
Tamparan keras mendarat dipipi kanan Arabella, panas perih dan sakit. Rasanya sangat kebas sekali, tapi Arabella tahan. Yang lebih sakit bukan tamparan keras yang diberikan Ana padanya melainkan rasa sakit hati atas perlakuan Ana.
"Cihh, wanita murahan sepertimu tidak pantas tinggal disini"
Amarah Ana memuncak, tidak sadar dengan tamparan keras tadi hingga serpihan piring pecah itu berhamburan kelantai sebagian pecahan itu sudah terinjak oleh kaki Arabella.
Luka dikaki dan dipipi memang terasa sakit namun jauh lebih sakit atas perlakuan Ana barusan, kenapa adik yang selama ini Arabella jaga dan rawat malah mengatainya kata-kata kasar seperti itu? apalagi Ana sampai tega menampar Arabella.
"Apa maksud mu?" Arabella sedikit menaikkan nada bicaranya dengan suara gemetar menahan tangis. Pelupuk mata teduh itu berair hampir menumpahkan air mata yang hampir tak terbendung.
"Kamu itu anak dari seorang wanita perebut suami orang! Ibumu itu bukan ibuku, ibumu mati saat sudah melahirkan. Mungkin itu sebuah dosa! Makannya wanita penggoda itu mati. Untungnya ayahku kembali lagi pada ibuku YAITU IBU NISA, YANG SELAMA INI KAU ANGGAP IBU. Cihh, anak dan ibu sama saja. Sama-sama wanita perebut milik orang"
"Dan satu lagi yang paling membuatku semakin membencimu adalah kamu sudah merebut jodohku, Haafizh. Seharusnya dia itu dijodohkan dengan ku tapi naasnya kamu malah merebutnya dariku. Kau ini dasar WANITA MURAHAN! Dosa apa aku ini, Hah. Sampai-sampai harus hidup berdampingan dengan wanita murahan sepertimu. Aku benci kamu Arabella, pergilah dari sini! seorang perebut sepertimu tidak pantas dikasihi"
Bagai disambar petir disiang bolong, Arabella diam terpaku ditempat. Tubuhnya terasa lemas semua, hatinya berdenyut sakit rasa-rasanya Arabella seperti baru saja menelan pil pahit.
Sakit sekali, didalam sana hatinya terasa sangat perih mendengar kenyataan yang Ana katakan. Arabella melangkah mundur dengan kepala menggeleng berulang-ulang ia tidak terima perkataan buruk tentang ibunya.
TIDAK. Ana pasti salah, tidak mungkin ia dan Ana bukan saudara kandung. Ibunya dan ibu Ana? Kenapa bisa seperti ini. Haafizh pria itu, dia seorang pria yang tadinya akan dijodohkan dengan Ana tapi ia malah merebutnya? Sekejam itukah dirinya pada Ana sampai-sampai Ana membencinya seperti itu.
Ibu perebut suami orang, anak penggoda hingga wanita murahan apa sekotor itukah ibunya dan Arabella? Arabella menangis histeris, kedua tangannya menutup kedua telinga tidak mau mendengar perkataan kasar itu lagi.
"Tidak... hiks. Tidak mungkin ibuku seperti itu." Tubuh Arabella bergetar hebat, ia terus saja berkata tidak mungkin.
Arabella menampik semua itu hatinya tidak siap untuk menerima kenyataan menyakitkan seperti ini. Rasanya sangat terasa sesak, seperti ada ribuan belati tajam yang menusuk hatinya hingga terasa sakit dan perih. Arabella merasa hancur.
__ADS_1
Langkah kaki Arabella semakin mundur hingga tubuh nya membentur tembok, tangis serta isakan pilu itu terdengar menyayat hati tapi Ana malah acuh. Arabella hancur dunia nya terasa gelap, percikan cahaya yang penuh kebahagiaan telah sirna dalam sekejap.
Dengan langkah sedikit pincang Arabella lari keluar kamar Ana ia segera masuk kedalam kamar miliknya menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya, gorden yang tadinya terbuka lebar Arabella tutup hingga cahaya matahari itu tidak menyelusup masuk, seketika keadaan kamar gelap.
Arabella menjatuhkan tubuhnya dikasur ia menangis sejadi-jadinya dengan tubuh meringkuk. Bibir mungil Arabella terus mengulangi kata yang sama yaitu "Tidak mungkin" hatinya terus menampik kenyataan pahit yang baru saja Ana katakan.
Apa benar ibunya seorang wanita penggoda? Siapa ibunya? Kenapa ayah tidak memberitahu dirinya tentang semua ini? dan kenapa ayah malah mendukung hubungan nya dengan Haafizh sementara lelaki yang ibu Nisa pilih untuk dijodohkan dengan Ana adalah Haafizh calon suaminya.
Memikirkan semua itu membuat kepala Arabella pusing, tidak menyangka hidupnya akan sepahit ini. Jika dimasa kecil Arabella sering menangis kenapa dimasa Arabella sudah beranjak dewasa hidupnya penuh tangis lagi? Dosa, mungkin saja ini adalah sebuah dosa hingga balasan atas perlakuan ibunya dan Arabella.
Ternyata kebahagiaan Arabella tidak ada artinya seharusnya dari awal ia menyadari ketidak beresan ini dimana ayah selalu menjauhkan Ana saat Haafizh kerumah. Dimana Arabella bertanya soal ibu Haafizh tapi Haafizh sendiri selalu menjawab bundanya sibuk diluar kota.
Haafizh telah berbohong, Arabella yakin Haafizh telah mengetahui yang sebenarnya tapi pria itu malah diam saja. Kenapa bisa? Kenapa bisa seperti ini hidupnya hancur, hubungan ini penuh kebohongan. Arabella merasa telah dibohongi oleh ayahnya sendiri dan Haafizh pria yang sebentar lagi menjadi suaminya malah ikut membohongi nya juga.
"Hiks, ibu. Siapapun kamu aku akan tetap menyanyangi ibu. Tolong bawa aku pergi juga" Arabella terus menangis dengan tersendu-sendu.
***
Sepasang kelopak mata bergerak lalu secara perlahan terbuka, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya, menatap sekeliling ternyata hari sudah gelap. Berapa lama Arabella tertidur hingga hari telah gelap.
Arabella bangun dari tempat tidurnya dengan kedua mata sembab. Berjalan mendekati jendela lalu menyibakkan gorden, rupanya hari sudah malam Arabella tersadar kembali kala ia mendongakkan kepala menatap langit malam yang terlihat mendung.
ingatannya kembali pada saat siang tadi, ucapan Ana perlakuan Ana berputar jelas dipikiran Arabella. Air matanya kembali menetes, Ana. Adiknya telah melukai perasaan Arabella sangat dalam, tidak bisakah Ana membicarakan ini semua dengan baik-baik tanpa harus ada kata benci serta amarah.
Jika ibunya melakukan kesalahan dimasa lalu maka Arabella akan meminta maaf, jika memang benar ibunya dulu telah merebut ayah dari ibu Nisa maka Arabella tidak akan seperti itu.
__ADS_1
Haafizh milik Ana. Ahh, kenapa membayangkan saja sudah membuat hati Arabella sakit sekali. Bagaimana jika Haafizh meninggalkan dirinya? Tapi bukannya itu bagus, dengan begini Arabella bisa memperbaiki semuanya. Haafizh memang sepantasnya bersama Ana.
Jika dibandingkan perbedaan dirinya dengan Haafizh sangatlah jauh. Bagai bumi dan langit, Arabella tidak akan pernah mampu menjangkau Haafizh. Pria itu terlalu sempurna untuk Arabella.
Seharusnya Arabella menyadari ini sejak lama, melihat Haafizh dari berbagai sudut pandang manapun Haafizh seperti tidak memiliki kekurangan pria itu sangatlah sempurna. Dibandingkan dengan Arabella yang tidak ada apa-apa nya membuat Arabella menyadari satu hal yaitu perbedaan status sosial dan materi.
Sekarang Arabella tahu, ia bukan wanita baik. Tahu siapa ayahnya tapi tidak tahu siapa ibunya. Arabella merasa hancur harus hidup diambang kesedihan.
"Haafizh aku mencintaimu" Ungkapan cinta pertama Arabella telah terungkap dari bibir kecilnya untuk Haafizh, pria itu telah berhasil meluluh lantahkan perasaan Arabella. Jika dulu ia sulit jatuh cinta maka sekarang Arabella telah terjatuh dengan mudahnya pada Haafizh.
Dijari manisnya terselip cincin permata putih dari Haafizh, pria itu bilang cincin ini hanya sebagai pengingat bahwa Arabella sudah menjadi milik Haafizh walau tidak sepenuhnya Haafizh selalu mengingatkan cincin ini sebagai tanda keseriusannya. Haafizh juga berjanji sepulang dari tugas Haafizh akan segera menghalalkan Arabella.
"Aku bahagia, tapi aku terluka"
Arabella tersenyum miris, dengan rasa ragu ia melepaskan cincin itu dengan perlahan. Pupus sudah harapan, impian serta keinginan Arabella selama ini untuk bisa menjadi seorang istri dari Haafizh. Pernikahan yang sebentar lagi akan digelar kini telah usai dengan segela derita yang Arabella rasakan.
Lantunan surah Ar-Rahman yang Arabella tunggu sebagai mahar dari Haafizh kini telah sirna, tersisa kenangan indah yang berbalut dengan kerinduan.
"Maaf aku harus pergi" Arabella kini menulis surat, surat dimana ia telah melepaskan Haafizh demi Ana dimana Arabella juga mengungkapkan kenapa ayahnya tidak bicara apa-apa soal masa lalunya. Kecewa namun Arabella tidak bisa marah, ia hanya diam memendam kesedihan yang begitu menyesakkan dada.
Selembar surat telah Arabella tulis tidak lupa Arabella meletakkan cincin pemberian Haafizh diatas surat. Satu koper berukuran sedang telah penuh oleh baju serta barang-barang Arabella. Malam ini ditengah langit malam yang kelabu Arabella pergi keluar dari rumah, untuk pertama kalinya ia pergi tanpa pamit pada siapapun.
Sebelum benar-benar pergi Arabella membalikkan tubuhnya untuk sekedar melihat ke rumah.
"Maafkan aku ayah, aku pergi! Tolong jangan cari tahu tentang keberadaanku" Arabella menangis kembali air matanya selalu saja tidak bisa ia bendung.
__ADS_1
"Hiks, rasanya sangat sakit sekali!" Ucap Arabella seraya memengangi dada.
Dengan langkah perlahan Arabella meninggalkan rumah, sepanjang perjalanan ia terus menangis tidak peduli dengan kakinya yang terluka Arabella terus berjalan tanpa arah tujuan. Dilarut malam seperti ini sangat sepi Arabella bisa menangis sepuasnya tanpa takut ada yang lihat.