
Hari semakin terus berlanjut, menyisakan sebuah kenangan indah dihati Arabella. Selepas melepas kepergian Haafizh dua bulan yang lalu, Arabella menjalani hari-harinya seperti sedia kala.
Ucapan Haafizh sebelum pergi bertugas, masih teringat jelas oleh Arabella. Haafizh telah berjanji selepas selesai tugas negara, ia akan meminang Arabella. Sungguh penantian indah yang sangat dirinya tunggu.
Selama dua bulan ini Haafizh baru mengabari Arabella lima kali, mungkin Haafizh sangat sibuk. Arabella paham itu, ia juga sangat percaya pada Haafizh.
Seperti sekarang Arabella tengah berjalan kaki, melewati jajaran toko. Kakinya terus melangkah, dengan begitu semangat. Bibirnya terus meyungingkan senyum tipis, hijabnya yang selalu mejulur panjang tampak melambai-lambai karena hembusan angin pagi. Kali ini tidak ada Haafizh yang selalu membuntuti nya dari belakang, menjaganya dari kejauhan tanpa sepengetahuan Arabella.
Jika pulang bekerja maka Haafizh akan selalu menunggunya di halte bus. Kadang-kadang, Haafizh selalu membawa makanan favorit Arabella yaitu seblak.
Kini dunia nya terasa berbeda setelah Haafizh tidak ada lagi disisinya. Terasa ada yang kurang, tanpa kehadiran Haafizh. Hari-harinya seperti kurang lengkap tanpa Haafizh. Seharusnya Arabella tidak merasa seperti ini, tapi tanpa disadari Arabella memang butuh sosok Haafizh disampingnya.
"Haafizh semoga Allah SWT, selalu melindungimu disana" Lirih Arabella seraya menatap gawai, berharap ada pesan dari Haafizh. Pria itu selalu bilang jika disana sulit untuk menemukan jaringan. Arabella memaklumi itu, karena Haafizh tengah berada di pedalaman hutan.
Sampai di restoran Arabella segera berganti pakaian, menjalani pekerjaannya dengan penuh rasa senang. Ada Mia sahabatnya yang selalu bersama disaat ia rindu Haafizh, Arabella sudah menceritakan semua tentang Haafizh pada Mia, wanita itu sangat mendukung hubungan keduanya.
"Udah ada kabar belum dari pak tentara?" Tanya Mia saat keduanya tengah berada di dapur, sementara pekerja yang lain masih belum ada yang datang.
"Belum. Kan kamu tahu sendiri dia itu pasti sibuk, selain sibuk pasti sulit untuk menemukan jaringan."
"Kasian sekali kamu, Ra. Dapet yang cocok dihati malah ditinggal tugas. Sekali jadi langsung LDR ran."
"Apaan sih, Mia. Kan aku sama dia cuma teman"
"Iya temen, tapi suka" Mia terkekeh geli, melihat Arabella tampak malu. Wanita itu seperti orang yang lagi kasmaran. Jika begini Mia yakin Arabella pasti sudah mencintai Haafizh.
Selesai bekerja seharian, akhirnya jam pulang yang ditunggu-tunggu tiba juga. Arabella sangat lelah, badannya terasa remuk. Bagaimana tidak, seharian tadi Rania menyuruh-nyuruh Arabella dengan seenaknya, padahal masih banyak pekerja lain yang bisa mengantarkan makanan, tapi Rania selalu saja menyuruh Arabella.
Duduk di halte seraya beristirahat, lagian ia di halte hanya sendiri. Kebanyakan orang membawa kendaraannya sendiri.
Disaat sedang memperhatikan kendaraan beroda empat, gawai milik Arabella berbunyi. Sontak saja membuat Arabella senang, berharap itu pesan dari Haafizh, secepat mungkin Arabella merongoh isi tasnya, ternyata itu pesan dari operator.
"Hahh, aku kira dari Haafizh" Pekik Arabella, wanita itu cemberut kesal. Kenapa dia jadi seperti ini? Mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Semakin kesini hatinya semakin terasa aneh saja.
__ADS_1
Malam kian semakin larut, dengan udara malam yang begitu dingin. Arabella sudah pulang dari dua jam yang lalu tapi ia malah tidak bisa tidur. Pikiran Arabella dipenuhi oleh Haafizh, selalu saja Haafizh, Haafizh, dan Haafizh.
"Gara-gara Haafizh aku jadi begini!" Arebella terbaring tengkurap menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
Ana yang baru buang air kecil mengerjit heran melihat kakaknya semakin bertingkah aneh.
"Kak Ara kenapa sih? Semakin hari anehnya semakin menjadi!" Ucap Ana seraya duduk disisi ranjang.
Arabella membalikan badannya lalu menatap Ana yang tengah sibuk memakai skincare. Adiknya itu selalu perawatan, sementara dirinya tidak pernah mengurus diri. Bisa-bisanya Haafizh suka pada dirinya, padahal Arabella kurang perawatan.
"Aku cantik gak?" Tanya Arabella tiba-tiba, mendadak insecure melihat Ana yang selalu perawatan.
"Kak Ara rabun atau katarak? Orang cantik begitu, masih nanya"
"Jangan bohong!"
"Iya bener! Orang kulitnya kak Ara semulus pantat bayi. Tepung terigu aja yang halus mulus putih bersih, sama kak Ara mah kalah"
"Ck, kamu ini ada-ada saja"
Kedua kakak beradik itu sibuk dengan pemikirannya masing-masing, tiba-tiba Ana memulai obralan kembali.
"Kak Ara, kata ayah aku mau dijodihin" Ucap Ana dengan lirih, bahkan hampir tidak terdengar.
"Kakak udah tau. Kamu harus mau, Ana. Karena itu wasiat dari ibu. Ibu mau kamu menikah dengan anak sahabatnya."
"Tapi kak, aku gak mau dijodohkan seperti itu. Aku ingin menikah dengan pria yang aku cintai. Bagaimana kalau pria itu jelek, dekil, terus pekerjaannya gak tetap."
"Jangan bicara seperti itu Ana. Seperti apapun bentuk dan karakter pria itu kamu harus menerimanya. Yang penting pria itu bertanggung jawab, pekerja keras dan bertaqwa."
"Aku gak peduli! Aku tetap pada pendirianku sendiri, aku tidak mau dijodohkan." Ucap Ana dengan penuh penekanan. Ia langsung memungungi Arabella.
Ana memang keras kepala, Arabella paham itu Tapi bagaimana dengan wasiat Alm ibu? Terus bagaimana dengan perasaan ayahnya nanti jika Ana tetap menolak perjodohan.
__ADS_1
"Ana, dengarkan dulu kakak. Jika kamu tidak mau dijodohkan lalu bagaimana dengan wasiat ibu? Apa kamu tidak mau mewujudkannya?dan ayah, bagaimana perasaannya nanti Ana. Apa kamu mau membuat kedua orang tua kita bersedih?"
"Kenapa kakak memaksa! Jika kakak tidak mau mereka bersedih, maka kakak saja yang dijodohkan bukan aku." Nada bicara Ana semakin meninggi, emosinya kian meluap.
"Ana.. "
"Lagian kak Ara itu anak pertama, kenapa tidak kakak saja yang dijodohkan. Kenapa harus aku, aku ini tidak tahu apa-apa? Aku masih muda, aku juga ingin mengapai cita-citaku."
Arabella terdiam, ia mencerna setiap perkataan Ana barusan. Benar juga kata Ana kenapa harus Ana yang dijodohkan? Sementara ada anak pertama sebelum anak kedua? Kenapa ibunya malah memilih Ana dari pada dirinya?
Kenapa sepanjang hidupnya bersama ibu, Ara selalu dimarahi ibu? Kenapa ibu tidak pernah memeluk Arabella kecil? Tapi ibu juga baik pada Arabella bedanya ibu selalu cuek pada Arabella. Tapi Arabella sayang ibu. Iya Arabella sangat sayang ibu Nisa. Ibu yang begitu tegas, jika dihadapan ibu Arabella tidak boleh menangis, nanti ibu akan marah!
Apa sewaktu kecil Arabella nakal, sehingga ibunya selalu acuh? Tapi seingat Arabella, ia tidak pernah melakukan kesalahan fatal. Tidak apa Arabella kecil tidak pernah mendapatkan pelukan dari ibu, tapi ada kasih sayang ayahnya. Ayah pahlawan Arabella, waktu dimarahin ibu, ayah selalu datang dan memeluknya.
"Ibu, kenapa ibu malahi Ara telus? Ara calah yah bu" Arabella kecil tampak begitu manis, memakai gaun pink dengan rambuk diikat dua. Waktu itu Arabella tengah menyapu lantai rumah. Diberi hukuman oleh Nisa, Arabella telah memecahkan gelas.
"Sudah kerjakan saja, sapu yang bersih!" Ketus Nisa, waktu itu ia tengah membaca majalah, duduk bersantai disopa empuk.
Arabella tersenyum manis, dengan senang hati ia selalu menurut. Jika tidak menurut ibunya akan marah.
"Ibu, udah bercih. Ara cape, mau istilahat."
"Sana pergi kekamar, jangan mengadu pada ayah kamu. Jika kamu mengadu, kamu saya pukul" Ancamnya dengan sinis.
Arabella mengangguk takut.
Bayangan masa kecilnya melintas kembali dipikiran Arabella, sosok seorang ibu yang begitu Arabella sayangi sampai sekarang. Tanpa terasa buliran air bening itu menetes begitu saja, membasahi pipi Arabella.
Ara, sayang ibu. Ibu yang tenang disana! Walaupun ibu selalu marah padaku, tapi aku sayang ibu.
"Ana bagaimana jika pria yang hendak akan dijodohkan dengan mu itu pria yang tampan dan punya pekerjaan bagus" Tanya Arabella, ia akan selalu membujuk Ana agar mau menerima perjodohan ini.
"Sebelum aku melihatnya, aku tidak mau membuat keputusan apapun."
__ADS_1
"Baiklah, kita lihat seperti apa pria yang akan dijodohkan denganmu itu, Ana."