Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Museum Kenangan


__ADS_3

Entah sejak kapan ini terjadi, pagi ini Lorenzo dan Elisa melihat mansion agak ramai. Di meja makan terlihat Ayah dan Ibu sudah duduk menunggu ditambah Clarenza yang tampak sangat akrab duduk bersebelahan.


"Selamat pagi," ucap Elisa.


"Selamat pagi juga Elisa," balas Carl dan yang lain. Lalu mereka duduk dan menikmati sarapan pagi. Ini situasi yang sangat langkah di mana meja makan terlihat ramai dan ini momen di mana keluarga bisa berkumpul.


"Paman," panggil Clarenza. "Mulai hari ini aku dan Lea akan pergi bersama ke kampus, ya kan Lea?"


Lea mengangguk. "Iya benar."


"Ya baguslah, sopir akan mengantar kalian."


Lea menatap Clarenza. "Tidak Paman, kami ingin naik bus sendiri."


"Walaupun begitu kalian harus berhati-hati ya, Ren, Lea. Kalian masih muda, Pak Sam akan memberikan jam khusus untuk kalian. Jika ada sesuatu yang terjadi maka kami bisa langsung tahu," menatap Clarenza dan Lea bergantian. "Jangan pernah dilepas oke?"


Mereka berdua mengangguk.


Lorenzo sudah selesai dengan makannya dan berdiri. "Jangan lupa dengan jam pulang kalian, jangan sampai lewat," ucapnya lalu pergi.


"Haa putramu itu padahal dia peduli dengan kalian berdua tapi tidak bisa jujur," sahut Elena.


Elisa yang masih duduk di meja makan sedikit menundukkan kepala dengan senyum tipis. Mulai hari ini sampai satu minggu ke depan Elioztan Group memberlakukan libur, karena musim salju awal yang berpotensi badai. Oleh karena itu Elisa memilih untuk duduk sedikit lebih lama karena ia rindu dengan suasana seperti ini dan masih ingin bersama dan mengobrol dengan Ayah dan Ibu. Sedangkan Lorenzo pergi ke ruang gym.


"Paman, aku dan Lea ingin pergi dulu ke kampus," ucap Clarenza.


"Apa universitas tidak libur awal semester? Kan biasanya seperti itu," sahut Elena sambil memoleskan selai di atas roti. "Ini Elisa makanlah," menyuguhkan di depan Elisa.


"Ah hm terima kasih Ibu," balasnya.


Lea melirik Clarenza lalu ia mengangguk. "Saat ini universitas akan memberikan kata sambutan untuk mahasiswa baru, mungkin tidak sampai 4 jam Nyonya."


"Jadi begitu...hmm kalian ingin menaiki bus ya?" Lea dan Clarenza mengangguk.


"Kalian boleh naik bus saat musim lain, Clarenza kau bisa mengendarai mobil kan?"


"Ya bisa sih, aku juga sudah dapat SIM."


"Pergilah bersama Lea dengan mobil milikku, modelnya tinggi jadi tidak akan sulit jika kau melewati jalan bersalju."

__ADS_1


"Tidak Nyonya, saya pasti merepotkan anda," sahut Lea.


Elena menggelengkan kepala. "Kalian pergi ke tempat untuk menimba ilmu kan? Lalu aku tidak keberatan meminjamkan satu mobil untuk dua gadis yang baru keluar dari sangkar burung. Pergilah," tegasnya.


Clarenza menoleh Lea dan mereka mengangguk. "Terima kasih! Kami pergi dulu," ucap mereka berdua.


"Ele kau memang wanita keren yang tidak berubah," ucap Carl.


Elena memejamkan mata. "Wanita yang terhormat adalah wanita yang mendukung wanita lain untuk berkembang."


Pemandangan yang jarang dilihat Elisa membuatnya terpukau, bagaimana bisa Ibu yang terlihat dingin ini bisa mengeluarkan kata-kata keren, sesuai dengan zamannya pula.


"Elisa," panggil Carl lalu ia menoleh. "Aku dan Ele sudah selesai sarapan, apa kau masih ingin duduk di sini?"


"Sepertinya saya akan menyusul Lorenzo saja Ayah."


"Baiklah kami pergi dulu." Elisa menganggukkan kepala lalu setelah mereka berdua tak terlihat Elisa berdiri dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman protein Lorenzo tapi sepertinya itu sudah diambilnya, karena tidak ada kotaknya di lemari makanan.


Elisa segera berjalan menuju ruang gym, sampainya di sana ia duduk melamun memperhatikan Lorenzo yang tetap melakukan aktivitas fisik walau cuaca sedang turun drastis.


"Ada apa?" Elisa mendongak dan sudah melihat Lorenzo di depannya sambil menunduk.


Lalu Lorenzo duduk di sampingnya. "Apa ada yang mengganjal dipikiranmu? Kau bisa mengatakannya padaku."


Elisa menoleh dan menatap Lorenzo. "Sudah beberapa kali saya menanyakan tentang di mana Tori tapi anda selalu menjawab jika dia sedang bekerja dengan sekretaris Stefan. Jika memang dia sedang bersama sekretaris Stefan setidaknya dia memberitahu saya. Tapi sepertinya saya memang tidak diperbolehkan untuk tahu ya." Elisa berdiri dari duduknya dan ingin pergi.


"Elisa bukan seperti itu." Lorenzo mencoba menghentikan Elisa tapi ia pergi dengan tersenyum hampa.


...----------------...


Elisa keluar mansion dan pergi ke arah taman yang ditutupi oleh salju dia duduk di kursi teras dan melihat hp miliknya. Ada pemberitahuan dari grub toko miliknya bahwa mereka sangat berterima kasih pada Elisa karena memberikan libur sementara karena badai salju dengan mengirim foto masing-masing dari mereka yang sedang menghangatkan diri di depan api unggun, Sofia. Lalu di dalam kamar dengan memakai sweater dan selimut tebal, Rufina dan Livia yang sedang mengerjakan tugas kuliah di perpustakaan universitas dengan jaket yang sangat tebal dan besar.


"Nona kami sangat menikmati libur dingin kami!" pesan Sofia.


"Kak, sepertinya hanya aku yang sedang menderita dan mendapatkan dosen pembimbing yang liar." Livia dengan emoji tersenyum sabar.


"Aku ingin melanjutkan tidurku!" balas Rufina.


Elisa yang membaca pesan mereka sedikit terhibur karena ia merasa lega jika pegawai di tokonya sudah merasa nyaman dan tidak saling canggung lagi.

__ADS_1


"Selamat berlibur untuk kalian semua," balas Elisa.


Setelah agak lama duduk di luar udara juga sangat dingin Elisa masuk ke mansion dan pergi ke aula karya seni yang sangat luas, Elisa dapat melihat karya-karya yang sangat indah bahkan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lalu ia melihat sebuah lukisan anak remaja laki-laki yang sedang duduk di sebuah batu besar yang dikelilingi domba.


Ini Lorenzo, ternyata dia seperti ini saat muda. Dia memang tampan sejak kecil.


Lalu Elisa berjalan lagi dan melihat foto pernikahannya dan Lorenzo, setelah diperhatikan lagi di sebelahnya ada foto pernikahan Ayah dan Kakek-Kakek Lorenzo sebelumnya.


Setelah merasa cukup melihat-lihat dan Elisa sendiri sudah merasa tenang ia memutuskan untuk kembali ke kamar.


Di dalam kamar Elisa melihat Lorenzo duduk di sofa sambil meminum teh hangat. Elisa berjalan pelan.


"Elisa, duduklah." Lorenzo menoleh Elisa lalu dia mengangguk dan duduk di depan Lorenzo.


"Untuk soal tadi aku bisa menjelaskannya." Elisa diam hanya mendengarkan. "Tapi kau harus tenang dan jangan panik kau janji?"


"Ada apa Tuan, apa yang terjadi pada Tori?"


Lorenzo memejamkan matanya dan menghela napas. "Dia sedang dirawat di rumah sakit kota."


"Apa? Kenapa? Tori sakit apa?" Elisa cemas. "Aku akan mengunjunginya."


"Elisa ingat perkataanku tadi? Tenang. Victoria sendiri yang tidak ingin kau mengetahui hal ini."


Elisa diam tidak menjawab.


"Aku akan mengajakmu saat cuaca sudah mereda bagaimana?" tawar Lorenzo.


"Anda janji?"


Lorenzo mengangguk.


"Lalu Tuan." Lorenzo kembali menatap Elisa. "Tadi saya ke aula karya seni dan melihat lukisan anak laki-laki di atas batu yang mirip anda, apa itu benar anda?"


Lorenzo terkejut. "Ba-bagaimana kau menemukannya?"


"Saya menemukannya karena lukisan anda terlihat kecil?"


"A-apa kecil!? Haa." Lorenzo memegang kedua pelipisnya menahan malu.

__ADS_1


Halo semua selamat membaca ya!😁❤


__ADS_2