
Sesuai ucapan Lorenzo, bahwa untuk beberapa hari ke depan Elisa harus bersamanya tidak terkecuali ke mana pun dia pergi. Lorenzo dan Elisa sedang bersiap untuk pergi ke Elioztan Group.
"Elisa kau ingin ke mana?" tanya Carl yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Saya akan ke Elioztan Group bersama Tuan Lorenzo," sambil menoleh.
"Ada apa Lorenzo?" tanya Carl.
"Tidak, aku hanya ingin membawanya bersamaku." Lorenzo berdiri di sebelah Elisa dengan setelan jas yang rapi dengan tubuh tingginya itu.
"Ayah tahu kau sayang kepadanya, tapi kau tidak harus se-posesif ini," tersenyum tipis.
"Apa maksud Ayah, aku pergi." Lorenzo memalingkan wajahnya dan berjalan di depan Elisa.
"Ternyata kau bisa malu juga, Lorenzo." Carl tampak jelas melihat wajah Lorenzo yang merah.
Lorenzo dan Elisa duduk berdampingan kursi penumpang dengan seorang sopir. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan, situasi itu membuat sopir merasa canggung karena melihat dari pantulan kaca depan mereka saling diam.
Sampainya di Elioztan Group sopir membukakan pintu untuk mereka lalu pamit. Lorenzo berjalan dan diikuti Elisa di belakangnya.
"Hei itu Istri Tuan Lorenzo kan?" suara bisikan mulai terdengar walau sayup-sayup.
"Husst," temannya mencoba untuk memberi kode agar tidak membahasnya sekarang.
"Tegakkan kepalamu," ucap Lorenzo sambil menarik tangan Elisa hingga mereka berjalan berdampingan.
"Selamat pagi Tuan Lorenzo dan Nona," sapa para pegawai yang berjajar.
Elisa sedikit mendongak dan melihat Lorenzo. Pria tinggi dan tegap sedang berjalan di sebelahnya, seseorang yang dihormati dan berkharisma.
Bagaimana bisa aku bisa berjalan setara dengannya haa.
"Apa kau tidak lihat? Sepertinya Istri Tuan sedang hamil," ucap salah satu pegawai saat Lorenzo dan Elisa sudah masuk ke dalam lift.
"Hei kau tahu dari mana?"
"Apa kau tidak memperhatikan perutnya yang terlihat besar?"
"Jika itu benar kenapa Tuan tidak memberikan pengumuman untuk ahli warisnya?"
"Coba kau berpikir, pernikahannya saja dirahasiakan. Tidak mengejutkan jika Tuan juga merahasiakan kehamilan Istrinya."
"OMG, bayangkan saat mereka melakukannya AAA," mulai lagi.
"Berhentilah berpikir mesum, kau pasti memikirkan bagaimana Tuan Lorenzo melakukan itu kan? Semua orang pasti tergila-gila saat membayangkan itu, jadi lebih baik kau fokus bekerja dan tidak perlu memikirkannya."
Temannya menatap selidiki. "Jujur saja kau pasti juga kepikiran kan, kan??"
"Hentikan, setidaknya aku masih sadar tidak seperti dirimu yang selalu halu," setelah percakapan sengit itu mereka kembali bekerja saat asisten perempuan Stefan datang dan memecah perkumpulan mereka.
...----------------...
Elisa berada di ruangan kerja Lorenzo, dia duduk di sofa yang tersedia tv di depannya. Elisa memperhatikan Lorenzo yang setiap puluh menit selalu mengambil berkas laporan dari asisten Stefan secara berkala, yang datang keruangannya.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan, di sini terasa sesak.
Karena Elisa dari tadi hanya duduk dan memperhatikan Lorenzo bekerja rasa bosan dan kantuk datang seiring jam. Selain bawaan sedang hamil, udara dalam ruangan Lorenzo juga menjadi faktor pendukung membuat Elisa merasa ngantuk.
"Kau ingin tidur?" Elisa mendongak dengan pandangan mata yang sayu.
Karena Elisa sudah setengah sadar ia pun mengangguk.
"Sebentar." Lorenzo menarik sofa dan menyatukannya hingga menjadi sebuah tempat tidur.
Oh ternyata ini sofa bed.
"Tidurlah." Elisa berpindah dari sofa yang dia duduki ke sofa bed yang ditarik Lorenzo tadi. Tidak butuh waktu lama Elisa sudah tertidur dengan membelakangi Lorenzo.
Sambil melakukan pekerjaannya Lorenzo sesekali melirik ke arah Elisa yang tertidur.
...----------------...
Sementara Stefan dan Tori sudah ada di dalam bangunan tua setelah Tori yang terjatuh ke sebuah sungai kering karena ingin mengambil buah apel liar sehingga membuat Stefan terbangun.
Beberapa waktu sebelum mereka pergi ke bangunan tua.
Brukk
Suara kasar terdengar saat Stefan tidur lalu ia terbangun dan melihat Tori tidak ada di sekitarnya.
"Victoria!" panggilnya. "Di mana kau!" tidak ada sahutan.
"Saya terjatuh di sana," menunjuk sungai kering yang penuh dengan lumpur.
"Haah," Stefan memijat pelipis kepalanya. "Sudah kukatakan jangan berkeliaran saat aku tidur."
Tori tidak menjawab dan menunduk sambil berpura-pura membersihkan celananya.
"Sudah, ikut aku." Tori mengikuti Stefan dan melihat sebuah aliran sungai kecil yang tidak jauh dari tempat Tori terjatuh.
"Bersihkan celanamu di sini," tunjuk Stefan pada sebuah aliran mata air di sebuah sungai. Lalu ia duduk di atas batu sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Hutan lebat yang liar dan masih asri ini apakah ini benar-benar Roma? Pikir Stefan.
Ia melihat Tori berjalan ke arahnya dengan sudah membersihkan celananya dari lumpur walau tidak bersih sepenuhnya, setidaknya itu mengurangi beban berat yang dibawanya. Stefan berdiri. "Ayo pergi." Tori mengikutinya dari belakang hingga sampai ke tempat bermalam mereka.
"Rapikan barang-barangmu, kita harus memeriksa bangunan itu," ucap Stefan.
Tori mengangguk, setelah selesai mereka pergi dengan berjalan kaki memasuki bangunan tua yang digunakan sebagai tempat pertemuan ilegal Zaki dan mitranya.
"Kau pergi ke kanan dan aku akan memeriksa area kiri dan belakang, ambil semua foto dari tiap ruangan ini." Stefan memberikan instruksi.
"Baiklah," lalu Tori berjalan dan mulai menelusuri area kanan sementara Stefan terlebih dahulu memeriksa area belakang. Tori pun mendatangi ruangan yang kemarin didatangi oleh Tuan Besar 'mereka' dan ada kemungkinan map yang Zaki berikan ada di sana. Sudah dipastikan ruangan itu dikunci. Lalu Tori menghubungi Stefan dengan jam digital miliknya dan memberitahukan situasinya sekarang.
Hampir satu jam mereka mencoba mencari cara untuk membuka pintu itu tapi tidak bisa. Hingga mereka memutuskan untuk kembali ke tempat mereka berkumpul di dekat hutan dan di sana mereka menyusun kembali rencana.
"Victoria malam ini prioritas kita adalah mencari map itu dan memindainya. Hanya itu, setelah salah satu dari kita mendapatkannya segera hubungi aku atau sebaliknya. Jangan lakukan hal ceroboh."
"Iya saya mengerti." Tori menganggukkan kepalanya. "Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?"
__ADS_1
"Karena sekarang tidak ada hal lain, kita istirahat dulu saja lalu...," mengambil sebuah makanan dari tasnya. "Makanlah ini dulu, ku lihat kau sama sekali tidak membawa makanan apa kau gila? Kau ingin mati kelaparan?" karena Stefan emosi ia langsung memberikan tas yang berisi semua makanan pada Tori.
"Anda mengkhawatirkan saya ya, ya?? Hehe terima kasih," tanpa rasa sungkan Tori mengambil tas itu dan memakan stok makan yang dibawa Stefan.
"Oh ya saya lupa memberitahu anda," ucap Tori lagi. "Hal seperti ini sering terjadi pada saya anda sendiri tahu kan, saya langsung masuk sekolah tinggi militer setelah lulus sekolah menengah jadi hal ini tidak heran lagi terjadi. Tapi saya sangat berterima kasih karena anda mencemaskan saya."
Stefan diam, memperhatikan Tori yang sedang makan. "Berapa umurmu?" tanya Stefan.
"Anda lebih tua satu tahun dari saya."
Stefan tidak menjawab lalu ia juga makan bersama Tori sambil mengatur rencana untuk aksi mereka malam ini.
...----------------...
Karena sudah memasuki jam makan siang Lorenzo menghentikan aktivitasnya dan berjalan menuju Elisa.
"Elisa," panggilnya sambil duduk di sebelah Elisa.
Elisa membuka kedua matanya dan duduk. "Ada apa Tuan?"
"Kita makan dulu," ajaknya.
Elisa berdiri. "Saya ke kamar mandi sebentar," dibalas anggukan oleh Lorenzo.
Setelah Elisa keluar dari kamar mandi, mereka pun berjalan berdua menuju kantin Elioztan. Sudah tiga kali Elisa ke sini namun masih tetap takjub dengan segala fasilitasnya.
"Duduklah, aku yang akan mengambil makanan untukmu."
Elisa mengangguk. "Baiklah."
Sejak kedatangan mereka banyak pasang mata yang memperhatikan.
"Lihat Tuan dengan Nona makan di sini."
"Kupikir Tuan Lorenzo itu sangat dingin, tidak kusangka ternyata dia mencintai Istrinya," ucap salah satu pegawai.
"Tidak ada yang tahu tentang itu, kau lihat? Bukankah Nona bertingkah canggung saat di dekat Tuan?"
"Hmm kau benar juga."
"Aku dengar Nona berasal dari panti apa itu benar?"
"Nah iya, kalau tidak salah kemarin ada rumor bahwa dia hanya pelampiasan karena Tuan sedang patah hati masa itu."
Elisa yang sedang duduk bisa mendengar pembicaraan para pegawai dari tiap sisi meja tentang hubungannya dan Lorenzo hingga ia merasa sangat buruk dan tidak layak untuk bersama dengan Lorenzo dan memilih untuk pergi dari Elioztan. Ia meninggalkan sebuah catatan kecil di atas meja.
Saat Lorenzo datang ia tidak melihat Elisa di mana pun, situasi berubah saat ia membaca kertas yang ditinggalkan Elisa.
Saya pergi dulu Tuan.
"Elisa!!" teriak Lorenzo membuat seisi kantin heboh, mereka bertanya-tanya kenapa Tuan Muda mereka berteriak seperti ini? Lalu Lorenzo langsung memerintahkan semua penjaga Elioztan Group untuk mencari Elisa.
Selamat siangg, enjoy bacanya ya!🤍
__ADS_1