Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Insiden


__ADS_3

Elisa Serena Issabella seorang wanita biasa-biasa saja dari pedesaan di Italia. Seorang yang pekerja keras dan bertanggung jawab dengan apa yang ditugasakan kepadanya.


Seorang gadis yatim piatu yang ditinggalkan oleh ayahnya ketika masih berumur tiga tahun karena sakit, tujuh tahun setelah itu ibunya meninggal karena kecelakaan tabrak lari. Dia pun dititipkan tetangganya ke panti asuhan ketika berumur sepuluh tahun.


Bersekolah hanya sampai ke jenjang sekolah menengah atas, setelah tamat sekolah dia pun memilih untuk langsung terjun ke dunia pekerjaan untuk mencukupi kebutuhannya dan berencana untuk segera keluar dari panti asuhan, karena banyak anak-anak baru yang masuk panti asuhan sehingga membuat pihak panti kewalahan dalam mengurus dana.


Beberapa tahun Elisa melakukan pekerjaan serabutan dengan mendatangi setiap rumah yang memerlukan tenaganya. Kadang ia bekerja sebagai seorang jasa laundry, membersihkan rumah ataupun mengerjakan tugas sekolah orang Iain.


"Lis tungguu!!!!" teriak seseorang dengan napas terengah-engah.


Dia adalah Alexa Odelia sahabat Elisa sejak sekolah menengah atas. Dia seorang Dokter.


"Apa sih Alexa kayak ngejar-ngejar orang maling saja," balas Elisa.


"Katamu tadi mau minta dicariin kerjaan kok langsung kabur gitu," ucap Alexa memegang bahu Elisa.


"Ya kamu sih pake bawa-bawa pria itu, aku gak mau ya jadi wanita simpanan," melipatkan kedua tangannya di depan dada berakting marah.


"Ya sorry deh, lagian kan tuh cowok yang nawarin kerjaan bagus ya kali kamu mau juga hehe," oceh Alexa sambil menyatukan tangannya pertanda memohon maaf kepada Elisa.


"Awas Alexa kalau kamu bawa-bawa pria aneh lagi," mendekat ke Alexa Elisa memicingkan matanya.


"Ya udah yuk aku traktir nih atas permintaan maaf," Alexa sambil mengedipkan matanya dan menggandeng tangan Elisa. Ini hari minggu jadi Alexa dan Elisa janjian buat jalan bareng.


"Okelah yuk," jawab Elisa.


Di kafe.


"Lis aku baru inget nih ada temen yang kerja jadi manager di hotel, katanya butuh waitres tambahan gitu. Kalo mau nanti aku bakal hubungin dia buat atur jadwal ketemu sama kamu gimana?" tanya Alexa sambil menyeruput minumannya.


"Boleh juga, memang letak hotelnya di mana?" balas Elisa.


"Di ELIOZTAN Hotel," jawab Alexa giliran mengambil hamburgernya.


"Lumayan deket sama rumahku ya Alexa, ya udah mau deh kapan ketemu sama managernya?"


"Kamu bisanya kapan kan kamu sibuk kerja."


" Besok bisa, jam tujuh malam udah bisa sih," balas Elisa.


"Oke besok jam tujuh malam." balas Alexa sambil membersihkan mulutnya menggunakan tisu.


"lya Alexa," balas Elisa sambil meminum habis teh hijau kesukaanya lalu berdiri dan berjalan ke arah kasir untuk membayar pesanannya dan Alexa.


"Liss udah aku aja yang bayar sesuai permintaan maafku tadi, kok jadi kamu yang bayar," kata Alexa dengan mencegah Elisa untuk membayarnya.


"Tidak apa-apa Alexa anggap saja sudah impas, kamu kasih aku peluang kerja lebih baik lagi aku maafin kesalahanmu tadi," balas Elisa tidak mau dibantah.


"lya Lis, ya udah aku pergi dulu ya udah ada jadwal pasien mendadak yang harus aku tangani."


"Oke bye."


Pukul tujuh malam.


"Lis kenalin ini teman ku Daffa dia manager di hotel ini."

__ADS_1


"Elisa," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berajabat tangan.


"Salam kenal saya Daffa," sahut Daffa membalas jabat tangan Elisa.


"lya."


" Elisa kamu sudah bisa bekerja besok malam mulai jam delapan malam," sambil mengarahakan Elisa dan memberitahukan ruangan-ruangan yang akan di layani oleh Elisa.


"Oh ya pak manager, apakah malam ini saya sudah bisa bekerja?" tanya Elisa.


"Tentu, kamu sudah bisa bekerja. Berhubung sekarang sudah jam delapan malam kamu sudah bisa masuk keruangan yang masih kosong waitress nya," jelas Daffa sambil menunjuk ruangan di depannya, ruangan itu terlihat berbeda dari ruangan Iainnya. Ukurannya lebih besar dari kebanyakan ruangan yang ada, serta banyak interior dan brand mewah disana.


"Itu ruangan apa pak? dan apa yang saya harus lakukan di sana?"


"Itu adalah ruangan VIP, di sana kadang ada Tuan muda pemilik ruangan sekaligus hotel ini bersama dengan teman-temannya. Kamu hanya perlu menuangkan minuman untuk mereka dan jika mereka menawarkan sesuatu yang vulgar kamu bisa menerimanya atau kamu bisa menolak jika kamu tidak mau," Elisa mengangguk mengerti.


"Ini pakailah," Daffa sambil memberikan seragam waitres.


"Terima kasih pak," lalu Elisa mengambil seragam dan langsung menuju ke kamar mandi.


"Alexa kamu pulang aja sekarang udah malam, aku akan bekerja," suruh Elisa saat sudah selesai memakai seragam.


"Ya sudah kalo gitu hati-hati ya Lis, kalo ada apa-apa cepat hubungi aku oke?" Alexa sambil memeluk Elisa seperti ia sangat sulit mengikhlaskan Elisa untuk berpisah


dan melakoni pekerjaan barunya.


Ruangan VIP


"Ayo Elisa semangat ini awal yang baru kamu harus semangat," Batinnya menyemangati diri.


"Sepertinya anak baru, dia tidak mengetahui etika masuk ruangan ini," ucap salah satu laki-laki yang sedang dikelilingi banyak wanita dan minuman.


Felix White.


"Hei Lorenzo apa kau tidak akan menghukum pelayan baru itu?" tanya Felix.


"Tidak, buka saja pintunya," balas Lorenzo dengan suara datar.


Seorang wanita dengan baju mini dengan belahan dada yang sangat jelas terlihat langsung membukakan pintu.


Elisa yang melihatnya seketika kaget dan mematung, lalu ia tersadar dan segera memperkenalkan diri.


"Permisi tuan, saya Elisa Serena Issabella. Saya waitress baru di sini," sapa Elisa sambil menunduk tidak melihat orang yang sedang dia ajak bicara.


"Hei lihat orangnya kalo lagi ngomong," sahut Lorenzo.


"Maaf tuan."


"Kemari."


"Ya tuan, apa ada yang anda butuhkan?" tanya Elisa.


"Kau butuh uang?"


" lya tuan."

__ADS_1


"Kalau sudah tau kenapa masih nanya." batin Elisa.


" Kalau begitu kuberi kau tantangan, kau habiskan seberapa kau sanggup meminum alkohol ini. Setiap satu gelas kau meminumnya aku akan memberimu uang 500€."


"Baiklah tuan," dengan tangan gemetar Elisa mengambil saty gelas, dia sempat ragu untuk meminumnya tapi dia mengingat sepintas tentang nenek dan lea. Elisa pun langsung meminumnya.


Glek glek glek.


Ctass 4 gelas diminumnya, karena Elisa sudah tak tahan karena pusing dia pun terbaring tak sadarkan diri.


Lorenzo pun tersenyum menang. "Semua wanita memang sama saja hanya uang yang mereka pikirkan." Ucapnya lalu pergi dan mejatuhkan cek didekat Elisa yang terbaring bernominal 2000€.


Beberapa hari setelah kejadian itu Elisa mendapatkan prosedur dari Daffa selaku manager hotel untuk melayani pelanggan bernomor ruang 18. Lalu Elisa masuk dan disambut dengan suara serak pemabuk berat.


"Hei nona apakah kau mau tidur bersamaku? kemarilah."


Ucap laki-laki tua perut buncit itu.


"Maaf tuan tugas saya sudah selesai saya akan pergi."


Balas Elisa sambil berjalan keluar ruangan namun dihadang oleh pria itu.


"Nona aku memiliki penawaran yang bagus untukmu, bagaimana jika kau memnemaiku malam ini?"


"Kau hanya perlu menemaniku sampai aku tidur bagaimana?" tawarnya.


"Maaf pak saya ada pekerjaan lain," tolak Elisa lalu ia berbalik badan, tapi pria tua itu menarik tangan Elisa. Dia pun menjatuhkan nampan yang dibawanya dan terjatuh.


Pria tua itu hampir saja melakukan hal buruk kepada Elisa, untung dia sempat memukul kepala pria tua itu hingga dia terjatuh. Dan menabrak botol di atas meja hingga terjatuh lalu ia pun merasa pusing hanya karena menghirup baunya, dia tidak menyangka minuman itu punya efek yang begitu kuat apalagi kalau dia meminumnya?


Dengan tingkat kesadarannya yang masih sedikit Elisa berlari keruangan yang tidak jauh hanya berselang enam ruangan, berniat ingin meminta tolong karena hanya ruangan iłu pintunya terbuka. Elisa pun memasukinya dan melihat dalam samar seorang pria sedang terduduk sambil memegang kepalanya dan berteriak.


Dengan kondisi yang sama, seorang Lorenzo sengaja diberikan obat peningkat stamina oleh musuh bebuyutannya, yang rencananya akan mengirimkan wanita penghibur namun takdir berkata lain.


"ZAKI SIALAN!!!" teriaknya.


Lorenzo melihat seorang wanita yang berdiri di depannya, karena perasaan yang sudah tak tertahankan dia menarik wanita iłu dengan busana yang sudah berantakan.


Setelah melewati malam penuh ketidaksadaran iłu Lorenzo terbangun dan mengambil kartu nama dan surat yang berada di nakas tempat tidur lalu meletakkannya di saku seragam Elisa. Karena sudah mengantuk dan pusing Lorenzo pun kembali tertidur disamping Elisa.


Pagi harinya Elisa terbangun tanpa sehelai baju, lalu dia bergegas memakai baju nya dan pergi setelah apa yang


Terjadi kepadanya. Dengan merasakan sakit di area **** * nya membuat Elisa merintih kesakitan.


Lorenzo yang sudah bangun melihat bercak darah dan teringat akan kejadian semalam.


"Astaga bukankah dia adalah wanita waitress tempo hari yang aku beri tantangan, sial."


Lalu dia mengambil handphonenya dan menghubungi sekretaris pribadinya.


"Stefan cari tau tentang semua waitress wanita baru di salah satu hotel kita cepat," ucapnya.


"Baik tuan." Balas orang yang berada di seberang telepon.


Stefan Verlo Sekretaris kepercayaan dan tangan kanan Lorenzo.

__ADS_1


Halo para pembaca ini adalah bab satu Hitam Putih Kita semoga suka, like komen dan ikuti terus ceritanya yaa❤


__ADS_2