Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Teman Seumuran


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit kota, Stefan langsung memapah Tori berjalan menuju ruang VIP yang sudah disediakan Lorenzo.


Tori pun langsung berbaring saat dokter datang dan segera memeriksanya. "Syukurlah anda ditangani dengan cepat, jika tidak anda bisa terkena anemia berkala karena kehilangan banyak darah dan keadaan lebih buruknya anda harus menerima transfusi darah."


Dokter itu berbicara sambil memeriksa bagian tubuh Tori lainnya, apakah terkena luka koyak lagi atau tidak. "Nona Victoria anda beruntung Tuan Stefan dengan sigap membawa anda ke rumah sakit. Untuk sementara anda istirahatlah dulu, saya akan memeriksa resep obat anda dari rumah sakit yang lama terlebih dahulu. Kalau begitu saya permisi," lalu dokter itu pergi.


"Apa anda akan terus di sini," ucap Tori lalu Stefan menoleh.


"Apa?"


"Bukankah anda harus kembali bekerja? Sudah tiga hari kita pergi dari Tuan dan Nona."


Stefan diam, karena ia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Tori membuatnya enggan pergi meninggalkan wanita dengan luka tembak di lengannya, apa lagi wanita ini dengan santainya bercerita tentang pengalamannya yang sudah biasa mendapat luka tembak seperti itu. Entah apa lagi yang akan dilakukannya di masa mendatang.


"Tuan Lorenzo memberikanku izin agar aku bisa beristirahat dan pergi ke mana pun."


"Pergi ke mana pun maksud anda itu adalah menemani saya kan?" goda Tori.


"Ck," decak Stefan.


Haa apa, apa? Kenapa kau kesal? Marah? Haha.


"Sebentar, jika saya di sini dan sedang dirawat. Yang menjaga Nona siapa?!" teriak Tori.


"Tutup mulutmu itu, berisik sekali. Nona dijaga sendiri oleh Tuan."


"Maksud anda?" tanya Tori lagi.


"Tuan akan mengajak Nona Elisa ke mana pun dia pergi tidak terkecuali."


Tori menghela napas. "Haa, mendengarnya saja aku bisa merasakan bahwa Nona merasa sangat bosan."


Mata Stefan langsung menatap Tori seperti isyarat berhentilah berbicara atau kau ingin aku yang mengunci mulutmu dengan kunci panas? Tori langsung berhenti berbicara saat melihat ekspresi Stefan.


Dasar kau memang pria yang susah ditebak!


"Jadi anda benar-benar akan menemani saya seharian di sini?"


"Hah, kau sepertinya ingin sekali aku pergi," melirik dengan tatapan tajam.


"Ahaha mana mungkin saya berpikiran seperti itu, anda sudah sangat banyak membantu saya."


Stefan tidak menjawab dan pindah duduk menghadap balkon yang memperlihatkan hujan salju yang lebat.


----------------


Sementara seperti kemarin-kemarin setelah kejadian itu Elisa tetap mengikuti Lorenzo ke mana pun dia pergi, terkadang ada situasi di mana Lorenzo menyuruh Elisa untuk tetap di ruang kerjanya yang hangat, karena di luar ruangan sangat dingin.


Elisa membuka hp miliknya dan melihat tanggal. Sudah hampir satu minggu ia selalu ke sini.


"Apa ada yang disembunyikan Tuan Lorenzo dariku? Di mana Tori?"


Sejak kemarin Elisa menghubungi hp Tori namun tidak ada jawaban, bagaimana bisa Tori menjawabnya sedangkan hp miliknya berada di kamar para pegawai di mansion sendiri.


Sesaat setelahnya Lorenzo kembali dari rapatnya dan terlihat sangat lelah. Ia berjalan ke arah Elisa dan merebahkan dirinya di atas sofa bed.

__ADS_1


"Tuan anda baik-baik saja?" tanya Elisa melihat Lorenzo menutup matanya dengan sebelah lengan.


"Elisa...," lirihnya.


"Iya Tuan ada apa?"


"Apa kau tidak merasa letih bersamaku?"


Kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini?


"Apa maksud anda Tuan?" Elisa menatap Lorenzo yang sudah duduk di sampingnya.


"Lupakan, aku akan mengambil teh dulu." Lorenzo berdiri dan berjalan menuju pintu tapi langkahnya terhenti saat Elisa berbicara.


"Tuan!" panggilnya sehingga membuat Lorenzo menoleh. "Saya sama sekali tidak pernah merasa letih saat bersama anda kapan pun itu."


Lorenzo menatap Elisa dengan jarak lalu berbalik lagi menuju pintu keluar tidak ia sadari telah menyungging senyum.


----------------


Setelah beberapa hari sampai di Roma dan menginap di sebuah hotel dengan kampus Clarenza berencana untuk datang ke mansion hari ini, karena ia telah mengurus semua dokumen yang diperlukan.


Saat ini Clarenza sudah berdiri di depan pintu depan dan disambut oleh para penjaga.


"Selamat siang Nona Clarenza," ia hanya mengangguk dan tersenyum sambil membawa koper dan masuk ke dalam mansion.


"Di mana semua orang? Tempat ini sunyi sekali," berjalan masuk lagi hingga sampai ruang keluarga.


"Ren!" panggil Carl yang lagi menonton tv.


"Halo Paman!" Clarenza meletakkan koper dan berjalan cepat lalu memeluk Carl. "Apa kabar Paman? Di mana Bibi Elena mansion ini sepi sekali," menoleh ke kamar Lorenzo dan Elisa.


Clarenza tertawa. "Syukurlah Kak Renzo sudah mulai berubah," berdiri dari duduknya. "Paman saya ke kamar dulu ya."


Carl mengangguk. "Pergilah."


Lalu Clarenza naik ke lantai dua menuju kamar yang biasa dia gunakan saat di mansion. Setelah memindahkan semua barang yang ada di koper ia berjalan ke ruang keluarga lagi dan duduk di sebelah Carl.


"Bagaimana kuliahmu? Lancar?" tanyanya.


"Paman, semuanya sangat lancar. Lalu aku juga mendapatkan banyak teman yang macam-macam sifatnya walaupun ada beberapa yang agak membuatku kesal. Tapi kuharap aku bisa menambah wawasan di sana."


"Iya, belajarlah yang rajin Ren," mengelus kepala Clarenza. "Ngomong-ngomong soal teman, adik perempuan Elisa juga kuliah di sini dan tinggal di rumah sebelah. Kau bisa mengunjunginya mungkin kalian bisa berteman."


Clarenza terkejut. "Apa?! Adik Kak Elisa?"


Carl mengangguk.


"Perempuan dan seumuran denganku?"


"Iya," balas Carl lalu Clarenza langsung berdiri.


"Paman ini kenapa tidak memberitahu info penting ini dari awal, aku pergi dulu ke rumah sebelah dah Paman," dengan cepat Clarenza meninggalkan ruang keluarga hingga sudah tidak terlihat wujudnya.


Carl hanya menggelengkan kepalanya. "Kekuatan anak muda itu memang singkat," ucapnya sambil mengenang masa lalu saat ia seumuran Clarenza yang dulunya sangat berbeda 360 derajat seperti sekarang, sifatnya 11 12 dari Lorenzo hanya saja dulu tidak sepintar Lorenzo dalam hitung-menghitung.

__ADS_1


----------------


Sementara Clarenza berjalan menuju rumah sebelah dengan sweater tebal dan sepatu boots membelah setiap salju yang menutupi jalannya.


Ting


Bunyi suara bel.


Lea yang sedang tiduran di kamarnya pun berjalan sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu ia melihat ke dalam lubang intip pintu dan melihat seorang gadis yang tidak dikenalnya, penuh dengan salju.


"Siapa ya?" tanya Lea dari dalam dengan mic yang terhubung dengan luar.


"Halo saya Clarenza, kamu adik Kak Elisa kan?" mendengar itu Lea sedikit membuka pintu untuk memastikan ia melihat seorang gadis cantik seumuran dengannya sedang tersenyum kepadanya.


"Ah silakan masuk dulu." Lea membukakan pintu lalu Clarenza masuk.


"Ini minum dulu," meletakkan segelas teh hangat.


"Terima kasih," lalu Clarenza pun meminumnya. Ada sedikit jeda di antara mereka sampai Clarenza kembali berbicara. "Kamu pasti bingung kan aku tiba-tiba datang?" melihat ekspresi canggung Lea.


"Maaf ya, aku datang seperti ini."


Lea menggeleng. "Ah tidak apa-apa."


"Aku Clarenza Elio, salam kenal ya," menjulurkan tangan.


Ah Elio?


Lea langsung menyambut jabat tangan Clarenza. "Salam kenal Nona Clarenza saya Lea."


"Panggil Ren saja Lea, kau kan adik Kak Elisa aku adik sepupu Kak Renzo jadi kita sudah seperti saudara kan?" tersenyum. "Aku ke sini karena Paman Carl memberitahuku bahwa adik Kak Elisa juga kuliah di kota ini dan tinggal di rumah sebelah jadi aku sangat antusias dan langsung kemari."


Lea mendengarkan.


"Iya kamu benar, aku baru saja lulus di universitas kota. Lalu Tuan Lorenzo menyuruhku untuk tinggal di sini agar lebih aman dan dia bisa menjagaku."


"Benarkah? Universitas kota?" Lea mengangguk.


Clarenza memegang kedua bahu Lea. "Aku juga!" ucapnya heboh. "Jangan-jangan kita memang ditakdirkan untuk bertemu lalu berteman Lea. Ayo kita semangat sebagai mahasiswa baru."


"Haha iya semangat!" balas Lea.


"Kalau seperti itu bagaimana jika pergi bersama saja saat ke kampus? Itu lebih baik dari pada kita pergi sendiri-sendiri."


Lea mengangguk. "Boleh juga, tapi aku pergi naik bus Ren. Aku tidak ingin menyusahkan Tuan Lorenzo lagi."


"Tidak apa-apa, kita akan memulai berpetualang bersama Lea. Oh ya apa boleh aku sering datang ke sini saat bosan atau kita mengerjakan tugas bersama-sama? Ya walaupun kita berbeda jurusan bukankah lebih baik jika belajar dengan teman?"


"Iya! Tidak apa-apa Ren, aku juga kadang merasa bosan sendirian. Kamu bisa datang kapan pun yang kamu mau."


"Baiklah, lalu bagaimana jika kita nonton bareng? Cuaca sangat dingin lagi pula kampus kita baru memulai orientasi saat awal tahun kan?"


Lea mengangguk. "Kita nonton di kamarku saja. Lihat aku sangat kedinginan di sini," memperlihatkan dirinya yang berselimut tebal.


"Ahahaha benar! Dingin sekali. Ayo, aku punya daftar film bagus."

__ADS_1


Begitulah perkenalan singkat Clarenza dan Lea, mungkin karena mereka sama-sama remaja yang seumuran dengan cepat akrab!


Halo semua selamat membaca ya! Semoga selalu sehat ditengah gempuran cuaca panas dingin ya😔💚💚


__ADS_2