Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Tiba Di Roma


__ADS_3

Elisa berdiri di depan meja yang penuh dengan paper bag yang asalnya dari salah satu mall milik Elioztan Group, tepatnya adalah barang yang dibelikan Lorenzo untuk Elisa.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lorenzo yang habis keluar dari kamar mandi.


Elisa menoleh. "Ah itu...," melirik ke arah meja.


"Ada apa? Itu semua untukmu, ka juga tidak pernah menggunakan kartu rekening yang kuberikan," meraup wajahnya dengan handuk kecil. "Intinya, kau harus menggunakannya seperti apa fungsinya. Aku tidak ingin ada alasan," Ia langsung pergi menuju ruang ganti.


"Baik Tuan," Elisa mengambil satu-persatu barang yang ada di dalam paper bag dan menyusunnya, ada baju dan beberapa figure berjajaran.


"Figure ini kuletakkan di sana saja," berjalan menuju lemari kaca. Sesaat setelah itu hp Elisa berdering.


"Halo Kak."


"Haii Lea ada apa?"


"Kak aku sudah di kereta menuju Roma," mengirim foto suasana dalam kereta.


"Kalau sudah sampai beritahu Kakak, aku akan menjemputmu ya."


"Siap Kak."


Lea sedang bersiap pergi menuju kota Roma, ingin mendaftar di universitas impiannya. Dia berangkat dengan kereta pagi, sebelum pergi dia menitip pesan dengan keluarga tetangga yang selalu membantu mereka untuk menjaga Nenek. "Bibi tolong ya jaga Nenek beberapa hari aku akan segera kembali," ucapnya.


Setelah berpamitan dengan Nenek Lea menghubungi Elisa.


Lea menghubungi Elisa beberapa hari yang lalu jika Ia akan ke Roma untuk mendaftar ke universitas.


Elisa sudah menyusun semua baju dan berjalan menuju ruang ganti, menunggu di depan pintu sampai Lorenzo selesai berganti.


Cklek


Lorenzo membuka pintu bertatapan dengan Elisa yang membawa baju lalu Ia berjalan keluar dan duduk di sofa, setelahnya Elisa masuk dan menaruh baju-baju tadi di lemari.


Elisa berjalan keluar mendekati Lorenzo yang duduk sedang minum teh. Elisa meliriknya sesekali dan Lorenzo menyadarinya.


"Ada yang ingin kau bicarakan?"


Elisa menghadap Lorenzo sambil berdiri. "Sebenarnya saya ingin minta izin Anda."


"Apa?"


"Saya ingin menjemput Adik saya di stasiun, apa saya boleh pergi keluar mansion hari ini?"


"Kenapa dengan Adikmu?"


"Dia datang ingin mendaftar untuk masuk universitas."


Lorenzo berdiri dan berjalan menuju keluar kamar lalu Ia berhenti sebentar. "Pergilah dengan bodyguard bersamamu," berjalan keluar menuju lantai bawah untuk sarapan.


...----------------...


Setelah mengantar Lorenzo ke kantor Elisa naik menuju kamar untuk berganti pakaian dan Ia memakai sebuah tunik dengan celana panjang yang baru dibelikan Lorenzo kemarin. Lalu Dia pergi dengan mobil yang dikemudikan oleh bodyguard muda yang mengantar Elisa ke toko tempo lalu.

__ADS_1


"Tolong ke stasiun kota ya," ucap Elisa kepada bodyguard dan Ia mengangguk.


"Baik Nona."


Dia mengarahkan setir menuju stasiun dan sampainya di logo gapura stasiun mereka ke parkiran lalu memasuki tempat tunggu dan duduk di sana.


"Kakak!" panggil Lea yang baru saja keluar dari kereta dengan melambaikan tangannya. Dia berlari kecil menuju Elisa.


"Apa kabar Kak?" ucapnya sambil memeluk Elisa.


"Baik, lalu syukurlah kamu tiba dengan baik ke sini," membalas pelukannya.


"Kamu sudah makan?" tanya Elisa.


Lea mengangguk. "Sudah tadi pagi."


"Ini sudah siang tidak mungkin tidak lapar," Elisa mendelik. "Ayo kita cari makan dulu di sini," menarik tangan Lea, Dia menoleh ke arah bodyguard yang ada di belakang Elisa sejak tadi.


Sampai di sebuah resto seafood Elisa dan Lea masuk, tapi bodyguard muda yang menemani mereka memilih menunggu di pintu depan, mungkin Ia ingin memberi ruang untuk mereka berbicara.


"Jadi bagaimana? Kamu sudah yakin ingin di Roma?" tanya Elisa.


Lea mengangguk. "Iya Kak yakin sekali, terutama aku sangat ingin masuk di universitas kota dan tentunya agar dapat pekerjaan yang lebih baik di sini."


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pesan dulu. Sebelum membicarakan hal itu."


Lalu mereka memesan beberapa makanan yang tertera di buku menu.


"Baik, terima kasih," ucap Elisa sambil memberikan buku menu pada pelayan di resto itu.


"Benar kita bisa berkunjung ke sana sekalian melihat lingkungan universitas bagaimana? Ngomong-ngomong cukup banyak mahasiswa di sana yang membeli bouqet dan lilin aroma dari toko Kakak, dan mereka semua sangat sopan-sopan."


"Bukan hanya itu Kak, aku dengar di sana ada perpustakaan besar yang hampir memiliki semua buku sejarah aku sangat ingin membacanya," balasnya antusias.


"Baiklah-baiklah kita lanjutkan nanti, kita makan dulu saja," ucap Elisa sambil melihat pelayan yang membawa nampan makanan ke arah meja mereka.


Elisa dan Lea pun makan sampai selesai.


"Kak?"


Elisa mengangkat kepalanya sehingga bertatapan dengan Lea. "Hmm?"


"Aku ingin bertanya, bagaimana kehidupan baru Kakak setelah menikah? Apa Kakak baik-baik saja? Maaf aku seharusnya tidak ikut campur soal ini. Tapi aku dan Nenek sangat mengkhawatirkan Kakak."


Elisa menghentikan makannya dan memegang tangan Lea. "Adikku sayang Lea yang sangat baik, Kakak sangat baik-baik saja. Tidak perlu cemaskan Kakak sekarang kamu hanya harus fokus pada ujian masuk universitas oke? Kakak pasti akan memberitahumu jika ada masalah," tersenyum lembut.


"Walau Kakak bilang seperti itu tetap saja...," Elisa menggeleng.


"Tidak apa-apa. Tuan Lorenzo sangat baik kepada Kakak, di luar Dia memang kelihatan tidak peduli tapi sebenarnya bukan seperti itu."


Setelah berbicara mereka pun meneruskan makannya, saat di kasir Elisa teringat ucapan Lorenzo Ia harus menggunakan kartu rekening sesuai fungsinya. Elisa mengeluarkan sebuah black card dari dompetnya dan menyerahkannya ke kasir.


"Baiklah untuk ini mungkin tidak apa-apa."

__ADS_1


Sekeluarnya dari resto tersebut Elisa langsung disambut oleh bodyguard yang menunggu di luar.


"Apa kakinya baik-baik saja? Dari tadi berdiri." Lea memerhatikan dari atas ke bawah.


"Nona selanjutnya Anda ingin pergi ke mana?" tanya bodyguard itu.


Elisa menoleh Lea. "Kerumah Alexa, Lea akan tinggal di sana beberapa hari jadi kita pergi ke komplek dandelion."


Bodyguard itu mengangguk dan mempersilahkan mereka berjalan di depan dan Dia mengikuti dari belakang.


Di dalam mobil Elisa mengarahkan di mana mereka harus menuju ke rumah Alexa.


"Lea," panggilnya.


Lea menoleh. "Saat di rumah Alexa kamu harus membantunya, kamu tahu sendiri kan. Bagaimana saat Dia tinggal bersama kita waktu itu."


Lea mengingat sebagian hari Alexa tidak pernah makan karena sibuk mengurus pekerjaannya lewat rumah walaupun sedang ambil cuti.


"Iya Kak, aku akan membantunya," Elisa mengangguk.


Sampailah mereka di depan rumah Alexa di blok F, lalu mereka turun dari mobil dan memencet bel. Lalu suara pintu di buka.


"Aaa Elisa," ucap Alexa memeluk Elisa. "Apa kabar? Oh ya ayo kita jalan-jalan aku sedang tidak bekerja hari ini ayo masuk-masuk."


Lea dan Elisa tersenyum dan seperti tadi bodyguard muda itu menunggu di luar, Ia menghargai privasi para wanita yang sedang berkumpul walau Ia tidak pernah lengah dalam menjalani tugas.


"Lea taruh saja barang milikmu di kamar sebelah sana ya, sudah aku bersihkan kok hehe," ucap Alexa sambil menunjuk sebuah kamar di samping kamarnya.


"Baik Kak," balas Lea sambil membawa tas yang berisi baju dan perlengkapan belajarnya.


"Elisa," sambik menepuk bahu Elisa.


"Iya? Sepertinya kamu sangat bahagia hari ini ada apa?" tanya Elisa.


"Sebenarnya beberapa hari lalu mobilku mogok di dekat halte bus dan kau tahu apa yang terjadi?" melotot ke Elisa.


"Hmm apa?"


"Tuan Azka dan Tuan Felix bertemu denganku dan mereka mengantarku ke sini, dan berita yang paling mengejutkan adalah rumah Tuan Azka juga di komplek ini di blok A, dan... dan lihat ini," mengambil sebuah jaket berwarna dominan hijau tua.


"Ini milik Tuan Azka dia memberikanku jaketnya saat aku kedinginan, sepertinya aku memang harus mengunjungi rumahnya dan mengembalikan itu bukan? Dia juga mengajakku untuk bermain sesekali. Bagaimana menurutmu?"


Elisa senyum-senyum memegang dagunya. "Sepertinya temanku sudah saatnya melepaskan status lajang."


Menggoyang bahu Elisa. "Ah apa maksudmu kami bahkan belum banyak bicara tapi aaaa Dia memang sangat tampan aku tidak bisa berbohong soal itu."


"Ya kamu bisa berkunjung, dan kembalikan jaketnya. Mungkin kalian bisa menjadi dekat."


"Begitu ya, baiklah aku akan memikirkannya dan mengatur jadwalku hehe," lalu dia mengarahkan Elisa untuk duduk.


"Eh sini duduk-duduk Ibu hamil tidak boleh berdiri lama-lama."


"Iya terima kasih." balas Elisa.

__ADS_1


Lalu Mereka melanjutkan pembicaraan karena jarang sekali bertemu.


Halo semuaa terima kasih sudah membaca, maaf ya baru update, pekerjaan author padat banget maaf banget ya🙏 selamat membaca❤❤🔥


__ADS_2