
Masih dihari yang sama Arabella dan Ana sudah tiba dirumah. Ana sudah ikut masuk ke dalam kamar Arabella, padahal Arabella sendiri sudah melarang.
"Cepet Kak dicoba, aku udah gak sabar."
Arabella mengangguk. Ia membuka bungkusan testpack, entah Ana yang tidak sabaran atau bagimana. Ana malah merebut semua testpack nya.
"Udah sini biar aku aja"
Baginya Arabella terlalu lambat dan santai. Dalam situasi sekepo ini Ana mana bisa menunggu untuk lebih lama lagi, rasanya menunggu satu menitpun terasa begitu lama.
"Kak Ara bukanya lama. Mau sekalian juga celananya aku bukain"
Astagfirullahaladzim. Benar-benar somplak adiknya. Arabella tak menjawab ia segera mengambil testpack di tangan Ana lalu berlalu pergi masuk kedalam kamar mandi.
Menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya, berjaga-jaga takutnya Ana menerobos masuk. Arabella mulai mencoba, jantungnya berdebar cepat dan kuat. Dalam hati semoga hasilnya positif.
Sementara dibalik pintu kamar mandi Ana berdiri dengan telinga menempel dipintu.
"Kak Ara udah belum?"
Tanyanya setengah berteriak, namun tak ada jawaban dari dalam.
"Udah belum Kak Ara?"
Nihil, lagi-lagi Arabella tak menyahut. Ana mendengus sebal. Lalu mundar mandir di depan pintu berharap Arabella cepat keluar.
"Bayinya berapa ekor sih, kok lama banget" Gerutu Ana seraya duduk di tepi ranjang. "Hah, lama. Kak Ara, Astaga lamanya! Kak Ara buruan aku udah gak sabar" Ana berteriak tak karuan ia sudah menjambak jambak hijabnya sendiri sampai kusut. Stres memang, tapi itulah Ana.
Padahal belum juga lima menit, tapi Ana hampir gila karena dibuat menunggu. Hingga selang beberapa menit kemudian Arabella keluar dari kamar mandi dengan raut wajah bingung dan tegang.
Ana tak tinggal diam ia segera menghampiri Arabella dan kembali merebut semua testpack nya.
"Apa hasilnya" Tanya Ana seraya melihat satu persatu dari kelima testpack itu secara bergantian.
"Gak tahu. Itu aku hamil gak, Ya? Aku gak paham"
"Iya sama aku juga gak paham"
"Terus gimana, sini aku coba tanya ke Mia"
Arabella mengambil semua testpack ditangan Ana lalu memfotokan hasilnya untuk di kirim pada Mia.
"Udah ada balesan?" Tanya Ana seraya mengintip isi pesan Arabella. Namun dengan cepat Arabella menjauhkan gawainya dari jangkauan Ana.
"Baru juga dikirim"
Ana memanyunkan bibirnya lalu rebahan diatas kasur Arabella yang begitu terasa empuk dan nyaman.
"Yaallah Ana, kamu belum mandi" Omel Arabella.
"Bentar doang. Cape abis nguli"
Bukannya menurut Ana malah mencari posisi tidur nyaman. Tangan kanannya mencari-mencari guling untuk ia peluk namun sepertinya benda tersebut tak ada.
__ADS_1
"Gulingnya mana?" Tanyanya bingung seraya celingak celinguk mencari guling kesukaannya.
"Guling Kak Ara mana? Kan biasanya juga ada, lagi dijemur? "
"Gak ada, gak punya"
"Sejak kapan? Kok aku gak tau, dikemanain gulingnya?"
"Di buang Mas Haafizh, katanya menghalangi aktivitasnya"
Astaga. Ana tercengang kaget, tidak di sangka kalau Haafizh akan seliar itu jika diatas ranjang. Sungguh Arabella yang malang, andai dia tau maksud akal bulus Haafizh. Pasti Arabella tidak akan menjawab seperti tadi.
Ana geleng-geleng kepala dibuatnya.
Bunyi notif pesan masuk dari gawai Arabella membuat Ana maupun Arabella bergerak cepat untuk melihat isi pesan, ternyata dari Mia.
"Dari Kak Mia, cepet liat Kak!"
Arabella mengangguk lalu membuka pesan dari Mia.
"Aaaaa, selamat Ara. Kau positif hamil, liat itu tuh dua garis merah tandanya kamu hamil, Ra."
Setelah membaca pesan dari Mia, Arabella dan Ana saling pandang lalu sedetik kemudian keduanya saling berpelukan dengan Ana yang berteriak girang.
"Akhirnya Haafizh junior akan tumbuh. Huaaa, aku sangat terharu sekali. Akhirnya aku akan menjadi seorang tante, tapi bukan tante-tante"
Berbeda dengan Ana yang histeris kegirangan, Arabella malah menangis. Rasanya masih tidak percaya sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu dari anak-anak Haafizh.
Air mata bahagia sudah tak bisa dibendung lagi Arabella menangis sejadi-jadinya dipelukan Ana.
Yaampun, Arabella melepaskan pelukannya lalu menatap Ana yang malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau ini" Omel Arabella. Ana malah menganggu suasana hatinya yang tengah bahagia. Lebih baik Arabella akan menemui ayah nya untuk memberitahu kabar baik ini.
"Kak Ara mau kemana?" Tanya Ana yang kini sudah berhenti tertawa.
Arabella tidak menjawab ia pergi keluar kamar untuk menemui Pak Haidar. Kira-kira akan seperti apa reaksi ayah nya kalau putri pertamanya kini tengah mengandung dan akan memberikan nya cucu.
Membayangkan nya saja membuat Arabella tersenyum bahagia. Dan suaminya, Haafizh pasti dia akan sangat bahagia. Arabella jadi tak sabar untuk menunggu malam memberikan kabar bahagia ini pada Haafizh.
"Ayah" Panggil Arabella saat ia mengentuk pintu kamar Pak Haidar.
"Sebentar Nak, ayah abis mandi" Sahutnya dari dalam.
Selang beberapa menit barulah Pak Haidar membuka pintu kamar, terlihat wajahnya yang sudah termakan usia tampak segar dengan wajah tampan dan manis itu masih terlihat jelas bahwa dulunya Pak Haidar seorang pemuda tampan.
"Ada apa, Nak?" Tanyanya Khawatir takut putrinya kekurangan sesuatu atau terluka.
"Ayah, lihat ini!"
Arabella tersenyum manis lalu menunjukkan semua testpacknya pada Pak Haidar, dua garis merah menandakan bahwa Arabella positif hamil.
Pak Haidar tak menjawab ia mengambil salah satu testpack dari tangan Arabella, lalu menatapnya dengan raut serius.
__ADS_1
"Yaallah, Ara. Ini kamu hamil, Nak!" Ucapnya tak percaya.
Arabella mengangguk. "Iya Ayah, Ara hamil anak Mas Haafizh. Dan ini cucu Ayah"
"Alhamdulillah, Yaallah Ara, putri kecil Ayah akan menjadi seorang ibu"
Tangis bahagia tampak menyelimuti keduanya, Pak Haidar memeluk Arabella seraya terisak penuh haru. Momen bahagia seperti ini untuk pertama kalinya dirasakan, sebenar lagi Arabella akan menjadi seorang ibu dan Pak Haidar menjadi kakek.
Andai ibunya Arabella masih hidup pasti dia akan sangat bahagia mengetahui kalau putri kesayangannya tengah mengandung.
"Bu, anak kita akan menjadi seorang ibu. Dan kita akan memiliki seorang cucu"
"Apa suamimu sudah tahu tentang hal ini?"
"Belum, Yah. Nanti malam akan aku kasih tahu"
"Nak apa sebaiknya kita pastikan dulu ke dokter, baru setelah tahu hasilnya kamu bisa beritahu Nak Haafizh. Jangan buat dia kecewa, kasihan dia sedang bertugas"
Benar. Arabella harus memeriksa kehamilannya ke dokter. Ia harus pastikan hasilnya secara akurat. "Baiklah Ayah, besok Ara akan pergi ke dokter kandungan"
"Kalau gitu aku ikut" Sahut Ana yang sedari tadi menyimak obrolan sepasang ayah dan anak itu.
Bahagia ketika kita diberi sebuah anugerah terindah di beri kepercayaan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala untuk menjadi orang tua dengan dikaruniai seorang anak.
Arabella sudah menjalani kisahnya dimana hidup tak selamanya berjalan lurus dan indah. Semakin dewasa semakin kita diuji, butuh kesabaran untuk melewati ini semua. Dulu hidupnya terasa hampa dan sepi, walau sang ayah ada disisinya Arabella merasa butuh sosok lain untuk memberinya kasih sayang.
Sampai dimana hari itu tiba Allah Subhanahu wa ta'ala mempertemukan nya dengan seorang pria berbaret. Pertemuan tidak terduga yang berakhir dipelaminan.
Kisah cintanya tidak semulus dunia imajinasi, ada rintangan yang terus menghadang hingga tidak mendapat restu dari sang ibu mertua. Sulit memang, tapi Arabella akan menjalaninya dengan sabar dan ikhlas selama ada Haafizh di sisinya semua akan terasa baik-baik saja.
Dan sampai pada akhirnya seorang dokter kandungan mengatakan bahwa Arabella benar-benar tengah hamil bahkan usia kehamilan nya sudah menginjak satu bulan.
"Selamat ya Bu, ibu tengah hamil satu bulan dan kandungan-Nya sehat"
Dan lagi-lagi Allah Subhanahu wa ta'ala, memberikannya kebahagiaan yang tidak disangka-sangka. Dilayar monitor saat Arabella melakukan USG, ternyata didalam sana ada dua benih kecil Ukuran janin umur satu bulan kurang lebih sebesar sebutir beras atau sekitar 6-7 mm itu terlihat jelas ada dua.
"Wahh, sepertinya ibu akan memiliki bayi kembar"
Arabella menatap layar monitor dengan perasaan sulit dijabarkan, antara percaya dan tidak percaya bahwa ia hamil bayi kembar.
"Be-benarkah"
"Iya Bu. Ibu lihat saja disana ada dua benih, dan sudah pasti akan menjadi dua bayi"
Ana melangkah maju ia mendekati layar monitor dengan mulut mengangga bahkan kedua matanya tidak berkedip.
"Omaigat, sudah tidak diragukan lagi, Bang Haafizh sungguh perkasa"
'
'
'
__ADS_1
Akhirnya bisa up lagi, jangan lupa like dan komentarnya. Komentar kalian sangat berharga, yang belum komentar ayo jangan malu-malu jangan pada diem juga. kalian bisa ngeluarin pendapat disana. Dan untuk para pembaca aktif berkomentar, terimakasih banyak.
Sehat selalu buat para pembaca, semoga kita semua dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta'ala. Mau ngingetin sekali lagi, jangan lupa like, komen dan vote. Lempar hadiah juga boleh, hihi.