
Tamu undangan yang hanya mengundang keluarga dua belah pihak sudah datang, begitu pula dengan para tetangga dekat yang telah berdatangan.
Balutan gaun pengantin syar'i berwarna putih cerah, membalut tubuh Arabella. Terlihat cantik dan anggun.
Setelan jas mahal berwarna putih, telah Haafizh kenakan. Terlihat tampan, apalagi Haafizh memakai peci, kadar ketampanannya meningkat semakin tampan nan gagah.
Rombongan mempelai pria sudah datang sejak tadi, yang langsung di giring masuk kedalam pelantaran pernikahan. Haafizh telah duduk dihadapan pak Haidar. Sementara pak Abian duduk disamping pak penghulu.
Pagi itu terasa syahdu, udara pagi sejuk dengan angin yang terasa sejuk. Tamu undangan duduk khidmat siap menyaksikan bagaimana Haafizh akan melantunkan surah Ar-Rahman untuk Arabella sebagai mahar.
Terlebih dahulu Haafizh membacakan surat Ar-Rahman dengan suara indahnya melantunkan ayat demi ayat terucap dari bibirnya dengan fasih dan baik hafalannya menambah syahdu suasana. Membuat orang-orang yang mendengar menitikkan air mata.
Didalam ruangan khusus untuk pengantin Arabella duduk diatas kursi, ada Ana serta sahabat nya Mia disana. Ketiganya menatap fokus ke dalam layar monitor di mana liputan itu tengah menayangkan Haafizh yang tengah membaca surah Ar-Rahman.
Arabella menangis bahagia, akhirnya hilal jodohnya terlihat dan dalam beberapa detik lagi Haafizh akan menjadi suaminya. Imam sekaligus suami yang akan membimbing Arabella hingga ke jannahnya sang maha kuasa.
Lantunan surah Ar-Rahman sudah selesai Haafizh lantunkan kini penghulu membimbing Haafizh untuk mengucapkan ijab kabul.
Hatinya berdebar kuat, rasa bahagia serta sedih bercampur begitu saja dalam hati. Haafizh maupun Arabella merasa ini adalah momen terindah yang ditunggu-tunggu dalam hidup, dimana sepasang insan yang tadinya tidak kenal menjadi kenal. Dipertemukan dengan jalur yang tidak diduga, dan detik ini juga Haafizh akan mengikat Arabella dalam sebuah ikatan suci.
Sunnah Rasul yang paling Haafizh tunggu-tunggu yaitu menyempurnakan sebagian ibadahnya untuk membangun sebuah rumah tangga. Yaitu menikah, dengan perempuan sholehah seperti Arabella. Menjadika-Nya sebagai istri sekaligus ibu untuk anak-anaknya kelak.
"Bismillahirohmannirohim, dengan menyebut nama Alloh yang maha pemurah, lagi maha penyayang." Ucap Haafizh, berdoa dalam hati sebelum mengucapkan ijab kabul.
Dengan membaca basmalah pak penghulu membingbing Haafizh membaca syahadat dilanjutkan dengan istigfar, setelah itu tangan Haafizh menjabat tangan pak Haidar, kedua tangan itu saling menjabat dengan penuh rasa yakin, dan terucap.
"Bismillahirohmannirohim. Saudara Muhammad Haafizh Abizar Bin Abian Abizar."
"Saya"
"Saya nikahkan dan kawinkan anda dengan anak Perempuanku Arabella Qaseema Bin Haidar Hartono dengan mas kawin Pembacaan surah Ar-Rahman dan seperangkat alat shalat dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Arabella Qaseema Binti Haidar Hartono dengan mas kawin pembacaan surah Ar-Rahman dan dibayar tunai"
Terdengar dari saksi dan yang turut hadir memberikan jawaban yang membuat Haafizh senang begitupun Arabella. Ucapan Sah sangat terdengar riuh, doa terucap dari pak penghulu dan dilanjutkan pihak saksi, dan pak penghulu menyalami Haafizh, pak Haidar dan pak Abian sebagai tanda selamat.
Setelah doa dan ucapan selamat, tidak beberapa lama Arabella dihadirkan untuk bersanding dihadapan saksi, dan tentu saja dengan Haafizh yang sekarang sudah menjadi suaminya.
__ADS_1
Kedatangan Arabella menarik perhatian semua orang, apalagi Haafizh. Kedua manik tajam itu terus terpaku pada Arabella yang kini tengah berjalan ke arahnya. Cantik dan anggun, sosok wanita sempurna yang kini telah menjadi istri sahnya.
Mata Haafizh terus memandangi Arabella hingga tak sadar jika Arabella sudah didekatnya ,hingga tersadar seseorang memerintahkannya untuk menerima tangan Arabella yang akan menciumnya tanda patuh dan hormat kepadanya.
Saat tangan kanan Haafizh di cium penuh kepatuhan oleh Arabella, tangan kirinya menyentuh ujung kepala Arabella tepat di ubun-ubunnya. Haafizh mengucapkan doa.
"Allahumma Inni As'aluka Min Khairiha, Wakhairi Manjabal Tahaa' Alaihi Wa Audzubika Minsyarriha Wa Syarimaa Jabal Tahaa' Alaika."
"Yaalloh sesungguhnya aku memohon kepadamu kebaikan darinya dan kebaikan yang engkau tentukan atas dirinya dan aku berlindung kepadamu dari kejelekannya dan kejelekan yang engkau tetapkan atas dirinya."
Dalam hati Haafizh berdo'a.
"Yaalloh jadikanlah kami pasangan dunia akhirat, jadikan ikatan ini penguat ketaatan kepadamu, jadikan kami pasangan yang saling mengingatkan kebaikan di tiap langkahnya, dan jadikan ikatan ini saling menentramkan dan menyejukkan keduanya. Aamiin."
Haafizh mencium kening Arabella, yang membuat Arabella tersenyum malu. Haafizh hanya menunjukkan senyum lembutnya, yang membuat pipi Arabella merah merona.
Haafizh tak henti-hentinya tersenyum rasa bahagia kini tengah menyelimuti hati sepasang pengantin baru. Usai menandatangani buku nikah, Arabella dan Haafizh di suruh berfoto untuk mengabadikan momen pernikahan.
"Ana Uhibbuki Fillah. Zawjati Alhabiba." Bisik Haafizh ditelinga Arabella yang masih didekatnya.
Arabella tersipu malu.
Prosesi akad nikah sudah dilalui keduanya, setelah ucapan selamat dari kedua keluarga pengantin dan tamu undangan, kini Arabella memeluk ayahnya.
"Iya ayah. Aku sayang ayah, terimakasih selama ini ayah selalu mendidik dan menyayangi Ara dengan begitu tulus"
Tidak jauh berbeda Haafizh juga turut membagi rasa bahagianya bersama sang ayah.
"Putra ayah, selamat ya Haafizh. Kau memang putra kebanggaan ayah" Ucap pak Abian seraya menepuk-nepuk pundak Haafizh.
Haafizh mengangguk seraya terus memeluk sang ayah erat.
"Bagaimana dengan bunda?" Tanya Haafizh pelan.
Pak Abian melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak Haafizh. "Biarkan saja, bundamu keras kepala. Dia masih butuh waktu. Lagi pula dia sudah berjanji akan hadir besok di resepsi pernikahan kalian"
Haafizh hanya tersenyum kecil. Lalu melihat ke arah Arabella, istrinya tengah berpelukan dengan Ana. Ada pak Haidar disana yang tengah tersenyum bahagia menatap kedua putrinya.
Saat tengah ingin menghampiri Arabella, pundak Haafizh ditepuk dari belakang sontak saja ia berbalik badan.
__ADS_1
"Bagas"
Bagas tersenyum lebar, lalu memeluk Haafizh sebentar.
"Selamat ya kapten. Kau berhasil menghalalkan Arabella" Ucap Bagas, dalam hati ia merasa beruntung karena sempat berteman dekat dengan Arabella. Perasaan jatuh cintanya pada Arabella hanya bertepuk sebelah tangan.
Haafizh mengangguk.
"Terimakasih karena selama ini kamu sudah menjaga istri saya. Gas, cepet menikah juga. Masih ada Ana, saya yakin kamu dan Ana berjodoh"
Bagas menatap Ana sekilas, wanita menyebalkan itu berjodoh dengannya? Astaga, Bagas yakin seisi rumah akan heboh jika Ana ada didalamnya.
Sebagai jawaban Bagas hanya menganggukkan kepala.
Sedangkan Arabella ia terus saja meneteskan air mata karena tak sanggup membendung rasa bahagia.
"Cup, cup jangan menangis. Nanti malam kau akan menangis karena rasa sakit itu, jadi jangan terlalu boros mengeluarkan air mata" Ucap Ana seraya mengusap air mata Arabella dengan tisu.
"Kenapa kau membahas tentang itu lagi?" Kesal Arabella, ia sedikit menepuk tangan Ana.
"Hehe, mau bagaimana lagi itu pasti akan terjadi. Kalian pengantin baru, pasti momen itu lagi hot-hotnya. Oh yaampun. Aku jadi kepengen menikah" Cetus Ana dengan heboh, ia menutup mulutnya karena gemas sendiri.
Arabella geleng-geleng kepala. Saat hendak ingin berbicara kembali, Haafizh tiba-tiba datang lalu menyuruh Ana untuk meninggalkan mereka berdua saja.
Setelah kepergian Ana, entah kenapa tiba-tiba Arabella gugup sekali, status keduanya sekarang sudah suami istri. Jantung Arabella berpacu cepat, hingga ia tak sanggup untuk menatap Haafizh.
"Ditanggal dan waktu ini saya telah mengikrarkan janji suci. Mengikatmu dalam ikatan suci, rasanya masih sangat tidak percaya. Bahwa mulai detik ini saya adalah imam sekaligus suami yang akan menjagamu, melindungimu, serta membingbingmu menjadi wanita sholehah. Semoga Alloh memberkahi kita berdua" Ucap Haafizh yang kini telah mengandeng tangan kanan Arabella.
"Aamiin"
Keduanya saling bersitatap, dengan senyum lebar yang terus mengembang.
"Ra, aku sayang kamu"
"Aku juga Mas"
'
'
__ADS_1
'