
"Dari mana aja kamu, Pah"
Dinda bangkit dari duduk kala melihat Pak Abian pulang kerumah. Sudah dua jam Dinda menunggu Pak Abiaan diruang tamu.
"Jenguk menantu. Kamu kenapa masih dirumah saya?"
"Lah ini memang rumah aku, Pah. Kok bicara kamu formal begitu sih?" Dinda berjalan mendekat pada Pak Abian yang kini tengah berdiri diambang pintu.
"Cih, dasar tidak tahu malu. Kamu lupa semalam saya sudah menalak kamu. Lagi pula Haafizh tidak bisa mencegah kita sekarang, dari dulu aku sudah muak melihat wanita mata duitan seperti kamu, Dinda."
Langkah kaki Dinda berhenti, lututnya terasa lemas. Ucapan suaminya tadi seperti peluru panas yang menembus jantunya. Sangat sakit.
"Bicara apa kamu, Pah. Aku bilang aku gak mau cerai."
"Kemasi semua barang-barang kamu, keluarlah dari rumah saya sekarang juga!"
Wajah sangar dengan tatapan tajam itu begitu mengerikan. Aura sangar dan tegas itu masih kentara diraut wajah Pak Abian yang termakan usia. Seorang pensiunan jenderal memang tidak bisa diragukan.
Seperti ketakutan, Dinda hanya diam mematung kala melihat aura mengerikan dari suaminya.
"Saya beri kamu waktu satu jam untuk berkemas, setelah itu jangan menunjukkan batang hidungmu lagi. Tentang harta gono gini kamu jangan cemas, saya akan berikan hak kamu."
Setelah mengucapkan itu Pak Abian segera berlalu pergi ke ruang kerjanya. Tidak peduli dengan Dinda yang kini tengah menatapnya dengan sinis.
***
"AYAH"
Suara Ana menggelegar dipagi hari. Memanggil sang ayah yang sedari tadi tidak kelihatan. Padahal ini masih pagi kenapa ayahnya sudah menghilang.
"Apa ayah tengah kerumah si janda baru itu, Ya?" Ana tampak berpikir seraya mengaruk pantatnya yang terasa gatal.
Baru-baru ini tersebar gosip hangat yang menjadi perbincangan panas para ibu-ibu. Seorang wanita beranak satu baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Gosip itu menyebar sangat cepat katanya janda beranak satu itu sangat menggoda dan aduhai.
"Sial. Kalau ayah sampai kepincut bagaimana."
Ana bergegas keluar rumah untuk mencari kemana ayahnya berkeliaran dipagi-pagi begini. Ana sangat tak sudi jika ayahnya menikahi wanita yang seumuran dengan dirinya.
Baru saja Ana hendak ingin memakai sandal capit kesayangannya, tiba-tiba ayahnya datang seraya membawa parang panjang yang kotor dipenuhi tanah.
__ADS_1
"Yaallah. Ayah, kemana aja?" Pekik Ana seraya mendekat pada Pak Haidar yang kini tengah menatap Ana heran.
Putri keduanya ini sangat heboh dan aneh. Walau tingkah nya membuat geleng-geleng kepala tapi pak Haidar sangat menyayangi Ana seperti putri kandungnya sendiri.
"Ayah abis membantu membersihkan halaman Pak Haji Yono. Katanya anaknya mau nikah" Ujarnya melengang pergi masuk ke rumah, diikuti Ana.
"Ah masa? Aku gak percaya! Ayah gak lagi kasmaran kan, Yah? Kan ada janda keluaran terbaru didaerah sini."
Langkah Pak Haidar terhenti, lalu menatap Ana.
"Astagfirullahaladzim. Kamu ini, An. Ayah udah tua bentar lagi punya cucu masa kasmaran lagi. Lagi pula cinta ayah hanya untuk Alm. Ibu."
Ana mengangguk.
"Beneran ya, Yah. Awas bohong, aku tuh paling gak bisa dibohongi."
"Terserah kamu. Kamu cepat nikah, ayah gak mau liat kamu sendirian terus"
"Ayah ngusir aku dari kartu keluarga" Pekik Ana tak terima. Baginya disuruh menikah adalah cara halus mengusirnya dari kartu keluarga.
"Jangan aneh-aneh. Ayah sudah minta bantuan nak Haafizh untuk menikahkan kamu dengan temannya."
***
Dirumah sakit sepasang pasutri tengah duduk bersantai ditaman menghirup udara pagi yang terasa segar.
Kepala Arabella bersandar dipundak kokoh Haafizh. Tangan keduanya saling genggam dengan erat seolah tak ingin lepas.
Sesekali Haafizh selalu mengusap perut besar Arabella. Masih tidak disangka, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan kebahagiaan yang besar padanya. Dikaruniai dua bayi kembar sekaligus dikehamilan pertama sang istri.
"Anak kita perempuan dua-duanya apa laki-laki dua-duanya? Atau sepasang, perempuan dan laki-laki" Haafizh tampak berpikir, hatinya terasa sangat-sangat bahagia dua bulan lagi hasil buah cintanya bersama Arabella akan lahir.
"Aku gimana dikasihnya, lagi pula aku gak mau cek jenis kelamin anak-anak. Aku maunya kejutan"
Haafizh tersenyum lalu membelai pipi Arabella dengan sayang.
"Semoga kamu dan anak-anak selamat dan sehat-sehat terus. Maaf, diawal kehamilan aku gak bisa menemani kamu."
Wajah Haafizh berubah sendu, Arabella jadi tak tega. Bagaimanapun juga Haafizh harus pergi bertugas waktu itu, jadi Arabella tak apa. Selama ini Haafizh selalu ada walau jarak yang membentang memisahkan keduanya.
__ADS_1
"Walau jauh, kamu itu selalu berusaha untuk selalu ada buat aku saat aku butuh. Mas, aku gak papa dengan masalah jarak. Asal dihati kamu selalu ada aku dan anak-anak, maka aku akan terus merasa bahagia."
"Entah amalan apa yang telah aku perbuat, hingga Allah memberikan satu bidadari surganya untukku. Arabella Qaseema, I Love You So Much."
Dunia terasa milik berdua, dengan berani Haafizh mengecup bibir ranum Arabella. Walau sekejap, tapi debaran jantung Arabella terasa mau copot.
Padahal ditaman rumah sakit lumayan cukup ramai karena banyak orang berlalu lalang. Tapi Haafizh malah menciumnya disini, ditaman.
Pipi Arabella merona karena malu. Walau takut ada yang lihat, Arabella hanya bisa diam tidak berani protes. Toh, keduanya juga pasangan halal.
Hari terus berlanjut dimana Arabella pulang kerumah kediaman Haafizh. Katanya bunda dan ayah Haafizh sudah resmi bercerai. Kabar itu Arabella dengar dari ayah mertuanya sendiri saat bercerita menemani makan siang yang terasa damai.
Haafizh hanya diam. Pria itu seperti memikirkan sesuatu mungkin ada rasa tak ikhlas jika kedua orang tuanya berpisah. Sebelumnya Haafizh sudah mencegah dan memberi nasihat kembali pada keduanya, namun sayang bundanya yang keras kepala tetap berperilaku tak baik.
"Kamu sudah besar Haafizh. Kamu pasti tau keputusan ayah sangat tepat bagi hidup ayah. Ayah sudah menasihati bundamu, tapi tau sendirikan dia orangnya seperti apa." Ujar Pak Abian.
Arabella diam. Ia tak berani ikut campur, sesekali ia hanya menganggukkan kepala jika ayah mertuanya memintainya pendapat.
"Aku gak tau, Yah. Semoga saja setelah ini hidup ayah maupun bunda lebih baik lagi."
Hidup memang terus berjalan seiringnya dengan perputaran waktu. Rasanya setiap jamnya terasa sebentar, kadang juga terasa lama. Alur kehidupan memang tidak bisa ditebak, semua sudah ada yang mengantur. Sebagai manusia, hanya mampu berdoa yang terbaik untuk setiap takdir.
Rumah tangganya bersama Arabella selalu baik-baik saja. Sejauh ini Haafizh tak bisa menemukan celah sedikitpun untuk marah pada Arabella. Istrinya itu sangatlah berbakti padanya.
Haafizh merasa beruntung bisa berjodoh dengan Arabella. Wanita cantik dengan segala ketaatannya pada perintah sang maha kuasa.
Hingga hari dimana Arabella mengalami kontraksi hebat membuat Haafizh cemas setengah mati. Ia tak tega melihat Arabella merintih kesakitan seperti sekarang, istrinya tengah melangkah kecil diruang persalinan didampingi Haafizh yang dengan sabar menuntun istrinya. Sesekali Arabella mencengkeram kuat pergelangan tangan Haafizh.
"Mas, sakit sekali" Peluh keringat bercucuran terus membanjiri hijab Arabella. Haafizh merasa tak berdaya, ia tak bisa berbuat apa-apa saat istrinya tengah kesakitan seperti ini.
"Sabar ya sayang, pasti kamu kuat" Haafizh mengusap punggung Arabella lembut. Kata dokter istrinya baru pembukaan enam.
Entahlah Haafizh tidak begitu mengerti soal pembukaan, yang ia harap Arabella dan anak-anaknya selamat.
Ana, Pak Haidar dan Pak Abian hanya menunggu diruang tunggu seraya berdoa dalam hati semoga Arabella dan calon bayinya sehat dan selamat.
Adzan isya berkumandang Haafizh tak bisa meninggalkan Arabella yang tengah kesakitan seperti ini. Mungkin setelah sakit Arabella mereda Haafizh akan segera melaksanakan shalat.
Dzikir serta takbir terus terucap dari bibir keduanya, Arabella merasa sangat sakit diperutnya. Tapi ia tetap tahan sebisa mungkin sampai dokter kembali untuk mengeceknya kembali setiap tahap pembukaan.
__ADS_1