Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Tugas Baru


__ADS_3

Apa sih isinya, sepertinya tidak banyak yang harus kulakukan di sini.


Elisa berdiri mengambil kertas berukuran kecil di atas meja yang ditinggalkan pak Sam tadi.


Lalu jatuhlah lipatan kertas panjang yang awalnya adalah kertas kecil tadi. Elisa terkejut.


"Apa...apa ini!" teriak Elisa langsung mengecilkan suaranya saat Lorenzo melihatnya lalu Dia tersenyum.


Aku tahu pasti ini idenya untuk mengerjaiku tapi tidak apa-apa aku akan melaksanakannya.


Elisa membaca semua isi kertas yang panjangnya hampir dua meter itu.


Membawa tas Tuan, mengucapkan selamat pagi setiap bangun, memijatnya setiap dia pulang bekerja, menanyakan kabarnya, membantunya melepas pakaian dan memasangkannya.


Tidak cukup terkejut dengan itu saja mata Elisa melotot pakai otot mendekatkan kertas itu di depan matanya agar tidak salah baca.


Membantunya saat mandi.


Haa apa dia anak kecil? Kau lihat? Ayahmu sangat kekanakan sekali kau jangan seperti dirinya ya.


Mengelus perutnya.


Elisa terlonjak saat melihat Lorenzo dan Stefan berdiri dan akan berjalan keluar, Dia ingin berlari namun ingat bahwa sedang mengandung dan hanya berjalan cepat.


"T-tuan biar saya yang membawa tas anda," mengambil tas yang di pegang Lorenzo, lalu Lorenzo tersenyum mengejek.


Lorenzo dan Stefan turun diikuti Elisa, sesampainya di depan pintu Elisa menyerahkan tasnya dan ditemani pak Sam.


"Selamat bekerja dan hati-hati," ucap Elisa.


Ternyata dia cepat tanggap juga. Pikir Lorenzo lalu ia berjalan masuk ke dalam mobil.


Seperginya Lorenzo ke kantor Elisa masuk mengikuti pak Sam.


"Pak Sam apa yang harus saya lakukan setelah ini?" tanyanya.


"Tidak ada Nona, anda hanya perlu mengurus Tuan muda," pak Sam menundukkan kepalanya lalu ia pergi ke rumah belakang.


"Tunggu pak Sam," Dia menoleh. "Di mana dapur? Saya ingin masak dan makan," tanya Elisa.


"Nona tunggu saja di kamar saya akan membawakannya untuk anda."


Sepertinya kamar adalah pilihan tepat menyusun hal baru yang harus kulakukan.


Dia pun naik tangga menuju lantai dua yang luas itu.


"Jujur aku sangat tidak kenal di sini," lalu dia menelpon Alexa.


"Halo ada apa Lis?" sahut Alexa.


"Tidak aku hanya bosan di sini...."


"Kenapa? Memang sekarang kau di mana?"


"Ya aku di mansion Elio dan di sini sangat luas aku sangat bingung ingin melakukan apa," mereka berpindah dari telepon menjadi video call sehingga Alexa dapat melihat ruangan.


"Astaga Elisa! Besar sekali apa itu dalam mansion?"

__ADS_1


"Tidak ini yang kata pak Sam tadi kamarku dan tuan Lorenzo."


"Oke aku sekarang mengerti kenapa kau merasa bosan, aku punya saran kenapa kau tidak melakukan house tour saja?"


"Apa itu house tour?"


"Astaga Elisa kau ini memang... argh lupakan, intinya sekarang lebih baik kau mulai melihat-lihat dulu kamar itu cari tahu apa, di mana, dan bagaimana cara menggunakannya jika saat tuan Lorenzo kembali kau tidak seperti orang bodoh di depannya."


"Kau kasar tapi ada benarnya baiklah terima kasih."


Obrolan mereka pun berakhir.


"Hmm mulai dari mana ya?" tujuan pertama Elisa sepertinya ruang ganti, lalu kamar mandi, ruang santai, balkon.


Memang ruangannya sama saja pada umumnya tapi luas dan arsitekturnya yang sungguh luar biasa berbeda.


"Oke aku akan mengecek isi pakaiannya agar sewaktu-waktu dia mengerjaiku aku tahu di mana dia menyimpannya," ucapnya lalu mengambil catatan dari pak Sam dan pena lalu mencatat posisi perlengkapan seperti celana, dasi, kemeja, blezer, topi, pin, celana casual, baju olahraga, dan sepatu.


Selanjutnya dia pergi ke kamar mandi, dan membaca semua prodak mandi yang sangat berbeda itu dengan teliti takutnya dia salah memakainya. "Ada shower, bak mandi dan... haaa masa iya shower mandi hanya berbatasan dengan kaca dengan bak mandi?" terkejut. Yah bagi Elisa yang hidupnya pas-pasan tidak pernah melihat atau merasakan hal seperti ini seumur hidupnya.


"Sabar Elisa selanjutnya ruang santai, di sini ada rak buku juga, meja dan kursi yang mahal lalu karpet lantai, teko teh," ucap Elisa sambil menulis di kertas.


"Terakhir balkon," Elisa berjalan menuju balkon saat dia membuka pintu kaca Elisa memejamkan matanya karena tiupan angin yang seolah masuk ke dalam dirinya.


"Wah ini Roma? Kota yang aku tinggali? Bagaimana bisa seindah ini," ucapnya sambil melihat pemandangan jauh dari balkon kamar.


Elisa berjalan masuk dan melihat sesuatu dari ujung matanya. Sepertinya balkon bukanlah hal terakhir.


Ya betul tempat tidurnya, Elisa menelan saliva melihat ranjang yang memiliki arsitektur simpel tapi elegan berwarna silver dan tentunya sangat luas, Elisa mendekat dan mencatat untuk apa dan bagaimana cara menggunakan semua barang-barang asing itu.


"Ruang kerja...," Elisa menggeleng tidak berani masuk ke sana karena itu ruangan terpisah yang bisa dimasuki dari luar atau dalam kamar tentu itu adalah ruang kerja Lorenzo. Butuh izin untuk bisa masuk ke sana.


"Nona saya membawakan anda makanan," Elisa bangun dari duduk dan membuka pintu. Lalu pak Sam di bantu beberapa pelayan membawakan beberapa hidangan yang sudah dipastikan sangat enak. Elisa jadi mengurungkan niatnya membaca kertas tadi dan ingin segera makan.


"Terima kasih pak Sam sudah mengantarnya," ucap Elisa.


"Ini memang tugas saya Nona, saya permisi," pak Sam pun keluar diikuti para pelayan di belakangnya. Elisa pun memakan hidangan yang di bawa tadi.


"Hmm enak! Ini itu semuanya enak," ucapnya. Dia tidak sadar ada sepasang cctv yang memantau ruangan.


...----------------...


Elioztan Group


"Tuan ini proposal yang Anda minta," meletakan sebuah map yang berisi rancangan proyek baru.


"Stefan data tanah yang harus kita beli?"


Memberikan map lagi yang isinya ada banyak sekali data statistik sebuah daerah yang rumit. "Ini Tuan."


"Apa kau sudah menghubungi yang lain?"


"Sudah Tuan mereka siap kapanpun Anda ingin memulai rapat."


Lorenzo berdehem lalu mengecek data statistik itu, ya bisa dibilang Lorenzo ini lulusan terbaik di kampusnya apalagi saat magister dia mengambil jurusan matematika murni.


Dan itu membuat pria di sekelilingnya seperti tidak di anggap para wanita satu kelasnya.

__ADS_1


"Ini, kirim salinan dokumen ini pada mereka lalu segera kirim tanggapan kepadaku," mengembalikan dokumen-dokumen itu kepada Stefan.


"Baik Tuan saya permisi," menundukkan kepalanya lalu berjalan keluar ruangan Lorenzo.


Sementara Lorenzo yang duduk di kursinya sekarang merasa jenuh karena hampir setiap pekerjaan sudah diselesaikan Stefan sebelum masalah yang benar-benar serius yang harus Lorenzo tangani.


Hemm


Dia mencoba membuka hp dan iseng membuka kamera cctv yang ada di kamarnya.


"Apa yang dilakukan wanita aneh ini," menutup mulutnya yang menyungging senyum tipis.


Dilihatnya Elisa yang pergi keluar masuk ruang ganti, kamar mandi ruang santai, balkon dan mengecek atas bawah ranjang tidur sambil mencatat hal yang tidak diketahui Lorenzo.


"Sepertinya kau bersiap untuk acara main-main ya?" ucap Lorenzo masih saja menonton gelagat Elisa yang sedang makan tapi sambil mengoceh tentang Lorenzo.


"Dia pikir anak kecil apa?" Lorenzo mengernyit mendengarnya. "Dia mengerjaiku dan sekarang aku tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya harus mengurusnya," ucap Elisa lagi sambil mengunyah makanan yang diberikan pak Sam tadi.


"Ohoo ternyata kau juga bisa bicara seperti itu ya, Elisa? Tunggulah saat malam aku pulang nanti."


Elisa bersin, ia merasa sedang ada yang membicarakannya dan merasa merinding sendiri di dalam ruangan kamar luas itu.


...----------------...


Sementara di sisi lain kota Roma Alexa sedang berdebat dengan Ibunya yang masih saja mengungkit-ungkit tentang kesalahan Alexa saat menggunakan dapur yang lupa dia bersihkan saat memasak di rumah.


"Ibu kumohon jangan sekarang, aku sedang sibuk," mengangkat telepon yang tidak diangkat sebanyak enam kali.


"Anak ini mulai kurang ajar ya! Hei aku ini Ibumu jadi dengarkan saat kau pulang nanti jangan lupa belikan sabun untuk membersihkan dapur Ibu yang kau rusak waktu itu."


"Ibu itu sudah berapa bulan yang lalu Ayah saja bilang Irene sudah membantu membersihkan," Alexa tau Ibunya begitu karena hanya ingin Alexa cepat pulang untuk menghadiri acara pernikahan sepupunya yang pasti ada acara sindiran di sana, makanya dia pura-pura sibuk. Tidak. Dia benar-benar sibuk sekarang, tidak sempat memikirkan kehidupan orang lain. Dirinya saja yang seorang Dokter makan dan tidur tidak teratur dengan banyaknya pasien setiap waktu.


"Ibu tidak dengar pokoknya minggu depan kau harus cepat belikan Ibu sabun ampuh itu! Ibu ingin dapur terlihat bersih."


"Apa Ibu mau dapur seputih dan sebersih jasku ini?" mengirim foto jas yang sedang dipakainya.


"Ibu tidak peduli seberapa pintar kau sekarang menjawab Ibu, intinya minggu depan kau harus pulang."


Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Ibunya Alexa.


"Haaa," Alexa mendengus sambil meminum kopi dingin yang diberikan Rika dan Esra rekan Alexa yang bertemu di pusat pelatihan saat melamar posisi sebagai Dokter di rumah sakit di kota itu. Dan sekarang mereka ditempatkan di rumah sakit yang sama.


"Tarik napas..., buang," sahut Rika.


Esra menepuk pundak Alexa. "Alexa ada apa? Kau bisa cerita kepada kami saat istirahat kan?"


"Kita memang jarang memiliki waktu istirahat seperti ini tapi kau tidak bisa menyimpan masalahmu sendiri seperti ini, dilihat bagaimanapun sebagai Dokter kita harus profesional sayang, jadi lebih baik kau berkeluh kesah dengan kami daripada nanti pasienmu ketakutan melihat wajahmu sekarang," Rika menyodorkan kaca di depan Alexa.


Wajah yang lusuh kantong mata yang mulai lagi menghitam, wajah datar cemberut. Alexa berdiri dan meregangkan tubuhnya.


"Baik terima kasih teman-teman aku akan mencuci wajah dulu," Alexa berlari menuju kamar mandi khusus untuk Dokter wanita.


"Alexa ini masih sama saja," Esra.


"Ya wajar jika dia paling muda di antara kita, beruntung sekali dia bisa bertemu seorang kakak seperti kita kan?"


"Aahhaha iya," sahut Esra menyambut tos adudu kepalan tangan Rika.

__ADS_1


Haii para pembaca selamat membaca yaa terima kasih!❤🙆‍♀️Dukung terus author ya jangan lupa like dan komennya💖


__ADS_2