Hilal Jodoh Belum Terlihat

Hilal Jodoh Belum Terlihat
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Selama dua hari liburan divilla Arabella merasa santai dan damai. Tidak perlu mengerjakan apapun karena semua sudah ada yang mengerjakan. Sebut saja ada orang suruhan Haafizh.


Ada uang maka semua akan terasa mudah, suaminya kaya raya. Jiwa miskin Arabella meronta saat semakin tau tentang harta dari keluarga Haafizh. Emm, sepertinya tidak akan ada habisnya jika kita jadi pengangguran. Sungguh luar biasa.


Arabella bangun dari tidurnya karena suara tangisan si kecil, menyibakkan selimut lalu menyingkirkan tangan kekar Haafizh yang sedari tadi menempel diperut.


"Mas Haafizh bangun, udah siang." Arabella mengguncang tubuh Haafizh namun suaminya itu malah tetap tidur. Sudahlah Arabella biarkan saja, ini semua gara-gara suaminya. Selesai shalat shubuh tadi, Haafizh malah merengek minta jatahnya, mau tidak mau Arabella harus melayani suaminya.


Arabella turun dari kasur, piyama putihnya menjuntai sampai kelantai. Rambutnya tergerai acak-acakkan lalu mendekati box bayi berukuran besar, tempat tidur kedua bayinya. Rupanya Zafran menangis karena popoknya basah, mungkin karena tidak nyaman.


"Bentar ya sayang." Ucapnya seraya mengambil satu celana dan satu popok. Selesai mengambil satu celana dan satu popok, Arabella segera menggendong Zafran untuk mengganti popoknya.


"Sayang, selamat pagi" Suara serak khas bangun tidur itu terlontar dari bibir Haafizh yang tengah tersenyum memperhatikan istrinya tengah mengurus Zafran. Ah, istrinya sungguh sangat seksi saat sedang sibuk mengurus bayi. Haafizh menyukai pemandangan seperti itu.


Arabella menoleh sebentar lalu kembali fokus untuk mengganti popok Zafran.


"Sayang kok gak dijawab?" Haafizh bangun lalu duduk ditepi ranjang. Istrinya kini duduk disopa seraya mulai mengasih asinya pada Zafran.


"Pagi" Sahut Arabella singkat.


Tak ada sahutan lagi dari Haafizh. Suaminya itu langsung keluar kamar. Entah kemana yang Arabella tau pasti suaminya itu akan pergi jogging pagi.


Hari semakin siang, dengan sinar terik matahari yang begitu tampak redup karena tertutup awan gelap. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


Si kecil Zafran dan Zynata tengah tertidur pulas dikasur bayi yang diletakkan diruang tengah. Ada Haafizh tengah menungguinya. Sementara Arabella tengah membuat makanan ringan untuk menemani keduanya menonton televisi.


"Mas mau susu atau kopi?" Teriak Arabella dari dapur.


"Kopi, kan pagi tadi susunya udah dari kamu." Sahut Haafizh dari arah ruang tengah seraya tertawa.


Sungguh menyebalkan sekali. Arabella geleng-geleng kepala. Kenapa Haafizh bisa garang dan dingin didepan orang-orang, sementara dengan dirinya begitu sangat menyebalkan.

__ADS_1


Sudahlah. Dari pada memikirkan itu lebih baik Arabella segera mengantarkan makanan ringan ini pada Haafizh.


Siang ini keduanya asik menonton televisi berdua, ditemani makanan ringan, satu gelas kopi dan teh. Ada anak-anaknya tengah tertidur.


Arabella tersenyum melihat wajah damai dari kedua bayinya. "Mas aku dan anak-anak sayang kamu. Kamu sehat-sehat terus ya, Mas. Jangan ninggalin kita."


Haafizh tersenyum seraya menganggukkan kepala. Lalu memeluk Arabella dari samping.


"Mas juga sayang kamu dan anak-anak. Kita adalah keluarga, Mas selaku kepala keluarga pasti akan melindungi kalian."


Arabella tersenyum mendengarnya lalu membalas pelukan Haafizh.


"Aku bahagia bisa menikah dengan kamu, dan dikaruniai dua bayi kembar yang lucu-lucu. Aku gak perlu menunggu apapun lagi dalam hidupku selain menunggu setiap kebahagiaan yang akan datang kedalam hidup kita dan anak-anak."


"Dulu aku selalu menunggu hilal jodohku, menanti disetiap waktu yang terus bergulir disetiap bulan dan tahunnya. Dan entah bagaimana, sang maha kuasa pada akhirnya menunjukkan hilal jodohku padaku disore hari disaat aku pertama kali melihat seorang pria berseragam tentara menolongku."


Raut wajah Arabella tampak sendu, namun senyum manisnya tak pernah pudar sedikitpun. Kilatan bahagia tampak jelas dimata Arabella yang teduh.


Ingatan Arabella langsung tertuju pada kejadian dulu dimana Haafizh berteriak ingin menikahinya. Saksi bisu dimana teriakan Haafizh itu begitu menggema dan menyentuh perasaan Arabella. Dan disaat itu Arabella sadar, bahwa perasaannya terbalas.


"Hingga masalalu yang begitu kelam muncul disaat aku sudah benar-benar mencintaimu dan akan memilihmu menjadi imamku. Tapi kesalah pahaman itu bertahan sebentar hingga saat kamu mencuri ciuman pertamaku dibawah rintik hujan pada malam itu."


Haafizh terkekeh, saat ingatannya kembali mengingat kejadian dimana ia memeluk Arabella yang tengah menangis sendirian dimalam pada waktu itu ia pulang bertugas. Entah khilaf atau terlalu rindu. Haafizh malah mengecup bibir Arabella.


"Maaf, Dek. Mas khilaf." Ucap Haafizh terkekeh seraya mengeratkan pelukannya.


"Kamu itu nyebelin banget. Malam itu aku sampai gak bisa tidur, kamu gak minta maaf lagi kan tambah kepikiran."


"Ya siapa suruh. Aku juga waktu itu kayak refleks makannya cium kamu."


"Udah tau salah gak minta maaf lagi." Arabella benar-benar merajuk. Namun bukannya merasa bersalah Haafizh malah tertawa senang.

__ADS_1


"Jangan marah. Kan udah dihalalin ini. Malah tiap malam Mas cium-cium kamu gak marah malah suka kan, Dek"


"Mas ih, kamu bikin aku malu"


"Berarti kalau malu suka"


"Gak aku gak suka. Lepas! Mas aku ngambek nih"


"Beneran ngambek, sini Mas hukum kamu"


Sejurus kemudian, Arabella tertawa lepas saat Haafizh mulai mengelitik perutnya. Sungguh sangat geli, Haafizh benar-benar menyebalkan Arabella dibuat merengek meminta mohon untuk berhenti mengelitik perutnya.


"Ampun Mas udah" Ujar Arabella saat Haafizh berhenti mengelitiknya.


Arabella sudah terbaring dikarpet bulu. Ia sungguh lelah dikelitik seperti tadi oleh Haafizh.


"Kalau ngambek ya dikelitik lagi" Goda Haafizh yang ikut membaringkan tubuhnya disamping Arabella. Lalu menarik tubuh Arabella agar mendekat pada tubuhnya untuk ia peluk.


"Kamu curang"


"Kamu yang curang, bikin Mas tiap detiknya dibuat jatuh cinta sama kamu"


"Mulai deh. Kalau anak-anak udah besar, pasti mereka meledek Abinya yang terus-terusan ngegombalin Uminya."


"Gapapa. Yang penting aku tiap hari jatuh cinta sama orang yang sama, yaitu kamu Arabella Qaseema."


Arabella tersenyum bahagia. Kisahnya telah selesai menemukan hilal jodohnya, hidupnya telah lengkap dan sempurna. Arabella sekarang bahagia. Bahagia memiliki seorang Haafizh.


'


END

__ADS_1


__ADS_2