Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Komplek Dandelion Blok F


__ADS_3

Setelah kemarin mengantar Lea ke rumah Alexa dan berbincang sebentar pagi ini Elisa bangun merasakan badannya pegal-pegal dan tidak kunjung berangkat dari kasur. Lorenzo menyadari tidak biasanya Elisa bangun sesudah matahari terbit lalu Dia duduk dan bersandar di kepala ranjang.


"Elisa," panggilnya pelan tapi Elisa belum bergerak. Biasanya Dia akan langsung duduk dan berdiri. Lalu Lorenzo berdiri dan berjalan mengambil air minum dan berdiri di samping Elisa membuka selimut yang menutupi kepalanya.


Dan Elisa masih terpejam lelap. Lorenzo tidak membangunkannya dan langsung menuju kamar mandi dan bersiap-siap mengenakan pakaian kerjanya. Setelah keluar dari ruang ganti Lorenzo melihat Elisa sudah bersandar di kepala ranjang lalu Dia menghampirinya.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya.


Elisa mendongak, jeda lama Elisa memegang bahunya. "Saya tidak tahu tapi sepertinya saya baik-baik saja."


"Sepertinya? Aku akan menyuruh Daran memeriksamu."


"Ah Anda tidak perlu memanggilnya saya baik-baik saja," ucap Elisa dengan nada menolak.


"Jika terjadi sesuatu hubungi aku."


"Baiklah."


"Aku pergi dulu, kau tidak usah mengantarku. Istirahatlah dulu," Elisa mengangguk. Tidak lama setelah itu Ibu dan beberapa pelayan datang membawa sarapan.


Ibu duduk di pinggir ranjang samping Elisa bersandar. "Elisa kau tidak apa-apa?" tanyanya memegang bahu Elisa.


"Aduh," ucapnya reflek.


"Ada apa? Kenapa? Apa bahumu sakit?"


"Badan saya sepertinya terasa pegal, saya tidak bisa mengatakannya kepada Lorenzo dan membuatnya khawatir."


"Apa maksudmu? Sebelum kau memberitahunya Dia sudah duluan menemui Ibu untuk mewanti-wanti terjadi sesuatu. Kau tahu kan Dia memang tidak banyak bicara tapi langsung bertindak. Dia sudah menghubungi spesialis pijat untukmu sebentar lagi Dia akan datang."


Elisa terdiam berpikir apakah Lorenzo juga sudah tahu jika Dia akan membeli apartemen baru untuk kemungkinan terburuk? Laki-laki itu sangat tidak bisa ditebak.


"Makanlah dulu sebelum mereka datang."


Elisa bangun berjalan menuju ruang santai Ia tidak mau jika makan di atas kasur itu bukan kebiasaannya walau Dia bisa saja meminta meja mini yang biasanya digunakan untuk orang sakit makan.


Selang beberapa saat setelah Elisa makan ditemani Elena dua spesialis pijat datang dan mengetuk pintu. Lalu mereka masuk dan mulai memberikan pelayanan pijat kepada Elisa.


...----------------...


Di saat bersamaan di rumah Alexa Lea sudah duluan bangun melakukan bersih-bersih rumah saat Alexa membuka pintu kamar Ia menutupi matanya seakan-akan silau.


"Lea ada apa ini? Kamu membersihkannya?"


Lea mengangguk. "Iya Kak, setiap pagi biasanya memang Lea membersihkan rumah."


"Ya ampun Lea kamu rajin sekali, tapi sepertinya itu tidak perlu di sini karena petugas kebersihan yang akan melakukannya," tersenyum tipis.


"Duduklah Kakak akan membuatkan camilan dan teh, kamu buka saja dulu tv ada banyak film yang menarik saat pagi."


"Oke Kak," Lea pun mengambil remote dan menyalakan tv. Sementara itu Alexa menghangatkan cookies dan menyeduh teh.


"Ini makanlah," meletakkan nampan yang berisi camilan dan teh. "Oh iya katanya kamu kemari ingin mendaftar tes universitas kota?"


"Iya benar Kak," mengambil teh lalu meminumnya.


"Jam berapa kamu ke sana?"


"Mungkin sekitar jam 10.00 aku berangkat."


"Oke berarti pagi ini jadwalmu kosong kan?" Lea mengangguk. "Oke ayo kita jalan kaki sebentar keliling komplek, kamu pasti akan merasa segar menghirup udara pagi di sini."

__ADS_1


"Setelah aku makan ini," menunjuk cookies yang ada di depannya.


Setelah beberapa puluh menit Alexa dan Lea keluar rumah dan tetap menggunakan pakaian tidur dengan luaran jaket.


"Tidak usah pakai sepatu, kita jalan dengan kaki telanjang saja. Sekalian terapi kita akan ke taman dekat komplek sini."


"Baiklah kak," Lea melepas sepatunya dan berjalan santai berdampingan dengan Alexa sambil bercerita.


"Sebenarnya Lea aku jarang keluar rumah," menoleh ke Lea. "Keluar pun hanya saat bekerja atau ingin makan di luar tapi aku sesekali berolahraga loh jangan anggap aku sebagai introvert ya."


"Kak Alexa? Introvert? " Lea menaikan salah satu alisnya. "Sejak kapan Kakak introvert, Kak Alexa yang ku kenal sangat ramah dan mudah bergaul mana bisa ku berpikiran seperti itu."


"Benarkah, apa jangan-jangan aku terlalu ekspresif?"


"Tidak-tidak, Kak Alexa cukup menjadi Kak Alexa yang seperti biasa itu sudah sangat keren buatku hehe."


"Ah dasar kau ini," menyenggol bahu Lea. "Nah itu dia," menunjuk sebuah tempat di ujung jalan yang penuh tanaman di pinggiran dan banyak alat bermain dan olahraga.


"Tamannya?" tanya Lea.


Alexa mengangguk lalu ia menarik tangan Lea untuk berjalan cepat. "Ayo ke sana cepat."


Sampainya di depan gapura tanaman untuk memasuki area taman ternyata ukuran taman ini luas juga, mungkin karena dari kejauhan tadi Lea menganggap tempatnya terlihat kecil.


Alexa berjalan cepat menuju sebuah street minuman dan langsung membelinya.


"Oh ternyata Dia ingin membeli itu."


Lea sedikit tertawa melihat Alexa yang ke taman bukan untuk olahraga tapi untuk membeli makanan dan minuman. Lalu Lea menghampiri Alexa.


"Kak aku ke sana ya," menunjuk sebuah sepeda fitness.


Alexa mengangguk. "Ya nanti aku menyusul."


"Nona Alexa!" panggil seseorang dari seberang jalan membuat Alexa menoleh sekeliling takut yang dipanggil adalah orang lain dan bukan dirinya.


"Iya Anda yang memegang paper bag."


"Oh ternyata benar aku, eh sebentar siapa itu aku tidak bisa melihatnya dengan jelas."


Lalu Dia berlari dengan cepat dari seberang jalan tidak sampai 3 menit sudah berada di hadapan Alexa.


"Oh Tuan Azka, saya kira siapa tadi."


"Iya, Anda sendirian?"


"Tidak saya sedang bersama Lea adik Elisa dan dia ada di sana," menunjuk Lea yang sedang berolahraga. "Anda sendiri?"


"Oh saya sendirian, Felix masih tidur dan tidak mau lari pagi bersamaku."


"Anda berlari dari blok A lalu ke blok F?" Alexa seketika merasa sesak mengingat jaraknya.


"Betul dan ini adalah putaran ke 6 saya."


"Apa?" Alexa memegang dadanya.


"Jangan dibayangkan haha, lalu apa saya boleh bergabung dengan Anda? Saya ingin istirahat dulu sebentar sebelum pulang."


"Boleh, mari ikut saya."


Alexa dan Azka berjalan bersama ke tempat Lea sampainya di sana mereka duduk di kursi taman dekat Lea melakukan olahraga.

__ADS_1


"Lea!" panggil Alexa sambil melambaikan tangannya lalu di balas senyuman oleh Lea.


"Oh ya ampun saya lupa mengembalikan jaket Tuan, maafkan saya," menyatukan kedua tangannya.


"Hahaha tidak apa-apa santai. Saya juga sudah mengundang Nona untuk berkunjung kerumah saya, Anda bisa mengembalikannya saat Anda datang nanti."


"Baiklah kalau begitu," tidak lama setelah itu Lea sudah selesai dengan olahraganya dan menghampiri Alexa.


"Kakak saya sudah selesai lalu...," melihat Azka.


"Oh dia Tuan Azka teman Tuan Lorenzo."


"Begitu selamat pagi Tuan," Lea menganggukan kepala.


"Pagi Lea? Kamu adiknya Elisa ya?"


"Benar bagaimana Anda tahu?" padahal Lea tidak sempat hadir di pernikahan Elisa.


"Alexa yang memberitahuku."


"Oh begitu."


"Lea duduk sini, ini minuman dan makananmu," mengeluarkan yang dibelinya tadi. "Oh maaf Tuan Azka saya tidak membelikannya untuk Anda, ini punya saya untuk Anda saja," memberikan minuman miliknya.


Azka mengembalikannya kembali. "Tidak apa-apa Nona, saya juga datang mendadak. Nikmati saja dengan santai saya akan merasa nyaman."


"Baiklah, kalau begitu kami makan ya."


Azka mengangguk.


Setelah selesai Alexa dan Lea pamit dengan Azka untuk pulang duluan karena Alexa akan mengantar Lea ke universitas.


...----------------...


Beberapa saat setelah spesialis berpamitan pulang Elisa dan Ibu berdua di kamar dan hp Elisa berdering. Dilihatnya nama kontak Tuan Lorenzo dan langsung diterimanya.


"Halo? Ada apa Tuan?" tanya Elisa sedikit gugup.


"Bagaimana? Apa mereka sudah datang?"


Elisa langsung mengerti siapa 'mereka' yang dimaksud Lorenzo.


"Sudah, mereka baru saja pulang."


"Hm, jika ada sesuatu beri tahu aku. Ingat jangan coba menyembunyikan sesuatu dariku. Aku pasti akan mengetahuinya."


Elisa tertegun. "Baik saya mengerti."


Lalu Lorenzo mematikan sambungan, Elisa pun meletakkan hp nya di atas nakas dan duduk di samping Ibu.


"Ada apa?" tanyanya.


"Tuan Lorenzo hanya menanyakan apakah spesialisnya sudah datang atau belum."


"Begitu," Elena menyeruput teh hangatnya lalu melirik Elisa. "Lalu perbaiki panggilanmu padanya. Kau selalu memanggilnya Tuan, itu sangat risih kau tahu."


"Ibu bagaimana bisa saya-"


Elena memotong pembicaraannya. "Apa Lorenzo pernah menyuruhmu untuk memanggil dengan namanya saja?"


Elisa mengangguk. "Lalu panggil Dia dengan namanya."

__ADS_1


"Baik Ibu akan saya coba," Elena menarik tipis sudut bibirnya.


Halo semuaa author balik lagii selamat membaca ya!❤


__ADS_2