
Ana terkejut bukan main dadanya bergemuruh, dengan sekujur tubuh terasa lemas. Dengan perlahan ia menggerakkan kaki, melangkah untuk masuk ke dalam kamar pak Haidar.
Langkah kakinya terasa berat namun Ana tetap melangkah, ingin bertanya lebih apa maksud Haafizh berkata seperti itu. Tepat diambang pintu Ana berhenti melangkah, tangan kananya memegang sisi tembok.
Menyadari adanya Ana. Arabella, Haafizh dan pak Haidar menoleh dengan kompak, Arabella langsung berdiri di ikuti Haafizh yang ikut berdiri di samping Arabella.
"Ana"
Arabella sedikit terkejut dengan kehadiran Ana yang tiba-tiba, namun melihat raut wajah Ana yang pucat dengan kedua mata berkaca-kaca membuat Arabella berpikir kalau Ana telah mendengar perkataan Haafizh tadi.
"Katanya aku bukan anak kandung ayah"
Ana menatap pak Haidar dengan air mata yang luruh membasahi kedua pipi. Bibirnya bergetar dengan hati yang berdebar kuat.
Pak Haidar bangun dari berbaring, lalu beringsut duduk di sisi ranjang.
"Kamu memang anak ayah. Tapi..." Rasanya sangat tidak sanggup menceritakan yang sebenarnya, pak Haidar menunduk matanya terpejam agar air matanya tak jatuh.
Arabella ikut menunduk satu tangannya mengusap punggung pak Haidar dengan lembut seolah menyalurkan kekuatan pada sang ayah.
"Ayah harus bicara apa nak, Ana kamu memang putri ayah. Walau nyatanya kamu bukan anak kandung ayah. Tapi ayah, menganggap kamu seperti anak kandung" Ucap pak Haidar dengan menangis tersendu-sendu.
Ana terdiam, kedua matanya terpejam dengan seiringnya buliran air mata menetes. Dadanya sesak dan sakit. Seperti ada ribuan belati yang menghujam, menusuk hingga terasa sakit dan ngilu.
Menarik napas kuat-kuat lalu memberanikan diri untuk bertanya kembali. "Ini pasti bohong" Walau begitu dirinya masih menampik, padahal hatinya merasa semua ini adalah benar.
Pak Haidar diam rasanya ia sudah tidak sanggup berbicara lagi.
Haafizh yang sedari tadi diam saja kini buka suara. "Kenyataan pahit memang sulit diterima, tapi nyatanya itu adalah sebuah kenyataan yang harus kamu terima."
Kepala Ana tertunduk "Jadi benar, aku bukan anak kandung ayah" Ucapnya dengan pelan.
Namun sedetik kemudian Ana mendonggakkan wajahnya, tatapan Ana langsung tertuju pada Arabella. Menatapnya dengan tajam, dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Pasti ini semua gara-gara kamu Arabella. Kamu pasti senengkan liat aku menderita kayak gini, Cihh dasar murahan" Teriak Ana dengan penuh emosi.
Setelah mengetahui yang sebenarnya membuat Arabella tidak sakit hati saat dituduh seperti itu oleh Ana. Justru Arabella malah merasa kasihan pada Ana, bagaimana jika Ana mengetahui yang sebenarnya? Pasti Ana akan sangat terluka.
__ADS_1
Arabella diam, ia tidak ingin berdebat lagi dengan Ana apalagi ada ayah disini.
Haafizh yang sudah jengah dengan sikap kurang ajar Ana, tidak tinggal diam, ia melirik pak Haidar yang terdiam dengan kepala tertunduk. Melihat keluarga pak Haidar tengah dalam masalah, apalagi ini hanya salah paham. Malam ini juga Haafizh akan mengungkap kebenaran pada Ana.
"Jangan menuduh Arabella dengan tuduhan palsu seperti itu" Ujar Haafizh dengan tegas. Raut wajahnya datar, tatapannya lurus ke depan melihat pada Ana yang kini menatapnya.
Arabella dan pak Haidar menatap Haafizh.
"Ini semua salah paham. Saya tidak bisa diam saja, saat kamu selalu menuduh Arabella seperti itu."
"Haafizh" Panggil Arabella seraya menggeleng. Ia tidak ingin Ana terluka saat mengetahui yang sebenarnya.
"Tidak Ara, dia harus mengetahui yang sebenarnya." Setelah berkata seperti itu Haafizh kembali menatap Ana.
"Semua tuduhan yang kamu tuduhkan pada Arabella salah. Kamu sudah termakan omongan bunda saya, sebelumnya saya minta maaf karena bunda saya keluarga ini jadi mendapat masalah."
Salah paham
Termakan hasutan
Apa maksudnya?
"Ana dengarkan saya baik-baik. Kamu memang bukan anak kandung pak Haidar. Dan tuduhan kamu terhadap ibu Arabella yang kamu sebut wanita penggoda dan perebut suami orang itu tidak benar. Justru ibu kamulah yang telah merebut pak Haidar dari ibunya Arabella. Entah bagaima kejadiannya, ibumu telah menuduh pak Haidar memperkosanya, dengan terpaksa pak Haidar menikahi ibu Nisa
Dan pada saat pernikahan itu terjadi ibu Nisa tengah hamil satu bulan. Entah dari pria hidung belang mana, ibu mu bisa hamil"
Deg
Deg
Ana terkejut bukan main, hatinya bergemuruh. Ana terpengap, tercekat hingga rasanya sulit untuk bernapas.
Selama ini ibunya lah yang wanita perebut suami orang, ibunya hamil diluar nikah. Dan tadi... Apa maksud Haafizh mengatakan entah dari pria hidung belang mana ibunya bisa sampai hamil.
Mulut Ana terbuka perlahan, "A-apa maksudnya" Lidah Ana terasa kelu, tubuhnya terpaku rasanya bernapas saja sangatlah sulit.
Haafizh menghela napas.
__ADS_1
"Masa lalu itu tidak semua memberikan kenangan indah, ada pahit dan manisnya. Tergantung pengalaman kita dimasa lalu bagaimana. Ana ibumu orang baik hanya saja namanya manusia pasti tidak luput dari dosa dan kesalahan.
Mau seperti apapun seorang ibu, baik buruknya tetaplah menjadi seorang ibu yang telah melahirkan kita dengan penuh perjuangan. Maafkan saya sebelumnya, ini mungkin akan sangat melukai perasaan mu. Tapi nyatanya ibumu yaitu ibu nisa, adalah seorang pelacur"
Duaarrr...
Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Ana langsung terasa kaku. Tubuhnya bergetar dengan jantungnya yang terasa berpacu dengan kuat namun sesak.
Oksigen terasa menipis sampai-sampai untuk bernapaspun sangatlah sulit. Seperti ada batu besar yang menghantam hatinya, Ana merasa benar-benar hancur.
Tangisnya pecah, ia langsung menangis histeris seraya mengucapkan kata "Tidak" Ini sangatlah sakit, kenyataan macam apa ini, Ana merasa hidupnya akan berakhir saat ini juga.
Ibunya seorang pelacur
Hamil diluar nikah
Tidak tahu siapa ayah kandung
Dan selama ini Ana hidup dengan orang lain yang telah menganggap nya keluarga sendiri.
Pak Haidar yang selama ini dianggap sebagai seorang ayah ternyata bukan ayah kandungnya, mengetahui kenyataan ini membuat Ana sakit hati.
Arabella, wanita itu seperti sosok ibu bagi Ana. Arabella begitu peduli bahkan sampai rela tidak melanjutkan study-Nya hanya untuk biaya sekolah Ana. Pengorbanan Arabella sangat besar dan tulus, tapi ia malah tidak tahu diri telah menuduh yang tidak-tidak pada Arabella dan juga ibunya.
Di dalam sana hatinya sangat sakit dan sesak, selain menangis Ana hanya bisa diam dengan nasib buruknya yang sekarang menimpa.
Kenapa bisa seperti ini rasa-rasanya Ana ingin bunuh diri, ia malu pada Arabella. Harga dirinya tidak ada, ia tak sanggup menatap Arabella.
Pada akhirnya Ana tertunduk malu seraya menangis dengan sejadi-jadinya. Hatinya hancur lebur menjadi butiran debu.
Hatinya sakit, sesak, hancur dan malu. Betapa tidak tahu dirinya Ana selama ini. Ibunya seorang pelacur yang tega merebut suami orang, lihatlah perbedaan antara dirinya dan Arabella sangaah jauh.
Sikap Arabella berbanding terbalik dengan dirinya yang begitu kasar.
"Ibuku seorang pelacur, dan aku tidak tahu siapa ayah kandungku sendiri"
Ana terus menangis. Tangisan nya begitu terdengar pilu. Betapa malangnya nasib Ana, bahkan ia merasa sudah menjadi sampah. Tidak berharga namun tetap bertahan hanya menunggu kapan untuk dihancurkan.
__ADS_1
Hatinya seperti di sayat, begitu perih dan sakit. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya jika ia akan merasakan sakit hati yang begitu menyiksa seperti ini.