Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
HAH?! Jadi Asisten Pribadi?


__ADS_3

Sampainya di mansion, Lorenzo dan Elisa masuk tapi Lorenzo pergi ke kamar Ayahnya sedangkan Elisa pergi menuju kamar untuk membersihkan diri. Di kamar Ayah, Lorenzo berjalan menuju ruang kerja yang dipakainya saat masih menjadi presdir dulu.


"Sore Ayah," sapa Lorenzo.


Carl menoleh "Duduklah," Lorenzo menarik kursi dan duduk dengan posisi Carl berdiri membelakangi Lorenzo.


"Proyek sudah disetujui pemerintah dan pembangunan akan dimulai besok, kemungkinan selesai kurang lebih enam bulan Ayah," tanpa basa-basi Lorenzo memulai pembicaraan.


"Bukankah itu sangat cepat? Kau yakin Lorenzo?"


Lorenzo mengangguk. "Stefan sudah mengurusnya dan sudah memberikan semua bagian tiap divisi yang sudah ku susun, dan pembangunan itu juga sudah menggunakan alat berat berteknologi canggih."


"Hmm baiklah," Carl menganggukan kepalanya tanda ia sudah mengerti. Lorenzo langsung berdiri untuk segera pergi.


"Katakan pada Elisa jangan telat makan malam," ucapnya lagi sebelum Lorenzo pergi.


Lorenzo menoleh dan membalasnya dengan sedikit anggukkan kecil, lalu ia berjalan pergi menuju kamarnya.


Memasuki kamar Lorenzo melihat Elisa sudah berganti mengenakan baju yang biasa dikenakannya di mansion. Elisa sedang mengenakan handuk rambut untuk mengeringkan rambutnya.


Lorenzo duduk di sofa dan memperhatikan Elisa dari jauh. Setelah Elisa merasa rambutnya sudah cukup kering ia berjalan mendekati Lorenzo dan berdiri di sampingnya. Lorenzo mendongak melihat Elisa dan mengambil hp miliknya.


"Halo Tuan?"


Suara yang tampak familiar di telinga Elisa ini. Oh dia menelpon sekretaris Stefan.


"Aku sudah menerima persetujuannya, proyek bisa dimulai besok."


Jawab Lorenzo.


"Baik Tuan."


Lorenzo menoleh ke arah Elisa lagi dan teringat pembicaraannya tadi mengenai asisten pribadi.


"Stefan cari seorang perempuan untuk menjadi asisten pribadi Elisa."


Elisa sedikit terkejut karena Lorenzo langsung melakukannya sesuai permintaan Elisa.


"Baik Tuan."


Yang diberi perintah hanya bisa mengiyakan saja tanpa berkata apa-apa lagi, karena ia tahu apa yang diperintahkan Lorenzo adalah mutlak.


Lorenzo meletakkan hp nya dan berdiri. "Jika sudah selesai turunlah ke bawah, Ayah berpesan untukmu jangan sampai telat makan malam," berjalan menuju ruang kerjanya.


"Bagaimana dengan anda?" Lorenzo berhenti.


"Aku akan turun sebentar lagi," ia masuk dan tidak terlihat lagi setelah menutup pintunya.


Deg.


Apa ini? Elisa merasa hatinya seperti disiram air dingin ketika mendengar itu, walau secara logis itu adalah pesan dari Ayah untuknya namun mendengar Lorenzo yang menyampaikannya, terdengar seperti itu ucapan tulus dari Lorenzo sendiri.


Lalu ia pun berjalan turun untuk makan malam.


"Elisa selamat malam," sapa Carl.


"Selamat malam Ayah, Ibu."

__ADS_1


"Mana Lorenzo?" tanya Elena.


Elisa mendongak ke atas melihat ruang kerja Lorenzo. "Dia pergi ke ruang kerja sebentar Bu."


"Duduk di sini," menepuk kursi di sampingnya. "Dia pasti akan melewati makan malam jika sudah di sana, Pak Sam tolong nanti antarkan makanan kepadanya," ucap Elena.


"Baik Nyonya."


Elisa pun duduk di samping Elena.


"Elisa sudah berapa umur cucuku itu?" tanya Carl.


"Sudah memasuki pertengahan bulan empat Ayah, sebentar lagi memasuki bulan kelima."


"Kau harus sering-sering memeriksanya ke dokter, jika Lorenzo sibuk Ibu yang akan menemanimu," balas Elena tersenyum. Elisa mengangguk dan mereka mulai menyantap makan malam yang sudah ada di atas meja.


...----------------...


Sebaliknya Stefan duduk di meja bartender di dapurnya sambil meminum sebuah susu pisang yang ada di kulkas miliknya.


"Asisten perempuan hmm," bolak-balik ia membuka kontak di hp miliknya namun ia tidak memiliki kontak seorang ahli perempuan yang bisa bela diri yang nantinya bisa menjaga Elisa. Berhubung hari sudah malam seperti biasanya dia pergi berangkat ke perpustakaan dan memutuskan untuk memikirkannya di sana.


Ia pun berangkat menggunakan motor balap Ducati panigale v4 berwarna matte miliknya. Stefan menggunakannya hanya saat berkunjung kerumah Ibunya agar cepat sampai atau saat sedang ingin memikirkan sesuatu yang membuatnya kepikiran terus-menerus.


Karena malam jalan raya kota tidak terlalu ramai, Stefan mengendarainya selayaknya motor balap pada umumnya tapi dengan kecepatan yang masih diizinkan oleh pemerintah di sana.


Sesampainya di depan parkiran banyak pasang mata yang mengarah padanya. Motor dan helm sudah tampan, sekarang saatnya melihat tampang pemilik benda tampan itu. Batin orang-orang di sekelilingnya. Saat Stefan membuka helm ia merasa ada sebuah kilatan yang mengarah padanya, dan itu adalah lampu flash dari hp mereka. Stefan tidak mempedulikannya dan berjalan masuk ke perpustakaan sambil membawa tas punggung hitam di salah satu bahunya.


Saat memasuki perpustakaan ia menangkap seseorang yang familiar yang duduk di meja belakang tempat dia biasa menghabiskan waktu di sana. Stefan berjalan menuju ke sana dan duduk.


Bruk


"Nona," panggil Stefan. Tori spontan menatap Stefan dan menganggukan kepala dengan arti 'ada apa?' kira-kira.


"Anda bisa bela diri?"


"Sabuk hitam tingkat tujuh," jawab Tori.


"Anda menganggur?"


"Tidak juga."


"Anda ingin hidup tenang?"


"Iya, tunggu apa?"


"Baiklah mari ikut saya," Stefan berdiri dan memegang tangan Tori. Lalu ia langsung menepis genggaman itu.


"Apa yang anda lakukan? Datang dan tiba-tiba menanyakan hal itu lalu mengajak saya pergi?"


"Anda sendiri juga menjawabnya Nona," balas Stefan dengan santainya seperti tidak melakukan apa-apa.


"Haa dasar anda ini, jelaskan dulu kepada saya," Tori pun duduk kembali dan juga Stefan.


"Anda seorang intel negara apa saya salah?" tanya Stefan.


Tori menggeleng. "Anda sudah jelas sendiri melihatnya waktu itu saya tidak bisa mengelak lagi. Lalu apa hubungannya?"

__ADS_1


"Saya membutuhkan asisten pribadi perempuan untuk menjaga Nona Muda saya selama kehamilannya, saya tidak punya kenalan perempuan yang saya rasa bisa menjaga Nona."


"Lalu?"


"Karena anda perempuan dan anda juga seorang intel, anda pasti memiliki kemampuan untuk melindungi diri dan orang lain."


"Hmm ya benar," jawab Tori dengan bangga.


Stefan menatapnya. "Lalu saya berpikir untuk menjadikan anda sebagai asisten pribadi Nona Muda saya."


"HAH?!" spontan Tori lalu ia terdiam mematung dengan bibirnya yang tidak tertutup. "Jadi asisten pribadi?"


Pria ini sudah gila, mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti ini. Aku harus pergi dari sini.


Tori memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel miliknya dan berdiri.


Stefan sudah menduga ini sejak awal, lalu ia berbicara lagi. " Saya akan berbicara dengan Logan Jenner," Tori yang sudah berjalan menoleh kembali ke arah Stefan. "Bagaimana?" Stefan menunjukkan sebuah kontak dengan nama T.Jen. Logan Jenner, yang jika diuraikan Tuan Jenderal Logan Jenner. Walau Stefan memanggilnya hanya dengan nama ia masih menghormati mereka dengan menuliskan gelar hormatnya di daftar kontak miliknya.


Haa untuk kesekian kalinya Tori menghela napas, bagaimana pria ini tahu nama Jenderal yang memimpin korps pasukannya saat ini? Dan lagi dia hanya memanggil dengan nama lengkapnya tanpa gelarnya? Dasar tidak sopan siapa pria ini, pikir Tori.


"Sepertinya anda juga menyembunyikan identitas anda Tuan," ucap Tori lalu duduk di depan Stefan. "Silahkan anda berbicara dengan beliau, saya ingin mendengarnya."


Stefan yang sudah beberapa kali menghubunginya karena masalah penyelidikan tentang Zaki, tentu sudah terbiasa dengan aliran cara bicara dengan orang itu. Tanpa ragu ia menekan tombol hijau dan tampil informasi berdering di layar hp nya. Tori masih saja syok melihatnya, entah berapa kali lagi ia akan dibuat syok terus oleh Stefan.


"Anda tahu kita saling membutuhkan bukan?"


"Oh dia intel yang mengurus presdir ZLaurent?"


"Seperti itu, baiklah saya mengerti kondisinya. Tapi bukan masalah besar bagi anda kan, jika satu anggota anda saya pinjam untuk satu tahun kedepan?"


"Baik terima kasih sudah mengerti, saya akan menjamin hidup anggota anda."


Stefan meletakkan hp miliknya di depan Tori yang menatapnya dengan aneh.


"Ada apa?"


"Sepertinya saya mengidap skizofrenia saya harus ke psikiater sekarang juga."


Stefan hanya memasang senyum smirk dan menyentil dahi Tori.


"Seperti yang sudah kau dengar, mulai besok kau bekerja kepadaku. Aku akan memberikan gaji yang sama seperti saat kau menjadi intel, tapi karena sekarang kau bekerja rangkap sebagai asisten pribadi Nona Muda dan intel yang akan membantuku dalam kasus Zaki aku akan menambahkan dengan sepadan. Apa itu kurang?" jelas Stefan.


"Saya tidak merasa kurang tapi jika anda ingin menambahkannya saya tidak akan segan menerimanya."


"Hah dasar wanita penguntit maniak," Stefan berdiri dan ingin beranjak pergi karena masalah tentang asisten Nona sudah selesai dan dia ingin pulang.


"Sebentar sebelum ini tadi anda memanggil saya dengan normal, tunggu saya harus pergi ke mana? Bukankah kata anda mulai sekarang saya bekerja pada anda?" tanya Tori walau ia masih belum sepenuhnya yakin. Toh nanti jika Stefan benar-benar menanggapinya ia akan bertanya pada seniornya.


Stefan mengangkat dua buah kartu di tangannya memperlihatkannya pada Tori lalu meletakkannya di meja sampingnya, lebih tepatnya meja di depan Tori, karena tadi Stefan sudah beranjak ingin pergi tapi berhenti saat Tori berbicara.


"Segera ambil ini sebelum orang lain yang mengambilnya," ucap Stefan lalu ia pergi pulang ke apartemennya dengan motor miliknya.


Tori menghela napas kembali dan melihat di kartu itu terdapat kontak Stefan dan kartu VIP di salah satu hotel milik Elioztan Group, tidak lama setelah itu Tori langsung bergegas pergi menuju hotel. Sudah beberapa hari ia tidur di perpustakaan dan juga sangat lelah sudah lama tidak tidur di atas kasur yang empuk.


Dilatih menjadi seorang intel sejak muda sangat berbeda dengan saat ia turun langsung ke lapangan, saat di akademi seorang taruni masih disediakan tempat tidur dan ketika sudah lulus akademi militer pasukan intel mereka diberikan tanggung jawab untuk mengurus diri sendiri dan bertahan hidup seperti pelatihan yang diberikan.


Walau sulit ini adalah pilihan dan kebanggaan tersendiri untuk Tori yang lulus setelah mempersiapkan latihan akademi dan fisik bertahun-tahun. Untuk finansial yang didapatkannya sepadan dengan apa yang ia lakukan, tapi sepertinya akan butuh beberapa waktu agar ia bisa dengan penuh santai menikmati keberhasilannya itu.

__ADS_1


Halo semuaa🌹🤍selamat membaca ya!


__ADS_2