai didepan pintu Haafizh segera mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Sampai terdengar seseorang didalam membalas salam darinya.
Pintu rumah terbuka, terlihatlah Pak Haidar. Pria paruh baya itu terlihat sangat tegang.
"Nak Haafizh" Pekik Pak Haidar seraya celingak celinguk menatap kearah luar rumah memperhatikan area jalan.
Haafizh yang bingung melihat Pak Haidar seperti tengah mengkhawatirkan sesuatu segera bertanya. "Bapak kenapa?" Sayangnya pertanyaan Haafizh tidak digubris sama sekali oleh Pak Haidar.
"Tunggu disini nak, saya akan melihat dulu Arabella" Titahnya seraya masuk kedalam rumah tanpa menutup pintu atau mempersilakan Haafizh masuk dulu.
Haafizh hanya menganggukkan kepala.
Selang beberapa menit Pak Haidar kembali bersama Arabella. Wanita itu tampak terlihat cantik memakai balutan seragam persit berwarna hijau.
Kepala Arabella tertunduk malu-malu. Wajah ayu nan cantik itu terlihat natural dengan make up tipis yang Arabella kenakan seperti biasa.
__ADS_1
"Ara kamu ca-" Ucapan Haafizh tergantung karena Pak Haidar malah memotongnya secara tiba-tiba. Haafizh hanya meringis seraya menatap Pak Haidar yang terlihat gelisah.
"Nak Haafizh cepatlah pergi! Takutnya kalian terlambat" Pak Haidar tampak ketar ketir, mungkin hanya Haafizh yang mengerti apa maksud dari ke kegelisahan Pak Haidar adalah takutnya ada Ana. Berbeda dengan Arabella yang tidak tahu apa-apa.
Arabella hendak membuka mulut ingin berbicara tapi Pak Haidar malah mendorong tubuhnya agar sedikit merapat pada Haafizh.
"Cepatlah pergi!"
"Tapi ayah kenapa harus buru-buru sekali?" Sela Arabella seraya menatap Pak Haidar dengan penuh tanya.
Ini masih pagi malah jam tujuh pagi juga belum, apa ini tidak terlalu terburu-buru. Lagian kenapa wajah ayah terlihat gelisah seperti itu.
"Tapi -"
"Ayo ara kita berangkat sekarang!" Sergah Haafizh takut Arabella semakin banyak bertanya. Bukannya lebih cepat lebih baik, setelah ini Haafizh akan berduaan dimobil bersama Arabella.
Arabella hanya menganggukkan kepala. Lalu keduanya pamit meninggalkan Pak Haidar yang langsung memasang wajah lega.
Disisi lain Ana baru saja selesai memunguti botol aqua bekas, membawa satu karung goni besar yang sudah terlihat lusuh ditambah baju polos abu dipadukan rok hitam panjang kusut membuat penampilan Ana bak seorang pemulung.
"Kemarin sarjana, sekarang mulung" Ucapnya dengan bersungut-sungut. Kekesalan pada ayahnya membuat Ana harus marah-marah sendiri dipinggir jalan. Melawan takut dosa, tidak nurut takut dibilang anak durhaka. Tapi apa daya sekarang sudah terjadi lagi pula kenapa ayahnya menyuruh dirinya memunguti botol bekas sepagi buta ini?
Ucapan ayahnya masih terbayang jelas dipikiran Ana, dimana saat ia selesai shalat shubuh Pak Haidar malah memberikan satu karung lusuh yang sudah berlubang-lubang.
"Ini karung buat apa?" Ana membeberkan karung itu dengan terheran-heran. Apalagi karung ini sangat besar, jika dipakai untuk mengarungi dirinya mungkin akan muat.
"Cepat carikan ayah botol aqua bekas, tapi harus dua puluh. Soalnya mau dijual, lumayan uangnya buat tambal panci" Mengingat panci baru yang sempat ngehutang diwarung perempatan jalan depan gang, ternyata kualitas panci tidak sebagus yang dibayangkan. Padahal Arabella sudah membayar cukup mahal.
"Kan bisa beli yah, ribet banget harus ditambal segala kaya ban sepada. Hati aku aja udah bolong-bolong gak pernah ditambal tuh"
"Jangan curhat disini, ayah bukan spesialis hati"
"Dan ayah juga bukan dokter" Timpal Ana acuh.
__ADS_1
Sebenarnya alasan Pak Haidar hanya ingin membuat Ana pergi dari rumah, supaya Ana tidak melihat Haafizh bersama Arabella. Hanya cara inilah yang akan membuat Ana berlama-lama diluar, jika disuruh kewarung Ana akan cepat kembali.
"Hidupku malang sekali" Keluhnya seraya memungut satu botol aqua bekas berukuran besar, lumayan buat bonus ketimbang pas lebih baik lebih. Pikir Ana.
"Jika hidup mu merasa malang cobalah ke solo saja" Ucap seseorang dibelakang Ana yang tengah sibuk mengarungi botol.
Ana yang tidak sadar malah menimpalinya tanpa menoleh kebelakang. "Benar juga, sekalian saja ke antartika biar langsung rebahan dan guling-guling diatas es" Tunggu dulu, dengan siapa ia berbicara. Apa jangan-jangan mantannya? Jika iya, maka tamatlah riwayatnya menanggung rasa malu akibat tertangkap basah sedang mulung.
Dengan cepat Ana berbalik badan, tangan kirinya masih setia memegang karung goni besar yang sudah terisi dua puluh satu botol bekas.
Tepat saat berbalik, Ana melihat sosok pria bertumbuh semampai memakai seragam loreng hijau dengan baret yang bertengger rapi diatas kepala.
Pikirannya mulai menerawang, siapa dia? Kenapa sosoknya sudah tidak asing lagi. sepuluh detik berpikir akhirnya Ana terdiam dengan wajah merah padam.
"Kamu yang waktu itu jatuh" Todong pria itu seraya menahan tawa. Tangan kanannya menunjuk pada Ana yang tengah menahan malu setengah mati.
Napas Ana seperti tercekik ditenggorokan, padahal kejadian itu sudah cukup lama kenapa bisa teringat kembali. Kalau begini lebih baik bertemu mantan tanpa sengaja dari pada kepergok mulung oleh pak tentara.
"Kamu masyarakat baik, rajin memunguti sampah. Padahal kamu seorang maha siswa" Pujinya seraya berdecak penuh kagum.
Mendengar pujian yang baru dilontarkan pak tentara tadi membuat Ana meringis. Andai pak tentara itu tau kalau dirinya hanya disuruh memunguti botol aqua bekas oleh ayahnya.
"Aku memang baik, rajin, dan baik hati. Apalagi aku ini rajin menabung" Rasa malunya kini telah musnah dalam sekejap. Dipuji baik bukannya merendah Ana malah semakin jumawa.
Pria itu terkekeh, merasa lucu melihat tingkah gadis dihadapannya yang begitu sangat percaya diri. "Maksudnya rajin menabung diwarung" Ejek pria itu diikuti gelak tawa.
Mendengar ejekan dari pria itu membuat Ana menggeram kesal. "Bukan, tapi di WC" Teriak Ana. Ia langsung menyeret karung goni besarnya seraya melengos pergi meninggalkan pria itu yang masih tertawa.
"Hey nona kau mau kemana?" Teriak pria itu menatap kepergian Ana yang berjalan cepat tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Amit-amit sekali pak tentara itu, semoga aku tidak bertemu lagi dengan dia. Mimpi buruk apa aku semalam tiba-tiba dipertemukan dengan pria menyebalkan seperti dia"
"Omong-omong dimana pak tentara tampan itu? Mendadak rasa kesalku hilang tergantikan dengan rasa rindu yang menggebu-gebu. hihi, kalau begini aku menjadi bersemangat kembali" Ana terkikik, langkah kakinya begitu riang gembira seolah-olah tidak ada beban hidup.
__ADS_1