Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

Hari terus berlanjut, dimana Haafizh berteman dengan Arabella tempo lalu. Kini hubungan keduanya semakin dekat, bahkan Haafizh selalu menunggu kepulangan Arabella dihalte, setiap kali Haafizh menjemput Arabella ia gunakan untuk membuat Arabella nyaman dengannya.


Orang-orang yang melihat kedekatan keduanya selalu mengira bahwa Arabella dan Haafizh itu sepasang kekasih padahal mereka berdua hanya sebatas teman.


Sesibuk apapun tugasnya sebagai abdi negara Haafizh akan tetap menjemput Arabella. Pernah suatu malam Arabella menolak Haafizh dan melarang untuk tidak menjemputnya lagi, tapi bukan seorang Haafizh namanya kalau dia menyerah begitu saja. Haafizh selalu menyaut pautkan pertemanan mereka jika Arabella menolak maka Arabella tidak menghargai pertemanan keduanya, disinilah kelemahan Arabella, mungkin egois tapi Haafizh tidak mau kehilangan Arabella.


Dihari ke empat pertemanannya, Haafizh mulai meminta nomor ponsel Arabella, disinilah Haafizh disetiap pagi dan malam ia selalu mengirim pesan singkat pada Arabella. Sesekali Haafizh selalu memberikan perhatian lebih pada Arabella.


Hingga di hari kesepuluh pertemanannya, keduanya semakin kian dekat bertukar cerita hingga bercanda tawa bersama. Haafizh merasa senang bukan main, ada peningkatan dalam mendekati Arabella.


Berawal dari ketidak sengajaan dijalani dengan keseriusan berakhir dengan kenyamanan. Itulah alam semesta, seperti ingin menyatukan sepasang dua insan yang kini semakin hari semakin dekat.


Seperti sekarang, Arabella tengah duduk ditaman dekat kesatuan kemiliteran, menunggu Haafizh kembali katanya Haafizh harus kesana dulu, entah apa Arabella tidak tahu.


Hingga tiga puluh menit kemudian, barulah Haafizh datang dengan berlari menghampiri Arabella.


"Ara, maafkan saya telah membuatmu menunggu lama." Sesalnya, pasti Arabella kesal menunggunya terlalu lama. Setelah kembali raut wajah Haafizh terlihat murung, entah kenapa Arabella tidak tau.


Arabella tersenyum. "Tidak apa. Lagian saya mengerti kok,"


Haafizh tersenyum lebar, hingga tingkat ketampanannya meningkat berkali-kali lipat. Jujur Arabella sangat terpesona oleh ketampanan Haafizh, tapi ia sadar. Arabella tidak pantas menikmati keindahan makhluk ciptaan tuhan yang satu ini. Belum Halal!


"Ayo kita makan siang bersama, hari ini saya cuti dan kamu juga cuti bekerjakan. Mari kita habiskan hari ini bersama,"


Arabella hanya menganguk.

__ADS_1


Kini keduanya berjalan beriringan menuju sebuah restoran. Keduanya selalu menjaga jarak dan batasan, sadar bukan mahram. Haafizh sendiri sangat menghormati Arabella, wanita sholehah yang begitu menyejukkan hati.


"Haafizh, kenapa wajahmu murung begitu" Tanya Arabella saat keduanya sudah sampai direstoran, sehabis memesan makanan Arabella memutuskan bertanya pada Haafizh, sedari tadi wajah pria itu terlihat murung.


"Nanti saja kita bicara" Jawab Haafizh seraya tersenyum tipis.


Sampai pramusaji menyiapkan makanan keduanya hanya saling diam sesekali Haafizh melempar senyuman pada Arabella.


Hari semakin sore tapi Haafizh belum mengizinkan Arabella pulang, padahal Arabella sudah meminta pulang sedari tadi, tapi Haafizh selalu beralasan.


Hingga gawai milik Arabella berbunyi, ternyata pesan singkat dari Ana adiknya itu menanyakan kenapa ia belum juga pulang. Dengan cepat Arabella pun membalas kalau ia akan segera pulang.


Matahari diufuk barat sana makin tenggelam, semburat senja diatas sana tampak terpancar indah, apalagi Haafizh mengajak Arabella berjalan-jalan ditepi pantai, suasana tampak indah angin laut begitu kencang hingga menerbangkan helaian hijab Arabella.


Bagaimana kalau saat ia pergi bertugas Arabella berdekatan dengan pria lain? Bagaimana jika Arabella melupakannya? Ahh, Haafizh merasa cemas sekali. Padahal sebelum mengenal Arabella, ia tidak secemas ini kala ingin berangkat bertugas.


Dalam waktu dua puluh hari Arabella mampu membuat Haafizh jatuh cinta, andai saja waktu bisa ia kendalikan mungkin Haafizh ingin memutar waktu lebih lama lagi untuk tetap bersama Arabella.


"Haafizh aku ingin pulang!" Ucap Arabella memelas. Lihatlah tatapan matanya, membuat Haafizh tidak berdaya. Dengan terpaksa Haafizh mengiyakan.


"Baiklah, tapi sebelum kamu pulang saya ingin berbicara sesuatu"


Arabella hanya mengangguk seraya menatap Haafizh yang tampak murung.


Sebelum bicara Haafizh nampak menghela napas panjang.

__ADS_1


"Ara" Panggil Haafizh dengan lembut, keduanya saling bersitatap. Berhadapan dengan jarak dua meter, rasanya Haafizh ingin menggenggam tangan Arabella. Tapi itu tidak boleh.


"Besok saya harus kembali bertugas"


Arabella terdiam, kedua maniknya menatap Haafizh dengan lekat antara senang dan tidak, artinya Haafizh akan pergi jauh. Tapi tunggu, kenapa Arabella merasa sedih seperti ini? Bukannya ia harus senang! Sebagai seorang teman tentunya Arabella harus senang serta memberi semangat pada Haafizh.


"Selama satu tahun saya akan bertugas. Arabella, tolong do'akan saya" Haafizh merasa kaku, padahal ada banyak hal yang ingin disampaikan pada Arabella. Lidahnya terasa kelu, hanya kata itu yang terlontar dari mulutnya.


Arabella berusaha tersenyum, untuk menetralkan perasaannya. Entah kenapa ia mendadak ingin menangis.


"Tanpa kamu minta saya akan mendo'akan mu, Haafizh"


Hembusan angin semakin kuat, kali ini terasa dingin. Ombak pantai tampak tenang, burung-burung terlihat terbang bebas diatas sana. Tanpa terasa matahari mulai tenggelam, membuat bayangan Haafizh dan Arabella meredup.


"Terimakasih, Ara."


Haafizh menunduk dalam, perasaannya semakin tak karuan. Tidak rela meninggalkan Arabella.


"Sebentar lagi adzan magrib, ayo kita pulang!" Tanpa menunggu jawaban Haafizh Arabella segera berbalik badan, berjalan perlahan meninggalkan Haafizh. Sudut matanya berair hendak ingin menangis, hatinya terasa sesak. Kenapa ini? Arabella merasa lemah, hari ini Haafizh pamit bertugas, ucapan perpisahan yang membuat Arabella tidak ingin dengar, padahal bisa saja Haafizh kembali dilain waktu.


Rasanya Arabella tidak rela melepas Haafizh pergi. Apa karena Haafizh selalu bersamanya, tapi siapa dirinya? Ia hanya seorang teman. Sadar Arabella! Kau ini hanya seorang teman saja bagi Haafizh. Kenapa hatimu bereaksi berlebihan.


Baru saja beberapa langkah meninggalkan Haafizh yang masih terdiam, langkah kaki Arabella terhenti dengan kedua mata membulat hatinya bergemuruh, tubuhnya terasa kaku. Rasa keterkejutannya membuat Arabella lupa bagimana caranya bernapas.


Haafizh berteriak dengan lantangnya, kata-kata yang diharapkan para wanita dari seorang pria sejati. Teriakannya seperti menggema diseluruh penjuru pantai, Haafizh berteriak dua kali, jujur Arabella sangat tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Haafizh.

__ADS_1


__ADS_2