Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Terhubung


__ADS_3

Dari tadi Sore Lorenzo masih bersikap kekanak-kanakan dengan Elisa bahkan saat waktu makan malam Dia menyuruh Pak Sam mengantarkan makanan mereka ke ruang santai di dalam kamar saja.


"Kita harus memaklumi ini," ucap Carl memegang bahu istrinya.


Elisa tidak enak karena Lorenzo sudah berjalan duluan menuju kamar.


"Haa," Elena menghela napas. Anak itu tidak kusangka bisa juga seperti ini. Menatap punggung Lorenzo yang menaiki tangga.


"Elisa pergilah bersama Lorenzo," lanjutnya.


Elisa menyungging senyum tipis tidak enak. "Ayah, Ibu maafkan saya, saya permisi dulu," menunduk hormat lalu di balas anggukan setuju.


...----------------...


Makanan yang diantar Pak Sam sudah ada di atas meja Lorenzo duduk.


"Hmm, Elisa pijat kepalaku," membaringkan kepalanya di atas kepala sofa. Elisa berdiri di belakangnya dan memijat seperti biasa yang dia lakukan. Sekitar 10 menitan memijat Elisa terkejut ketika Lorenzo berdiri.


"Aku bosan. Ayo kita keluar," memegang lengan Elisa dan mengambil jaketnya yang di gantung tidak jauh dari pintu. Mereka keluar melewati Ayah dan Ibu.


"Kalian mau ke mana?" tanya Ibu.


Elisa mendongak ke Lorenzo meminta jawaban atas tindakannya ini. "Aku ingin keluar sebentar Ibu. Kami pergi."


Lorenzo menaiki mobil sport warna coral yang dulunya sangat sering dipakai saat ke kampus. Lorenzo lebih suka mengendarai mobil sendiri daripada dengan sopir, cuma Stefan orang yang selalu menjadi sopir setia yang selalu mengantar-jemputnya.


"Tuan kita mau ke mana?" tanya Elisa memerhatikan Lorenzo yang mengarahkan setirnya ke jalan raya utama.


"Tidak tahu aku hanya ingin keluar, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"


"Tidak ada Tuan."


"Hmm," diam fokus ke jalanan. "Apa ada hal yang ingin kau katakan?" merasa Elisa menatapnya terus.


"Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan dengan Anda, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat."


Lorenzo diam tidak membalas, lalu dia memberhentikan mobilnya di sebuah tempat bermain anak-anak yang cukup luas yang biasa juga dijadikan tempat untuk berolahraga, lalu mereka duduk di ayunan. Hening beberapa menit Lorenzo membuka suara.


"Apa yang ingin kau tanyakan? Aku ingin mendengarnya," sejak menikah dengan Elisa, Lorenzo tahu bahwa Dia bukanlah wanita yang banyak bicara dan tidak bertingkah, satu pertanyaan ini jadi perhatian penuh Lorenzo saat ini.


"Saya sangat bingung saat pertama kali saya memberitahu


Anda jika saya hamil, Anda bisa langsung percaya. Tapi bisa saja Anda tidak mempercayai saya dan mengabaikan telepon saya saat itu," menatap lurus ke depan tidak berani melihat Lorenzo yang menatapnya.


"Kenapa kau selalu melihat hal lain saat berbicara serius denganku seperti ini?" memegang kepala Elisa dari belakang dan mengarahkannya ke tatapannya.


"Aku percaya kepadamu, dan setelah itu aku melihat darah di kasur. Aku sangat minta maaf karena melakukan hal itu sungguh. Apa kau menyesal?"


Elisa menggeleng. "Tidak, saya tidak pernah terpikir hal seperti itu Tuan, saya sangat bahagia ketika saya tahu akan menjadi Ibu, tidak saya sanggah bahwa sebelumnya saya sangat hancur. Tapi itu hanya sebentar seketika saya langsung bahagia ketika ada seseorang yang ada di dalam tubuh saya. Terima kasih sudah mempercayai saya."


Lorenzo mengangguk. "Lalu jangan pikirkan masa depan Elisa, kita tidak ada yang tahu. Apa aku boleh menyapanya?" menunjuk perut Elisa.


"Silahkan Tuan, dari tadi Dia sangat aktif sepertinya ingin berbicara dengan Anda," Elisa tersenyum. Lorenzo mendekat ke perut Elisa dan menempelkan salah satu telinganya.


"Selamat malam, hmm anak laki-lakiku?" sedikit tertawa karena mendengar suara detak yang begitu cepat.


"Kenapa Anda memanggilnya anak laki-laki?" tanya Elisa.


"Karena dia sangat aktif seperti ini, kau dengar? Dia bermain-main dengan heboh."


"Benar juga hahaha," Elisa tertawa. Lorenzo tersenyum melihat Elisa seperti ini lalu Lorenzo berdiri. "Tunggu di sini sebentar," Elisa mengangguk lalu Lorenzo berjalan je sebuah food truck yang menjual berbagai makanan ringan. Lorenzo kembali dan membawa sebuah sosis besar dan minuman hangat.


"Ini makanlah," menyerahkan kepada Elisa dan duduk.


Elisa ragu. "Anda tidak memakannya?"


"Melihatmu makan saja aku sudah kenyang, aku ingin kau yang memakannya," hm dasar ternyata sindrom ini masih muncul. Elisa memakannya sambil mencoba minuman hangat yang ternyata dari herbal tadi.

__ADS_1


"Ini untuk Anda, saya sudah tidak bisa memakannya," memberikan kepada Lorenzo. Lalu diambilnya dan gigitan pertama.


"Huwek," Elisa menoleh. "Eh Tuan?" memegang bahunya dan menepuk pelan punggungnya.


"Huwekk," Lorenzo berdiri dan mengisyaratkan tangannya menyuruh Elisa duduk, dia pergi menuju toilet umum lalu tidak lama kembali.


"Tuan ini minum dulu," menyodorkan minuman hangat tadi. "Itu pasti tidak enak," tolaknya.


"Ini enak saya sudah meminumnya tadi, ayo cepat minum ini," mendudukkan Lorenzo dan memberikan minumnya. Lalu mengelus punggung Lorenzo.


"Anda masih mual?" Lorenzo menggeleng. "Kita pulang saja bagaimana?" lanjut Elisa.


Lorenzo mengangguk dan menjulurkan tangannya kepada Elisa agar dia berdiri.


Sesampainya di mansion dan di kamar Lorenzo langsung terbaring dan iya dia tidur secepat kilat. Elisa yang baru saja masuk kamar tersenyum tipis dan membenarkan posisi tidur Lorenzo dengan susah payah.


Biasanya kan suami yang bantu istri kan ya lah ini justru kebalikannya.


...----------------...


Di Elioztan Group Stefan masih mengerjakan tugas terakhirnya dan melihat pemberitahuan pesan dari Lorenzo.


"Jemput aku besok."


Stefan langsung mengiyakan mengerti bahwa Tuannya akan bekerja besok.


"Lalu ambillah kotak di ruang kerjaku nanti," lanjutnya.


"Baik Tuan."


Keesokan harinya Stefan datang dan berjalan menuju ruang kerja Lorenzo.


"Permisi Tuan," ucapnya lalu Lorenzo menyahut mengiyakan. Lalu dia membuka pintu yang tidak dikunci itu.


"Bawa ini bersamamu," menunjuk sebuah kotak di atas meja.


"Ayo pergi," lalu mereka turun dan Lorenzo sudah melihat Elisa menunggu di dekat pintu untuk mengantar kepergiannya.


"Selamat bekerja Tuan, hati-hati di jalan," ucapnya menundukkan kepala. Lalu dia berangkat ke kantor bersama Stefan.


...----------------...


Di dalam perjalanan Stefan membuka pembicaraan.


"Tuan apa Anda sudah merasa lebih baik? Saya bisa menggantikan Anda hari ini jika masih ingin beristirahat," ucapnya sambil fokus menyetir.


Memalingkan wajahnya ke jendela. "Hmm begitulah."


"Jika Anda masih merasa lelah, beritahu saya," Lorenzo diam tidak membalas lagi dan memilih untuk membuka laptop dan mengerjakan pekerjaan yang tertunda yang harus dikerjakan sendiri olehnya.


Elioztan Group


Sesampainya di depan perusahaan ada banyak sekali staf pegawai yang menunggu Tuan mereka untuk menyapa, karena berita Lorenzo yang dikatakan sedang sakit mereka jadi ingin menyapa menanyakan kabar Tuan Mudanya, entah itu memang ucapan tulus atau hanya ingin setor wajah saja.


"Tuan saya akan ada di ruangan saya, jika ada apa-apa panggil saya saja," Stefan menunduk setelah memberikan laporan perkembangan proyek baru mereka.


Lorenzo membaca dengan teliti selembar demi selembar proposal itu. Setelah memastikan tidak ada kesalahan dalam laporan itu lalu dia mengambil lagi sebuah proposal izin untuk membuka lowongan pekerjaan bagi para lulusan baru. Lowongan pekerjaan Elioztan Group ini dibuka dus tahun sekali, tentunya sangat diminati oleh warga kota, bahkan yang mengajukan lamaran pernah menembus angka dus ribuan. Beberapa tahun sebelumnya itu sangat membuat Stefan stress.


Pukul sudah menunjukkan waktu istirahat Lorenzo pergi bersama Stefan untuk makan di kantin perusahaan, jarang-jarang sekali para pegawai melihat pemandangan ini. Ada sekumpulan gadis dari jauh membicarakan tentang Tuan muda mereka itu dan membicarakan istri yang tidak pernah muncul dan tidak diketahui siapa itu banyak spekulasi bertebaran.


"Apa saya harus membungkam mereka Tuan?" tanya Stefan melihat sekumpulan gadis yang suaranya lumayan terdengar dari jauh.


"Tidak, biarkan mereka menikmati waktu istirahat ini," menyeruput jus lemon. "Lalu bagaimana dengan ZLaurent? Kau sudah mendapatkan informasi terbaru?" lanjutnya.


"Maaf Tuan, mereka menggunakan kode rumit yang sulit untuk diretas."


"Lalu?"

__ADS_1


"Saya meminta izin dan mendapatkan bantuan dari intel negara, saya menceritakan semua kronologi kejadian dan bukti yang kita dapatkan dan mereka setuju meminjamkan satu anggota mereka untuk membantu," Lorenzo mengangguk.


"Apa kau sudah menghubungi anggota itu?"


Stefan menggeleng. "Tidak Tuan. Mereka menjaga identitas asli dan akan menghubungi saya melalui email resmi mereka, lalu Tuan apa anda yakin tentang ini?" ragu.


"Tentang apa?" menatap Stefan.


"Jika kita berhasil mendapatkan bukti dan menjebloskan Zaki ke penjara, dia pasti tidak akan diam saja."


Lorenzo tersenyum. "Aku tidak terlalu ingin memasukkannya ke penjara. Itu hanya untuk memperingatinya agar tidak menganggu Elioztan."


Stefan mengangguk. "Berhubungan dengan itu bagaimana jika Anda memberikan Nona pengawal?"


"Hmm menurutmu?"


"Sejalan waktu Zaki pasti tahu identitas Nona, apalagi Nona membuka toko sendiri."


"Baiklah kau urus itu."


"Baik Tuan."


Setelah selesai makan mereka menaiki lift dan menuju lantai paling atas perusahaan.


"Tuan ini laporan tentang rencana pembukaan lowongan kerja kita tahun ini, silahkan anda tandatangani jika menurut anda sudah sempurna," masuk ke dalam ruangan Lorenzo, Dia sendiri sedang sibuk melakukan meeting online dan hanya mengisyaratkan tangan untuk menyuruh Stefan meletakkannya di atas meja.


Haa kenapa aku jadi ingin bertemu dengannya.


Lorenzo sudah menyelesaikan meeting dan menatap langit-langit di ruangannya itu, dan seketika berpikir untuk menelpon Elisa.


"Halo Tuan? Ada apa?" tanya Elisa dengan suara-suara agak berisik.


"Kau di mana?"


"Saya di toko Tuan, hari ini kelas yoga sedang istirahat jadi saya lebih lama berkunjung."


"Dengan siapa kau pergi?"


"Bersama Pak Sopir, dia sedang duduk di depan toko."


"Hmm."


"Anda sudah makan?"


Lorenzo diam sejenak. "Belum." Dasar pembohong.


"Anda melewatkan makan siang?"


"Tidak, aku hanya sibuk."


"Anda tunggu, saya akan ke sana."


Lalu Lorenzo mematikan sambungannya, lalu tersenyum.


Menjahilimu seperti ini bagus juga.


...----------------...


Di Toko


"Livia bisa kamu menggantikan saya sebentar di kasir?"


"Baik Nona serahkan saja kepada saya," Livia adalah pegawai baru yang direkrut Sofia dan Rufina, dia gadis pekerja paruh waktu yang cepat beradaptasi. Dia datang ke kampus saat sore sampai malam jadi untuk pagi sampai sore dia bekerja di sini.


Elisa berjalan menuju dapur mini yang khusus dibuat untuk para pegawai memasak untuk diri mereka sendiri, untuk bahan makanannya mereka biasa membeli di supermarket yang tidak jauh dari toko. Elisa membeli beberapa bahan untuk membuat bekal untuk Lorenzo makan. Lalu dia mulai memasak.


Haloo semuaa terima kasih sudah membaca❤🤍

__ADS_1


__ADS_2