
Dengan suara yang terisak di dalam sebuah ruangan kecil yang menjadi tempat peristirahatnya Elisa menangisi perbuatan yang seharusnya tidak dia lakukan kemarin malam.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Alexa, ya benar lebih baik aku memberitahunya."
Lalu Elisa mengambil handphonenya dan menekan salah satu kontak nomor tertera dengan nama Alexa.
Drrt drrt
Bunyi nada dering yang menggema diseluruh ruangan.
"Halo Lis? Bagaimana kerjaannya lancar kan?" tanya Alexa.
"Hiks hiks a,aku...," jawab Elisa terbata-bata tidak tau harus menjawab apa, karena dia sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
"Lis lis kamu kenapa? Sekarang kamu dimana?"
"A-aku di rumah kos."
Jawaban Elisa terdengar sangat miris dan ketakutan membuat Alexa menjadi khawatir dan cemas.
"Aku segera kesana,kamu diem aja oke? jangan kemana-mana pokoknya. Ucapnya bergegas mengemudikan motor agar lebih cepat sampai.
Beberapa saat kemudian Alexa sampai ke rumah kos Elisa.
Elisa yang melihatnya langsung berhamburan kepelukan Alexa dan menangis sejadi-jadinya.
Setelah menangis dan Alexa berhasil menenangkan Elisa, lalu dia menceritakan semua kronologi kejaadian kepada Alexa.
Alexa yang mendengarnya sangat terkejut dengan apa yang didengarnya dari mulut Elisa.
"Lis, maafin aku ya aku gak bisa nolongin kamu disaat kamu lagi benar-benar membutuhkan bantuanku," ucap Alexa sembari menangis dan memeluk Elisa kembali.
"Kamu pasti sangat trauma ayo kita ke psikiater yuk?" ajak Alexa khawatir dan langsung menggenggam tangan Elisa.
"Tidak Alexa. Kamu tidak perlu sampai sejauh itu demi aku, ini bukan salahmu." Masih mencoba menenangkan diri Elisa itu. "Ini adalah ujian untukku, aku pasti bisa melewatinya." Mencoba berdiri untuk mengambil minum. Lalu Alexa membantunya.
"Jadi sekarang kamu mau bagaimana Elisa? Apa aku perlu mencari tau tentang laki-laki itu dan membuatnya bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dengan mu?" Alexa serius memegang kedua bahu Elisa.
"Tidak usah Alexa, aku berencana mau pulang kerumah lama orang tuaku. Lagipula laki-laki itu sepertinya mau bertanggung jawab atasku. Karena menaruh kartu nama dan cek uang di saku seragam kerjaku, tapi...," ucapan Elisa terpotong, dia tidak yakin dengan perkataannya.
"Tapi apa?" balas Alexa meminta penjelasan.
"Mungkin dia tidak akan ingat denganku? Jadi itu akan sia-sia saja."
"Mana nomornya sini, sudah kamu hubungi belum?"
"Belum, aku tidak mau menyusahkannya, lagi pula dengan kartu nomor itu sudah membuktikan dia adalah pria yang bertanggung jawab," ucap Elisa.
"Tapi setidaknya dia harus bertanggung jawab atas hidup dan trauma yang kau alami ini," Alexa terpejam lama. "Aku tidak akan memaksa tapi jika suatu saat terjadi sesuatu kepadamu harus segera hubungi aku atau kamu langsung saja hubungi laki-laki itu oke?" sarannya.
Saran Alexa terdengar ditelinga Elisa seperti omelan seorang kakak terhadap adiknya, itu membuat mood Elisa
__ADS_1
agak sedikit membaik walau dia tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu.
"lya dan mungkin Alexa, besok aku mau langsung saja pindah. Mungkin aku tidak akan pernah kembali ke kota ini lagi," balas Elisa sambil mengemasi barang yang hanya berupa pakaian dan beberapa perlengkapan masak,karena semua barang di kos Elisa adalah punya pemilik kos.
"Kenapa kamu bilang gak akan kembali kesini? Apa kamu tidak mau mengunjungiku lagi, kamu berencana melarikan diri?" ucap Alexa dengan raut wajah yang masih sedih.
Elisa pun menghela nafas panjang karena dia harus menjelaskan sesuatu lagi. "Baiklah Alexa bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin lari dari kenyataan pahit ini ya itu bener aku melarikan diri...," sahut Elisa dengan nada lirih. Lalu dia melanjutkan kembali ucapannya.
"Aku rasa bila aku tetap tinggal disini aku tidak akan bisa melupakannya aku akan teringat hal buruk yang aku lakukan. Bukan hanya diriku aku juga mengecewakan dirimu, Hans, Nenek dan Lea. Aku juga sudah mengundurkan diri dari hotel, maafkan aku Alexa sudah membuat usaha mu sia-sia," lanjutnya sambil menangis.
"Elisa kamu tidak bersalah apa-apa terhadapku, aku akan mendukungmu apapun yang terjadi. Ya sudah cepat sini aku bantu besok aku akan ikut dengan mu selama tujuh hari, aku harus benar-benar memastikan keadaanmu."
"Benarkah? Bukankah kamu sibuk?"
"Aku hanya perlu mengambil cuti bukan." Ucap Alexa santainya sambil mengangkat kedua bahunya. "Besok pagi aku akan menjemputmu oke? Jangan lakukan apa-apa selagi aku tidak ada."
"Terima kasih banyak Alexa."
Jam menunjukkan pukul 07.30
"Sudah semua Lis?"
"Sudah tinggal berangkat saja."
"Oke berangkat."
Mereka pun berangkat menuju desa kelahiran Elisa dengan waktu tempuh perjalanan hampir dua jam.
"Permisi selamat pagi," sapa Elisa.
"Pagi, ah kak Elisaa!" sahut Lea adik angkat Elisa.
"Lea apa kabar? Dimana nenek?" tanya Elisa sambil memutar mata mencari nenek di cakupan penglihatannya.
"Kabarku baik kak begitu juga dengan nenek. Oh iya nenek sedang di kebun kak memanen sayuran dan juga buah."
"Oh begitu, kenalin ini kak Alexa sahabat kakak. Dia akan menginap di sini selama tujuh hari jadi semoga cepat akur ya hehe."
"Halo kak Alexa, aku Lea," sapa Lea lalu disambut sebuah senyuman lebar dari Alexa.
Beberapa jam setelahnya akhirnya nenek pulang. Elisa menyambutnya dan segera menceritakan kejadian buruk yang dialaminya. Lalu nenek memeluknya sambil berkata.
"Jika ada kemungkinan kamu hamil jangan gugurkan anak itu, dia tidak bersalah kita akan merawatnya bersama.
"lya nek, terima kasih dan maaf."
Elioztan Group
"Stefan apa kau sudah mendapatkan informasi wanita itu?" tanya seorang pria berkemeja hitam dengan blazer abu.
"Sudah tuan, menurut pernyataan manager hotel kita yang sering anda datangi ada tiga pekerja waitress yang mengundurkan diri. Satu seorang pria dan dua orang wanita..."
"Wanita nya saja," potong Lorenzo. Lalu Stefan melanjutkan kembali dokumen yang akan dibacanya.
__ADS_1
"Yang pertama Annie dia mengundurkan diri karena mengikuti kepindahan orang tuanya yang bekerja, kedua Elisa menurut informasi dia mengundurkan diri tanpa disertai alasan yang pasti," jelas Stefan.
Elisa hm
"Kau cari informasi wanita yang bernama Elisa itu. Cepat," sahut Lorenzo.
"Baik tuan," beberapa saat kemudian Stefan memberitahu tempat tinggal Elisa yaitu desa kecil yang jauh dari kota Roma.
Tiga hari sudah Elisa melewati hari-hari yang tenang di desa kelahirannya itu. Pada hari keempat Elisa mengalami mual dan vertigo yang mendadak padahal dia tidak memiliki catatan penyakit itu.
Hari kelima Elisa mengalami hal yang tidak biasa, pada pagi hari dia ingin makan camilan manis ketika sudah datang dia malah ingin makanan dengan porsi yang besar. Alexa sampai kewalahan dan beberapa kali terpeleset di dapur.
"Aduh Lis sudah dulu dong makannya aku capek bolak balik ke toko beli makanan buat kamu. Emang gak jauh sih Cuma kan kalo udah enam kali begini bisa bisa aku pingsan tengah jalan," keluh Alexa dengan napas ngos-ngosan.
"Hehe makasih ya Alexa," balas Elisa lalu langsung melahap makanan yang dibelikan Alexa.
"Iya iya," Alexa mengangguk.
"Lis aku berpikir kalo kamu sekarang lagi ngidam," ucap Alexa dalam lamunannya. Elisa yang mendengar langsung tersedak.
"A-apa maksudmu? Mana mungkin hal itu terjadi aku baru melakukannya sekali... yang pasti itu tidak mungkin," bantah Elisa dengan segala teorinya.
"Elisa aku ini Dokter, hal seperti itu sering terjadi pada pasangan tapi banyak pula yang tidak terjadi. Mungkin kamu adalah salah satunya. Untuk berjaga-jaga aku sudah membawa tespack sebelum kita berangkat. Aku akan menyuruhmu menggunakannya," jelasnya.
"Tidak, itu... tidak akan terjadi aku tidak percaya," balas Elisa masih dengan memakan camilan penutup. Tapi jujur saja tingkah Elisa ini sangat aneh dan tidak biasa wajar saja Alexa mulai curiga.
"Kalau begitu besok pagi, kamu harus pakai. Aku membawa enam tespack, itu kalau kamu tidak percaya denganku maka periksalah sendiri," lalu Alexa memberikan keenam tespack itu kepada Elisa dan berjalan menuju kamar.
Pagi hari.
Elisa yang tidak percaya dengan omongan Alexa langsung menggunakan tiga tespack sekaligus, niat hati ingin memperlihatkan kepada Alexa bahwa dia tidak hamil tapi Elisa sendirilah yang menjadi orang nomor satu yang sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
DUA GARIS BIRU.
"Astaga," Elisa langsung menutup mulutnya dan terdiam lama di dalam kamar mandi.
"Elisa ada apa? Lama sekali," ucap Alexa sambil mengetok-ngetok pintu kamar mandi.
Lalu Elisa membuka pintu dan memberikan tespack itu kepada Alexa. Mata Alexa membulat sempurna dan dengan cepat menggiring Elisa menuju kamar dan mengambil handphone Elisa.
"Cepat beritahu pria itu sekarang dan ini kartu namanya. Jika tidak aku yang akan menghubunginya," Alexa dengan nada tidak mau dibantah.
"T-tapi Alexa ini terlalu mendadak aku tidak tau harus bilang apa."
"Bilang saja kau wanita waitress yang waktu itu kau tiduri dan aku hamil," balas Alexa blak-blakan sambil memberikan hp kepada Elisa.
"Ya bukan begitu juga Alexa, ya sudah aku akan menelponnya," lalu Elisa membuka layar handohone untuk menekan tombol nomor dan meneleponnya.
Drrt drrt drrt
"Halo?"
Selamat membaca❤
__ADS_1