Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Kehidupan Baru


__ADS_3

"Halo?"


Jawab seseorang di seberang telepon dengan suara dingin khasnya.


"Halo siapa ini? Kau pasti orang penting karena menghubungiku lewat nomor pribadiku bukan?"


Tanyanya namun belum ada jawaban sama sekali.


"Hei!! Apa kau tak dengar?" tegasnya.


"A-astaga," ucapnya gugup.


"Seorang wanita? Hah sudahlah kenapa kau meneleponku, jika tidak penting akan aku matikan."


Ucap Lorenzo, lalu beberapa detik sebelum dia mematikan sambungan teleponnya.


"T-tunggu sebentar tuan saya mau bicara," ucap Elisa gugup.


"Katakan, cepat," Lorenzo dengan nada datamya, membuat Elisa semakin cemas lalu Alexa memegang bahunya dan menguatkannya.


"Saya Elisa wanita waitress di hotel X enam hari yang lalu dan sekarang saya sedang hamil."


Ucap Elisa dengan satu tarikan nafas panjang, dan sekarang dia sudah lega karena sudah memberitahu Lorenzo lalu keputusan berada di tangan Lorenzo mau dipercaya atau tidak semua adalah tergantung kepadanya.


"Elisa? Hamil? Apa maksudmu?" tanya Lorenzo kebingungan, namun beberapa saat setelahnya dia mengingat kejadian yang membuatnya mengambil kesucian seorang wanita secara tidak sadar. Argh, pikirnya sambil memegang kedua pelipis kepalanya.


"Baiklah aku mengerti," sambungnya.


"J-jadi saya harus bagaimana?" tanya Elisa.


"Aku akan memikirkannya, untuk beberapa hari ke depan kau bisa menghubungiku jika ada sesuatu dan tunggu aku," jelasnya.


"Baiklah tuan terima kasih," jawab Elisa, lalu langsung di tutup sepihak oleh Lorenzo.


"Haa sesuatu? Apa dia ingin tahu kabarku?" monolog Elisa sambil melihat layar digitalnya yang menampilkan nama Tuan Lorenzo.


"Kenapa. Padahal aku tidak berharap sama sekali, tapi dia menyuruhku untuk menunggunya."


Ucap Elisa sambil menerawang langit-langit rumah mencari sebuah kebenaran di atasnya.


"Elisa percayakan semua kepadanya, nenek yakin dia laki-laki yang bertanggung jawab dengan ucapannya," ucap nenek yang datang sedari tadi mendengarkan obrolan Elisa dan Lorenzo, sebenamya nenek tidak bemiat menguping namun Alexa memilih untuk menyuruh nenek untuk tenang dulu.


"Nenek...," lalu Elisa langsung memeluk nenek angkatnya itu dengan erat.


"Sudahlah nak kami di sini akan selalu mendukung setiap keputusanmu, apapun demi kebaikanmu dan calon anakmu."


Lalu setelah beberapa jam mereka duduk dan membicarakan masalah ke depannya.


Elioztan Group


"Apa ini? Kerjaanmu tidak sesuai ekspektasiku!!"


"KELUAR," bentak seseorang di dalam ruangan.


"Sial dasar, dapat manager tidak becus," ucapnya.


"Maaf tuan, sa-saya akan memperbaikinya. Saya permisi," balas seorang manager dengan nada gemetar dan pergi meninggalkan ruangan yang di lihat oleh Stefan.


Beberapa saat setelah itu Stefan masuk dan membereskan barang-barang yang berjatuhan.


"Tuan ada apa dengan anda? Sudah tiga hari anda bersikap seperti ini," ucap Stefan sambil memunguti barang.


"Tidak, aku biasa saja," balas Lorenzo.


"Jika ada yang anda butuhkan, anda bisa memanggil saya. Kalau begitu saya permisi tuan."


Baru saja Stefan ingin membawa dokumen di atas meja Lorenzo bersuara kembali.


"Hah Stefan apa kau bisa membantuku."

__ADS_1


"Bantuan apa tuan? Saya bisa membantu untuk anda apapun," balasnya.


Lalu Lorenzo menceritakan semua hal yang terjadi, Stefan hanya mengangguk paham karena dia memang sudah tahu cerita lengkapnya lewat pihak hotel dan beberapa intel lainnya. Inilah alasan kenapa Lorenzo menjadikan Stefan sebagai sekretaris nya karena Stefan adalah orang yang cekatan.


"Jadi... anda ingin saya memberikan saran?" tanya Stefan.


"Benar, apa kau memiliki saran yang bagus?" Lorenzo malah bertanya balik.


"Menurut informasi yang saya kumpulkan nona Elisa memiliki pacar dan sekarang sedang berada di Belanda, dia sama sekali tidak mengetahui kejadian yang terjadi dengan nona Elisa. Saran saya anda harus segera menikahinya agar anak yang nona kandung bisa menjadi anak resmi anda pula."


Jelas Stefan.


"Hmm, benarkah begitu?"


"Benar tuan, itu adalah hukum di negara ini," balas Stefan mengiyakan pertanyaan ragu Lorenzo.


"Baiklah besok atur waktu kerjaku, aku akan mengunjunginya besok dan berbicara dengannya," ucap Lorenzo sambil berdiri dan menuju ke arah garasi mobil pribadinya di dalam kantor.


"Baiklah tuan," Stefan sambil menunduk hormat kepada Lorenzo.


Satu hari setelah Alexa kembali ke kota untuk melanjutkan pekerjaannya, tepat pukul tiga sore handphone Elisa bergetar beberapa kali, karena dia menganggap itu hanya notifikasi biasa jadi tidak dibukanya.


Ketika Elisa kesal dan membuka layar handphone nya, seketika dia terkejut karena melihat banyak panggilan tidak terjawab dengan nama kontak Tuan Lorenzo.


Drrt drrt


Getaran panggilan kembali terdengar Elisa pun segera menerima panggilan itu.


"Ha-halo," sapa Elisa gemetar karena takut dibentak lagi oleh Lorenzo.


"Aku akan ke sana malam ini," balas Lorenzo.


"Ke sana? Maksud anda ke rumah saya?"


"Benar, aku akan menjemputmu dan akan bertemu dengan keluargamu," ulangnya pada Elisa untuk memperjelas tujuannya.


"Dasar, kalau memang kau tidak mengerti. Kau hanya perlu menunggu malam, aku yang akan mengurus semuanya." Balas Lorenzo dengan nada sedikit kesal.


Ya sudah selain tidak mengerti aku juga tidak bisa melakukan apapun, tidak perlu bicara seperti itu juga kali.


"Kalau begitu saya tunggu kedatangan tuan," ucap Elisa sambil berdiri dan bersiap-siap membereskan rumah.


"Lorenzo."


"I-iya apa tuan?" jawab Elisa memastikan.


"Panggil aku Lorenzo, aku memiliki nama bukan tuan." Balas nya.


"lya Lo-lorenzo."


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" pertanyaan Lorenzo terasa basi di telinga Elisa karena dia menanyakan kabar dengan memakai kosakata yang berbeda.


"Kabarku baik dan dirinya yang berada di dalam perutku juga baik, tidak ada yang terjadi," ucapnya.


"Oh, baiklah. Kalau begitu kita akhiri dulu pembicaraan ini malam pukul tujuh aku akan ke rumahmu."


"Baiklah."


Pukul tujuh malam.


Tok tok tok.


Bunyi suara ketukan Pintu lalu Elisa membuka


Pintu dan mendapati seorag laki-laki menggunakan jaket biru tua.


"Siapa ya?" tanya Elisa kebingungan Elisa berpikir mungkin dia wisatawan yang salah alamat atau daerah karena wajahnya sangat tidak familiar di matanya.


"Apa kau tidak menyuruhku masuk dulu?" bukan menjawab pria itu malah bertanya balik.

__ADS_1


Elisa terkejut dan langsung mengenali suara itu lalu menyuruhnya masuk dan membuatkannya teh.


"lni," ucapnya sambil meletakkan teh yang sudah dibuatnya.


"Dan siapa anda?" ulang Elisa dengan pertanyaan yang sama.


"Haaa" menghela napas panjang pria itu. "Lorenzo." lanjutnya.


"Apa? Tuan Lorenzo?" ucapnya tidak percaya.


"Kenapa...," belum sempat melanjutkan ucapannya nenek keluar dari kamar dan memotong pembicaraan mereka.


"Nak siapa dia?" tanyanya.


"Saya Lorenzo Elio, saya kesini untuk melamar cucu anda. Anda pasti sudah tahu apa yang terjadi, jadi biarkan saya menikah dan bertanggung jawab apa yang sudah saya lakukan," sahut nya.


"Jadi benar nak Lorenzo akan menikahi Elisa?"


"Benar."


Elisa yang mendengar tertegun sendiri dengan apa yang didengarnya. Tidak, sebenarnya Elisa sama sekali tidak memikirkan akan sampai menikah.


"Kalau begitu apa anda mengizinkan saya untuk menjemput cucu anda dan menikahinya?" sambung Lorenzo.


"Boleh nak aku memberikan restuku, lagi pula ini adalah hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang. Lalu bagaimana denganmu Elisa apa kamu setuju?" tanya Nenek.


"Ehmm a-aku...," tertunduk ragu Elisa menjawab karena ini sangat mendadak bahkan Elisa tidak mengenal siapa Lorenzo ini.


"Elisa," panggil Lorenzo. Elisa pun mengangkat kepalanya dan melihat sepasang mata menatapnya lekat.


"Apa kau mau menikah denganku, Elisa?" lanjut Lorenzo.


Elisa menjawabnya tapi masih dengan perasaan ragu tapi setidaknya dengan lamaran ini Elisa sudah memiliki modal untuk percaya kepada Lorenzo. "Iya saya mau menikah dengan tuan."


"Maafkan saya sebelumnya karena datang tiba-tiba dan tidak sopan seperti ini," ucap Lorenzo menghadap nenek lalu menundukkan kepala. "Anda bisa ikut kami dan menghadiri acara pernikahan, saya akan menyiapkan semuanya."


"Nak..Lorenzo tidak apa-apa saya sudah merasa senang bahwa kamu mau menikahi Elisa dan mulai sekarang panggil saja saya Nenek karena kamu juga akan menjadi cucu saya," sambil menoleh ke arah Elisa dan bergantian ke arah Lorenzo.


"Lalu aku juga tidak bisa mengikuti kalian ke Roma, adik Elisa masih bersekolah disini kamu bisa mengajak Alexa untuk menggantikan aku, benar kan Elisa?" balas nenek.


Lorenzo pun menoleh ke Elisa. "Siapa Alexa?"


"Dia temanku," Lorenzo mengangguk mengerti.


"Baiklah akan aku undang," Lorenzo pun melihat ke arah jam tangannya. "Hm sepertinya kita harus pergi Elisa."


"Apa? Sekarang?" Lorenzo mengangguk.


"Elisa cepat bereskan barang-barangmu, kau akan menikah bukan?"


"Tapi nenek ini terlalu cepat."


"Tidak. Ini waktu yang tepat."


"Baiklah nek," Elisa berdiri ingin membawa pakaiannya tapi tangan Lorenzo mencegahnya.


"Tidak perlu," shut Lorenzo.


"Cucu anda hanya perlu ikut denganku, semua perlengkapannya sudah aku siapkan di sana."


"Begitukah? Itu sangat bagus, Elisa sekarang kamu harus meninggalkan tempat terkucil ini kamu akan memiliki suami yang baik nak."


"Aku percayakan Elisa kepadamu," ucap nenek kepada Lorenzo.


Mereka berdua pun berpamitan dan memasuki sebuah mobil putih yang khusus Lorenzo yang menyetir.


"Duduk di sampingku," ucapnya lalu Elisa menurutinya dan masuk ke dalam mobil


Haloo para pembaca selamat membaca yaa enjoyy nantikan kisah-kisah selanjutnya❤❤

__ADS_1


__ADS_2