Hitam Putih Kita

Hitam Putih Kita
Our Night


__ADS_3

Lea terbangun saat alarm miliknya berbunyi dan menunjukkan pukul 16.35, ia segera pergi ke kamar mandi dan memakai pakaian malam sebelum tidur miliknya. Lalu ia mengirim pesan pada Elisa jika Lea akan pergi sendiri ke mansion, setelah itu pun waktu berjalan singkat. Lea bertemu dengan Lorenzo, Carl dan Elena. Mereka berbicara ringan seputar kehidupan Lea di desa dan pendidikannya.


"Baiklah mulai sekarang kamu harus fokus belajar di universitas nanti ya Lea," ucap Carl lalu ia beranjak pergi dari meja makan bersama Elena.


Tinggalah Elisa, Lorenzo dan Lea di meja makan dan Tori yang berdiri di pojok tangga bersama Pak Sam.


"Aku sudah selesai," Lorenzo berdiri lalu Elisa menoleh Lea di sampingnya.


"Victoria akan menemanimu kembali ya, maaf Kakak harus menemani Tuan Lorenzo."


Lea mengangguk. "Iya Kak tidak apa-apa, cepatlah Tuan Lorenzo sudah berjalan tuh."


Elisa berdiri dan berjalan menuju Tori. "Tolong temani Lea kembali ke rumah samping ya Vicoria," pinta Elisa.


"Tapi Nona saya harus menjaga anda."


Elisa menggeleng. "Untuk hari ini tugasmu cukup sampai di sini, untuk berikutnya juga seperti itu. Sampai Tuan Lorenzo selesai makan malam. Lalu kamu boleh beristirahat di rumah belakang. Pak Sam saya minta tolong untuk memberitahu Victoria nanti ya," Elisa tersenyum sambil menganggukan kepala.


"Tentu Nona akan saya lakukan," balas Pak Sam.


"Baik, terima kasih Nona."


"Kalau begitu saya permisi dulu," Elisa berjalan pergi Tori dan Pak Sam sama-sama menundukkan kepala.


"Victoria antarkan adik Nona Elisa setelah itu temui saya lagi di area belakang," ucap Pak Sam lalu ia pergi meninggalkan Tori.


"Baik Pak," balasnya sambil menundukkan kepala, Tori pun berjalan menuju Lea dan mereka berdua keluar mansion menuju rumah yang ditinggali Lea.


"Kak Tori?" panggil Lea.


"Hm?" Tori menoleh.


"Maaf aku menanyakan ini, tapi aku sangat penasaran. Bagaimana Kakak bisa menjadi asisten pribadi Kak Elisa? Aku ingat itu semua pasti melewati penyaringan Tuan Stefan."


Tori mengangguk. "Ya kamu benar, saya memang bertemu dengan anti sos- sekretaris Stefan dan melakukan beberapa perjanjian." Tori mengingat beberapa kejadian singkat pertemuannya dengan Stefan hingga sampai mengetahui bahwa dialah orang yang menyewa intel bayaran untuk menyelidiki ZLaurent.


"Pasti sangat sulit ya Kak," mendongak dan tersenyum pada Tori.


"Tidak kok, semuanya berjalan dengan lancar." Tori menunjukkan jari jempolnya, tidak lama mereka pun sampai di rumah tempat tinggal Lea.


"Kakak ingin masuk sebentar? Akan saya siapkan teh," tawar Lea.


"Tidak apa-apa saya langsung pulang saja, soalnya saya ingin menemui Pak Sam."


"Baiklah Kak terima kasih sudah mengantarku ya." Lea tersenyum.


Tori membalas senyumannya. "Sama-sama, semangat belajarnya."


Lea mengangguk. "Iya Kak," lalu Tori berjalan meninggalkan Lea yang masih di depan pintu lalu masuk saat Tori sudah agak jauh dari pandangannya.


Tori langsung berjalan cepat untuk menemui Pak Sam, khawatir jika pria lansia itu menunggunya lama. Tapi Pak Sam tentunya masih segar bugar hanya saja Tori yang cemas berlebihan ingat akan Ibu dan Ayahnya yang sama seperti Pak Sam.


"Maaf membuat anda menunggu Pak," ucap Tori saat sampai di depan ruang Pak Sam.


"Tidak, saya juga baru kembali dari dapur. Baik, Victoria ikuti saya," Tori mengangguk dan mengikuti Pak Sam yang berjalan menuju rumah para pegawai di mansion tinggal.


Pak Sam menunjuk sebuah rumah besar yang berderet panjang urutan enam. "Masuklah, mulai sekarang kamu tinggal di sana."

__ADS_1


"Tapi barang-barang saya masih tertinggal di hotel Pak."


"Masuk saja," lalu Pak Sam meninggalkan Tori yang dilanda kebingungan.


Tori menghela napas. "Haaa, aku harus sabar," ia berjalan menuju rumah yang ditunjuk Pak Sam tadi.


Tok tok tok


Tori mengetuknya lalu handle pintu bergerak dan seorang wanita berdiri di depan Tori.


"Halo," sapa Tori.


"Victoria ya?" tanyanya.


Wajah Tori tampak bingung. "Tuan Stefan sudah memberitahu kami saat membawakan sebuah koper kemari."


"Oh...ah iya-iya," respon Tori.


"Silahkan masuk," wanita itu membukakan pintu.


"Terima kasih."


"Hmm Victoria kamarmu ada di ruang sebelah kanan nomor 4 ya, di rumah ini harusnya untuk 7 orang tapi baru kamu pegawai baru yang bisa mengisinya."


"Iya, ngomong-ngomong ternyata rumah para pegawai mansion tinggal bisa sebesar ini," Tori mendongak melihat tinggi rumah ini.


"Iya awal-awal saya datang juga seperti ini, semoga nyaman ya. Jika butuh sesuatu ketuk saja ruangan di depanmu, itu kamarku. Saya permisi dulu ya."


Tori mengangguk. "Baik terima kasih, eh anu siapa namamu?"


"Saya Risa," tersenyum.


Tori melepaskan sepatu dan kaos kakinya dan meletakkan di rak sepatu, sedangkan kaos kakinya di bawanya.


Tori mengambil kunci kamarnya yang tergantung di atas rak sepatu dan masuk ke kamarnya.


"Sepertinya si anti sosial tidak buruk juga." Tori melihat dua koper miliknya sudah ada di sana, dan kamarnya juga sangat bersih dan harum.


Sepertinya aku akan betah?


...----------------...


Di waktu bersamaan, Lorenzo dan Elisa duduk bersandar di kepala ranjang. Lorenzo memejamkan matanya sambil merasakan tiupan angin sepoi-sepoi dari jendela yang sengaja tidak ditutup. Elisa hanya menatap wajah pria tampan yang sudah menjadi bagian dari setengah hidupnya ini.


"Jangan menatapku dalam seperti itu," ucap Lorenzo masih dengan mata yang terpejam.


"Ah," Elisa salah tingkah dan memalingkan wajahnya ke samping.


"Bagaimana toko milikmu? Apakah semuanya lancar?" tanya Lorenzo mendadak.


Elisa menoleh. "Iya syukurlah semuanya baik-baik saja." Lorenzo mengangguk.


"Hm sa-saya lihat di instagram, pembangunan danau sudah dimulai ya Tuan?" karena canggung entah kenapa Elisa ingin membahas ini.


Lorenzo menoleh dan menatap Elisa. "Hmm iya, ternyata kau memainkan sosial media juga?"


Terdengar seperti ejekan tapi Elisa tidak menangkap maksudnya seperti itu. "Tentu, saja kan berbisnis jadi harus memanfaatkan sosial media juga Tuan."

__ADS_1


Lorenzo tidak menjawab dan mendekatkan jarak dengan Elisa. "Berapa umurnya?" memegang perut Elisa.


Elisa sedikit terkejut tapi hal itu tidak terlihat. "Minggu depan akan memasuki 5 bulan Tuan."


"Waktu cepat sekali berlalu," ia menempelkan telinganya di perut Elisa. "Apa kau mendengar itu? Detak jantungnya." Lorenzo menggonta-ganti telinga kanan kirinya lalu menempelkan wajahnya.


Elisa hanya tersenyum melihat Lorenzo yang merebahkan tubuh lalu memeluk pinggang dan menyandarkan kepala paha Elisa.


Tuan jika anda memperlakukan saya seperti ini terus, saya akan jatuh hati kepada anda.


Elisa spontan mengelus kepala Lorenzo, lalu ia mendongak dan menatap Elisa yang tidak bisa dideskripsikan maksud dari tatapan itu.


Lorenzo tersenyum. "Apa aku boleh meminta satu ha untuk akhir hari ini?" tanya Lorenzo. "Seperti yang kau tahu aku tidak pernah memaksa wanita untuk keinginanku sendiri."


"Iya Tuan saya tahu, apa yang anda inginkan?"


Lorenzo menunjuk bibirnya. "Ini. Apa kau keberatan?"


Elisa terdiam sejenak, dia sendiri menangkap maksudnya hanya saja ia belum terbiasa untuk hal mendadak yang seperti ini.


Elisa menggeleng pelan.


"Huh." Lorenzo tersenyum kembali, untuk kedua kalinya ia tersenyum malam ini.


Lorenzo memindahkan tangannya yang melingkar di pinggang Elisa ke lehernya, lalu membuat Elisa menurunkan kepalanya lalu saat itulah Lorenzo menyambutnya dengan ciuman yang lembut. Alunan mereka sangat halus sedikit demi sedikit Lorenzo mel*mat dalam mulut Elisa sambil menurunkan leher Elisa lagi dan mencium kembali bibir Elisa. Mereka berhenti sejenak mengambil napas.


"Ternyata kau sudah ahli dalam hal ini ya?"


Elisa menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Lalu Lorenzo kembali duduk dan memegang kedua bahu Elisa dan menciumnya kembali.


"Haa..ha Tuan," Elisa meremas baju piyama yang dipakainya.


Lorenzo semakin memperdalam ciumannya, tidak seperti sebelumnya sekarang Lorenzo mengatur alurnya bersama Elisa. Saling l*mat-mel*mat mereka berdua terbawa suasana, Lorenzo memindahkan ciumannya ke leher Elisa dan memberikan tanda di dadanya.


"Ahh," teriak Elisa.


Lorenzo mendongak dan tersenyum lagi. "Apa? Kau hanya sanggup sampai sini?" Elisa tidak menjawab dan masih memejamkan matanya.


"Aku menganggapnya kau ingin melanjutkannya."


Lorenzo mulai mencium Elisa kembali dengan tangannya yang menerobos masuk lewat bawahan baju dan mulai bermain di tempat kesukaannya.


"Ah T-tuan...Ahh," satu persatu tanda diberikan Lorenzo di sekitar dada Elisa. Tangan Elisa berpindah ke atas bahu Lorenzo dan mencengkeramnya. Elisa dapat merasakan otot-otot punggung Lorenzo yang keras.


Lorenzo melepaskan ciumannya dan memegang bahu Elisa. Dilihatnya istri di depannya masih kewalahan dan belum terbiasa dengan hal-hal ini.


Baju tidur Elisa hampir tertanggal seluruhnya, hanya menyisakan baju dalam atasan Elisa.


Lorenzo tersenyum. Cup. Sekali lagi dia memberikan sebuah kecupan di dada Elisa.


"Hanya aku yang boleh melihat ini Elisa," lalu Lorenzo kembali memakaikan baju tidur Elisa, dia sendiri masih mengambil napas. Setelah Lorenzo selesai memakaikan baju tidurnya lagi barulah Elisa sepenuhnya sadar dan kembali berpikir jernih. Dia menatap Lorenzo.


"Ada apa kau ingin lagi? Ingin melanjutkannya?"


Elisa langsung menggelengkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Lorenzo tersenyum.

__ADS_1


Halo guyss💐maaf ya baru up😭😭 author lagi sibuk-sibuk banget di RL enjoyy baca❤❤❤


__ADS_2