Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Kerikil Awal


__ADS_3

Setelah mendapati catatan dari Elisa, Lorenzo berulang kali menelpon Elisa tapi tidak ada jawaban. Lebih tepatnya hp Elisa dinonaktifkan. Lorenzo berjalan cepat mencari sekeliling Elioztam Group karena dia yakin tidak mungkin Elisa berjalan jauh dengan kondisi saat ini.


Sial! Apa yang terjadi.


Bentak Lorenzo dalam hati sambil berjalan menyusuri area parkir pegawai dan ia berjalan menuju gerbang luar perusahaan.


"Apa kau melihat seorang wanita keluar?" tanyanya pada penjaga.


"Maaf Tuan Muda ada banyak wanita yang berlalu-lalang di sini, apa ada yang bisa saya bantu," tumben sekali Tuan Muda mereka yang jelas-jelas sangat jarang turun langsung ke lapangan Elioztan yang luas ini, dan sekarang ia ada di pos penjaga mencari seorang wanita. Pikir penjaga itu.


"Wanita dengan rok berwarna coklat dengan blouse putih." Lorenzo memegang pelipis kepalanya.


Penjaga itu memutar kepalanya mencoba mengingat kembali. "Kalau tidak salah saya melihatnya pergi ke arah sana," menunjuk arah jalan menuju halte yang jaraknya hampir 200m.


"Kau yakin?" penjaga itu mengangguk.


Lalu Lorenzo berlari menuju arah yang ditunjuk penjaga tadi, sambil melihat kanan-kiri Lorenzo terus berlari. Bagi dirinya yang sering olahraga 200m bukanlah jarak yang jauh.


Benar apa yang dikatakan penjaga di ujung pandangan Lorenzo ia melihat seseorang yang familiar sedang duduk di halte bus.


"Elisa!" panggilnya, namun dengan jarak seperti itu bagi Elisa hanya angin semata karena banyak kendaraan yang melintas. Hingga saat bus datang Elisa ingin naik ke dalam bus tapi lengannya ditarik.


"Hosh...hosh haa, Elisa!" Lorenzo memeluknya. Sambil mengisyaratkan tangan pada sopir bus agar pergi.


Elisa terkejut. "Ke-kenapa?"


"Kau ingin ke mana? Kenapa kau pergi begitu saja, apa kau tidak tahu aku sangat mencemaskanmu? Jika terjadi sesuatu padamu bagaimana?" memegang kedua bahu Elisa erat.


Elisa merasa lelah dengan ini semua, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Lalu ia melepaskan tangan Lorenzo dari bahunya. "Saya ingin pergi sendiri Tuan." Ia berbalik dan berjalan namun Lorenzo menghentikannya dengan memegang tangan Elisa.


"Lepaskan." Lorenzo menatap Elisa yang terlihat sedang marah. "Anda tidak mengerti saya Tuan, jadi tinggalkan saya sendiri."


"Apa? Jelaskan kepadaku apa yang terjadi?" tekan Lorenzo lagi.


"Cukup! Hentikan. Saya tahu anda hanya berpura-pura menerima saya. Harusnya anda tidak melakukannya terlalu jauh seperti ini Tuan, anda tidak mengerti saya."


Untuk pertama kalinya Lorenzo mendengar Elisa meninggikan suaranya.


"Karena itu beritahu aku Elisa!" ucapan Lorenzo membuat Elisa terkejut dan akhirnya ia meneteskan air mata yang sudah membendung dari tadi.


Lorenzo memijat kepalanya dan meraih tubuh Elisa ke pelukannya. Lalu ia menelpon sopir dsn menyuruhnya untuk menjemput mereka dan kembali ke mansion.


Selama perjalanan mereka saling diam, saat sampai mansion Elisa memilih berjalan mendahului Lorenzo tidak seperti biasanya. Lorenzo menghela napas panjang dan berjalan mengikuti Elisa. Sampainya di kamar Lorenzo melihat Elisa duduk di balkon membelakanginya.


Lorenzo membawakan teh hangat pada Elisa dan meletakkannya di atas meja.


"Maafkan saya Tuan," ucap Elisa lirih.


Lorenzo duduk dihadapan Elisa dan menatapnya. "Untuk sekarang kau harus menenangkan dirimu dulu."


"Bisakah anda melupakan kejadian tadi? Saya...saya sangat minta maaf."


"Berapa kali aku harus mengatakannya padamu, jangan terlalu sering meminta maaf, karena itu akan terdengar biasa saja." Lorenzo mengangkat dagu Elisa dengan tangannya.


"Jika berbicara denganku angkat kepalamu."


Elisa merasa bersalah karena telah berkata seperti itu tadi pada Lorenzo, ia langsung memalingkan wajahnya. Tidak sanggup ditatap begitu lama oleh Lorenzo.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan tadi, apakah ada hubungannya dengan pegawai?"


Elisa menggeleng. "Tidak tidak, jangan lakukan apa pun pada mereka ini murni kesalahan saya."


"Hmm, aku mengerti. Aku pergi dulu."


"Anda ingin ke mana?"


"Aku tidak akan lama." Elisa mengangguk.


Lorenzo berbalik dan berjalan cepat menuju ruangannya dengan tatapan dingin. Lalu ia masuk ke ruang kerjanya dan memberitahu asisten perempuan Stefan, untuk mengingatkan siapa saja pegawai yang membicarakan Istrinya akan langsung dipecat.


...----------------...


Selang beberapa jam hari sudah gelap Lorenzo yang habis mandi dan berganti pakaian berjalan mendekati Elisa yang sedang merapikan beberapa buku yang tergeletak di atas meja.


"Elisa," panggilnya. Dia pun menoleh.


"Kita keluar sebentar."


"Ke mana?"


Lorenzo meraih tangan Elisa dan berjalan berdampingan, mereka berjalan kaki dan keluar dari mansion mengelilingi komplek. "Ikuti saja aku dan jangan lepaskan tanganku."


Elisa sangat bingung kenapa Lorenzo tiba-tiba mengajaknya seperti ini. "Kita duduk sebentar di sini."


Walau masih diterpa kebingungan Elisa tetap mengikuti Lorenzo dan ia merasakan bulir-bulir dingin mengenai kepalanya.


Terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat ini hingga Elisa lupa bahwa hari ini adalah pertama kalinya salju turun di tahun ini, Elisa tidak menyangka Lorenzo bisa mengingat hal ini dan mengajaknya untuk menyaksikan salju turun.


"Terima kasih Tuan." Elisa sedikit tertawa. "Saya lupa jika hari ini salju akan turun."


Lorenzo hanya tersenyum tipis. "Kau sudah merasa tenang?" sambik melihat ke depan.


"Iya, berkat anda. Terima kasih." Elisa mengangguk.


"Kita berkeliling lagi?" tanya Lorenzo.


"Iya Tuan," mereka menghabiskan sepertiga malam di luar sambil melihat salju yang kian menutupi jalanan, saat pukul hampir jam 10 malam mereka berjalan kembali menuju mansion.


...----------------...


Berbeda dengan Stefan dan Tori saat ini yang sedang melakukan aksi terakhirnya dengan tujuan untuk memindai berkas yang ada di dalam map, tidak lain map yang diberikan oleh Zaki.


Stefan mencarinya di sisi ruangan yang diberitahu Tori sedang dia sendiri berjaga di ruang tengah.


"Tuan bagaimana situasi anda?" ucap Tori di jam miliknya.


"Aku sedang berusaha membuka lemarinya, kau segeralah pergi aku akan menyusul."


"Tidak, mana mungkin saya meninggalkan anda? Saya akan menunggu di sini."


"Dasar kau!"


Stefan berhenti bicara saat ada seseorang yang datang. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Ah, Tuan saya disuruh Tuan Besar untuk mengambil map yang ada di dalam tapi saya tidak bisa membukanya."

__ADS_1


Salah satu penjaga itu menatap Stefan penuh selidik. "Minggir," lalu penjaga itu mendobrak paksa lemari keras itu dan terbuka.


"Cepat berikan kepada Tuan Besar sebelum dia menunggu lama."


"Baik Tuan terima kasih," balasnya sambil menundukkan kepala.


Setelah penjaga itu pergi Stefan dengan cepat membuka map itu dan memindainya dengan kaca mata khusus yang diberikan Tori. Lalu setelah itu dia menghubungi Tori.


"Victoria cepat keluar, aku sudah mendapatkannya. Perhatikan keselamatanmu," ucap Stefan.


Salah satu penjaga datang dan mendengar pembicaraannya dengan Tori. "Permisi Nona Victoria," mengurung Tori di kedua tangannya. Tori masih menahan dirinya agar tidak melakukan kesalahan.


Ahh sialan!


Tidak tahan lagi Tori segera memukul titik vital laki-laki itu hingga ia pingsan. Kedua penjaga lainnya langsung mendatangi Tori.


"Ada apa ini!" tanyanya.


Tori masih mencoba agar situasi tidak mencurigakan. "Dia bertingkah kurang ajar kepadaku, makanya dia kuberi pelajaran."


Kedua penjaga itu tidak percaya dengan Tori. "Kau ikut kami dulu."


"Ke mana?"


"Tentu saja menemui Tuan Besar, hal seperti ini harus diberitahu kepada beliau."


Tori mencoba tenang. "Oh baiklah."


Sial sial sial bagaimana ini, tenang Tori. Aku bisa melarikan diri dari mereka.


Tori mengikuti mereka dari belakang lalu ia mengambil kesempatan dan berlari sekencang mungkin.


"Hei!" teriak dua penjaga itu.


Tori menghubungi Stefan. "Haa haa anda di mana?"


"Aku sudah di tempat bermalam kita ada apa?"


"Cepat, cepat anda naik ke atas motor anda. Saya sedang dikejar dua penjaga dan saya sedang berlari ke arah anda."


"Apa? Sial, cepat kemarilah." Stefan langsung memindahkan tas yang sudah mereka susun ke atas motor lalu Stefan mengendarai motornya keluar dari hutan dan melihat Tori berlarian.


"Victoria! Cepatlah."


Dorr...dorr...jdarr


Tiga kali suara tembakan berbunyi dari kejauhan, Tori sempat berhenti berlari dan bangkit lagi saat Stefan dengan nekat mendekatinya lalu Stefan menarik tangan Tori dan mereka berhasil kabur, kedua penjaga tadi tidak tinggal diam mereka mengejar Stefan dan Tori dengan mengendarai motor juga.


"Berpegangan yang erat denganku!" ucap Stefan.


Dengan kecepatan tinggi Stefan menjauh dari kejaran dua penjaga itu dan mereka berhenti di sebuah gubuk tua di sawah terpencil.


Karena gelap Stefan baru menyadari lengan kiri Tori mengeluarkan banyak darah, yang sedari tadi ia tahan dengan tangan kanannya.


"Victoria!" Stefan langsung menyiramnya dengan air dilihatnya ada dua peluru yang menancap di bahu Tori.


Halo semua selamat membaca yaa ehehehe kita akan masuk era baru nihhh🤭😋😋🤍🙏💐😍

__ADS_1


__ADS_2