
Alexa sudah jauh dan sudah menghilang dari pandangan kini perhatian Elisa kembali ke bodyguard muda yang menunggunya.
"Apa sudah selesai Nona?" tanyanya.
Elisa melihat-lihat langit mencari ide. "Ah Alexa ada urusan jadi aku akan membantunya membersihkan toko ini sampai pukul 3 apa kamu mau membantuku? Oh tentunya akan ada petugas kebersihan juga yang akan datang."
"Sesuai permintaan Nona," menganggukan kepala.
Setelah menunggu beberapa puluh menit, petugas kebersihan datang dan membuka pintu toko.
"Dengan Nona Elisa?" tanya salah satu petugas itu
"Iya saya Elisa," petugas itu mengangguk.
"Baik Nona tunggu sebentar kami akan membersihkan tokonya dulu."
Lalu para petugas kebersihan itu masuk dengan semua peralatan kebersihan. Lantai satu dan dua dibersihkan secara bersamaan dengan membagi para petugas itu menjadi dua tim sehingga tidak butuh waktu lama membersihkannya.
Lalu Elisa masuk diiringi bodyguard melihat setiap sisi ruangan. Tempatnya bagus, aku akan meletakkan bunga di sini dan.
Banyak hal yang ada dipikirannya. Pukul masih jam 1 siang sedangkan Alexa akan bertemu lagi dengannya saat pukul 3 lalu Elisa berpikir untuk membeli beberapa sofa, meja dan kursi.
"Apa Anda bisa membantu saya membeli barang?" tanyanya kepada bodyguard itu.
"Baik Nona," lalu mereka pergi ke sebuah toko furniture sederhana.
"Pak saya ingin membeli sofa, kursi, meja dan beberapa lemari besar sedang dan kecil," lalu para pegawainya mengarahkan Elisa untuk melihat barang-barang itu.
Pegawai itu menghitung total belanjaan yang dibeli, lalu Elisa membayarnya dengan kartu kredit miliknya sendiri.
Bodyguard yang melihatnya heran, kenapa dia tidak memakai black card yang diberikan Tuannya? Namun dia tidak bertanya.
Barang-barang yang dibeli tadi diantar menggunakan mobil truk, Elisa langsung mengarahkan mereka untuk meletakannya di mana.
Setelah selesai Elisa merapikan ruangannya kembali di bantu bodyguard itu.
"Oke sekarang tinggal menunggu Alexa," setelah menata barang-barang di tempatnya. Tinggal membeli bahan dan alat untuk memulai usahanya.
Tidak lama setelah itu Alexa datang, jam bahkan belum menunjukkan pukul 3, tapi dia datang lebih cepat.
"Alexa apa pekerjaanmu sudah selesai? Bukankah kita janji bertemu jam 3?"
"Ya pekerjaanku selesai lebih cepat," menggaet tangan Elisa. "Oke ayo kita pergi ke tukang kebun bunga yang sangat bagus di Italia."
"Oke ayo," mereka pun pergi dengan menaiki mobil putih yang dikemudikan bodyguard muda tadi.
Sesampainya di sana mata Elisa berbinar melihat berbagai macam hamparan bunga, rasanya dia ingin membeli semuanya. Tentunya uang sendiri tidak akan cukup kecuali dia menggunakan black card yang diberikan Lore nzo saat menjadi istrinya.
Aku tidak akan memakai itu.
Elisa dan Alexa memilih bunga-bunga yang sedang banyak digemari bunga matahari, tulip, lily, mawar, gardenia, gerbera, sweet pea dan masih banyak lagi mereka hampir membeli 30 jenis bunga. Setelah membayar dan diberikan sebuah kertas petunjuk bagaimana merawatnya dengan air. Selanjutnya mereka membeli kertas bouqet dan pita yang bermacam-macam warna mulai dari putih, merah, ungu, biru dan lainnya. Setelah itu Elisa memberitahu Alexa bahwa dia juga ingin menjual lilin aroma terapi.
"Kau yakin? Bukankah sekarang sedang hamil tidakkah itu sedikit berat untukmu?" tanya Alexa.
__ADS_1
"Tenang saja aku hanya akan membuat beberapa paling tidak aku akan memulai dari 20 lilin aroma terapi, kamu bisa percaya kepadaku," balas Elisa memegang bahu sahabatnya.
Setelah membeli semua bahan dan alat yang dibeli mereka kembali ke toko dan menyusunnya di lemari yang sudah dibeli Elisa bersama bodyguard tadi.
"Kapan kau membelinya? Ini sangat bagus aku jadi ingin membelinya juga," memegang lemari sedang di dekat jendela.
"Tadi saat kamu masih bekerja, aku membeli bersama dengannya," melihat ke arah bodyguard yang sedang berdiri di samping pintu keluar.
"Oke. Jadi sekarang apa kau ingin membuat beberapa bouqet dan aroma terapinya dulu?"
Elisa mengangguk, lalu Dia mengambil bunga kertas bouqet, tali pita dan lilin.
"Mari kita buat di lantai atas saja di sana ada kipas yang baru kubeli tadi," ajak Elisa.
"Udara panas memang membuat tangan malas bergerak hahaha," Alexa berjalan mengikuti Elisa. bodyguard tadi membawa barang yang Elisa ambil karena dia sendiri menawarkan.
Alexa dan Elisa pun mengeluarkan kreativitas mereka dan menghasilkan 20 bouqet yang indah. Selanjutnya mereka membuat lilin aroma terapi dengan wangi bunga lavender, bergamot, jeruk, daun mint, dan neroli. Setelah berjam-jam di sana barulah mereka selesai membuat bouqet dan lilin aroma terapi untuk penjualan pertama besok.
"Nona ini sudah pukul 18.45, sebentar lagi waktunya Tuan pulang," ucapan bodyguard itu membuat mata Elisa membulat dan menoleh ke Alexa.
"Astaga, aku lupa!" memijat dahinya.
"Alexa ini, upahmu. Harusnya aku bisa memberikannya dengan waktu yang bagus tapi tidak sekarang. Aku harus kembali, maaf sepertinya kami tidak bisa mengantarmu. Terima kasih banyak," ucap Elisa setengah berlari memegang tangan Alexa, lalu dia memberikan sebuah amplop yang berisi uang kepadanya.
Elisa sudah masuk ke dalam mobil. "Alexa terima kasih ya!" ucapnya dari jendela mobil. Lalu bodyguard itu menyetir menuju arah mansion.
Oke Elisa jika dia bertanya jawab saja sedang menemani Alexa, oke tenang seperti biasa saja.
Sayang bantu Ibu agar Ayahmu tidak menghukumku. Memegang perutnya.
...----------------...
Untunglah.
Saat sampai mansion Elisa tidak melihat keberadaan mobil yang selalu mengantar-jemput Lorenzo. Elisa terkejut saat melihat pak Sam sudah ada di depan pintu masuk dengan wajah tanpa ekspresinya itu. Elisa pun turun dari mobil dan mendatangi pak Sam.
"Pak apa Tuan Lorenzo sudah kembali?" tanyanya.
Pak Sam melirik. "Belum, jika saya menunggu di depan seperti ini itu artinya Tuan Muda belum kembali. Mungkin sebentar lagi."
Tidak lama setelah itu mobil hitam yang selalu di bawa Stefan muncul dari gerbang dan berhenti tepat di depan pintu masuk mansion.
"Selamat datang Tuan," ucap pak Sam.
"Selamat datang Tuan bagaimana hari Anda?" tanya Elisa sambil mengambil tas yang dipegang Lorenzo.
"Hariku hanya melihat seseorang yang berjam-jam di toko kosong dan membersihkannya," ucap Lorenzo langsung berjalan menuju kamarnya.
Itu...,bukan aku kan? Masa iya dia memata-mataiku? Jangan-jangan bodyguard itu yang memberitahu, tapi kelihatannya dia bukan orang seperti itu, padahal aku sudah menjelaskan kepadanya. Banyak hal yang dipikirkan Elisa hingga dia tidak sadar bahwa sudah ada di kamar dan Lorenzo berhenti tepat di depannya.
"Aduh maaf Tuan," Elisa menabrak punggung Lorenzo. Dan sejak kapan panggilan Tuan itu sudah terbiasa diucapkannya padahal Lorenzo selalu mengingatkannya, tapi belakangan ini Dia tidak pernah lagi menyuruh Elisa memanggil namanya.
Lorenzo diam, dan itu membuat Elisa merinding. Dia yang biasanya melontarkan ucapan yang tajam tapi sekarang malah diam.
__ADS_1
Apa Dia tahu rencana penyelamatanku itu? Ini sangat menakutkan. Mungkin sejak awal aku harus memberitahunya
Seperti biasa Elisa membantu Lorenzo memakai dan melepaskan pakaiannya. Elisa semakin merasa cemas ketika selesai memakai baju malamnya Lorenzo tidak bicara, dan Elisa masih berdiri di belakangnya.
"Punggungku bisa berlubang jika kau melihatku seperti itu," Elisa terkejut. Lorenzo berbalik dan mendekat. "Apa yang kau lakukan seharian ini? Dan apa ini?" memegang baju Elisa. "Apa kau belum mandi? Kau pasti sangat bersenang-senang hingga lupa bahwa aku akan kembali?"
Pertanyaan beruntun dari Lorenzo membuat kepala Elisa mengeluarkan asap walau tidak terlihat sih, dia kebingungan. Tidak bisa menjawab.
"Lebih baik kau bersihkan dirimu cepat," Elisa mengangguk dan berlari kecil ke kamar mandi. Saat di kamar mandi dia termenung.
Sepertinya dia memang tahu. Baik Elisa sekarang dirimu tidak bisa lagi menghindar jujur saja, Lorenzo sang presdir itu pasti mengetahui informasi dari sekretaris Stefan itu! Dan yah aku sepertinya harus jujur saja.
Karena Elisa terlalu lama di kamar mandi, membuat Lorenzo berpikir bahwa dia sedang terpeleset dan pingsan
Tok tok tok
Elisa langsung menoleh. "Hei apa kau pingsan?" ucap Lorenzo masih mengetok pintu.
"T...tidak sebentar lagi saya selesai," buru-buru dia mengambil handuk dan melingkarkan di atas dadanya. Lalu Elisa membuka pintu.
"Astaga," terkejut melihat penampakan pria tampan yang memakai baju olahraga, padahal itu adalah wajah yang sering dilihatnya tapi setelan baju ini... sangatlah jarang dilihatnya.
"Kupikir kau pingsan terlalu lama di dalam," berjalan menuju keluar kamar.
"Anda mau ke mana?" tanya Elisa.
Menunjukkan setelan bajunya. "Olahraga, kenapa? Kau ingin ikut?" Elisa menggeleng.
"Lalu berapa usianya sekarang? menunjuk perut Elisa."
"Satu bulan lebih," Lorenzo mengangguk.
"Kau harus ikut bersamaku agar Dia bisa melihatku melakukan hal keren,"mengarahkan jempolnya ke arah ruang gym.
Lihat Dia percaya diri sekali.
Lorenzo menunggu Elisa yang sedang berganti pakaian lalu dia keluar dari ruang ganti.
"Apa kau ingin tidur?" tanya Lorenzo.
"Tidak, saya ingin ikut Anda. Bukankah Anda sendiri yang mengajak tadi."
Lorenzo memegang pelipis kepalanya. "Lagipula saya hanya melihat kan?" benar juga pertanyaan Elisa. Lorenzo pergi duluan menuju ruang gym.
...----------------...
"Wah wah kalian mau ke mana dengan setelan seperti itu?" tanya Carl yang sedang duduk menonton TV.
"Saya ikut Tua- maksud saya Lorenzo untuk berolahraga," jawab Elisa.
"Oh begitu, Lorenzo jangan berjalan di depan Istrimu tapi di sampingnya," sahut Carl. Lorenzo mundur beberapa langkah menyesuaikan posisi Elisa. Carl mengangguk lalu mereka berjalan bersama menuju ruang gym.
Haii semuaa selamat membaca yaa💖
__ADS_1