
Kalau dipikir-pikir seru juga mengerjainya seperti ini.
"Sudah, aku harus bekerja dan ingat kau sekarang tinggal di mansion," ucapnya kepada Elisa yang masih duduk di atas ranjang.
Elisa menelan saliva khawatir. "Tuan bagaimana apa kepala anda masih sakit?"
Lorenzo memegang kepala dan dadanya. "Hem sedikit tapi bisa kutahan, lalu setelah ini Stefan akan menjemput," lanjutnya lalu masuk ke kamar mandi.
Bagaimana ini aku pasti tidak akan diampuninya kan lihatlah ekspresinya tadi.
Elisa bergidik ngeri, ia tidak tahu bagaimana seterusnya jika dia tidur bersama Lorenzo seperti semalam.
Lalu Elisa melihat Lorenzo yang keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti, Elisa bergegas masuk ke kamar mandi.
Lalu ia mengecek bagian belakang tubuhnya.
"Untung tidak ada kancing," ucapnya tapi dia baru sadar. "Lah ini kan bajunya tuan Lorenzo?" lalu langsung dibukanya dan langsung terlepas.
"Elisa kau bodoh sekali jelas-jelas bajunya sangat besar," ucapnya yang masih mengingat kejadian kemarin malam.
Setelah mandi Elisa masuk ke dalam ruang ganti setelah ia menutup handle pintu dan berbalik.
"Aaaa!" dia terkejut.
"Kenapa kau berteriak, padahal sudah pernah melihatku lebih dari ini," ucap Lorenzo santai menyelesaikan memakai bajunya.
"Maaf!" berbalik badan Elisa menutup matanya. "Kukira anda sudah pergi keluar."
Lorenzo mengernyitkan dahinya. "Hei lihat," berjalan mendekati Elisa. "Kau kira aku bisa menyelesaikan ini semua dengan cepat tanpa dibantu?" menunjukkan hanger di luar lemari yang disusun beberapa baju dan celana dasar.
"Ehm apa masih sebanyak itu?" tanya Elisa.
"Tentu jika kau ingin cepat kau berganti saja di sini atau membantuku."
Kalau anda mau minta tolong bilang saja.
"Lalu bagaimana saya tidak tahu urutan memasangnya anda tolong arahkan saya," Lorenzo mengangguk.
Elisa mengambil kemeja putih dan memakaikannya ke Lorenzo. Elisa sudah memegang celana dasar yang akan dipakai Lorenzo, dia ragu.
"Kenapa? cepat pakaikan," Elisa mendengus dan berjongkok. Lorenzo tersenyum senang. Lalu ia memasangkan blezer lalu mengancingkannya satu persatu. Tidak ada suara hening tercipta, Lorenzo memperhatikan Elisa, setelah selesai kontak mata mereka pun bertemu. Sempat salah tingkah mereka berdua.
"Hem ambilkan pin di lemari kecil itu," Elisa mengangguk dan mengambil sebuah kotak yang berisi beberapa pin yang kalau dilihat sudah dipastikan itu sangat mahal.
"Anda mau memakai yang mana?" tanyanya.
"Hmm kau saja yang memilih."
Anda tau kan saya tidak memiliki selera mewah seperti ini.
Walau begitu Elisa memerhatikan pin yang ada di kotak dan memerhatikan penampilan Lorenzo dengan teliti lalu dia mengambilkan pin berlogo LE yang memiliki rantai yang akan dikaitkannya di dasi Lorenzo.
"Ini menurutku cocok untuk anda," menunjukkan pin itu lalu mengambil dasi yang sudah tersangkut di hanger. Lalu ia memasang dasi dan pin itu.
"Fyuuh," Lorenzo meniup dahi Elisa, dia pun mendongak. Ctak, Lorenzo menyentilnya "Kalau dilihat dahimu lebar ya.
__ADS_1
"Aduh," ucap Elisa memegang dahinya. Lorenzo tersenyum dsn meninggalkan Elisa dengan wajah kesal.
Hah apa katanya tadi? Dasar apa aku akan di permainkan setiap hari?
Memegang dahinya tapi rona wajahnya menjadi merah. Lalu ia bersiap secepat kilat mengenakan kemeja setengah lengan dan rok plisket yang ada di lemari karena Elisa memang tidak menyukai pakaian yang terlalu terbuka atau pendek.
Saat Elisa keluar Lorenzo sudah menunggunya di meja makan yang tersedia di dalam kamar hotel yang luas itu dan ada banyak sekali makanan di atas meja.
"Duduklah," ucap Lorenzo lalu Elisa duduk di bangku ketiga agar tidak dijahili lagi.
"Hei duduk di situ," menunjuk kursi di sebelah kanan di depannya.
Kan.
"I-iya," Elisa berangkat dari kursi dan duduk di sebelah. Lorenzo.
Lalu mereka diam. Tidak ada yang berbicara ataupun memulai makan. Elisa menyadari piring Lorenzo kosong dan langsung mengambilnya dan berdiri mengisinya dengan lauk yang tersedia.
Pintar juga dia.
Lalu gilirannya mengambil makannya. Lalu Lorenzo mulai makan dan diikuti Elisa. Tidak ada suara selain bunyi sendok makan.
"Hei ambilkan tisu," ucap Lorenzo yang sudah selesai dengan makannya. Elisa mengambilkan kota tisu dan menaruhnya di depan Lorenzo. "Kenapa diam, bersihkan mulutku."
Haa? Dia ini anak kecil ya? Masa membersihkan mulutnya menyuruh orang lain. Walau begitu Elisa tetap membersihkan mulut Lorenzo meski dengan bergerutu di dalam hati.
"Pelan-pelan kau mau melukai bibirku ya?" balas Lorenzo menatap mata Elisa.
Aku lagi yang salah, iya tuan Lorenzo aku mau merobek wajah datarmu tapi tampan itu!
"Selamat pagi Tuan, Nona. Saya akan mengantar anda ke mansion," mempersilahkan jalan untuk Lorenzo dan Elisa.
Elisa mengikuti Lorenzo dan menoleh ke arah Stefan
"Sekretaris Stefan sebenarnya kau tidur berapa jam?" bisiknya. Stefan tidak membalas dan melihat orang di samping Elisa menoleh.
Elisa menghadap ke depan terkejut melihat Lorenzo. "Ah, em tidak-tidak."
Lalu mereka masuk ke dalam mobil dan berjalan menuju mansion.
"Elisa," ia pun menoleh. "Mulai sekarang kau akan tinggal di mansion dan sisanya pak Sam yang akan memberi tahu," ucapnya di dalam mobil tidak menoleh. Elisa mengangguk.
...----------------...
Lalu mereka sampai di mansion Lorenzo, Elisa mengekor di belakangnya begitu juga Stefan. Saat di pintu depan pak Sam dan beberapa pelayan lain sudah menunggu di depan lalu mereka menunduk.
"Selamat datang Tuan dan Nona," Stefan menghampiri pak Sam yang merupakan kepala pelayan itu.
"Pak Sam kau arahkan nona Elisa apa yang harus dilakukannya mulai sekarang Tuan akan berada di ruang kerjanya," Pak Sam mengangguk, lalu Lorenzo dan Stefan pergi.
"Nona mari ikuti saya," Elisa mengangguk lalu pertama mereka menuju ruang keluarga.
"Ini ruang keluarga yang biasa digunakan anggota keluarga Elio saat sedang berkumpul," Elisa ternganga melihat luasnya yang bisa tiga kali lipat dari luas kamar di hotel kemarin. Bukan sampai itu saja dapur yang serba lengkap sehingga orang yang gila masak akan menganggapnya sebagai harta katun. Lalu ruang gym pribadi dan tentu area kolam renang yang besar.
Apa pak Sam ini tidak lelah? Kakiku saja sudah berteriak seperti ini. Kalau seperti ini tidak perlu keluar mansion untuk olahraga. Gerutu Elisa dalam diam yang mengikuti pak Sam dari belakang yang menjelaskan detail setiap ruangan.
__ADS_1
"Lalu ini ruang perpustakaan yang sering tuan Lorenzo gunakan," lalu mereka masuk dan... sekali lagi Elisa melotot melihat banyak sekali susunan buku di rak yang tinggi.
Itu bagaimana cara ambil bukunya.
Lalu Elisa melihat seseorang yang sedang berdiri mencari buku yang ingin dibaca.
"Selamat pagi Tuan besar," Elisa menoleh lalu berjalan mengikuti pak Sam.
"Selamat pagi... Ayah," ucapnya ragu karena belum terbiasa.
"Elisa jangan ragu memanggilku Ayah sekarang kau juga anakku," Elisa mengangguk.
"Ayah sedang mencari buku?" tanyanya.
"Iya aku tidak tahu harus membaca yang mana karena sebagian besar sudah pernah kubaca," berdiri sambil menopang dagu.
"Aku memiliki satu buku yang aku sukai apa Ayah mau?"
Mungkin di sini ada kan? Perpustakaan-nya sudah seperti yang ada di pusat ibu kota saja.
Elisa pun berjalan sebentar dan melihat bukunya ada di rak nomor empat. Lalu ia kesulitan mengambilnya.
"Nona biar saya ambilkan," pak Sam datang dengan tangga lipat bentuk A.
Ooh pakai itu. Kukira mereka tidak memakai benda itu.
"Ini Nona," ucap pak Sam sambil memberikan buku berjudul 'KETIKA KAMU BERADA DI ATAS BAWAH KEHIDUPAN'.
"Terima kasih pak Sam, Ayah ini buku yang aku sukai. Aku tidak tahu apakah selera kita sama jadi maafkan aku jika isinya tidak sesuai harapan Ayah," Elisa menyatukan kedua tangannya.
"Baik sayang terima kasih Ayah akan membacanya," balas Carl mengambil bukunya.
"Tuan besar kami permisi dulu saya harus mengantar Nona ke kamarnya," Carl mengangguk dan mereka berjalan pergi ke kamarnya Elisa, tentu saja juga kamar Lorenzo.
Jangan bilang aku akan ke kamar tuan Lorenzo aku sudah tidak sanggup melihat kemewahan ini.
"Nona kita sudah sampai. Ini kamar anda dan tuan Lorenzo," mereka berdiri tepat di depan pintu kamar.
Tok tok
Pak Sam mengetuk pintu lalu ada suara di dalamnya.
"Masuk," saat masuk Elisa melihat Lorenzo dan Stefan sedang duduk di ruangan kerja di sebelah bagian kamar, terpisah namun ada sebuah pintu dan jendela yang terhubung.
"Nona silakan anda di sini dulu menunggu Tuan, kalau begitu saya permisi dan ini hal yang harus anda lakukan mulai sekarang," pak Sam berlalu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi dengan hanya meninggalkan sebuah kertas di atas meja.
"Tunggu pak Sam apa lagi yang harus- aku lakukan...," terduduk Elisa itu.
Sungguh akhirnya aku bisa duduk tapi bagaimana bisa aku bergerak dengan tatapan mata itu!
Melihat Lorenzo yang sesekali meliriknya.
"Aku tidak akan bergerak sampai dia pergi," ucap Elisa duduk meletakkan kepalanya di atas meja dan menatap jendela luar.
Haloo pembaca kesayangan terima kasih ya sudah membaca enjoyy teruss semua😊🙆♀️
__ADS_1