Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Kehidupan Pribadi Stefan


__ADS_3

Setelah memastikan Tuan dan Nonanya masuk ke dalam ruangan di hotel, Stefan keluar dan masuk ke dalam mobil lalu menyusuri jalan malam kota Roma menuju apartemennya di sebuah komplek elit, tidak jauh dari pintu masuk komplek, apartemen Stefan berada di posisi paling depan. Ya menjadi sekretaris Elioztan Group tentu membuat Stefan layak dan mampu membeli apartemen VIP yang harganya tidak seberapa dengan gajinya.


Stefan memarkirkan mobilnya di depan dan berjalan masuk ke dalam apartemen yang besar dan luas itu. Dan tentunya hanya ditinggali oleh dia sendiri.


"Sepertinya masih sempat ke sana," ucapnya sambil melihat jam dinding yang menuju angka 20.45.


Ia pun melepas jas nya lalu mengambil bathrobe dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai ia memakai pakaian casual baju kaos dan celana drawstring putih. Lalu ia mengambil dan memakai jaket biru tua.


Ia menaiki mobilnya lalu pergi menuju perpustakaan ibu kota. Setelah sampai seperti biasa ia duduk di meja paling belakang dan mengeluarkan IPad.


Lalu ia mencari beberapa buku yang akan dibacanya, kenapa tidak ada yang mengambilkan dia buku atau mencarikannya? Stefan sengaja menyembunyikan identitasnya sehingga di sini ia bisa menjadi orang biasa pada umumnya.


"Hah berat sekali," ucap gadis yang tidak sengaja menghempaskan buku-buku tebal di depan Stefan. Ia pun menoleh.


"Oh selamat malam tuan maaf menganggu anda, apa boleh saya duduk di sini? Soalnya saya juga suka duduk di belakang," tanyanya sambil menunjuk kursi yang ada di depan Stefan.


Stefan mengangguk. "Ya."


Tuan ini mencurigakan apa dia ada masalah sosial? Pikir wanita itu.


Stefan berjalan untuk membeli kopi di loket depan dan meninggalkan barangnya.


"Tuan anda tidak khawatir barang anda dicuri?" sahut wanita itu. "Anda sepertinya sangat mudah meninggalkan barang anda sendiri ya?"


Stefan menoleh. "Jika kau ingin mengambilnya, ambil saja. Aku bisa menemukanmu dengan mudah," dia pun berjalan pergi keluar untuk membeli kopi.


"Memang siapa dia berani bicara seperti itu? Padahal aku hanya mengingatkannya saja. Arrgh pekerjaanku saja belum selesai dasar dokumen-dokumen sialan!" sebagai salah satu dari anggota intel negara Victoria atau Tori selalu menyembunyikan identitasnya dengan berpenampilan biasa seperti mahasiswi yang di kejar deadline tugas.


Stefan datang membawa dua kopi dan tiga roti coklat. Lalu diletakkannya di atas meja.


Lalu dia melirik Tori yang membaca tumpukan dokumen berisi informasi yang sudah dia kumpulkan.


"Sepertinya anda sangat sibuk hingga membiarkan orang lain membaca ini," menunjukkan kertas yang berlogo badan intel negara.


"Aaaa kemarikan," ditarik langsung oleh Tori.


"Hei nona penguntit," panggil Stefan.


Apa katanya?

__ADS_1


"Maaf tuan nama saya Victoria Moretti- eh," langsung menutup mulutnya.


"Nona mana ada anggota intel yang memberitahu nama aslinya?" tersenyum picik Stefan sambil membaca bukunya. "Apa anda tidak diberitahu senior anda saat pelatihan?" Lalu ia merapikan buku-buku dan barang yang di bawanya.


"Nona penguntit aku tidak bisa menghabiskan makananku jadi untuk kau saja," Stefan pergi meninggalkan Tori yang mengerutkan dahinya hingga alisnya bertemu.


"Kurasa dia memang punya penyakit sosial. Lihat saja dirinya pertama kali bertemu sudah memanggil orang seperti itu," ucapnya tapi membuka roti yang dibeli Stefan tadi. "Tapi terima kasih untuk kopi dan rotinya...," ucapnya kecil sambil menoleh ke arah Stefa yang sudah melewati pintu perpustakaan.


"Tapi serius deh sumpah kalau bertemu lagi dengannya akan aku panggil tuan penyakit sosial," walau Tori berkata seperti itu dia masih saja meminum kopi dan memakan roti dari Stefan.


...----------------...


Stefan yang mengendarai mobil dan memecah keheningan malam pergi ke sebuah restoran langganannya.


"Selamat malam sekretaris Stefan bagaimana harimu?" tanya Mark seorang koki yang merupakan anak pak Sam.


"Seperti biasa ya," ucapnya lalu duduk di meja samping bartender.


"Baru dari perpustakaan?" tanyanya, Stefan mengangguk. "Tumben cepat sekali tidak seperti biasanya kau selalu datang tengah malam," sambil memasak menu yang sering Stefan makan.


"Bisakah kau tidak cerewet?" menulis dan membaca buku online di IPad.


"Ada seorang penguntit," Mark terkejut.


"Apa? Siapa yang menguntitmu?" Siapa juga orang yang berani menguntit sekretaris mencurigakan ini? Dia saja tidak berani mampir ke apartemennya jika dia tidak membalas pesan. Pikir Mark tapi bukan seperti itu maksud kata 'penguntit' menurut Stefan.


Mark memberikan makanan yang sudah masak dan minuman lalu duduk di depan Stefan. Ia tidak akan menutup restoran sebelum Stefan datang karena dia tahu pria itu sendirian di apartemennya yang luas dan tidak ada teman bicara setelah melakukan pekerjaan seharian. Bisa dibilang Mark adalah teman bicara (sepihak) Stefan.


Stefan pun memberikan kunci mobilnya kepada Mark. Dia bingung. "Ada apa," tanyanya sambil mengambil kunci mobil Stefan.


"Aku membawakan beberapa barang untuk anakmu ambilah di mobilku," balas Stefan karena Mark memiliki anak kembar yang sudah memasuki sekolah dasar. Diapun mengangguk dan berjalan menuju keluar lalu membuka bagasi belakang mobil.


Walau Stefan memiliki sikap yang tidak dapat ditebak dan selalu mengeluarkan aura suram tapi ada suatu hal yang tidak diketahui orang lain.


"Hei bisakah kau menolongku?" sahut Mark dari luar.


"Kau ambil setenghnya saja, lalu selain di paper bag itu kau berikan saja pada pegawaimu," saat di perjalanan tadi Stefan menemukan pedagang di pinggir taman yang jualannya masih belum habis ada keripik, cake mini dan buah. Beberapa saat yang lalu.


"Tolong hitung semua harganya," ucap Stefan setelah turun dari mobil.

__ADS_1


"A-anda yakin Tuan?" tanya penjual itu.


Stefan mengangguk. Wanita paruh baya itu pun memberitahu total semua barangnya dan Stefan memberikan uang di dalam sebuah plastik.


"Tuan ini terlalu banyak," pedagang itu mengambil dua lembar uang dan ingin mengembalikan sisanya tapi Stefan sudah mengendarai mobilnya.


"Terima kasih tuan... semoga dirimu selalu dilimpahkan kebahagian, sehat selalu... selalu bahagia," teriak wanita itu sambil menangis, Stefan yang mendengarnya tersenyum. Itulah kejadian sebelum dia datang ke restoran Mark.


"Baiklah berhubung para pegawaiku sudah pulang sepertinya ini masih bisa di makan, akan kusimpan di lemari pendingin," ucapnya lalu berjalan masuk ke dapur dalam.


Stefan sudah selesai dengan makannya dan meletakkan sejumlah uang lebih, lalu ia beranjak pergi. "Aku pulang," ucapnya. Mark yang masih belum selesai memasukkan camilan yang di bawa Stefan menyembulkan kepalanya. "Iya hati-hati di jalan."


Padahal Mark sudah berkali-kali bilang kepadanya untuk tidak perlu membayar, selain karena ia merasa Stefan tidak ada tempat pulang karena Ibunya tinggal di daerah lain Stefan juga sering membawakan bermacam-macam hal untuk anaknya.


...----------------...


Sampainya di apartemen Stefan mandi lagi dan membuat sebuah smoothie sebelum pergi ke tempat tidur, ia menikmati minumannya dulu sampai habis.


Siapa sangka sekretaris Stefan yang dicap sebagai sifatnya Lorenzo bahkan dimiripkan dari Lorenzo itu sendiri.


Setelah menghabiskan minumannya Stefan menuju kamarnya dan melepaskan bathrobe sehingga dia hanya mengenakan celana pendek saat tidur.


Ting


Suara pesan berbunyi dan muncul sebuah chat di layar notifikasi.


Steve sudah berapa kali kau menolak kencan buta? Apa kau ingin Ibu mati sebelum melihatmu berumah tangga. Kali ini Ibu tidak menerima penolakan. Bahkan tuan Lorenzo saja sudah menikah kau sendiri kan yang mengurusnya?


Stefan menghela napas panjang.


Ibu sudah kubilang aku tidak mau.


Ayolah Steve ibumu sudah tuan kau satu-satunya anakku bagaimana jika aku mati sebelum melihatmu bahagia?


Haa iya-iya. Sekali ini saja aku menuruti Ibu.


Stefan pun mematikan hp nya dan mematikan lampu lalu ia tidur.


Saat alarm berbunyi menunjukkan pukul 05.00 pagi dia bangun mencuci muka lalu berlari pagi di sekitar komplek apartemen yang beberapa kilometer dilewatinya. Setelah olahraga pagi ia pun mandi dan bersiap menjemput Lorenzo.

__ADS_1


Haii semuaa terima kasih sudah membaca❤🤍


__ADS_2