Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Berlalu Saja


__ADS_3

Elisa dan Lorenzo sudah ada di rumah sakit, mereka duduk sambil menunggu Daran. Yap Daran adalah salah satu Wakil kepala dokter di rumah sakit milih keluarga Elio. Lorenzo khusus menyuruh Daran untuk memeriksa Elisa selain dia adalah temannya, Daran juga sangat dipercaya Lorenzo.


"Selamat pagi," sapa Daran. "Maaf membuat anda menunggu Tuan, Nona," lanjutnya menundukkan kepala.


"Kau terlambat," balas Lorenzo dengan menatap datar.


"Maafkan saya," Daran pun menoleh ke arah Elisa. "Nona mari kita lakukan pemeriksaan," Elisa pun berdiri dan berjalan bersama Daran hingga suara Lorenzo membuat mereka berhenti.


"Hei," Elisa dan Daran pun menoleh. "Apa aku boleh masuk juga?" sambungnya.


"Tentu saja calon ayah juga harus tahu kan?" tanya Daran. Lorenzo menyuruh Stefan memberi tahu Daran tentang dirinya dan Elisa, namun kejadian karena obat tentu direvisi Stefan seolah mereka melakukannya secara sadar dan keinginan masing-masing.


Lorenzo pun berjalan mengikuti mereka ke dalam ruang pemeriksaan, "Hei kau jangan macam-macam ya," toleh Lorenzo ke arah Daran.


"Apa maksudmu tuan? Bukan saya yang memeriksanya tapi dokter kandungan perempuan yang akan melakukannya saya hanya mengawasi. Bagaimana anda bisa tidak tahu," balas Daran sambil menutupi mulutnya yang menahan senyumnya.


Lorenzo pun hanya diam kehabisan kata-kata membalas ucapan Daran.


Saat dokter perempuan itu sudah datang ia menyapa Lorenzo dan Daran terlebih dahulu.


"Selamat pagi Tuan Lorenzo dan pak Daran," dia pun berjalan menuju Elisa yang sudah menunggu di dalam ruangan pemeriksaan.


"Selamat pagi Nona, maaf membuat anda menunggu," sapanya.


"Iya selamat pagi, tidak apa-apa saya tidak lama juga menunggunya."


Dokter itu pun mengarahkan Elisa dan menyuruhnya untuk merebahkan badannya di kasur pemeriksaan.


"Baik Nona saya izin membuka sedikit baju anda ya," Elisa pun mengangguk.


Sedangkan Lorenzo dan Daran menunggu di luar ruangan pemeriksaan yang hanya bisa melihat lewat dari dinding kaca. "Hei kenapa dia seperti itu?" tanya Lorenzo yang melihat dokter perempuan itu membuka baju di perut Elisa.


"Dasar Lorenzo untuk urusan ini saja kau tidak tahu," pikir Daran sambil menoleh ke arah Lorenzo, dia tidak berani berbicara seperti itu kepadanya mengingat Lorenzo ini seorang presdir yang membantu kemajuan negara ditambah dengan sekretaris Stefan yang selalu ada di dekat Lorenzo yang membuat Daran mati-matian menahan komentar di mulutnya.


"Dokter itu sedang memeriksa nona Tuan, anda tidak perlu khawatir."


"Oh begitu," jawab Lorenzo dengan memperhatikan dengan teliti pemeriksaan itu. Lalu dokter perempuan itu pun berjalan menuju pintu.


"Permisi, Tuan apa anda bisa masuk sebentar ke dalam?" tanya dokter itu sambil memberikan jalan kepada Lorenzo.


Lorenzo pun menoleh ke arah Daran dan dia mengangguk.


Saat di dalam Elisa dan Lorenzo bertatap mata dan Lorenzo duduk di samping Elisa menggunakan kursi yang sudah di sediakan dokter tadi.

__ADS_1


Dokter perempuan itu pun menjelaskan apa yang ada di layar monitor digital.


"Tuan, Nona ini adalah janin yang saat ini sedang Nona kandung. Umurnya masih 2 minggu," jelasnya lagi.


"Kecil sekali," ucap Lorenzo.


Dokter itu pun tersenyum, "Iya tuan," sepertinya anak anda ini sangat aktif untuk bulan kedepannya Tuan harus sering membantu Nona karena itu dapat membuat sang ibu merasa tenang." Lorenzo mengangguk dan menoleh ke arah Elisa.


"Apa ada hal yang harus diperhatikan lagi?" tanya Lorenzo.


"Ibu yang sedang mengandung cenderung memiliki perasaan yang lemah dan emosi yang tidak terkendali jadi sebisa mungkin jangan terlalu mengejutkan Nona dengan keadaan apa pun. Mengingat umur kandungannya yang masih muda itu sangat rentan," jelas Dokter itu.


"Nak ayahmu sangat menyayangimu lihat dia sangat perhatian padamu semoga kita cepat bertemu ya sayang." Batin Elisa sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.


"Laki-laki atau perempuan dokter?" tanya Lorenzo dengan tatapan masih melihat layar yang menampilkan janin kecil.


"Tuan, jenis kelamin janin baru bisa terlihat saat umur kandungan 4-5 bulan, sabar saja tuan anda pasti akan segera tahu," balas dokter itu tersenyum melihat Lorenzo lalu bergantian ke arah Elisa.


Setelah pemeriksaan itu dokter memberikan sebuah buku yang berisi catatan pemeriksaan kehamilan Elisa yang akan digunakan selama masa hamil, dan juga berbagai hidangan sehat bergizi yang disarankan untuk ibu hamil.


Setelah itu Lorenzo dan Elisa kembali dan masuk ke dalam mobil.


"Kau mau kemana? setelah ini," tanya Lorenzo.


"Aku ingin tidur... lagipula aku tidak tahu juga harus kemana," Elisa pun menoleh. "Sepertinya aku ingin kembali ke apartemen saja."


Aku rasa belakangan ini aku selalu pergi, aku harus memberi tahu Alexa.


Lalu ia pun membuka monitor hp nya dan menekan kontak Alexa.


"Alexa."


"Tuan Lorenzo selalu membawaku keluar, entah itu untuk fitting gaun, makan, dan sekarang kami baru pulang dari rumah sakit. Kupikir dia sangat perhatian bagaimana menurutmu?" tulis Elisa di kolom chat dirinya dan Alexa tapi belum mendapatkan balasan karena Alexa masih bekerja.


Elisa pun meletakkan hp nya di atas nakas.


Ayolah mata kenapa kau ingin terpejam terus. Monolognya sambil mengucek kedua matanya, tapi apa boleh buat badannya sudah merebah duluan di pinggir kasur. Padahal ada tuan Lorenzo. Tidak bisa menahan kantuk akhirnya Elisa tertidur.


Sementara itu Lorenzo yang berada di ruang kerja apartemen sedang berada dalam panggilan bersama Stefan.


"Tuan persiapan pernikahan anda sudah selesai dan semua pihak undangan sudah saya atur sesuai yang Tuan minta," ucap Stefan.


"Iya, apa kau sudah mengundang orang terdekatnya saja?"

__ADS_1


balas Lorenzo sambil membuka beberapa dokumen lain untuk mengurus kartu keluarga dirinya.


"Nenek, Lea dan Alexa sudah saya undang secara pribadi melalui para pegawai kita tuan dan saya mendapat pesan bahwa keluarga nona di desa tidak dapat hadir karena adik nona masih sekolah dan sedang melakukan study tour akhir semester jadi hanya Alexa saja yang akan datang."


"Baiklah kau lanjutkan saja pekerjaanmu."


"Baik tuan," Lorenzo pun menutup sambungan telepon dan berjalan menuju dapur.


"Kemana dia?" Lorenzo pun berkeliling sampai balkon mencari Elisa tapi tidak menemukannya. "Apa dia kabur?" dia pun melihat pintu kamar yang terbuka lalu berjalan masuk ke sana.


Dilihatnya Elisa tertidur di pinggir ranjang dengan badan di atas kasur dan kaki yang turun menyentuh lantai.


Lorenzo menghela napas kasar. "Dasar apa dia memang tidak pandai mengurus diri?" ucapnya sambil berjalan menuju Elisa.


"Lorenzo sepertinya kau mendapatkan istri yang terlalu memaksakan diri, jika kau tidak sanggup dan lelah kenapa tidak bilang saja," uapnya kepada Elisa sambil mengangkat tubuhnya agar mendapat posisi tidur yang baik.


"Apa ini, apa aku bermimpi tuan Lorenzo menggendong ku dan berkata hal manis seperti itu?" pikir Elisa yang setengah sadar dalam tidurnya. Menit selanjutnya dia benar-benar tertidur pulas.


Karena hari masih siang sekitar pukul 14.40 Lorenzo berencana pergi ke Elioztan Group untuk membahas lebih lanjut tentang apa tindakan yang akan mereka lakukan terhadap Presdir ZLaurent di Jerman. Zaki Nataniel orang yang memberikan obat kepada Lorenzo.


"Stefan aku akan ke sana," pesan teks Lorenzo ke Stefan. Tidak selang beberapa detik Stefan langsung menbalas.


"Baik tuan," balas Stefan. Sebelum pergi Lorenzo meninggalkan sebuah catatan kecil di atas nakas di samping hp Elisa.


Elioztan Group.


"Selamat datang tuan," ucap salah satu pegawai kepada Lorenzo dan dia langsung berjalan menuju lift pribadinya.


Sesampainya di gedung paling atas Lorenzo masuk ke ruangannya dan sudah ada Stefan yang menunggu. Ia pun langsung duduk.


"Bagaimana tentang ZLaurent?" tanya Lorenzo.


"Baik tuan akan saya jelaskan. ZLaurent seperti yang kita ketahui salah satu perusahaan di Jerman yang bekerja sama dengan salah satu mafia tersembunyi di Italia Barat. Dan kita masih mencari petunjuk tentang bagaimana Zaki bisa menjadi Presdir dari perusahaan itu."


"Apa masih kurang bukti untuk memasukkan Zaki sial itu ke penjara," sebenarnya Lorenzo tidak berniat menggugat Zaki, dia hanya ingin mencari bukti dan memberikannya kepada Zaki agar dia bisa berubah atas perbuatannya.


"Bukti yang kita kumpulkan sebenarnya sudah cukup untuk menggugatnya tapi akan lebih sempurna jika kita memiliki kartu as yang akan membuatnya tidak bisa berkutik. Dan mungkin akan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk mengungkap masalah ini Tuan," balas Stefan dengan perasaan ragu.


Lorenzo pun diam memikirkan sebuah pesan yang datang beberapa hari lalu. "Hei apa kau mengenal Celine?" Lorenzo tahu betul pesan itu dari siapa, Zaki memiliki banyak cara untuk membuat Lorenzo jatuh jika dia tidak bisa menjatuhkan perusahaannya maka dia akan berusaha menjatuhkan mentalnya.


Stefan pun duduk di depan Lorenzo. "Tuan anda tidak perlu terlalu memikirkan ini, cukup saya saja. Walau membutuhkan waktu lama sekali pun saya akan tetap mencari informasi dan selalu sial untuk anda. Untuk sekarang lebih baik anda fokus terhadap pernikahan yang sebentar lagi diadakan apalagi nona Elisa sendiri sedang mengandung."


Lorenzo pun langsung menatap Stefan yang notabene adalah temannya sendiri tapi kata-kata yang keluar barusan dari mulut Stefan adalah kata pertama yang membuat pikiran Lorenzo yang berantakan kembali tertata rapi.

__ADS_1


Lorenzo itu pria yang luarnya sempurna dan tidak memiliki kekurangan apapun sikap perilakunya, pola pikir, cara bicara, fisiknya apalagi wajahnya. Tapi kita tahu betul tidak ada manusia yang sempurna. Ketidaksempurnaan Lorenzo yang tersembunyi hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat dengannya.


Halo guyss selamat membaca yaaa semoga sukaa, jangan lupa like dan komen ya, dan support terus author❤🤍


__ADS_2