Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Penasaran


__ADS_3

"Tuan?" Elisa menoleh. Sofia, Rufina dan Livia bingung saling melempar tatapan, siapa laki-laki ini? Pikir mereka.


Elisa menoleh ke arah mereka bertiga dan meminta menunggu sebentar, mereka pun mengangguk lalu Elisa berjalan mendekati jendela mobil Lorenzo yang terbuka.


"Ada apa Tuan?" tanya Elisa.


"Kau ingin ke mana?" melihat daerah sekitar Elisa.


Elisa menoleh kebelakang sebentar. "Ah saya dan mereka ingin pergi makan di sebuah restoran."


"Begitu. Apa lama?"


"Saya tidak tahu, saya tidak akan ikut jika anda tidak mengizinkan."


"Hmm, pergilah. Aku akan menunggu di dekat toko milikmu, hubungi aku jika sudah selesai aku akan menjemputmu di sini."


Elisa mengangguk. "Baik Tuan, terima kasih." Lorenzo pun menutup kembali jendela mobil lalu pergi menuju toko Elisa dan menunggu di sana.


"Nona siapa itu?" tanya Rufi.


Elisa memegang tengkuk lehernya. "Itu hmm ah cepat-cepat nanti tokonya ramai pengunjung nanti kita tidak kebagian," balas Elisa mengalihkan topik dan memegang tangan Rufi dan menuntun tangannya sampai ke restoran yang mereka tuju.


Sesampainya di restoran mereka langsung memesan paket komplit untuk empat orang dan memanggangnya langsung di meja mereka, sekitar hampir 40 menit di sana dan Elisa juga sudah merasa cukup makan, ia pun pamit duluan untuk pulang. Ia teringat dengan Lorenzo yang menunggunya tadi. Elisa pun berjalan menuju tempat janji bertemu lagi. Di sana ia mengirim pesan pada Lorenzo.


"Tuan saya sudah di tempat di dekat alun-alun tadi."


Lorenzo tidak langsung membalas dan pesan sudah dibacanya.


"Tunggulah."


"Baik Tuan."


...----------------...


Ketiga gadis yang masih duduk di restoran mulai merasa penasaran.


"Hmm Sofi," ucap Rufi.


"Kenapa?" sambil mengacungkan sumpit yang dipegangnya.


Rufi agak ragu berbicara. "Sebelum aku mengatakan ini kalian jangan bersangka buruk padaku ya?"


Livia dan Sofia mengangguk bersamaan.


"Kalian ingat kan pria yang tadi? Yang berbicara dengan Nona," ucapnya pelan.


"Iya Kak aku sangat ingat dia tampan sekali," sahut Livia.


Sofi menatap Rufi. "Hmm jangan mulai membicarakan teori-teori itu lagi."


Rufi menggebrak meja sehingga beberapa orang melihat ke arah mereka. "Aku serius, pria itu beberapa kali menemui Nona di toko dan setiap dia datang Nona selalu saja pamit dan pergi bersamanya. Apa itu kekasih Nona? Atau suaminya?"


"Masuk akal juga Kak Rufi, itu bisa jadi salah satunya. Tapi kita tidak tahu mana yang benar, mengingat Nona sangat tertutup tentang kehidupan pribadinya," balas Livia sambil memegang gelas untuk minum.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku juga memiliki pemikiran itu sebelumnya. Walau Nona termasuk orang yang pendiam tidak dipungkiri jika dia sudah menikah atau memiliki pacar. Nona juga sangat cantik," tukas Sofia.


Rufi mendongak melihat langit yang hampir gelap. "Haa aku jadi semakin penasaran dengan Nona Elisa, bagaimana jika nanti kita melakukan video call ? Siapa tahu kita bisa mendapatkan kebenaran saat Nona menerimanya?" cetus Rufina.


"Boleh, tapi aku tidak ingin memulainya."


"Tenang, aku akan membuka pembicaraan di grup chat kita," balas Rufina mengacungkan jari jempolnya.


"Tapi jangan malam ini Kak, aku harus mengerjakan tugas kuliahku," sahut Livia sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Rufi mengepalkan tangannya ke depan untuk melakukan tos. "Operasi akan dimulai saat kita semua ready oke?" Mau tak mau mereka berdua menggapai kepalan tangan Rufina yang artinya Livia dan Sofia setuju.


...----------------...


Haaachi!


Elisa menutup wajahnya. "Sepertinya malam ini akan dingin."


Setelah membalas pesan Elisa, Lorenzo menyalakan mobilnya dan menuju ke tempat Elisa. Beberapa menit sebelum Lorenzo datang Elisa melihat segerombolan pemuda yang berjalan sambil membawa skateboard dan sedang memainkan bola kaki tidak sengaja terlewat dan mengenai bahu Elisa hingga bola itu terlempar ke jalan raya dan buruknya terlindas oleh mobil besar pengantar paket sekejap mata membuat bola itu menjadi seperti kertas.


"Nona anda harus menggantinya," ucap salah satu pemuda itu. Mereka pun mengelilingi Elisa sehingga ia tampak seperti dalam gerombolan raksasa.


"Maaf saya tidak melakukan apa-apa."


"Jelas-jelas bola itu mengenai anda, jika tidak kena pasti bola itu tidak akan sampai terlindas Nona," pemuda berambut keriting mulai memandang Elisa tidak suka.


Elisa kembali menatapnya. "Adik, saya hanya berdiri di sini. Bukanlah salah saya jika bola itu mengenaiku. Anda sendiri yang menendangnya hingga sampai terlempar ke jalan raya," belanya.


"Nona anda sedang sendiri di sini, apa anda ingin kehidupanmu hancur?"


Ternyata itu Lorenzo. Ia keluar dari mobilnya dan mendekati pemuda-pemuda tadi. "Hei, apa yang kalian lakukan," ucapnya sambil menunjuk Elisa.


"Gara-gara Nona ini bola kami jadi rusak lihat!" menunjuk bola yang sudah kempes di tengah jalan raya.


Lorenzo melihat Elisa dan dibalasnya dengan sebuah gelengan kepala. Lorenzo mendekat ke arah pemuda yang menunjuk bola tadi.


"Jika kau berbohong kupastikan kau tidak akan bisa menendang bola itu lagi," bisiknya sambil menyelipkan sebuah kertas di saku bajunya.


"Datanglah ke sana jika kau memang merasa dirugikan." Lorenzo berbalik dan mengajak Elisa pergi.


"Ayo."


Elisa mengangguk dan menoleh ke belakang dan melihat ada guratan cemas di wajah para pemuda itu. Ia merasa kasihan dan berjalan mendekati mereka lagi.


"Adik maafkan saya, berapa yang harus saya ganti untuk bola itu?" mengeluarkan dompetnya.


Lorenzo yang sudah di berjalan dan ada di pintu seberang menatap datar mereka.


"Ah tidak perlu kami rasa masih bisa membelinya terima kasih," ucap salah satu pemuda yang menerima sebuah kertas yang berisi kontak perusahaan Elioztan Group. Lalu mereka berjalan meninggalkan Elisa.


Elisa terdiam memandang pemuda itu berjalan pergi.


"Elisa ayo pergi," panggil Lorenzo.

__ADS_1


Dia pun berbalik dan masuk ke dalam mobil, selama di perjalanan mereka diam lalu Lorenzo membuka pembicaraan.


"Kenapa kau meminta maaf? Itu bukan salahmu."


Elisa menoleh sebentar. "Hmm saya tidak tahu, mungkin juga ada kesalahan saya yang membuat mereka marah."


"Kau harus mulai hati-hati mulai sekarang, aku akan mendapatkan asisten pribadi untuk menjagamu."


"A-apa?Asisten pribadi?" Lorenzo mengangguk. "Tuan... apa saya boleh mengatakan sesuatu?"


"Hmm?"


"Saya sangat berterima kasih untuk itu, tapi saya merasa lebih nyaman jika asisten yang anda maksud itu perempuan."


Lorenzo menoleh ke arah Elisa dan memasang wajah serius. "Kenapa? Apa bodyguard yang selalu menjagamu membuatmu tidak nyaman? Apa dia melakukan sesuatu?"


"Bu-bukan seperti itu," Elisa menaikkan telapak tangan seperti tanda berhenti. "Saya lebih suka jika dapat teman juga Tuan."


"Apa dia tidak bisa menjadi temanmu? Aku akan memecatnya."


Elisa memegang kedua pelipisnya. "Saya hanya ingin asisten perempuan Tuan, jika anda mengizinkan."


Lorenzo diam tidak membalas, ia malah membahas hal lain. "Adikmu..., bukankah waktu itu dia ke Roma?"


"Iya Tuan, dia datang untuk mengikuti ujian masuk universitas."


"Lalu tinggal di mana dia?" Lorenzo baru menyadari hal ini setelah hampir seminggu Lea sampai di Roma, karena sibuk bekerja mengurus berbagai dokumen perusahan apalagi sekarang Lorenzo mengurus proyek baru sampai-sampai kejadian pagi tadi ketika Elisa menemukannya tertidur di ruang ganti.


"Ah, Lea tinggal bersama Alexa untuk sementara ini. Ada apa Tuan?"


"Kenapa tidak kau bawa dia ke mansion? Ayo kita jemput dia," ajak Lorenzo.


Haa Tuan kenapa anda mendadak seperti ini? Padahal tadi jam 9 kan anda masih tidur terlelap. Lalu anda tiba-tiba datang untuk menjemputku sekarang anda ingin menjemput Lea dan menyuruhnya tinggal di mansion.


"Itu..., bagaimana jika saya menghubunginya dulu dan menanyakannya? Saya merasa tidak berhak untuk menentukan itu Tuan."


"Hmm," balas Lorenzo.


Lalu Elisa mengirimkan pesan kepada Lea.


"Lea, Kakak tahu ini sangat mendadak tapi. Tuan Lorenzo bertanya kepadaku, 'kenapa Adikmu tidak tinggal di mansion saja?' Jika kamu mau besok aku akan menjemputmu."


Setelah mengirim pesan Lea membalas.


"Sebentar Kak, aku butuh menjernihkan pikiranku dulu. Tolong tunggu sampai aku sudah yakin dengan jawabanku ya?"


"Kalau sudah yakin segera beritahu Kakak ya?"


"Oke Kak."


Balasnya sambil mengirim stiker oke.


Setelah itu pun Lorenzo dan Elisa langsung kembali menuju mansion.

__ADS_1


Haloo guyss hehehe selamat membaca ya enjoy๐Ÿค๐ŸŒน


__ADS_2