Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Kunjungan Adik Tersayang


__ADS_3

Sejak dari pagi Elena mengabaikan hp yang selalu berdering beberapa kali dari tadi.


"Ah kepalaku pusing," melihat nama yang ada di layar, dia sempat sangat dekat dengannya. "Padahal aku sudah memberitahunya."


"Ada apa?" tanya Elena ketika Dia sudah sangat kesal dengan dering hp miliknya sendiri.


"Ibu kenapa lama sekali menjawabnya?" balas Celine manja.


"Ada banyak urusan yang sedang kulakukan kita akhiri saja dulu."


"Tunggu sebentar, Ibu. Ada yang ingin aku bicarakan," cegah Celine saat Ibu ingin memutus sambungan.


"Apa?"


"Kenapa Ibu berubah? Apa Ibu sudah memihak Istri sementara Renzo?" tanyanya jelas.


"Apa maksudmu? Elisa sudah mengandung calon pewaris Elioztan Group dan itu mutlak dan tentunya menantu keluarga ini."


"Ibu percaya? Bisa saja itu anak pria lain kan?"


"Celine. Jaga bicaramu," balas Elena dingin. "Kita sudahi dulu saja pembicaraan ini."


Elena pun langsung mematikan sambungan sepihak dan meletakkan hp di atas nakas. Lalu Dia duduk di kursi goyang miliknya yang ada di dekat jendela yang pemandangannya mengarah langsung ke taman mansion.


"Haa, aku tidak sanggup lagi untuk berdebat. Lorenzo dan Elisa harus mengatasi masalah ini sendiri."


...----------------...


Beberapa hari yang lalu.


"Ren kau serius ingin pergi sendiri lagi? Apa tidak seharusnya Ayah sediakan kau pengawal yang mengantarmu sampai universitas? Atau sekalian dengan pelayan?" tanya Ayahnya beruntun.


"Ayah terima kasih, tapi sepertinya itu tidak perlu. Aku pasti akan dapat teman baru, apa kata mereka nanti. Bisa-bisa itu membuat mereka tidak nyaman. Aku akan baik-baik saja Ayah."


Lalu Clarenza memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper dan bersiap pergi sendiri ke Roma.


"Baiklah petualangan yang sebenarnya akan dimulai," ucap Clarenza yang akan keluar kamar. Maksud dari pergi sendiri adalah Ia benar-benar berangkat dari Sisilia menuju Roma tanpa ditemani siapapun.


"Ren jangan lupa makan dan hati-hati selalu jaga kesehatan, tidur yang cukup jangan ajak orang asing bicara," Ibu Clarenza memegang kedua bahunya.


"Ibu aku bukannya tidak akan kembali, hanya beberapa minggu hanya untuk kepentingan universitas," tersenyum cerah.


Dan bertemu Kak Elisa juga sih.


"Baiklah aku pergi, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir begitu. Aku akan menjaga diri dah."


Clarenza pergi lalu melambaikan tangannya setelah masuk ke dalam mobil taxi yang akan mengantar sampai stasiun.


...----------------...


"Elisa," panggil Lorenzo yang sedang ada di perpustakaan dan mereka hanya berdua.


"Iya?" Elisa mendekat.


"Bagaimana keadaanmu?" membuka sebuah buku tentang pemijatan.


"Saya sudah baik-baik saja, sebaiknya Tuan istirahat karena Anda sudah bekerja keras dan hari ini juga libur."


Lorenzo berbalik dan menatap Elisa, Dia tertegun. "Ada apa Tuan?"


Lorenzo memiringkan kepalanya dan meraih bahu Elisa dan mendekat. "Bahu ini seperti berteriak meminta bantuanku, apa ini masih sakit?" bisiknya di telinga Elisa.


"Ah em...tidak," Elisa sedikit menjauh beberapa langkah.


"Kau bohong," Elisa membuang wajahnya. "Ayo biar aku sendiri yang memijatmu," memegang lengan Elisa dan berjalan menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar.


"Duduk di sini," titah Lorenzo. Lalu Ia memutari Elisa dan duduk di belakangnya.

__ADS_1


"Aku akan memijatmu, jika ada yang sakit cepat kau beritahu aku. Karena ini juga pertama kalinya aku memijat seseorang."


Dengan sedikit keraguan yang masih mengambang Elisa mengangguk. "Iya Tuan."


Lorenzo memegang kedua bahu Elisa dari belakang dengan tangan besarnya, Elisa langsung mengejapkan mata.


Enak?


Elisa menoleh ke arah Lorenzo. Ia melihat Lorenzo sangat fokus.


"Ada apa?" tanyanya.


"T-tidak."


Apa dia belajar sebelum ini? mengikuti kursus?


Elisa heran katanya ini baru pertama kali tapi kenapa pijatannya enak sekali.


"Berapa umurnya sekarang?" tanya Lorenzo memecah lamunan Elisa.


"Umurnya sekarang 4 bulan," Elisa mengingat-ingat lagi kejadian beberapa bulan yang lalu saat pertama kali Ia bertemu dengan Lorenzo dan sekarang sudah 4 bulan juga mereka tinggal bersama.


"Kau harus memberitahuku saat umurnya berubah, tidak harus aku tanya terus kan."


"Iya Tuan," Elisa tersenyum. "Sudah Tuan, saya sudah baik-baik saja. Lebih baik Anda istirahat."


"Tidak mau tuh. Aku ingin bersama denganmu saja," Lorenzo langsung memeluk Elisa dari belakang dan wanita itu terkejut.


"Tuan ini...membuat jantung saya berdegup cepat. Apa sindrom Anda kambuh?"


"Apa maksudmu? Aku hanya ingin melakukannya," menenggelamkan kepalanya di leher Elisa.


Setelah Ia memijat lalu dia seperti ini memang ya laki-laki itu melakukan sesuatu pasti ada maunya.


"Aku cukup istirahat seperti ini saja."


Kring


"Tuan teleponnya bunyi, sebaiknya kita angkat dulu," Elisa memegang lengan Lorenzo yang memeluk erat dirinya dan ingin melepasnya.


"Biarkan saja," Lorenzo semakin memeluk Elisa erat dan tangannya mulai bergerak ke tempat favoritnya.


"Tuan...," Elisa menutup wajahnya.


Lorenzo semakin membenamkan wajahnya dan membuat sebuah tanda di leher Elisa. "Hmm, jangan bergerak."


"Tuan saya..., harus ke kamar mandi," Elisa langsung berdiri mengejutkan Lorenzo dan berjalan cepat ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Elisa bercermin.


"Apa-apaan Dia. Memang boleh melakukan itu tiba-tiba? Dasar laki-laki tidak berperasaan bagaimana bisa Dia seperti itu tanpa cinta," ucap Elisa sambil memegang satu tanda yang ditinggalkan Lorenzo di lehernya.


Sementara Lorenzo mengusap rambutnya dan menarik sedikit senyum. "Dasar hampir saja aku melakukannya."


Lorenzo langsung menoleh ke arah pintu saat bunyi ketokan bergema. Lalu ia berjalan dan membuka pintu.


"Clarenza?" dilihatnya adik sepupu sedang memegang hp di telinga dan menatapnya datar.


"Ternyata memang Kakak sengaja tidak mengangkat teleponnya," menunjuk ke telepon dinding yang berbunyi.


"Ck ternyata kau yang menganggu."


"Menganggu? Kakak jahat sekali, aku baru saja sampai kemari."


"Lalu ada apa?"


"Aku ingin bertemu Kak Elisa dimana Dia?"


Lorenzo menoleh saat Elisa baru keluar dari kamar mandi. "Itu Dia, masuk dan duduklah," lalu Lorenzo pergi dan meninggalkan Elisa dan Clarenza berdua.

__ADS_1


"Kak Elisa!" sapanya.


"Clarenza? Kapan kamu sampai?"


"Baru saja."


"Ayo masuk, duduk dulu ya."


Lalu Clarenza dan Elisa duduk berdua di ruang santai dalam kamar dan memberikannya jus mangga.


"Kakak berapa umur keponakanku sekarang?" tanya Clarenza sambil menunjuk perut Elisa.


"4 bulan."


"Tidak kusangka ternyata waktu secepat ini berlalu, padahal kita bertemu saat Kakak menikah," menoleh ke bingkai foto besar pernikahan yang terpajang di sana.


Elisa mulai merasa aneh saat Clarenza mendekat kepadanya.


"Oh iya Kak ngomong-ngomong," melihat kanan kiri seolah-olah akan ada orang lain yang mendengar. "Bagaimana rasanya malam pertama bersama Kak Lorenzo?"


"Uhuk," Elisa tersedak saat sedang memakan cookies stroberi itu. "A-apa?"


"Kakak ini jangan pura-pura seperti itu. Ayolah aku sangat ingin tahu. Apalagi sepertinya Kak Lorenzo memiliki badan yang bagus pasti Kakak merasa-"


"Aaaa Clarenza!"


"A-ada apa Kak?"


"Bagaimana kalau kita keluar mencari angin?" Elisa salah tingkah dengan cepat berdiri dan menunggu Clarenza di dekat pintu.


"Jangan bilang Kakak ingin mengalihkan pembicaraan tadi," memicingkan mata. "Ya sudah kita ke taman saja yuk Kak."


Lalu mereka berdua berjalan menuju taman dan tentunya melewati ruang gym.


Oh ternyata Dia di sini.


Dari kaca besar Elisa melihat Lorenzo sedang melatih tubuhnya.


"Wah mantap, ayo kita temui Kak Lorenzo."


Elisa langsung menoleh Clarenza. "Tidak, ayo kita ke taman saja. Ibu pasti di sana," memegang tangan Clarenza ingin membawanya pergi cepat melewati ruang gym tapi kekuatan Elisa kalah oleh tenaga gadis remaja yang tingginya hampir sama dengan Lorenzo itu.


"Tunggu sebentar Kak hmm," Clarenza memegang dagunya. "Aku melihat sebuah tanda di leher Kakak jangan-jangan...hah," Clarenza menutup mulutnya. "Sepertinya aku menganggu waktu kalian pantas saja Kak Lorenzo langsung pergi tadi, ayo Kak."


Elisa langsung berjalan mengikuti Clarenza memasuki ruang gym saat gadis itu memegang balik lengannya.


"Kak Lorenzo!" panggil Clarenza.


"Sebagai permintaan maafku, aku mengantarkan istri tercintamu kemari dengan selamat," membungkuk hormat seolah-olah sedang ada di acara kerajaan.


"Lalu itu saja selamat tinggal aku sibuk dah," ucapnya dengan cepat sebelum Lorenzo dan Elisa berkata-kata dan menutup pintunya.


"Ah itu...saya akan pergi Anda lanjutkan saja latihannya," Elisa berjalan ingin membuka pintu.


"Tunggu," suara berat Lorenzo menggema di seluruh ruangan membuat Elisa merinding.


Ia berjalan mendekat dan berbisik. "Kau ingin melanjutkan yang tadi?" tersenyum licik menoleh Elisa yang sudah merah padam wajahnya itu.


"Ti-tidak bukan seperti itu, Ren mengajakku ke taman tapi tidak sengaja melihatmu...,"


"Aku tahu itu alasan ayo ikut aku," Lorenzo mengambil handuk dan mengelap keringatnya.


"Ke-ke mana Tuan?"


Lorenzo menoleh dan tersenyum. "Kemana lagi? Ke kamar kita."


Elisa mematung saat Lorenzo berjalan keluar ruang gym. Pikirannya mengambang entah ke mana. "Ayo cepat, atau kau mau aku gendong."


"Ah maaf," lalu Ia berjalan cepat mengikuti Lorenzo.

__ADS_1


Bagaimana ini apa yang harus kulakukan, Clarenza! Lihat gara-gara hal sepele tadi aku benar-benar harus masuk kandang singa.


Halo semuaa hehehe selamat membaca ya!😍❤


__ADS_2